Tampilkan postingan dengan label Fiksi Sasak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Sasak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2009

Ling Ling

(Sasak.org) Senin, 18 Februari 2008 01:00

Masih 2 minggu lagi sisa waktu untuk tinggal di gumi paerku yang sungguh aku cintai ini. Tiga bulan segera berakhir dan aku telah kenyang dengan segala pahit getir pencarianku atas orang yang ada di dalm daftarku. Aku akhirnya bertemu dengan keluarga keturunan yang aku inginkan. Mereka tercerai berai sampai di Bali, Jawa bahkan Kalimantan. Tapi ada beberapa orang yang tinggal dan terus menetap di Ampenan dan Cakra Negara. Mereka. Merasa bahwa Selaparang adalah tumpah darahnya. Mereka makan dan minum dari Tanah ini. Mereka bahkan lahir dengan cara Sasak. Mereka melakukan apa saja seperti orang Sasak.

Aku berhasil menghubungi komunitas keturunan di Guangzhou Cina dan mereka masih fasih berbahasa Sasak karena mereka hanya menggunakan bahasa Sasak dan bahasa Hokkian, sedang yang di Hong Kong mereka berbahasa Sasak dan Kanton. Mereka gembira sekali saat aku hubungi lewat telpon dan mengundangku ke sana. Aku pasti akan berkunjung ke Guangzhou dan Hongkong. Duhulu aku pernah ke Hongkong waktu dikuasai Inggris tapi aku tak tahu menahu soal keberadaan orang Sasak yang Cina itu.

Para pelarian itu ditampung di Cina Selatan dan bekerja sebagai petani sangat sederhana, Pemerintah membagikan tanah gersang untuk mereka. Kini mereka lebih makmur karena kerja keras pantang menyerah. Mereka pergi tanpa apapun kecuali terselip sifat pagahnya yang secara alamiah diwariskan dari tanah ini. Pelarian yang di Hongkong berhasil jadi pedagang sampai bintang film kungfu. Bahkan ada Sasak yang senasib denganku, dia pernah dikontrak Indosiar untuk serial film laga bersama Arie Wibowo. Di film itu ia bernama Shi Fu. Sempat aku lihat sedikit. Dia Asli Sasak dan dibawa oleh orangtua angkatnya ke Hongkong setelah kerusuhan itu.

Aku pernah membaca laporan bahwa eksodus orang keturunan bukan sekali dua terjadi di Nusantara. Ketika Negar Israil terbentuk orang –orang Yahudi pergi berimigrasi dan meninggalkan bisnis mereka di semua kota termasuk Ampenan karena adanya kebencian dan ancaman mau diganyang.. Meraka ditampung persis seperti waga Cina sebagai petani di padang gurun yang tandus dan lebih buruk sejuta kali daripada yang di Cina. Karena di Cina masih ada hujan betapun sedikitnya tapi di kibuts-kibuts atau ladang pertanian gurun Yahudi, jangan pernah mengharap hujan, paling cepat sekali 4 tahun. Orang –orang eksodusan itu masing-masing bergelut mempertahankan hidup. Dan sekarang padang pasir dan tanah tandus di kedua Negara itu yang dikelola oleh orang yang kita benci itu makmur bagai kebun di tanah Selaparang ini.Entah kenapa kita selalu membenci semua orang. Mengapa kita tidak kunjung mengerti diri sendiri. Sedikit- sedikit kita mau mengganyang orang.

Setelah usahaku yang sia-sia mencari keturunan La Sitah yang berasal dari Teros itu, aku bertemu seorang guru di sebuah madrasah kecil di Gunung Sari Lombok Barat. Beliau orang yang sholeh dan sangat sederhana. Dahulu beliau adalah seorang pejabat di Gubernuran. Akhir tahun 90 an mengundurkan diri dari hiruk pikuk urusan yang banyak mengotori tangannya. Katanya betapapun telah mati-matian menjaga kebersihan diri niscaya tersangkut jua dengan hal-hal haram. Memang Beliau anti korupsi, kolusi dan nepotisme. Akibatnya beliau tersingkir dari pergaulan di kantor sendiri, bahkan bawahan yang dilindungipun tidak menyukainya.

Guru ini masih ada hubungan kekeluargaan denga La Sitah dari neneknya yang bersaudara dengan Papux Guru, yang dahulu tinggal di sebuah dasan di Lotim, namanya memang Papux Guru, entah dia guru beneran atau ustad wallahu’alam. Aku dibawa ke sebuah jalan tidak jauh dari Bank Indonesia di Mataram. Kami berjalan ke arah Gomong menelusuri jalan terusan tengiri. Sampai di dekat masjid, kami berhenti dan Guru menanyakan sesuatu pada seorang pemuda dan kami menuju rumah disebelah utara masjid itu.

Aku dipertemukan dengan seorang kakek yang sudah berumur sekitar 70an tahun . Dia tidak ditemani siapa siapa. Rumah itu kecil sekali hanya 4.6 x 4.8 m dengan dua ruang yang disekat pagar bambu. Aku ingat rumah Rasullulah SAW. Ukurannya sama. Tapi ini rumah orang biasa, bukan Raja atau Jendral atau Nabi. Kiranya ia mencoba hidup secara Nabi sampai rumahpun seukuran juga.

Setelah berbincang dan memperkenalkan diri, aku sampaikan maksud dan tujuanku. Aku datang karena Allah, agar aku dapat mengetahui keberadaan keluarga besarku di Tanah Selaparang ini. Apapun yang terjadi aku harus menemukan jejak mereka. Kakek itu bercerita tentang ibunya La Sitah yang sangat sayang kepadanya. Ia disekolahkan ke Peraya dengan jalan kaki karena Di Selong belum ada sekolahan yang diinginkan. Selepas sekolah dia berdagang di Tanjung tapi tinggal di Teros. Usahanya berhasil kalau dilihat dari standar orang Sasak. Jarang sekali ada yang pandai berdagang. Tapi kakek itu dapat bersaing dengan para pedagang keturunan. Baik di Tanjung maupun Labuhan Haji. Usahanya dibidang sembako dan pakaian. Cara berdagangnya meniru Rasullah. SAW. Mangambil untung maksimal hanya 10% katanya.

Waktu bercerita panjang lebar, aku mendengar Guru menyebutnya Tuax (paman). Oh rupanya mereka bertalian persaudaraan. Ketika aku tanya apa kiranya beliau mengenal orangtua angkatku, kulihat dia berkaca-kaca lalu tersengal dan menangis. Lama sekali rasanya waktu berputar, saat seperti ini semua jadi kelabu. Aku mengenang masa kecilku tak dapat kuingat apapun tentang ayah ibuku, mereka meninggalkanku diwaktu aku masih balita. Aku hanya ingat Ibu bapakku yang keturunan.

Akhirnya mereda juga sesak kakek itu, dan mulailah beliau cerita, bahwa aku adalah anak kakaknya dank karena hubungan baiknya dengan Babah Tan, beliau menyebut bapakku demikian maka aku diminta untuk diasuh keluarga Tan itu. Aku memegang tangan amax yang adalah Amax kakangku dan kupeluk badannya yang kurus. Berkat Rahmat Allah bertemulah satu keluarga yang telah bercerai berpuluh tahun.

Guru yang merupakan sepupuku itu, minta pamit dengan perasaan bahagia dan meninggalkan aku bersama Amaxku berdua. Aku mengantar guru sampai di terusan tengiri dan aku cepat kembali ke Amax. Aku mengajaknya keluar untuk jalan-jalan mencari angina segar. Aku tak mau bertanya banyak saat ini aku ajak dia makan di lapangan Mataram. Kami makan semua yang disediakan. Ada ketupat yang panjang, kecil-kecil aku lupa namanya. Meskipun rata-rata pedas aku menyukai yang paling kurang pedasnya. Ada sate pusut, pencok, beberok, bebalung, lindung totok, pelecing ayam dan banyak lagi, makanan dan minumannya.

Aku menginap di rumah ala Rasulullah SAW itu dan Amax tidur di dalam aku di luar hanya diatas dipan dengan tikar pandan. Aku ingat Rasullullah kalau bangun tidur terukir bekas pelepah kurma dipipi dan disekujur badan. Malam ini aku akan tidur dimana papux baloxku tidur. Mereka kokoh dan digdaya., akupun harus begitu. Meski terpisah ruang kami terus bercerita tentang tokoh sejarah Sasak. Mulai dari Cupak- Gurantang, Rustambing, Tameng Muter dan Kakek moyang kami Raden Tilar Negara yang menurut pendapatku itu adalah nama samaran untuk orang yang pergi meninggalkan gumi paernya.

Aku pernah membaca disebuah buku, bahwa di Tanah Selaparang pernah hidup para empu yang digdaya dan menurut buku itu Keris raja-raja Majapahit dipesan di Tanah Selaparang ini. Kemungkinan besar Raden TN tinggal di Majapahit dan berguru disana lalu pulang ke Selaparang dengan istri yang cantik jelita. Ah itu terjadi di abad ke 14. Aku tak akan melacak seajauh itu.

Kami tidur lelap sekali tadi malam, setalah minum kopi tubruk yang asli, banyak sekali sampah kopinya yang ngompal diatas. Aku irup pelan-pelan, aduhai nikmatnya, tidak sekeras Nescafe yang kimiawi itu. Seperti tembakau Kesturi, rasanya hampa tapi aromanya super. Amax keluar sebentar dan balik lagi dengan bungkusan daun pisang. Diambilnya piring dan dideretkan, ada lupis, reket bedeng, kludan, serabi. Amax…..amax! kan aku bukan Doyan Nada kok semua di beli. Aku panggil anak-anak yang bermain bekel dan kelereng di depan dan makan lahap semua tandas seketika. Doyan Nada kecil beraksi…

Amax cerita bahwa dulu beliau punya petak kangkung disekitar masjid dan di dekat kali dekat pura orang hindu itu. Tapi dijual semua dan membangun kamar kos yang sekarang menjadi uang pensiunnya, yang jumlahnya sedikit lebih tinggi dari UMR. Kami makin akrab tiap hari. Aku jadi ingin banyak bertanya kepada amaxku tentang kehidupannya.

Aku lihat dia sebatang kara, agak berat aku menayakan bagian itu, tapi aku harus mengetahuinya. Aku sendiri memang masih bujang. Orang bilang aku bujang lapok tapi aku belum termasuk mosot karena aku tak pernah berhenti berusaha, hanya Allah yang menentuka aku belum dapat jodoh. Tapi amaxku ini sudah tua…

Selepas amax membaca Al-Qur’an siang itu aku berbincang-bincang mengenai aktifitas anak-anak di masjid sebelah. Aku lalu mminta Al Qur’an untuk ku baca. Amax menuyuruhku mengambil sendiri di atas lemari kayu kecil yang berisi pakaian dan alat dapur seklaigus.Saat aku mengambil Al Qur’an itu aku mlihat foto kuno hitam putih. Gambar seorang gadis berwajah oriental. Aku cepat keluar dan membaca Surat Al Baqarah. Satu juz.Aku selsai membaca kami langsung pergi ke warung dipojok jalan pendidikan dekat SMA I. Kami makan soto bebalung dan minum cao dengan kelapa muda. Aneh kami sama-sam tidak suka es. Aku takut jangan-jangan aku juga nurun gak dapat jodoh seperti dia. Aku tidak merasa tua dan aku tampak jauh lebih muda dari umurku.

Pulang makan, aku bergurau dengan amax mengenai cewek. Aku bilang sampai saat ini aku belum dapat istri. Kalau amax ceritanya gimana dong, tanyaku. Amax meghela napas panjang sekali. Aku menggoda, foto siapa itu di lemari dalam, tanyaku. Ku harap aku tidak mebangunkan macan tidur atau sebaliknya membuat frustrasi.

Amax nenarik napas dalam dan mencoba tegar, meski raut wajahnya sendu. Foto itu adalah LING LING, kata amax memulai. Dia adalah keponakan babah Tan dan usianya 18 tahun waktu itu. Amak mulai tersengal tapi berupaya tegar dengan suara yan mulai minor dan parau. Amak menruskan ceritanya. Aku ragu apa perlu diteruskan, karena wajahnya menunjukkan rasa sakit yang menekan. Aku tak tahu bagaimana menghentikannya. Tiba-tiba amax bertutur dengan lebih lancer.

“Aku sedang berdagang di Labuhan Haji, berangkat pagi dan pulang petang seperti biasanya, tapi suatu hari di bulan nopember 1966. Aku melihat kepulan asap tebal di seantero gumi Selaparang. Memang sebelumya banyak kejadian akhir-akhir itu. Ada revolusi kata orang. Tapi tidak ada asap membubung sebesar itu. Aku bergegas mengepak barang dan segrea memanggil pemabantuku untuk menjaga kios. Aku bergegas pulang dengan naik cikar karena Bis Sampurna tak terlihat. Aku minta kuda dipacu agar cepat sampai Tanjung Teros. Paok Pampang hangus dan banyak orang berlarian. Kami berpacu dengan kehawatiran dan Loang Sawax hangus juga. Sepanjang jalan orang berteriak ganyang Cina! Ganyang Cina!. Aku kuatkan hatiku dan berdoa semoga Allah menyelamatkan kami. Akhirnya sampai di Tanjung aku temukan kiosku hangus sudah. Semua kompleks tinggal puing. Aku melihat kerumunan orang keturunan lari ke daerah pedaleman untuk mencari perlindungan. Ada yang dibacok dan tersungkur. Aku bertakbir.Syetan apa yang merasuki tetangga kami, saudara kami sehingga tega berbuat begitu. Korban berjatuhan, ada yang lari ke arah Teros. Aku berusaha menyambar mereka dan ku naikkan ke cikar tapi jahannam, ada yang menombak orang yang kutolong. Akupun diancam aku bertakbir dan memacu kuda ke arah kepala desa. Kantor penuh sesak dan hiruk pikuk tangisan riuh rendah. Orang-orang keturunan diamuk massa!”

Amax menghela napas dalam dan mulai lagi menitik air matanya. Aku tak berkata sepathpun, napasku terengah karena emosi luar biasa. Aku mulai menangis tapi ku tahan agar tidak terpecah. Amax meneruskan.

“ Aku mencari sisa keluargamu, yang rencananya akan menyusul keEropa pada tahun itu. Aku kembali ke Tanjung dan mencari diantara kerumunan orang yang menangis. Aku mencari dan mencari tak juga aku ketemu. Aku bertanya pada orang ramai kemana warga kleturunan berlari,mereka menunjuk ke pedaleman aku lari kesana dan menemukan hampir separuh warga keturunan bersembunyi. Tapi aku tak menemukan Ling Ling.”

Amax meledak dalam tangisan yang memilukan semua makhluk, aku membelai punggungnya yang kurus. Badannya yang tinggi semampai dapat kubayangkan kegagahannya saat kejadian dulu. Ia mencoba menahan agar tangisnya tak pecah lagi. Anak-anak yang bermain menengok ke arah kami. Aku mengibaskan tanganku agar mereka pergi dari depan rumah.

“ Aku berlari ke Teros, tak ada tanda- tanda Ling Ling ke rumahku. Aku berlari kembali ke Tanjung dan berbelok kearah Kelayu , aku berteriak sekuat tenagaku memanggil Ling Ling, tak ada jawaban.” Aku berbalik melintasi lapangan dan kembali ke Teros. Seorang anak kecil tetanggaku, Senah menangis tersedu-sedu dan menunjuk ke arah kerumunan orang di belakang balai desa. Ling Ling teriakku. Tak ada Siapapun yang menjawab. Aku berlari ke arah kerumunan itu, Senah mengikutiku dari belakang sambil menunjuk nunjuk ke depan. Aku berlari sekencangnya.”.

Amax menangis lagi tapi diredamnya pecah tangisnya. Ada tetangga yang menengok kahwatir, segera aku kibaskan tanganku agar mereka berlalu. Mereka menundukkan kepala hormat dan segera menghilang.

“ Allahu Akbar lahaula wala kuwataillabillahilalil adhim… Ling Ling terkapar, kepalanya hancur, bajunya sobek, sampai telanjang… Aku belum pernah melihat kekejaman seperti itu. Ling Ling disula…apakah ada yang lebih jahat daripada itu… Biadab…biadab. Mereka sembahyang tapi tak tahu artinya, mereka lebih buas dari binatang! Allahu Abar!” Ibu-ibu yang pemberani telah berusaha menyelamatkannya ketika lari ke arah lapangan dan mencoba berbelok ke rumahku. Tapi begundal begundal melemparnya dengan tombak. Para ibu berlarian menyongsongnya tapi begajul begajul itu terus menyerang dan menyulanya di depan ibu-ibu yang histeris. Tak ada yang dapat menyelamatkan Ling Ling. Tak ada yang berani mengahadang begajul begajul itu. Lelaki yang harusnya berdiri tegap menghentikan kekejaman itu tak terlihat sama sekali. Mereka berani hanya main keroyok. Aku mengangkat jenazah kekasihku yang akan kunikahi sebulan lagi. Ling Ling baru seminggu berikrar mengikuti agamaku dan dia mati bagai syuhada,,,Dia seorang muslimah. Aku membawa jenazahnya pulang karena keadaan kacau balau. Rumah orang tuanya. Habis terbakar dan ibu bapaknya juga dibunuh dengan kejam.

“Karena keadaannya begitu buruk, tinggal wajahnya yang cantik jelita masih dapat ku kenali. Aku harus memakamkannya hari ini juga. Aku memanggil anak-anak lelaki dan perempuan untuk membantuku memandikan dan kushalatkan sendiri bersama beberapa anak laki-laki lalu ku angkat dengan dua Batang bamboo yang ku buatseperti tandu. Aku membawanya dibantu 5 orang anak- anak. Aku menggali kubur dibantu seorang tua yang sering menolong mengatur dagangan. Ia tidak kuat untuk mengangkat tapi masih dapat membantu yang lain. Aku butuh waktu sampai magrib untuk menggali liang lahat dan selepas azan aku masukkan jenazah Ling Ling. Aku berdoa dengan khusuk petang itu. Aku segera pulang mandi dan shalat”

Amax sangat lemah dan terus mendengus menahan tangisnya. Dan tak kuasa melanjutkan kisahnya. Amak minta tidur. Aku antar dia ke dalam dan dia terlentang menghadap utara.

Kami tidak keluar malam itu krena kami berdua sangat lelah sesdudah shalat Isya di masjid kami langsung tidur.

Aku meminta kepada petugas konter KLM untuk menukar kelasku ke bisnis. Aku tak mau orang yang duduk disebelahku terganggu karena setelah mendengar kisah amax aku banyak mimpi buruk dan kadang teriak. Sepanjang perjalanan aku tak dapat tidur nyenyak. Sudah berapa kali terjadi kerusuhan selalu saja kaum kecil menjadi korban.

Mayoritas diam tidak pernah baik, aku tidak suka itu seandainya mayoritas masyarakat menolak dan menghalangi begajul-begajul itu tentu Ling Ling tidak mati disula. Waktu Pak Harto berkuasa semua tiarap, begitu turun baru berani, mengapa manusia kalau berkelompok jadi banci? Aku mengerti mengapa para pahlawan, dan bahkan Nabi selalu menyendiri. Dengan menyendiri manusia dapat melihat dengan bening dan tak mudah dihasut.

Kelak aku akan kembali ke Gumi Selaparang. Aku berjanji akan bekerja keras bersama

Amax untuk mendirikan pondok pesantren modern dengan life skill coach, membangun manusia Sasak yang berilmu tinggi, berakhlak mulia dan beramal sholeh. Aku malu membaca sejarah tanah airku yang kelam. Semoga seratus tahun ke depan dan seterusnya dari generasi ke generasi Tanah ini menjadi penuh cahaya karena kemakmuran material dan spiritualnya. Amiin Ya Rabbal Alamin.

Jogjakarta, 18 Feb 2008 jam 21.34 WIB

Wallahualam bissawab,

Demikina dan maaf,
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

(Sasak yang menyepi)

mA Ling

(Sasak.org) Senin, 18 Februari 2008 01:00

Jam diding menunjukkan Waktu Indonesia Tengah, 14.10. Aku bergegas memasuki ruang pengambilan barang. Bandara Selaparang ini kecil, dalam bayanganku tak lebih luas daripada Rambang. Seorang porter mendekatku seraya menawarkan untuk mengangkut lagez katanya. Aku menaruh tas punggungku di atas kereta barang yang dibawa sembari menunggu barang bawaan yang dimasukkan satu persatu pada ban berputar. Aku menunggu cukup lama, kulihat tag didada porter tertulis Johan.

Aku memanggil namanya, Pak Johan? Kata ku. Dia menoleh dan menyahut dalam bahasa Inggris. My name is John katanya dengan logat Sasak. Aku terkejut dan langsung meminta maaf juga dalam bahasa Inggris. I am sorry, mata ku agak bolax so I can’t see clearly!. Mr. John, are you from Australia?. Oh no, I am Sasak Beleg, Sir! Timpalnya. Lamun meno kataku, aku mau ke WC. Nggih?. John terkejut, ada pemegang paspor asing pakai bahasa Sasak.

Keluar dari WC John telah siap mendorong kereta keluar menuju parkiran taksi. Aku menengok nengok kea rah deretan mobil, ada satu kijang super aku lihat yang agak bersih. Aku Tanya orang yang berebut menawarkan mobilnya, dimana sopir kijang itu.

Seorang memanggil, “Lal kau dicari!”, tahulah aku nama sopirnya si Lal. Aku mengajak John ke kijang itu dan menaikkan barang. Lal siap membuka pintu, aku mengangsurkan uang 30 ribu kepada John. “Thank you Sir! Eh tampi asih mix!” serunya girang.

Aku duduk di belakang sopir dengan tas punggungku, aku sudah sepakat dengan Lal, ongkos mobilnya 300 ribu sehari, terserah aku pakai sampai jam berapa tapi maksimal 10 jam. Aku menghitung perjalanan ke Selong tentu hanya satu sampai satu setengah jam. Aku melihat barisan TNI AU di lapangan luar Bandara. Mereka ini yang sering ku dengar menebaki petani miskin yang mengerjakan lahan kosong di sekitar markas mereka. Karena para petani menganggap lahan mereka belum pernah dijual atau TNI yang merasa telah membeli. Masing masing dengan pembela dan alat bukti yang sama kuatnya.

Aku minta Lal membawaku melintas jalan bypass dan masuk kota Ma Ta Lam, dan aku melintas ke timur lewat Pa Chang dan masuk ke Chak La. Kecil sekali ibu kota gumi Selaparang. Gedung yang besar hanya Bank Indonesia dan kantor gubernur bentuknya seprti Lumbung padi pada brosur iklan wisata yang beredar di Eropah. Punya lumbung sebesar iru tapi de dipannya orang dasan menderita busung lapar. Itu aku dengar dari Radio BBC. Sampai hati orang yang duduk sebagai kepala suku enak-enak makan sedang rakyatnya busung lapar. Kelak di akhir zaman meski mulut bungkam kaki dan tangan akan bicara membongkar kebobrokan akhlak manusia…

Sampilah aku di dekat Taman kecil bernama Ma Yu La, taman kebanggaan orang Lombok ini milik umat hindu. Kelak aku akan ke situ kalau sudah berta’ziah kepada leluhurku di Labuhan Haji. Mobil melaju ke Nal Ma Ta dan terus ke Tha San Te Leng..

Aku terkejut setengah mati. Tas punggungku sobek agak lebar di sisi depan. Aku periksa tasku dan Aduhai, satu tas kecil lenyap. Aku kehilangan uang dan tiket pesawatku.Untunglah paspor telah aku keluarkan dan aku masukkan saku celana kalau-kalau ada pemeriksaan. Aku teriak; “ Lal, balik ke Bandara!, aku kehilangan”.Sambil aku tunjukkan tasku yang sobek. Lal ngebut kembali ke Bandara dan kami mencari porter bernama John.

Aku mencari dan menanyakan ke mana-mana tak ada yang tahu John disitu. Satpam bilang tak ada yang bernama John disitu. Aku bilang ciri-cirinya : Pendekar Belt! Pendek Kekar dan Bedeng Leteng!. Satpam geleng-geleng, katanya tak ada petinju bekerja disitu.

Aku kecapaian, pihak Garuda bilang, mungkin hilangnya di Jakarta. Mustahil, aku selalu menggendongnya kemana-mana dan aku tidak berhenti waspada. Yah aku harus relakan saja. Beberapa ratus Euro dan mata uang Amerikaku biar dipakai makan si Pendekar Belt dan keluarga besarnya. Mudahan dia itu salah satu yang berjiwa Robin Hood, yang mencuri untuk dibagikan orang miskin. Aku harus sabar dan rela karena aku juga punya misi perdamaian ke tanah leluhurku. Dengan kehilangan ini semoga Allah memberiku kemudahan.

Aku dan Lal tancap gas kembali ke timur, aku menikmati pemandangan sepanjang jalan di daerah Loteng yang kering,tapi disitu tumbuh subur tembakau kelas dunia. Meski aku sudah tak merokok sejak 20 tahun silam aku masih ingat rasa tembakau KESTURI yang dibawakan seorang teman yang pernah ikut rombongan turis ke Lombok di awal 80 an. Rasanya manis dan hampa. Aromanya lebih cendrung seperti bahan aroma terapi. Memang sebenarnya tembakau adalah bahan obat untuk terapi tetapi lambat laun manusia melak osok jadi adiktif dan menjadi penggila temabakau. Maka selain karena Ekex- pengotor dan melut- tidak disiplin, tembakau adalah penyebab segala penyakit orang Sasak. Sering penyakit saluran pernapasan yang akut sampai TBC merajalela menghantam sebagian besar nonperokok. Penyebabnya tak pernah ditangani tapi ribut mengobati penyakit yang selalu datang lagi. Satu batang rokok kretek dapat membunuh 10 ribu sel di tubuh manusia. Kun Mu Gawe, Kun Mu Dapet, Mu rasax -Apa yang kau tanam itulah yang kau panen, kata orang Siren.

Kao Fang hanyalah terminal kecil tapi mesjidnya megah sekali, meski kosong tanpa aktifitas sore itu. Perbatasan Loteng terlihat diantara pucuk bambu, memasuki Lotim dikanan jalan ada telaga, aku ingat waktu kecil suka mencebur di telaga kecil di persawahan desa Pe Ne Tha, tak jauh dari Labuhan Haji, telaga yang penuh dengan kepiting air tawar dan di selokan berpasir udang air tawar sama banyaknya dengan pasir itu. Tapi kolam ini sama sekali tak berair, hanya ditengahnya ada rumput yang sedikit menghijau dan seekor sapi kecil sedang merumput disana.

Aku memasuki Te La La, tidak banyak kulihat pembangunan, hanya gedung sekolah dan kantor pemerintah di sisi kiri kanan jalan. Setelah itu aku baca pelang besar di depan masjid yang lebih megah dari sebelumnya MASBAGIK di peta bapakku tak ada kota ini.Apa dia lupa menuliskannya. Lal Bilang ini pasar penting untuk ternak di Lotim. Memang Bapakku pernah cerita kalau di Lombok Timur peternakan sapinya unggul, karena Orang Sasak memelihara sapi dengan kasih sayang melebihi kepada sesama manusia. Tak heran disana berkumpul sapi-sapi paling berat se Indonesia. Untung belum pernah seorang zuhudpun memimpikan 7 sapi gemuk memakan 7 sapi kurus di Selaparang ini.

Bapakku pernah wanti-wanti berpesan kepadaku, bahwa aku hendaknya berlapang dada kalau sampai di Gumi paerku. Beliau membuatkan aku peta yang mirip-mirip jauh dengan peta buatan ahli kartografi professional. Petaku ini lebih mirip oktopus atau gurita. Maka supaya lebih menarik aku beri mata di Sambelia dan Tanjung Gunung. Mata gurita ini ku beri warna hitam dan merah dipinggirnya. Kaki-kakinya aku perpanjang semenanjung yang menjorok ke arah Australia adalah kaki kirinya yang panjang , Ekas kaki tengah dan Aan, kaki kanan yang panjang smenanjung Selong Belanak. Jadilah oktopusku dengan titik sepenuh badannya. Tiap titik besar Bapakku menuliskan dengan nama-nama Tiong Hwa semua desa besar di Gumi Selaparang. Banyak Tempat yang aku tak tahu nama sebenernya. Karena sudah tebiasa bicara dengan nama logat Cina akupun merasa lebih dekat dengan menyebutnya secara demikian.

Bapakku meminta maaf saat mulai cerita tentang tanah leluhurku itu. Dia katakana bahwa aku tak boleh berubah sedikitpun dalam hal menyayangi, menghormati bangsaku sendiri. Diantara ceritanya, beliau menyebut bangsaku sebagai orang –orang polos dan baik hati. Mereka akan mengabdi pada orang yang dipercaya dan tak akan berkhianat sampai kiamat. Kesholehannya termasyhur sampai ke negeri yang jauh. Keberaniannya menentang ketidak adilan dan penjajahan adalah yang paling menonjol di seantero Nusantara. Lihat berapa Jendral Belanda yang dikubur di Chak La.

Saat menceritakan sisi gelap Orang Sasak, Bapakku bicara perlahan dan sedih. Bahwa diantara para Sasak yang digdaya, satria dan polos itu ada berkeliaran maling, rampok, pencoleng dan penipu. Janganlah kau memandang rendah bangsamu sendiri dengan adanya orang jahat seperti itu, nasihatnya. Jagalah kebeningan hati dan kejernihan pikiran, seperti aku baca dalam riwayat Nabimu yang hebat itu, ikutilah Beliau , lanjutnya. Bapak dan Ibuku adalah penganut Kong Fu Chu, yang meyakini Kong Fu Tse sebagai Nabinya. Mungkin itu adalah salah satu dari 125 ribu nabi yang ada di dunia ini.Ya, orang yang sabar adalah kekasih Allah. Allahlah yang menuntun aku dalam jalan ini. Karena 17 kali sehari aku meminta jalan lurus dalam shalat wajibku. Allah pasti membimbingku.

Aku tiada khawatir mengenai orang jahat, waktu aku kuliah dahulu, pernah aku membaca statistic mengenai ragam penghuni sebuah kota atau desa atau dasan sekalipun. Meski itu didasarkan pada penelitian di barat tentu tidak terlalu jauh bedanya dengan di timur. Dikatakan bahwa ada 2% penduduk yang jahat dan 2% pula yang baik sekali. Dari tiga juta orang Sasak dalam angka, diujung ekstrimnya yang diatas ada 2% orang Zuhud dan diujung lainnya ada 2% raja diraja Maling. Kita ambil yang agak ke tengah tentu di bawah orang zuhud ada alim ulama dari yang paling sholeh sampai kiyai atau ustad yang tukang jual ayat. Kalau kita mulai dari bawah lalu ke tengah sesudah raja diraja Maling tentu ada pencoleng, penipu dan koruptor dari yang kakap seperti yang bercokol di pemerintahan dan dewan, PNS yang menerima suap dalam proyek kecil seperti pengadaan alat kantor, sampai guru yang mencuri kecil-kecilan dan bolos mengajar. Yang paling besar jumlahnya tentu kelompok munafik yang pergi ke masjid 5 kali se hari untuk senam. Mereka ini masuk ke wilayah mana saja untuk memuaskan nafsunya.

Kalau ada mahasiswa statistik yang menghusukan meneliti fakta-fakta itu niscaya semua orang Sasak jadi mukmer dan nyebox dirix karena sungguh mengerikan keadaan masyarakat yang sesungguhnya. Itulah alasan utama orang-orang zuhud menarik diri dari pergaulan tanpa menghilangkan kewajiban sosialnya.

Aku membuka kembali catatan nama-nama orang ada nama Amax Rumiah, dia ini seorang kurier pemberani yang bertugas mengangkut barang kiriman dengan cikar jalur Rarang hingga Labuhan Haji. Amax itu juga tukang masak nomor wahid. Ada juga La Sitah perempuan penjual makanan di pasar Selong. Aku akan mencari mereka atau setidaknya keturunan mereka yang pasti sekarang hidup di Selong atau sekitarnya. Nama Cina ada catatan dua bersaudara Yok Mbing dan Yok Oncen yang punya pabrik minyak kelapa di Labuhan Haji dan Gedung bioskop di Selong. Semoga aku dapat bertemu keturunan orang –orang itu

Aku meneruskan perjalanan lewat Kla Yu dan Tan Chung, bapakku bilang di dekat Tan Chung ada Te Los yang terkenal dengan dukun saktinya. Nanti akan aku cari tahu apakah dizaman ISO 9008 masih ada orang Te Los yang main kelenik begituan. Akhirnya aku liat sayup jembatan kecil, mungkin aku ada disekitar Sisix tapi aku tak melihat tanda-tanda sebuah bekas ibu kota disitu. Mobil melintas jembatan, sungainya berair keruh penuh sampah pelastik. Aku minta Lal menghentikan mobil di kanan jalan.

Lal memarkin mobil dekat sekali dengan Bong Cina (makam Cina). Aku mencari –cari makam dengan nama yang aku kenal tidak satupun aku temukan. Hanya bebeapa yang masih utuh. Jauh dari sana ada bagian khusus untuk orang Sasak dan aku masuk. Dengan suara pelahan sekali aku berucap, “ Assalamualaikum Ya Ahlil kubur”, akupun sedang menanti waktu untuk sampai ke tempat kalian. Semuanya makam baru tak ada sisa makam lama, karena orang Sasak taat agama mereka tidak membangun makam.

Aku tertunduk dan berdoa disudut timur makam. Pao Fang Fang, hanya rimbun daun bambu dan pokok kelapa disana-sini. Tak ada rumah di dekat situ. Hanya lapangan agak keseberang. Kosong dan agak kecoklatan. Burung-burung petux dan berugax mencari makan. Ada kambing terikat di sudut lapangan dan dua tiang gawang masing-masing di ujung sini dan sana.

Aku berdoa dengan syahdu selama satu jam aku disana. Doaku buyar ketika angin menyapuku dengan keras, daun-daun bambu menerpa wajahku seakan menyambutku kembali ke tanah tumpah darahku.

Tak ada kota yang indah seabagai dalam bayanganku. Toko-toko apalagi. Penduduk saja tidak ada. Aku memberi isyarat pada Lal agar menungguku disana. Aku berjalan sendiri sampai batas paling jauh lapangan itu. Sebelum perumahan sederhana di kanan jalan ada bekas-bekas puing tapi tak terlihat seperti puing kota Pecinan yang dahulu pernah berjaya sebagi pusat urat nadi perekonomian Gumi Selaparang.

Hari mulai senja, aku minta Lal mengantarku ke Dermaga. Lal agak bingung dengan permintaanku maka aku bilang pantai. Sesampai di pantai aku melihat kesenyapan yang tiada terperi. Kotor dan tidak terawatt. Jalan beraspal memang membentang dari utara ke selatan. Tapi tak ada bunga dan pohon penghias atau peneduh. Seekor anjing kampung yang buduk lari kea rah sepuluhan perahu yang diparkir dipasir pantai. Tak ada anak bermandi, airnya kotor dan bersampah. Di gubuk yang tak berdinding aku lihat anak-anak bermain kartu, seorang anak yang matanya buta sebelah tertawa dengan badulan dua batu baterei mengantung di telinga kanannya.

Aku harus segera mencari losmen untuk istirahat. Lal membawaku kembali ke Pancor. Aku menginap di losmen yang kecil dan tak reperesentatif. Tapi tak boleh ada keluhan, ini adalah tanah airku. Aku Shalat malam dengan rasa syukur bahwa aku telah sampai di Gumi Selaparang. Dimana kau berpijak disitu langit dijunjung. Hujan emas dinegeri orang hujan batu di negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri. Aku masih akan tinggal disini setidaknya 3 bulan sesuai visaku. Aku akan berusaha walaupun ada hujan batu. Besok aku akan mencari lagi orang-orang yang ada dalam daftar itu, meskipun aku harus menjelajah semua wilayah di peta oktopusku. Kenalilah dirimu agar engkau dapat mengenali Tuhanmu. Ya aku sedang mencari jati diriku.

Jogjakarta, 18 Feb. 2008 jam 10.40 WIB

Wallahualam bissawab,

Demikian dan maaf,
Yang Ikhlas

Hazairin R. JUNEP

SiGon MM

Senin, 18 Februari 2008 01:00
Di sebelah utara Selokan Mataram yang terletak di jalan kaliurang berdiri megah gedung Magister Management (MM) yang pernah suatu waktu membuat orang mabuk dan berbondong ke sana dengan segala cara agar setidaknya dapat ikut makan debu gedung itu.

Seorang cowok dekil berambut gondrong ngeloyor dari utara, sepertinya dia hendak ke kampus pusat namun dia berhenti di dekat tiang listrik. Aku berdiri persis di depan artha foto dan melihat-lihat gambar hasil jepretanku di berbagai candi kuno di Jateng dan DIJ. Tiba-tiba aku tersentak oleh hardikan satpam yang menegur sigon dekil (si gondrong) itu. Dia kencing di tembok batu di pinggir jalan.

"Kamu Buta ya?" teriak si satpam sembari menyuruh melihat tulisan di pelang yang berderet tiap beberapa meter, di situ tertulis: " Dilarang kencing di sepanjang tembok ini!" Sigon dengan cekatan menyahut " Aku tidak kencing di sepanjang tembok ini pak! Aku kan kencing disini! Kecuali kalau aku kencing membuat garis memanjang dari ujung ke ujung kau boleh menangkapku!".

Pak satpam segera menyadari ia sedang menghadapi filsuf jebolan gedung sebelah, yang sering sadar tapi lebih banyak jegolnya.
Pak satpam sendiri adalah jebolan APMD (akademi pemolok masarakat desa) yang cabut karena gak ada lagi lowongan camat ( cuek dan tidak amanat) di kampungnya.

Selagi merenung, dia dibentak Sigon" Dasar kamu MM!"
Satpam teriak" apa maksudmu ha?!"
"Kamu Masih Mahasiswa, goblok!" Satpam sangat jengkel dan tak kalah teriaknya" Kamu yang lebih MM!"
Apaan sih niru-niru aku, celetuk Sigon

Satpam teriak sampai kese suaranya: "Maling Mosot!" saking emosinya basa sasak yang keluar
Sigon langsung buang muka, wajahnya merah padam dan ngeloyor, tapi aku menangkap gerutunya : " Setan alas! bagaimana dia tahu aku ini sasak, sialan sialan".

Rupanya aku sedang menghadapi salah satu menteri kleder di Jogjakarta. Astagfirullahaladhiim!

Hazairin R. Junep

(Cerita ini fiktif belaka kalau ada kesamaan dengan pengalaman pribadi pembaca harap jangan dipercaya demikian pemberitahuan dari mm (melong mate) trima kasih)

I Ling

(Sasak.org) Minggu, 17 Februari 2008 01:00

Perjalan panjang memakan waktu 22 jam yang melelahkan tapi menyenangkan. Pesawatku transit untuk urusan teknis di Abu Dabi. Kota Arab yang sangat megah. Para pekerja di Bandar Udara yang kulihat dari jendela pesawat kebanyakan orang India dan beberapa berwajah Indonesia. Mereka adalah bangsaku yang mengais rezeki di negeri orang. Saat melihat orang-orang yang serupa denganku ada perasan khusus menyelimuti kalbuku.Setelah 10 tahun revolusi mahasiswa di tanah air, aku pulang untuk pertama kalinya. Aku sama sekali putus hubungan dengan negeriku selama 40 tahun lebih. Pesawat KLM yang membawaku dari Amsterdam mendarat dengan mulus di Soekarno-Hatta. Udara lembab yang aku kenali semasa kecilku aku rasakan lagi setelah lama sekali.

Aku tak dapat bicara dengan baik dalam bahasa Indonesia karena aku pergi saat masih 8 tahun. Tapi kami selalu berbahasa Sasak, bahasa ibuku. Urusan di imigrasi mula-mula rumit, gara-gara aku langsung antre di barisan orang Indonesia. Perasaan haru campur bangga membuatku lupa bahwa aku bukan lagi orang yang sama dengan mereka. Mereka ramah dan baik. Aku bertegur sapa dengan mereka, ada juga yang kudengar pakai bahasa Inggris campuran Indonseia yang aneh. Mungkin mereka adalah orang yang juga lama tilar negare (meninggalkan tanah air).

Saat tiba giliranku, petugas temberingux (menyeringai) dan kemos (senyum) lalu berkata: “over there. Sir!” (di sana tuan). Aku kaget dan mengambil pasporku sambil memnita maaf. “ Maaf saya keliru, terima kasih”. Kini gilran petugas yang kaget. Kalimat dasar seperti itu tentu aku hafal.

Aku antre lagi dibelakang para bule dan orang asing lain. Sampai di meja, petugas melihatku. Silakn! Katanya. Aku angsurkan pasporku dan dicap. Terima kasih, kataku dan langsung ke tempat pengambilan barang. Aku membawa barang ke bea cukai, mereka membuka semua bawaanku, Sedikit oleh –oleh untuk kawan-kawanku yang aku harap masih ada.

Penerbangan berikutnya adalah Jakarta, Surabaya Rambang. Di Surabaya aku harus ganti pesawat kecil. Selama perjalan Jakarta –Surabaya, nyaman dengan boeing, tapi yang ke Rambang Fokker dengan baling-baling. Aku ingat waktu kecil naik cikar di jalan yang berbatu, aku agak mual.

Pramugari mengatakan pesawat akan mendarat dalam sepuluh menit, aku melihat ke bawah, Tanjung Luar yang gemerlap dan kemudian didepanku Labuhan Haji penuh dengan kapal dan bangunan-bangunan tinggi dengan arsitektur campuran gaya Sasak dan Cina. Tengah malam sudah saat aku injakkan kaki di gumi paerku yang ku cinta.

Hotel tempatku menginap sangat nyaman meskipun kecil. Pelayan menawarkan makan malam tapi aku tolak karena lelah, lagipun aku tak perlu makan sahur. Aku mandi dan keluar sebentar bertemu dengan receptionist. Seorang perempuan muda keturunan Cina, Kami bercakap dengan bahasa Sasak. Setelah itu aku Shalat Isya aku gabung dengan magrib. Dan tidurku pulas sekali.

Pagi itu udara cerah, dari pokok-pokok kelapa yang tumbuh subur menyembul sinar mentari yang hangat sekali. Burung beterbangan, anak-anak nelayan berlarian ke pantai. Jam sembilan pagi sudah ku dengar suara burung koax kaox (kua kiau) burung asli gumi Selaparang. Burung ini sangat pintar menyanyi dan menari.

Jam sepuluh pagi aku keluar dan disambut para sopir taksi. Aku memilih bicara dengan seorang yang ku lihat berwajah teduh dan sangat sopan. Kulihat di dadanya ada namanya Amek. Itu adalah nama asli Sasak. Aku minta Amek mengajakku keliling kota yag aku tinggalkan 4 dekade lebih. Aku dibawa melihat Pao Fang Fang, sebuah daerah pecinan yang maju sekali, jalan yang besar dan mulus dari Bandara hanya memakan 5 menit dan aku turun. Amek memarkir taksinya dipinggir jalanm, di dekat Sekolah Cina yang bercat merah kunig dengan hiasan lampion dan naga dimana-mana.

Sopir taksi ini rupanya orang yang sangat berpengalaman, ia pernah menjadi pelaut sebelumnya. Sekarang jadi sopir taksi dan yang tak ku sangka Amek ada pemandu wisata handal. Ia bercerita mengenai sejarah Bandar besar Labuhan Haji. Sebagai Bandar pemberangkatan haji dan pusat transito barang dagangan untuk seluruh provinsi bahkan sampai Flores dan Timor.

Ada gedung olah raga dan hiburan yang besar bertingkat 7. Tempat semua warga berolah raga segala rupa dari fitness samapi futsal. Kolam reangpun tersedia sangat reprsentatif. Penduduk Labuhan Haji sangat ramah dan aku sempat berbicang dengan penjual pencok di pojok sekolahan. Ku lihat musrid SD sampai SMA yang bersih dan rapi, mereka campuran warga Sasak dan keturuna Cina. Ada yang bicara bahasa Sasak ada yang bahasa Indonesia dan Cina. Amek bilang kalau disana rata-rata anak bicara tiga bahasa tadi.

Kini Amek mebawaku ke tepi laut, gudang-gudang besar layaknya Bandar di Hongkong atau Makau. Para pekerja berotot menagkut barang dipundaknya. Ada juga yang mendorong dengan kereta kecil dengan barang setinggi gunung. Semua orang sibuk bagaikan lebah pekerja. Kemakmuran tampak dari wajah-wajah yang ceria sekali. Di tepi pantai masih ada nelayan yang baru datang, anak-anak yang sedang bermain ikut mendorong perahu. Tapi aneh nelayan tidak memberi ikan pada mereka, para awak perahu hanya berterima kasih dan melambai. Oh rupanya kemakmuran menhilangkan kebiasaan mencirox tapi tak menghilangkan keceriaan dan keramahan satu sama lain.

Taksi parkir agak jauh dan Amek ku lihat sednag minum cao di warung bawah pohon ketapang besar di sebelah gudang yang letaknya terlalu dekat ke pantai. Toke-toke sibuk mengecek barangnya. Buruh dengan riang menerima upahnya. Anak –anak TK pelesir mulai berdatangan, ada yang naik kereta api yang panjang, bukan kereta api sungguhan dan ada yang naik dokar dan bendi, belakangan aku tahu nama bendi itu, Cidomo. Menurut guideku yang hebat itu, cidomo berasal dari Cikar (rangkanya) Dokar (fungsinya) dan Montor atau Mobil (bannya). Aku bilang sama Amek Sado dari kata bahasa Prancis “dos a dos” dibaca dosado artinya punggung dengan punggung basa Sasaknya saling temudin karena merujuk pada cara duduk penumpang yang saling membelakangi.

Di Pelabuhan itu aku melihat setidaknya ada sepuluh deret jembatan pendaratan yang menjorok sampai 100 meter ke laut. Dahulu aku suka berenag sampai pal pembatas yang namany Tomba-tomba. Kapal-kapal besar bersandar jauh di sebelah timur di dekat Loang Sawax dan Ferry yang cukup besar, dua tiga kali lebih besar dari kapal Kuda Putih yang dulu melayari Lembar- Bali. Jauh ke barat terlihat kapal pesiar pribadi dan sampan sewaan dengan layar berwarna warni..

Sekarang jam makan siang. Amek mengusulkan agar aku mencoba makanan nenek moyang kami, beberok urap-urap, pencok lendong, pencok kima semuanya pakai tekot ( wadah dari daun pisang kalau di jawa disebut pincux) dan cao. Aku sudah tak mengenal makanan asli Gumi Selaparang itu tapi demi mengenang orang tuaku aku akan makan makanan yang mereka nikmati. Astaga naga, ini bukan lagi makanan Amek, teriakku. Ini namanya slada nuklir! Bagaimana tidak, ada kangkung, kecipir, brubusan disiram sambal tomat yang mengerikan pedasnya. Aku kalah, aku batuk-batuk dan minum cao sekali hirup tandas segelas tapi mulutku jeweh, mataku pecok dan tanganku beneng seperti kena api. Amek mengajariku, ucapkan MEKKKKAAAAH MEDINAAAH, sambil menghembuskan napas. Aneh-aneh saja Amek ini, cabe ya tetap pedas apa urusannya dengan dua kota suci itu. Atau itu sindiran bagi orang berdosa, cepat ingat bertobat! Kalau berbuat sesuatu terlalu eksesif.

Aku minta diantar berenang lalu Amek mebawaku ke kolam renang ditepi pantai ada air tawarnya juga. Aku berenang dan shalat dhuhur disana. Aku minta Amek menjadi imamku, dia salat panjaaaang sekali. Rasanya seperti bertapa menunggunya mengganti gerakan. Tapi aku merasa tentram sekali apalagi dengan Zikirnya yang panjang dan doa yang lengkap aku mengamini semua, meski aku tak tahu dia minta apa. Biasanya aku dan kawan-kawan di Eropah shalat berjamaah doanya sendiri-sendiri.

Setelah itu aku ke hotel dan berjanji akan pergi dengan Amek petang harinya. Aku memberinya uang 500 ribu agar dapat membeli kebutuhannya. Dia tampak terkejut dan menolak pemberianku. Aku katakana:” Amek, aku tidak membayarmu aku sedang memberi kepada saudaraku, kalau kau tolak bagaimana kau bisa menjadi saudarku yang baik?” Ia kelihatan terharu sekali. Tiap-tiap rezeki yang engkau terima terdapat hak orang lain! Mula-mula berilah kepada orang terdekatmu kemudian tetanggamu dst.dst.

Malamnya aku diajak keliling ke kota Selong, kota ini tidak semegah Pelabuhannya karena hanya berupa kota administrasi. Aku mampir ke gedung nasional yang megah dan kemudian gedung Gabimas di depanya berdiri indah sekali masjid dengan arsitektur Sasak Islam yang dapat menampung 5000 jamaah sekaligus. Dahulu tempat itu lapangan kecil untuk sepak bola.

Aku tidak melihat kampung kumuh yang dahulu disebut dasan. Semua blok tertata rapi dengan jalan-jalan yang simetris. Gang-gang kecil dibeton rapi, selokan air hujan bersih dan asri, dipinggirnya tumbuh bunga-bunga indah.

Tiba di pancor aku terpesona dengan bangunan paling indah disudut jalan, Masjid Pancor yang mirip dengan masjid-masjid di tanah Arab. Ku dengar Muazzin memanggil untuk shalat maghrib dan aku ajak Amek berjamaah. Imamnya sudah tua , aku belum pernah shalat dengan berlinang air mata seperti itu. Bacaan ayat pendek mula-mula surat Al Mau’un dan pada rakaat kedua surat Al Kafirun. Amek tidak menangis karena mungkin tatarannya sudah jauh lebih tinggi dari aku. Setelah shalat kami berzikir seperti Amek lakukan tadi siang. Stelah itu Imam berdiri dan membaca shalawat, aku sudah tak tahan akhirnya aku terisak, sambil menyeka airmataku aku bersalaman dengan jamaah. Di ujung yang penghabisan aku terkejut melihat temanku semasa kecil dia orang keturunan cina yang rupanya telah menjadi muslim. Aku ingat nama keluarganya Oey tapi entah siapa nama panggilannya.

Kami berbincang betimux bebaret setelah magrib itu dan kuajak Oey yang sekarang menjadi Arifin makan di restoran sebelah timur masjid. Restoran itu menyediakan masakan Cina, Jawa dan Sasak. Kami makan masakan Cina untuk bernostalgia. Setelah itu aku kembali ke arah Labuhan haji selepas shalat isya di masjid yang sama. Di depan universitas besar aku melihat panti asuhan anak yatim. Aku minta Amek masuk dan ku lihat anak-anak balita bermain kejar-kejaran. Ada yang berebut mainan, ada yang masih menggambar dan bernyanyi. Mereka sehat dan bahagia. Aku menemui pengasuhnya, seorang ibu setengah baya yang kelihatan sangat tenang dan berwibawa. Aku menyerahkan uang tanpa kuhitung dan aku pergi. Aku menolak tawaran minum dari bu itu. Celakalah orang yang shalat! Shalat tapi tidak mempunyai kepedulian sosial…Celaklah Orang yang Shalat!…

Aku terkejut dan terhempas! Aku istigfar, pesawatku berguncang, kiranya menabrak awan hujan. Subhanallah aku baru saja memimpikan kota kelahiranku. Aku sangat berharap menmukan suatu keindahan di sana. Karena sepeningalku aku dengar ada pemberontakan komunis dan kerusuhan yang membunuh saudaraku keturunan Cina.

Namaku I Ling, lahir di Pao Fang Fang, aku anak yatim diasuh oleh orang tua angkatku dari keturunan. Meskipun agama kami berbeda mereka terus mengarahkan aku menjadi muslim yang baik. Bahkan setelah mereka tahu bahwa harta benda dirampok dan keluarga mereka dibunuh satu demi satu oleh tetangganya sendiri. Aku dibawa pergi ke Eropah dua tahun sebelum kejadiaan itu. Kini bebekal peta dari orang tuaku aku akan pergi mencari keluargaku atau setidaknya makam ayah ibuku. Pramugari mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat dalam 5 menit. Waktu di Selaparang satu jam lebih cepat dan suhu udara 32 derajat C. jantungku berdegup, persaanku hampa… Sesungguhnya telah nyata kerusakan di muka bumi ini karena ulah tangan manusia!…

Ya Allah ampunilah aku, ampunilah dosa kedua orang tuaku, ampunilah tetua-tetua kami dan saudara –saudara kami, ampunilah para perusuh yang telah memporak porandakan gumi Selaparang sehinga terpuruk sampai kini. Ya Allah keluarkan aku dari kepiluan ini., betapa aku telah menjadi orang asing ditanahku sendiri.. Amiin

Jogjakrta, 17 Feb 2008 jam 3.45 WIB

Wallahualambissawab,

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

berlanjut ke mA LING