Rabu, 30 Maret 2011

Membangun Karakter Bangsa sasak

Yogyakarta [Sasak.org] Papuk Guru pernah memberi nasihat pada anaknya bahwa ia tidak mengenal usia sebab kalau kita terpengaruh umur berarti kita menghadirkan keakuan kita. Ketika keakuan itu muncul maka mulailah timbul persoalan. Kalau engkau memulai dengan membuat masalah maka dunia ini akan memberimu masalah. Itu adalah salah satu pegangan yang terus diajarkan turun temurun kepada anak cucunya yang bergelimpangan diseantero dunia ini.

Bangsa Sasak dan bangsa lain di negeri ini sedang dalam kesulitan oleh karena mereka menganggap waktu adalah uang dan waktu yang dilaluinya adalah yang terpeting sehingga mereka tak dapat diganggu gugat saking sibuknya menghitung menit demi menit yang dikonversi denga uang. Duapuluh tahun saya habiskan sejak lahir di Tanah Selaparang yang permai dan selama itu pula saya berguru kepada semua sanak dan handai tolan yang tinggal di gunung, di pantai dan di kampung kampung.

Setiap rumah tangga pada saat itu sangat peduli pada nasihat papuk Gurunya dengan menyerahkan dan mengawasi anak anak untuk belajar dan mencari ilmu pada pemuka pemuka kampung. Pembentukan karakter yang kuat adalah tanggung jawab tiap orang dari anak kecil sampai orang yang telah renta. Apa yang harus dibuka dibuka bersama apa yag harus disimpan disembunyikan sampai waktunya seorang anak dapat mengerti sendiri. Bicara orang tak boleh sembarangan maka orang tua akan menggunakan bahasa canggih yang disebut senepa agar anak kecil tak faham tema, setting dan klimaks sampai ending. Saya perlu tumbuh dewasa baru mengerti begitu banyak konflik dimasyarakat yang disembunyikan rapat rapat demi menjaga kesucian jiwa saya yang tengah bertumbuh dengan segala kehuznuzzonan seorang anak Sasak yang NAIF.

Saya tak dapat membayangkan betapa guru guru saya dan kiyai kiyai yang kelak disebut Tuan Guru itu adalah manusia dengan keluasan cakrawala dan dada yang seluas samudra, sehingga mereka dapat menelan semua gosip, fitnah dan hasutan dari anggota masyarakat yang dikawalnya. Sebagai murid pandir saya tak kunjung lulus dalam belajar dan sampai detik ini saya terus mengemis agar siapa saja dapat mengajarkan satu dua nasihat, sebab saya jujur katakan bahwa saya tak tahu kemana hendak pulang kalau tidak ada cahaya dilah jamplung yang menuntun saya.

Ada seorang buta yang membawa obor digelap malam, orang orang tertawa dan bertanya. Hai buta, untuk apa engkau bawa obor sedangkan engkau tak dapat melihat?. Si Buta menjawab dengan suara lembut yang datang dari langit. Kawan aku tidak perlu lampu untuk menembus jalan dan belukar karean aku sudah hafal, tetapi obor ini aku bawa agar kalian yang awas dapat melihatku sehingga kalian tak menabrakku. Papuk guru dan para Tuan Guru penerusnya seharusnya bertindak sebagai mercu suar yang tidak mempedulikan cahayanya karena cahaya itu bukanlah untuk mereka tetapi untuk orang orang yang ada diakar rumput yang tidak mengahafal liku liku jalan dan arah yang hendak ditujunya.

Banyak orang mengeluh bahwa dinegeri ini hukum adalah hanya untuk orang miskin sedang orang kaya tidak tersentuh oleh hukum. Itu pernyataan mengandung kebenaran dan tidak ada unsur fitnah sama sekali. Orang yang bahagia adalah orang yang paling sedikit memerlukan hukum dan orang sejahtera tidak memerlukan hukum. Untuk menjadi bahagia orang dasan cukup membeli baju sekali tiap lebaran dan makannya bergizi, dehat, halal dan toyibah diperoleh dari lingkungan sendiri sedangkan rumah dibangunnya dari kayu dan bambu serte alang alang yang ada dimana mana. Orang dasan hidup bahagia dan sejahtera selama saya tinggal bersama mereka. Itulah sebabnya mereka menjadi manusia tunduk dan dapat diatur dengan mudah sebab mereka bisa mengatur diri sendiri. Kini Begitu susahnya mengatur anak bangsa ini meskipun ribuan peraturan dan undang undang diterbitkan tipa tahun di DPR/D. Rupanya manusia kini telah kehilangan kebahagiaan dan kesejahteraannya.

Bangsa ini setiap saat mendengar lagu kebangsaan Indonesia maupun lagu kebangsaan Sasak, Semua melantunkan dengan gagah berani kalimat ; ” Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Jiwa yang terbangun adalah jiwa yang mendapat cahaya. Bila jiwanya telah terbangun maka badan akan serta merta sehat wal afiat. Negara Indonesia itu dibangun agar sejahteralah anak bangsanya baik jiwa maupun raganya. Begitupun dengan Hymne Bangsa Sasak, “Pemban Selaparang” yang mengamanahkan Rakyat yang Sejahtera, REHAYU.Tetapi sekarang orang tak lagi membangun jiwa dan raga namun yang jadi prioritas adalah membangun kesenangan. Sampai sampai para pemegang obor tega memadamkan apinya sehinga anak anak berlarian tunggang langgang kemana suka. Pemimpinya tiba tiba menjadi narsis dan lupa rakyatnya.

Pembangunan karakter yang paling efektif adalah melalui contoh dan contoh yang baik. Nilai nilai dan ilmu praktis dapat ditransfer melalui contoh teladan dari generasi ke generasi. Pemimpin yang bohong lahir dari masyarakat pembohong pula. Untuk itu mereka harus terus menerus menutupi kebohongan demi kebohongan. Kini kita saksikan orang orang yang berkarakter kuat sebisanya dibungkam dan dibui. Contoh itu lambat laun akan dianggap sebagai kewajaran dan jadilah kita para pembohong sedunia. Hukum hanya untuk menjerat orang susah karena memang orang susahlah yang paling rentan melanggarnya itu bukan karena kehendaknya tetapi memang mereka dalam keadaan lemah dan termajinalkan. Adapun orang yang dianggap kebal hukum pastilah bukan orang baik mereka itu hanya tampaknya bahagia tetapi tak pernah bahagia apalagi sejahtera.

Contoh yang sederhana tentang bangsa yang bahagia dan sejahtera meskipun ukuran itu baru sebatas ekonomi sebab yang bathiniah adalah sesuatu yang tak terukur, maka lihatlah saat turis berbonodng bondong datang ke Indonesia. Betapa mudahnya mereka antre menyodorkan pasport lalu bayar murah dan dicap sudah boleh tinggal dan leha leha di manapun sesuai batas yang dia inginkan. Coba bandingkan dengan orang Indonesia yang mau ke negara maju, dokumen yang disyaratkan bertumpuk dan biaya untuk urusan surat dan visa minimal 100 USD. Belum tentu diberi visa!. Karena cap orang yang bahagia adalah orang yang tidak memerlukan hukum itu dipakai untuk menyeleksi siapapun yang coba coba mendekat. Buktinya berapa TKW dan TKI yang bermasalah di seluruh dunia, bahkan ada yang jadi gelandangan di bawah jemabtan di Arab Saudi dll.

Jangankan masyarakat akar rumput, para PNS di Indonesia disinyalir 60% melakukan tindak korupsi.
KPK menyatakan bahwa hutang RI sudah mencapa stadium 4. Kemiskinan merajalela dan penegakan hukum sudahpun lumpuh. Korupsi semakin menggerogoti. Apa yang tersisa dinegeri ini?. Pemimpin telah menggadaikan tanah air. Pemimpin telah membuat rakyat jadi tumbal. Pemimpin telah berubah jadi penipu!. Untuk sertifikasi guru dan untuk membayar gajinya yang meningkat maka pemerintah menggunakan uang hasil hutang dari negara kaya dan pun juga untuk membayar tunjangan orang msikin. Jadi apa bedanya kita dengan masa ORBA yang hidup dari menghutang?.

Membangun karakter bangsa untuk menyelamatkan generasi mendatang dari ancaman menjadi budak orang asing harus dilaksanakan dengan sekasama. Para pemegang obor hendaknya berdiri kokoh jangan sampai obornya jatuh apalagi direbut orang asing. Anak anak bangsa Sasak memerlukan cahaya yang dapat menuntun bathinnya agar tidak menjadi mansuia yang tidak pernah bahagia. Kita semua wajib menggerakkan aksi serempak dalam membuka wawasan, memberi pemahaman, menyokong moral, dan menuntun dalam pembelajaran demi mencapai kepribadian atau karakter yang kuat yang sanggup menjadikan setiap anak bangsa siap memenuhi segala kriteria kompetensi disegala bidang pekerjaan.

Anak bangsa Sasak adalah manusia yang tangguh, pemberani dan mandiri. Mereka memerlukan sedikit sentuhan yang bernama kasih sayang dan pengertian. Mari kita mulai berbenah, jangan lihat berapa gelintir oarang yang peduli, Rasulullah SAW membangun karakter bangsa yang paling sulit di alam semesta ini nyatanya berhasil meskipun dimulai seorang diri dan didukung segelintir orang dekatnya. Insayaallah.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Tidak ada komentar: