Tampilkan postingan dengan label Babad Batu Besar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Babad Batu Besar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

Babad Batu Besar VIII

Yogyakarta [sasak.org] Setiap hari semakin banyak pertanyaan yang muncul di semua FB yang dibikin oleh anak bangsa Sasak. Ada yang bertanya lalu dijawab sendiri oleh kloningannya pada saat yang sama. Satu kloningan bercanda, satu yang serius dan satu lagi melompat sana lompat sini. Yang lompat lompat itu yang paling banyak. Kita dapat dengan mudah mengenali kloning siapa yang menulis dan berpendapat. Kata orang Sasak, mudax mudax paso belax artinya semudah pecahnya tempayan.

Kegelisahan generasi muda yang mulai mencari identitas diri bagaikan orang hilang dikeramaian. Bahasa Sasak tidak bisa karena ribet mau meniru teater keliling seperti tooneel yang pakai bahasa Kawi campur Jawa, Bali yang digecok urap dengan bahasa Arab, Belanda dll. Jadi tidak hafal semua istilah aneh aneh. Mau bicara pakai bahasa Sasak sehari hari, kelimpungan juga karena sejak kecil dicekoki Bahasa Indonesia dan bahkan Inggris saking modernnya.

No problemlah, kita adalah bangsa yang beragam warna, boleh pakai bahasa manapun asal taat azas. Setelah perkara bahasa ini masih ada ribuan pertanyaan dan yang terakhir adalah masalah kerajaan yang diklaim pernah ada. Tiap orang punya versi, menurut mamixnya begini, menurut mamix yang satu lagi begono. Yang lumayan bijak bilang, terserah kalian mau omong apa. Jadi di Lombok itu orang boleh bicara tentang sejarah masing masing. Kalau tidak ada yang digali dari kuburan, ya dibuat atau copy paste dari mana saja, sampai manipulasi datapun boleh.

Sederhananya kerajaan di Lombok zaman baheula, boleh saja dibesarkan sehingga melebihi Majapahit dan rajanya punya keturunan sampai detik ini. Tapi kalau diminta tes DNA mungkin akan berkelit seperti lelaki yang menghamili tetangganya dan tidak mau menikah!. Tapi kalau dibesarkan kita akan jadi tukang omog besar. Kita diam saja nanti generasi muda akan terus mengorek korek apa saja agar mengerti. Semakin kita banyak mempelajari semakin sedikit kita tahu. Semakin banyak kita melepas semakin bijaksanalah kita. Bagaimana kalau kita melepaskan saja klaim klaim lucu yang terus membuat kita bimbang dan tidak maju maju.

Salah satu pertanyaan adalah dimana dan seperti apa keraton sisa sisa kerajaan yang pernah berdiri di Lombok itu. Ada yang merasa minder bahwa orang Jawa meningalkan Borobudur sedangkan papux balox tidak meninggalkan apa apa. Bisakah kita berputar sejenak dan melihat dari sisi lain sembari melepaskan baju baju kebesaran imaginer kita?.

Ketika seorang raja berkuasa ditempat yang makmur dan luas, ambisinya akan berkembang besar seiring dengan luasnya kekuasaan. Ada yang gila hormat dan ambisi pamer. Semua dibuat ekstraordiner, luar biasa dalam wujub benda materi. Tetapi ada banyak lagi yang tidak membangun benda materi namun memilih membangun manusia dan kemanusian. Apakah papux balox tidak bisa membangun seperti Borobudur?. Bisa, bukankah mereka adalah orang yang sama, mereka sama sama Budis dan memiliki ilmu yang setara?. Jangan lupa genius lokal berpran penting dalam suatu peradaban. Kita punya batu andesit, pasir, tanah liat dst persis seperti di Borobudur. Tapi kita tidak memiliki alam yang seperti lingkungan dibangunnya candi itu. Kita punya pantai yang serba dekat, gunung yang juga dalam jangkauan. Inspirasi orang yang tinggal di dataran rendah dengan orang seperti bangsa Sasak, mematerialisasikan harapan dan impiannya dengan cara berbeda.

Tenunan, jalinan anyaman, bahasa, filsafat, tembang dan kuliner adalah monumen besar yang ditinggalkan oleh papux balox kita. Politik dan kekuasaan boleh berganti beribu kali tapi pemeliharaan tradisi dan pembangunan manusia dan kemanusian tiada kata henti. Maka kita secara turun temurun menjadi bangsa yang punya kerajinan, filsafat dan tradisi serta bahasa yang tak rusak oleh waktu. Apa yang kita punya mungkin saja lebih lengkap daripada basrelief atau stupa candi. Bangsa hebat tidak selalu mengandalkan peninggalan kuno mereka sebab setiap 1000 tahun sebuah peradaban dimungkin menghilang sama sekali oleh sebab apapun. Seorang raja Korea menciptakan huruf hanggul yang merupakan cara penulisan paling genius di duniua. Orang Islandia tidak punya monumen tapi mereka adalah salah satu bangsa termodern dan makmur. Mereka punya karya Sasatra bernama Saga. Bahasa mereka sama dengan seribu tahun lalu dan mampu mengungkapkan istilah modern seperti faxsimilie dll. Bangsa Sasak tidak usah menggali kubur hanya untuk mengerti apa itu Sela Parang. Cukup pergi ke Obel Obel dan tampaklah apa yang namanya Selaparang. Kalau mau ribut lagi soal raja sampai Banjar Getas, lihat saja orang di dasan dasan yang jauh dari pengaruh kota, mereka itulah para raja. Mereka tetap pakai sarung setengah badan bukan?.

Selaparang artinya batu besar, mengapa mencari istana, kalau tahu apa artinya batu besar, Big Stones!. Mau berapa saja bisa, ambil sendiri dan gratis, sebab itu adalah warisan yang tiada henti dimuntahkan oleh Rinjani bagi putra putri maharaja batu besar. Berbagai bagai bangsa di dunia ini tidak pernah meributkan sampai mencungkil cungkil halaman tetangga saking getolnya dapat sebongkah batu sekedar legitimasi diri. Orang Singapura atau Australia tidak pusing mencari cari, mereka justru melakukan hal seperti yang dilakukan papux balox kita, yaitu membangun manusia dan kemanusiaan dan lihat hasilnya, hanya 50 tahun saja mereka membangun lebih dahsyat dari sekedar stupa dan baslerief bahkan dalam bidang sastra, filsafat, kuliner mereka maju pesat. Jadi kita harus memutuskan sekarang mau jadi jangkrik atau yang beken lagi adalah jadi tuntel sekalian, lalu menggali tanah dan cari tempurung kelapa, setelah seribu tahun kelak anak cucu masih mencari istana Tengkulak Gero!

Bagi yang muda dan bersemangat berhentilah menunggu, carilah pekerjaan yang engkau cintai agar seumur hidupmu kau tak perlu bekerja. Generasi momot meco saat ini penuh di boug boug karena mereka mencari pekerjaan yang tiada dicintai. Semua berbondong bondong jadi PNS padahal tak semuanya cinta profesi tersebut. Lihatlah dikantor kantor, apa saja yang dilakukan para PNS tanpa cinta itu, adalah meneruskan kebiasaan di boug boug itu. Mereka tidak merasa bertanggung jawab atas ancaman kesehatan anak dari jajanan beracun, kotor dan tidak layak. Mereka tidak peduli murid jadi apa yang penting lulus UN dengan cara apapun. Mereka tidak tergugah melihat derita akar rumput sampai mengkorup Raskin dan BLT. Kalau gagal jadi PNS maka konfresni tiada henti akan terus berlanjut, syukur sekali kalau ada yang cinta Malaysia, mereka akan berjuang sampai mati agar dapat kesana untuk melakukan tugas yang tiada dicintai. Derita tiada akhir adalah keputusan diri untuk mau menderita. Bukankah rasa sedih, rasa jengkel, iri dengki dan malas pun juga cinta dan bahagia, semangat dan tekad baja hanya bisa terjadi jika kita sendiri yang mengizinkannya terjadi?. Kalau demikian apalagi yang kalian tunggu?. Maju dan jayalah bangse Sasak!

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP



Komen from sasak.org

Batu lilih(deslander) says:
30 March, 2011 at 10:07 PM
bagaimana bangsa sasak tidak cinta malaysia,cinta arab,cinta brunei,walau hakekatnya tidak cinta,semua cinta karna keterpaksaan.bahkan untuk mengejar cinta yg dibenci tidak sedikit dari kami harus ngutang pada para rentenir,,tapi karena propesi yg tidak di cintai itu desa dasan di gumi paer sasax jadi putih.mudah2an kedepannya terune bajang bangse sasax lebih maju biar tidak ter jajah oleh china terus seperti kami..

Minggu, 01 November 2009

Babad Batu Besar VII

[Sasak.Org] Rustambing segera memberi instruksi kepada Dewa Perang agar secepat mungkin mengambil langkah langkah efektif untuk mengantisipasi musim berkelahi di daerah Tengax dan Timux naupun Bawax negeri Sasak. Di gumi paer ini yang namanya berkelahi itu seperti musim buah buahan ada yang sekali setahun ada yang dua kali tapi ada juga yang tidak ambil pusing mau hujan mau panas berkelahi terus. Klau mau mencatat yang positif ada dua perkelahian ajax ajax yang jadi atraksi turis yaitu perang topat dan perang timbung. Meskipun namanya perang tapi penuh suka cita dan cinta. Kalau yang disebut sebelumnya bisa lebih ngeri dari perang Iraq!. Turun temurun di tempat yang sama oleh kelompok yang sama. Bikin pusing bangsa Sasak kalau sudah mulai ribut.

Dewa Perang sangat stress membaca instruksi tertulis dari bos. "Cari akar permasalahan sampai tuntas!". Kata perintah tertulis itu. Dia termenung, mulai dari mana perkara rumit ini harus diurai. Kalau benang kusut sudah pasti dibakar saja supaya tidak membuat yang lain kesait. Tapi ini yang kusut adalah otak anak Bangsa Sasak yang secara serentak terjadi dan berulang. Memfitnah politik, menuduh adat, menggugat tetua, semua tidak terkait langsung, sebab perkelahian itu melampaui akal sehat untuk dimengerti. "Lebih baik aku berkelana, seperti biasa kami lakukan saat Rustambing di gumi paer", angan si Dewa Perang. Mencari ujung perkara tidak bisa berkutat dipusat masalah harus pergi sejauh jauhnya agar tak terlibat secara emosi, apalagi jadi korban.

Keputusan Dewa Perang untuk melanglang buana sendiri tanpa lapor bos sebenarnya akan membahayakan dirinya, sebab dia kurang dikenal sehingga tembok birokrasi dan pagar betis bebajang yang penuh curiga pada orang luar dasan tidak mudah diterobos. Dia merenung sehari penuh sampai lupa minum kopi dan makan talas rebus dan nasi dengan pes kerujuxnya. Sebelumnya mereka sudah mengembara diwilayah hutan dan gunung ada baiknya Dewa Perang mencoba ke tepian agar segar pemandangan dan fikiranpun lapang penuh inspirasi. Besok pagi akan dimuali kearah bukit bukit selatan. Sekarang siapkan tenaga dengan makanan sehat ala dasan dan tidur nyenyak. Berarti kopi terakhir adalah jam 14.00 agar efeknya tidak bikin insomnia nanti malam.

Dewa Perang mula mula masuk ke bekas tempat BERDIRI PEMERINTAHAN ( Kediri) dan mencari dimana puing puing kerajaan lama, tapi tak ada sisa. Kemudian meneruskan ke sebuah LUBUK (Gerung) siapa tahu masih ada ikan yang bersembunyi disana. Dia mencoba mendaki bukit bukit yang penuh ditanami ubi kayu, jagung dan kacang tanah, kalau musim kemarau angin berhembus dari LAHAN TERBUKA ( LEMBAR) ini, menyapu pelabuhan yang gersang. Para nelayan tak lagi bebas keluar masuk di pelabuhan sejak dijadikan sebagai tempat sandaran kapal kapal besar. Dewa Perang memutuskan menginap di sebuah dasan dengan 5 rumah yang sama sekali putus aksesnya pada jam 17.00 akibat air pasang. Kalau orang mau keluar harus menaiki perahu kecil namun mereka hanya keluar dalam keadan darurat. Di wilayah ini tak ada hansip, tak ada kantor tak ada puskemas. Kata orang disitu, pernah dasan mereka tenggelam saat TSUNAMI (Akibat gelombang) di Aceh. Pada saat azan subuh berkumandang dari masjid di seberang celah, Dewa Perang sudah naik dipuncak yang paling tinggi dari bukit di dasan. Dia shalat disana dan menanti matahari terbit. Sungguh luar biasa kuasa Allah menghamparkan gumi paer dengan pasak pasak besar dimana mana. Ada seberkas cahaya menimpa sisi timur bukit diseberang, bekas longsoran akibat pembabatan hutan yang sangat jahat yang telah diperbuat oleh tangan anak dasan sekitar. Bentangan TANAH KOSONG (Sekotong) tampak gersang. Dasan tempat menginap ini, berisi orang yang sangat bijak, kayu ditanam sendiri, rumput diusahakan dengan menanam juga, alam benar benar dijaga keasriannya. Jambu batu, pace, bumbu dan tanaman obat berlomba tumbuh memenuhi tiap jengkal lahan serta kelapa dan PALAWIJA (buah dan biji). Setiap menebang pohon selalu harus menanam dua pohon baru ditempat pohon lama.

Kalau cara hidup ini diterapkan di Ketare dan sekitarnya insyaallah tak akan ada perkelahian yang menjadi agenda rutin itu. Orang orang yang menghuni dasan ini sebaiknya ditransmigrasikan atau ditransplantasikan di Ketare dan dasan dasan yang hobi berkelahi agar mereka mencontoh kerja keras dan rasa hormat kepada alam. Sangat mengherankan banyaknya bebajang yang lebih suka momot di bough, seharusnya mereka pergi ke laut untuk mancing tinggal dilempar lalu momot nunggu ikan menyambar, tangkap dan momot lagi, itu jauh lebih bermanfaat. Mantri kleder seharusnya dapat disuruh berbaris dibelakang kerbau yang menginjak injak sawah, daripada memutari dasan 10 kali sehari. Dewa Perang hanya berangan angan, betapa hebatnya generasi ini kalau produktif.

Dewa Perang melaporkan hasil pencarian di bukit bukit seputaran Lembar. Orang orang diseluruh gumi paer sedang repot menghadapi kenduri jamaah pengajiannya. Yang menjadi masalah adalah dua kubu dan kubu sempalan lain tampak saling bersaing merayakan dan membesarkan diri. Sebenarnya apa yang tampak diluaran hanya efek permainan politis orang orang yang mengambil keuntungan dilingkaran masing masing tokoh utama. Parasit yang doyan makan dengan menghalalkan darah saudaranya itu berbahaya tapi sekaligus bermanfaat. Masyarkat akan melihat daya tahan dari tokoh sentral masing masing kubu, apakah akan mati dihisap parasit atau dapat membebaskan diri dan membawa anak bangsanya menuju kejayaan. Itu urusan waktu buka urusan Dewa Perang atau Rustambing.

Tratak daun bambu mulai memenuhi pinggir jalan sampai diareal luas seluruh dasan tempat pusat jamaah kumpul. Para pedagang souvenir dan makanan siap siap menyongsong hari H kenduri tahunan ini. Dewa Perang mendapat amanat dari Rustambing untuk bertemu dengan bajang Sasak tulen yang bersembunyi di lahan tumbuhnya BUNGA TANJUNG, Mimusop elengi (Tanjung). Di dasan ini banyak pepadu Sasak yang jago sepak bola dan salah satu dasan tempat para peniaga Sasak sejak dahulu. Di sebelah barat kira kira satu kilometer ada dasan yang dahulunya dibuat UMBUL UMBUL BESAR atau PENJOR (Klayu) yang juga tempat para entrepreneur asli Sasak berkumpul. Di Tanjung itulah Dewa Perang harus menemukan seorang yang bernama Demung Sandhubaye ( Penjaga Perdamaian). Dia ini adalah seorang terpelajar dan patriotis. Meskipun antara Rustambing dan tokoh ini hanya saling kenal lewat cerita dan hanya bertemu sesekali saat ada perisaian atau sepakbola tapi lewat hubungan antar kelompok bajang segumi paer, silaturrahmi virtual terjalin hangat.

Pernah sekali dua kesebelasan favorit mereka bertemu di final , PST melawan kesebelasan SAAT YANG DAMAI (Sandhikala) kedua team itu saling berganti kalah dan menang, semua pendukung dari awal sampai akhir berjingkrak jingkrak tapi damai. Tak ada holigan di dasan apalagi bonek yang rusuh, semua adalah penggembira. Sesekali Wasit Pak Sulaiman di kecam tapi itulah salah satu wasit terbaik di dasan. Demung Sandhubaye punya pergaulan luas sehingga dia dapat dengan mudah mengumpulkan pepadu yang bahkan bersembunyi di LOBANG IKAN SIDAT ( Lowang Tuna), LOBANG ULAR PYTHON (Lowang Sawax), TEMPAT KEBAIKAN YANG HARUM ( Dharamawangi), Dasan orang yang SUKA MAKAN (Peneda), di Bukit dan Lekukan (Korleko), Ladang RUMPUT (Gegurun), MANGGA BERWARNA GADING (Poh Gading), BATU DEWA (Batuyang) sampai di pelabuhan TEMPAT BERTEMU DENGAN DEWA (Kahyangan) tak ada pengecualian.

Dewa Perang harus bicara dengan Demung Sandubaye menganai tiga lembar takepan yang hilang. Takepan yang ditulis dengan torehan huruf Sasak yang sebenarnya adalah Hanacaraka yang dipakai di Asia Tenggara dengan gaya khas. Tiga Lembar takepan itu hilang saat terjadi kekacauan Ganyangan di Lombok Timur. Sejak hilangnya tiga lembar takepan itu kehidupan anak bangsa Sasak kocar dan kacir tanpa pegangan kuat kepada ajaran agama Islam maupun adat Sasak Lokax. Apalagi setelah kepergian satu satunya TUAN YANG MENGAJAR (Tuan guru) Almarhum Tuang Guru Al Pancori, makin runyamlah anak bangsa Sasak ini. Dewa Perang memberi nomor HP dan alamat elektronik Rustambing yang terakhir agar mereka dapat berkomunikasi lebih cepat.Menurut cerita isi dari tiga lembar takepan yang hilang itu menyangkut gambaran prilaku dan karakter Bangsa Sasak.

Penghuni gumi Sasak ini dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok DATU adalah mereka yang berkuasa atau berpengaruh karena politik atau harta. Kelompok berikutnya adalah orang yang deberi makan yang dalam bahasa Sasak disebut "DENGAN TEIMPAN". Kelompok ini adalah orang yang bekerja untuk datu, baik sebagai pegawai atau pekerja yang terikat dan menerima upah secara teratur. Kelompok terakhir adalah "DENGAN METANG DIRIX" atau Swadaya yaitu orang yang mengusahakan hajat hidupnya atas daya upaya sendiri. Mereka adalah para pedagang, pengrajin, petani dan buruh. Masih banyak lagi pembahasan lain yang akan diceritakan oleh Demung Sandhubaye tapi Dewa Perang sudah mengantuk, mereka beranjak tidur di brugak. Malam itu rembulan penuh dan udara hangat, kelelawar beterbangan menyambar buah jambu, mangga dan sawo. "Kekeyas", burung hantu menjerit berkali kali terbang kearah barat melintasi dasan yang semakin sunyi. Alam yang damai ini tak juga dapat menjadi pelajaran bagi penghuni gumi paer. Entah apa yang kurang sehingga penghuninya kurang pandai bersyukur.

Wallahualambissawab,
Demikian dan maaf

Yangikhlas
Hazairin R. JUNEP


Comments (8)

hadiprayitno: ... http://www.balenajwa.blogspot.com
Akhirnya Kediri disebut juga hehehe..baru tau kalo kediri adalah bekas tempat 1
pemerintahan berdiri...1

July 31, 2009


Le Mujitahid Amien: ...
Salam, akhirnya rustambing sampai juga di kampung saya di tanjung...memang kampung ini sampai sekarang jadi juara " sepak bola " di NTB kesebelasannya namanya PERSATA ( persatuan Sepakbola Tanjung ), kecuali tahun kemarin dikalahkan oleh Mataram, penontonnya atau pendukungnya mirip " bonek" atau " bobotoh " kalau sudah sampai di Mataram atau Ampenan ,karena hampir semua angkutan dari Lotim - Suwete ada di kampung ini dan sebagian jadi sopir,jadi bisa dibayangkan ?, masa kecil tiang kalau mau ke pantai Labuhan Haji selalu melewati Loang Tune dan Loang sawax serta Darmawangi, cuman sayang rustambing tak sempat mampir di lengkok dudu dan SISIK dulu menjadi Ibu kota di zaman jepang dan sekarang masih ada sisa sisa nya dengan adanya pekuburan china disebelah kali dan sebelah sma 1 labuhan haji,
Keturunan Demung Sandhubaye masih pada bergentayangan di diaspora ini....ah.. 2
jemak telanjutang malik.2

July 31, 2009


Le Mujitahid Amien: ...
Salam, keturunan Demung Shandubaye ini adalah salah satu datu " sasak " pertama ( Gubernur Lombok pertama mamiq Ripaah },kalau di diaspora tidak jauh jauh berdekatan dengan tempatnya merantau rustambing di pakem jogya sana ada DUTA Seilla on 7 dia itu cucunya kiyai MOJO anak dari alm hakam mojo beristrikan keturunan demung shandubaye Baiq Hilwi atul akhla saudara dari Lalu Mawarir Haikal Kepala dinas perkebunan NTB dari generasi ke empat sedang generasi sebelumnya ada miq azhar mantan wagub dan banyak yang lainnya.
Dulunya kalau ada wayangkulit atau pasar malam di gandor selong kampungnya rustambing, biasanya pepadu selong,klayu dan tanjung selalu " besual" tapi tak sampai "bejaguran " tapi beda pendapat yang bagus dan berdemokrasi yang cantik, pendek cerita generasi berikutnya arak sik numpuk lek seputaran tanjung,klayu,gandor sampai pancor pada ngukur bouge atawe besekolah dan jeri birokrat,politisien dan ' begelayat " lek diaspora.
3
Terusang maling perjalann rustambing mengelilingi gumu paer te lek lombok. 3

August 01, 2009


Jati: ...
Hahaha TANJUNG, tiang tentu ingat sekaLi dengan kampungnya Miq. LMA ini.. duLu tiang sering mancing ke Tanjung, sewa sampan penyepax 5 sampai 10 ribu sehari hehehe.. umpannya pakai kotoran sendiri hahaha.. tapi dapet ikan serpix, tarikannya kuat..

Kahyangan dan Lembar, 2 pintu yang mesti kita 'jaga' agar orang2 yang masuk tetap bisa menjaga sopan santunnya.. Sip Miq ..

4

August 01, 2009


mansur: ... http://www.pakmansur.co.cc
Miq.. ditungu babad Batu Besar VIII...
5
apa hubungan kediri/mataram dengan kerajaan kediri/mataram yg di jawa. 5



Jati: ...
Jika ada semeton2 yang tahu.. Napi beda antara TANJONG (tiang jadi inget dengan guru oLah raga tiang waktu SMP duLu, beLiau berasaL dari sana..) di Lobar bagian utara dengan TANJUNG di Lotim..? napi cuma masaLah diaLek aja daLam penyebutannya?

6

August 05, 2009


mansur: ... http://www.pakmansur.co.cc
Bang Jati.. di sibolga banyak skali TANJUNG....
7
Macam mana pula bedanya...7

August 05, 2009


Le Mujitahid Amien: ...
Salam meton Jati, yang bisa membahas beda tanjong di Lombok Utara dengan Tanjung di Lotim , coba tanyakan ke meton rustambing eh..eh.. meton HRJ , 8
beliau ini punya banyak wawasan soal asal usul kita batur sasak,-8

August 06, 2009

Babad Batu Besar VI

[Sasak.Org] Rustambing terguncang guncang dikursinya padahal dia baru saja duduk beberapa saat ketika Bom menghantam hotel sebelah. Gawat dua hotel sekaligus diledakkan dalam jarak 10 menit. Rustambing lari keluar ruangan bersama semua karyawan laki perempuan. Meskipun tak ada seorang yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Dalam benak Rustambing hanya ada satu `gempa". Dia sering sekali diguncang sperti itu di gumi paernya. Setidaknya guncangna ini ada pada 6 skala richter. Di gedung samping, asap membubung dan manusia kocar kacir. Ada yang teriak histeris, `Booom" . Korban bermunculan dari dalam asap dan ada bebrapa orang yang dipapah dan digotong ke halaman lalu digeletakkan begitu saja.

Rustambing sadar, terrorist telah beraksi memporak porandakan negeri. Dia meberi pertolongan dengan gesit pada orang orang yang lemas dan histeris. Dia sudah biasa menjadi belian kecil kecilan untuk urusan mental recovery (memulihkan mental). Kalau dikampung ada yang ngamuk ngamuk dia cukup meniup niup kening pasien dan mengurut urut tangan dan kaki seperti reflexiolgy itu. Orang dasan menganggapnya belian sungguh padahal Rustambing tidak percaya takhyul. Kebanyakan pasien itu sedang down atau common cold alias masuk angin, maklum kebanyakan momot meco. Yang momot orang yang disalahkan bakex berax.

Sudah lima orang yang ditangani barulah muncul mobil polisi dan ambulan. Pertolongan sering sekali terlambat di negeri kami karena hambatan birokrasi dan alasan lain. Bagaimana mungkin orang akan menolong harus lapor atasan, isi formulir dan sebagainmya. Korban yang tewas banyak sekali karena keterlambatan PPPK. Waktu Tsunami Aceh, dibutuhkan antibiotik untuk tetanus, karena hambatan semacam itu obat obatan terlambat padahal masih harus bersepeda tau jalan kaki kalau sudah berhasil masuk daerah bencana. Orang yang kena tetanus akan mati dalam tiga hari kalau tak ada antibiotiknya. Dan entah berapa yang meninggal karena keterlambatan kita bereaksi.

Rustambing berkoordinasi dengan para manajer yang berkantor disekitar Mega – Kuningan untuk mengambil langkah selanjutnya. Sebagian karyawan sudah pulang dan ada yang ke RSU untuk pemeriksaan kesehatan. Rustambing adalah salah satu manajer di daerah elit itu sejak dua tahun terakhir ini. Dia banyak diminta menangani masalah spiritual dilingkungan para kapitalist itu. Pergaulannya sangat luas menembus batas agama, adat dan bangsa. Untuk Ramadhan tahun ini dia sudah masuk daftar sebagai pengisi ceramah diberbagai mushalla kantor kantor besar di Jakarta. Dia bertekad akan membasmi terorisme dari bumi ini. Dia percaya keadilanlah yang harus ditegakkan. Kalau terrorist itu merupakan korban cuci otak, maka kita harus preventif dengan mengisi otak pemuda kita dengan kasih sayang dan pendidikan yang terbuka. Tidak cukup hanya berteori tapi kita buktikan dengan perbuatan. Mengajak mereka bermain bersama, out bound, kemah sambil pengajian. Menanamkan JIHAD untuk memerangi hawa nafsu sendiri adalah priorotas utama. Kalau sudah sampai ditema itu, Rustambing tanpa sadar berhenti bicara dan dadanya sesak. Jakunnya akan turun naik menelan liurnya yang pahit. Dia bisa bicara tentang JIHAD melawan hawa nafsunya di Jakarta dan bisa meyakinkan para karywan sehingga makin keras mereka bekerja dan makin tekun meniti karir. Semetara di dasannya ada 1 TG untuk 200 penduduk. Suatu prestasi gemilang yang tak ada bandingnya didunia ini. Kalau di suatu Negara ada 1 polisi untuk 300 penduduk, itu cukup untuk mengendalikan keamanan. Tapi TG yang berserakan itu tak kunjung sanggup mengamankan masyarakatnya dari momot meco, busung dan maling. Sering hati kecil Rustambing menjerit, karena dia bisanya ceramah diluar tapi gagal di gumi paer.

Rustambing mulai bimbang dengan pilihannya tinggal di kota besar. Dia ingin pulang ke gumi paer. Dia sudah mulai mengumpulkan uang untuk sebuah revolusi di tanah kelahirannya tapi duit tak kunjung jadi banyak sebab 90 persen dia kirim dan dibagikan kepada yang memerlukannnya. Rasanya tak habis habisnya manusia yang kritis yang terus menunggu uluran tangan. Lambat laun Rustambing merasa lebih baik hidup dengan cara Rasul SAW. Kosnya hanya dua kamar dengan kamar mandi umum. Meskipun untuk kelas manajer seperti dia ada fasilitas kredit apartemen. Dia lebih baik membangun manusia dan kemanusian daripada benda yang akan musnah. Dia menghayalkan seandainya Fir'aun membangun Piramid bersama dengan membangun manusianya, niscaya ada generasi hebat yang lahir kembali setelah 1000 tahun peradaban itu. Nyatanya Mesir tamat juga, dan begitupula Babilonia. Mengapa manusia cendrung mengabaikan kemanusiaannya sendiri. Rustambing lupa bahwa manusia sesunguhnya adalah makhluk pintar diantara yang bodoh sehingga dia sering ikut bodoh dan banyak yang mati dalam kebodohannya. Berapa banyak yang mati karena mengejar lembaran rupiah di ibu kota ini. Berapa banyak yang tenggelam dilaut sebagai TKI illegal untuk mengejar harta?. Diantara pilihan bodoh itu momot meco masih lumayan, karena mereka paling banter hanya mengotori dasan namun tidak membikin susah orang dinegeri lain. Berarti orang yang momot meco itu punya potensi besar untuk dikembangkan. Sebab mereka sesungguhnya manusia murni yang sedapat dapatnya tidak mengganggu orang lain.

Dewa Perang sedang duduk di tengah sawah yang sedang siap panen, dia banyak bersiul dan mereret. Irama tembang merarix malik mendayu dayu dari balik bebalexnya. Dia dapat firasat bahwa ada instruksi dari bos. Laptop Toshiba satellite dibuka dan dia dapatkan email dari bos. "Perintah tertulis untuk Dewa Perang. Segera data para orang yang salah sebut. Dimana saja mereka berada dan berapa banyak pemuda pemudi yang momot meco dan ngotok otok tiap pagi dan petang dimusim ini!". Perintah selesai.

Dewa Perang bingung, siapa maksudnya orang salah sebut. Di dasan ini, semua orang dipanggil mamix sejak beberapa tahun belakangan ini. Akibat dari cara berbahasa Indonesia yang kurang baik dan tidak benar mereka bicaranya ngelantur. Dia ragu, mungkinkah yang dimaksud salah sebut itu adalah semua orang kampung yang disebut mamix?. Anak laki lakinya dipanggil raden nune dan yang perempuan jadi baix semua.

Setelah mengotak atik semua informasi dan bicara dengan bajang bajang yang kuliah di Unram, IKIP, IAIN dan Hamzanwadi yang kebetulan suka ngotok otok di bough. Dewa Perang berkesimpulan. Daftar orang salah sebut dikampung itu, bukan orag yang dimaksudkan si bos. Setelah shalat isya dan ikut pengajian, Dewa Perang minum air putih sesudah sikat gigi pakai siwax. Dia merenung, dan sekejap dia dapat jawabannya. Pasti yang dimaksud adalah TG. Diapun tidur dengan nyenyak tanpa rasa takut akan kemalingan, sebab dia sudah popular juga diantara para maling. Seolah ada kode etik diantara orang yang sudah saling mengenal. Tapi maling yang tertangkap di dasan ini akan MATI!.

Seorang anggota komunitas yang sangat aktif dan bersemangat memberi data lewat SMS sebab internet di gumi paer nyambungnya suka suka. Di Lombok Timur ada 500 orang yang SALAH SEBUT. Anggota yang satu ini sangat peduli dengan gumi paer sebab dia berhadapan langsung dengan kenyataan. Bisa dibayangkan alangkah pusing dan sedihnya hati. Apa saja yang dilakukan seolah seperti bola yang memantul terus. Sampai sampai dia sempat frustrasi. Dewa Perang melanjutkan SMS untuk menjawab keprihatinan semetonnnya.

Satu cara meton, berhentilah menyebut mereka TUAN karena mereka gagal. Menjadi Tuan bagi dirinya saja tidak bisa, buktinya mereka sampai didaftar untuk pengobatan gratis dan bahkan hanya 120 yang layak dianggap miskin dan 380 tidak layak dimasukkan daftar mungkin karean tidak termasuk "TG". Mereka juga tidak berhasil menjadi Tuan bagi jamaahnya, buktinya para pemgikutnya tak juga maju dan sehat.

Jangan pula kita sebut mereka Guru karena mereka tak punya akta mengajar dan tidak sedang menjadi GTT. Oleh sebab kita suka menyebut orang sembarangan maka kitapun tidak punya kriteria/syarat sehingga sembarangan kalau bicara dan memanggil orang. Memanggil keliru maka yang datang juga orang yang keliru dan apa yang kita harapkan?.

Kalau kita sebut nama ULAMA barulah tepat, kriterianya jelas dan kasat mata, sebab ULAMA ini adalah ilmuwan, cendekiawan, tuan bagi diri dan masyarakatnya, guru bagi bangsanya tapi yang jelas ULAMA itu sunyi dari hingar bingar dunia. Sebab ULAMA itu bersifat sangat JUHUD.

Laporanpun diteruskan ke Rustambing bahwa ada banyal orang yang salah sebut itu. Orang momot mecopun ternyata sangat banyak. Sehingga susah mendatanya. Selanjutnya disepakati bersama untuk mulai saat ini tidak memanggil orang dengan sebutan yang salah dam menuntaskan si momot meco. Mudah mudahan ini sebuah permulaan agar masyarakat kita yang sudah telanjang, sudah berikrar, sudah sangkep dan sudah piawai dan ingin professional, semakin memahami diri dan segera mengambil langkah besar untuk sebuah pembebasan.

Wallahualambisswab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP


Comments (3)

M. Roil Bilad: ...
Wah semakin berkembang ini cerita Rustambing.

====================
Terlalu keras mengkritik TG, kadang-kadang jadi keder juga saya yang baca. Jangan-jangan ntar dianggap orang kalau pengritik itu pengen jadi tuan guru. Namun jika memang mungkin harus dibuat pedas, harus lebih pedas dari cabe rawit biar terasa.

1
Mugi-mugi sing nulis tetap dijaga keikhlasannya hanya karena Allah...1

July 25, 2009


Hazairin R. JUNEP: ... http://www.hazairinrjunep.blogspot.com
Kita tak boleh takut mengkritik ulama kita,mereka adalah orang yang mengganti para Nabi, jangan sampai mereka hanya bangga dengan nama dan jubah tapi tidak mencerminkan penerapan ilmunya dalam kehidupan nyata. Isnyaallah mereka 2
adalah orang yang berlapang dada, amiin.2

July 25, 2009


M. Roil Bilad: ...
3
Sip, sepakat tiang----3

July 26, 2009

Babad Batu Besar V

[Sasak.Org] Rustambing ke Jakarta berbekal ijzah dari universitas swasta lokal di tanah Selaparang. Jurusannya pendidikan Agama Islam. Dia pandai mengaji dan pandai bergaul sebagai buah akidah yang berlandaskan Rahmatanlilalamain itu. Enam bulan yang lalu dia sempat tinggal di Jogjakarta menumpang di kos seorang kenalan dasan. Di Kota Gudeg itu ia menempa diri dengan ikut kursus kepribadian dan bahasa Asing. Meskipun nilai bahasa Inggrisnya A di transkrip nilainya, tapi begitu dia masuk gedung LIA dia mendengar anak anak setingkat SMP cas cis cus dalam bahasa Inggris yang bening. Sementara dia bicara dengan T tebal ala ABIST (Aceh, Bali, India, Sasak dan Tamil). Tak masalah yang penting usaha. Diapun lari pada periode jam belajar berikutnya ke Lembaga Indonesia Prancis dan Pada malam hari dia ikut Bahasa Arab tingkat lanjut di UIN Sunan Kali Jaga sebab dia sendiri meneyelesaikan S1 dalam studi Agama Islam yang sudah pasti harus lancar berbahasa Arab.

Suatu malam temannya yang baik hati, siapa lagi kalau bukan satu satunya anak bangsa Sasak yang menjadi penyelamat dan diberi judul wali kota malam Jogja itu, mengajaknya pergi ke Malioboro dan berhenti di lesehan. Rustambing tidak mau makan setelah melihat tulisan GUDEG yang dia baca Godeg! Pikirnya daging monyet yang dijual. Dia jijik sekali dan mengajak pulang. Setelah beberapa bulan Rustambing dibawakan oleh oleh kawan kursusnya, kotak makanan putih berisi nasi dan sayuran dengan telur rebus yang berwarna gelap. Ada sambal tomatnya pula. Ketika dia memakannya dia merasa heran rasa sayur itu manis tapi perutnya yang lapar membuatnya terus menelan dan lama lama enak juga campuran rasa manis dan pedas. Ketika teman sekamarnya pulang dia cerita dapat kotak makanan yang rasanya aneh tapi enak. Sayur nangka kering rasa kolak, katanya. Sang wali kota malam nyemprak ketus, itu daging monyet yang kamu benci itu blo'on!. Barulah dia tahu gudeg bukanlah godeg alias monyet!

Rustambing ikut nebeng di rumah seorang teman sedasan lain dari Loteng yang kos di Cempaka Putih, dekat RSI dan Asrama Haji. Dia bertekad mencari pekerjaan dan dari teman lain dia dapat info ada lowongan di sebuah perusahaan besar yang memerlukan orang yang dapat berbahasa Inggris dan dapat mengoperasikan program computer untuk kantor. Rustambing merasa syarat itu pastilah sesuai dengan dia. S1 dan bisa bahasa Asing jurusan apa saja dan kalau Cuma word, power point dan sejenisnya sudah lama dibereskan saat ikut di LIA maupun LIP yang memberi tambahan pelajaran itu. Rustambing mencari alamat perusahaan itu di daerah Pasar Senin. Setelah memasukkan lamaran dan meninggalkan nomor HP dia pulang dan menunggu di kos sambil latihan memasang gaya ala John Robert Power penuh percaya diri. Sambil mengucap kalimat kalimat joss dalam bahasa Inggris yang bening berkat latihan rutin 5 kali sehari setelah zikir sholat lima waktu. Dia dapat SMS untuk wawancara besok pagi jam 11.00 WIB.

Pagi itu hari Senin dan dia harus pergi ke daerah pasar Senin dan harus tiba jam 11.00 tepat. Supaya lebih cepat harus pinjam motor kawan pikirnya. Maka dia menunggu kawannnya pulang kuliah jam 10.30. setelah siap dengan segala keperluan dia keluar tepat 40 menit setelah jam 10.00. dengan doa yang sangat khusuk dia keluar. Penampilannya sangat berbeda dengan kebanyakan bajang momot meco, dia tampak seperti pemuda metropolis. Pakaian necis serasi. Langkahnya tegap karena dia hanya bergantung pada tali Allah. Selain Allah semuanya kecil. Kita semua kecil jadi tak ada rasa ragu sedikitpun.

Baru keluar dipertigaan dia melihat alangkah ramainya jalan itu. Rustambing agak kikuk maka dia hanya menjalankan motornya pelahan lahan saja. Sampai di dekat restoran minang dia melihat seorang wanita sedang berusaha mengganti ban mobilnya yang gembos. Rustambing menghentikan motornya dan lupa sama seklai bahwa dia sedang menuju tempat wawancara. Dia mendekati ibu itu sambil mengucap salam. Menawarkan diri untuk membantu. Ibu itu menolak tapi Rustambing mengatakan bahwa dia ikhlas melakukan kewajiban menolong sesama. Ibu itu terkesan dan membiarkan Rustambing membuka dan mengganti ban mobil. Stelah selesai, ibu itu berterima kasih dan berlalu.

Setelah asap mobil itu tak tersisa, Rustambing menaiki motornya dan baru sadar hendak kemana. Ditancapnya gas dan secepatnya sampai di kantor tujuan. Dia melihat jam, lacur, Rustambing terlambat 15 menit. Dia sudah tak punya harapan tapi sekedar memuasakn rasa penasaran dia melihat juga ke dalam. Sampai di dalam satpam menanyakan identitasnya. Satpam berkata Wawancara baru saja akan dimulai karena ada masalah teknis. Setelah menunggu beberapa saat rupanya Rustambing adalah calon terakhir yang dapat giliran. Dia masuk ke suatu ruang yang bersekat sekat dan harus mengikuti wawancara 2 kali. Setelah selesai dengan seorang bapak yang dingin sekali dia disuruh pindah ke ruang bersekat didepannya. Ruang itu lebih besar dan ada sofanya. Rustambing masuk dan seorang ibu menunuggu sambil berdiri menyebut namanya, Bapak Rustambing, silahkan. Kedua orang itu sama sama terkejut. Belum pernah ada wawancara sepanjang itu. Ibu itu sangat terkesan menemukan pemuda yang seperti Rustambing di kota Jakarta, maka dia diminta menguraikan tentang dirinya ditambah visi dan misinya panjang lebar bagaikan caleg saja. Saat ibu itu mengatakan selesai, Rustambing mengangkat dua tangan dengan menyusun jemari, mohon pamit. Tidak, kata ibu itu. Mari saya bawa ke bagian HRD, Bapak Rustambing langsung masuk besok pagi.

Ibu itu mengajak Rustambing makan siang, di restoran Sunda. Di Prasmanan dia melihat gurami goreng, dan ada lalapan serta karedok. Waduh liurnya jadi kecut mengingat karedok ini adalah lelasux yang suka dimakan di sawah saat matax (panen). Kacang panjang mentah dengan sambal tomat. Mereka makan, dengan tenang, Rustambing yang biasa ngamuk makannya kali ini jaga image di depan bos. Padahal ibu itu terus menerus mengatakan supaya Rustambing berbuat seperti di ruamh sendiri. Slamet inax, aduh …Trima kasih Ibu, katanya. Ibu itu bertanya, itu bahasa Sasak ya? Terimakasih apa tadi? Slamet! Oh "Slamet" ya, Pak Rustambing katanya menirukan. "Ngiring tiang", jawab Rustambing, yang artinya, sama dengan bahasa Prancis, S'il Vous Plait atau Bahasa Rusia, Pozhaluista. Rustambing pulang ke kos temannya dengan hati berbunga bunga, dia kenang nasihat inax amaxnya ketika menggali lahan tandus sawah tadah hujannnya. Bahwa janganlah salah niat dalam melakukan apa saja. Niat harus bersih semata kerana Allah. Jangan bekerja karena memburu uang, bekerjalah sebagai bagian dari ritual ibadah.

Rustambing menemukan jalannya seperti dia selalu membuka jalan bagi anak bangsanya. Jalan yang dilalui selalu terbuka lebar tanpa dia duga tanpa dia perhitungkan. Sekolah hanya mengajarkan hal hal yang logis tapi pengalaman hidup di tanah Sasak membuka dan memperkaya bagian lain dari sang diri. Kini pintu dunia terbuka lebar bagi sang anak dasan.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Comments (5)

lmjaelani: ...
1
Ternyata Godeg itu MANIS 1

July 21, 2009


mansur: ... http://www.pakmansur.co.cc
Tiang punya pengalaman manis bertemu godeg..eh..gudeg.
pertama kali menginjakkan kaki di terminal jogja th.'90 tengah malam, perut keroncongan... pas pesan makanan teringat gudeg... pasti enak nehh...
ternyata setelah dicicipi sesendok langsung kenyang karena kemanisan... dasar elat 2
lombok. jangankan manis.. kecap asin aja gak pernah makan.2

July 21, 2009


Jati: ...
Hahaha.. pa Guru Mansur, kaLo di Sumatera kayaknya terkejut sama Lapo.. Mirip sama berugak gubuk baLi dibelakang Pure Praya, tiang dulu sempat 'begajulan' disana.. hahaha... masa lalu hehe

3

July 23, 2009

4

Le Mujitahid Amien: ...
Salam, banyak orang indonesia ataupun orang sasak yang berhati lembut dan jujur apa adanya seperti semeton rustambing yang begitu IKHLAS melakoni " jalur " hidupnya bak air yang mengalir lekan atas gunung rinjani berputar putar di sekitar sembalun ,bayan turun malik aning tengak tengak kopang sampai di batujai dan menyusuri bayan turun tipaq seputaran tanjung gunungsari, juga lewat sembalun turun lek dasan lian aikmel sampai menyusuri wanasabe kekanan tipak anjani terus ke suralaga lewat di belakang pondok NW pancor ke belakang selong , klayu, bertemu disamping kokok jaoq dan kokok reban dekat kuburan di tanjung sampai di darmawangi labuhan haji,-
Memang si rustambing ini akal ne luek geti tapi dianya tak pernah menyerah dalam menantang hidupnya, dia lakoni terus sampai ke ujung dunia, jangan jangan setelah ne toaq mangkin keyekane mongkak minak pelecing bareng bebalung dit campurne bareng gudeg lek tanak ne sultan hamengku buwono X lek ngayogyokarto diseputaran pakem 4
kaliurang ? jangan jangan ndih meton ? he..he..he... 4

July 23, 2009
5
mansur: ... http://www.pakmansur.co.cc
Tiang sependapet kance Miq LMA
Tiang tambah sekedik, .. Timak ne uah toak laguk penampilan kance 5
semangetne ngalah2ang dengan bajang miq. 5

July 24, 2009

Babad Batu Besar IV

[Sasak.Org] Ristambing numpang disebuah rumah seorang petani tadah hujan. Hasil padi sekali setahun untuk satu lumbung. Kedelai, jagung dan sayuran serta ubi kayu cukup untuk memakmurkan keluarga sang petani. Di musim tanam mereka bergotog royong menanm padi beramai ramai melibtakan semua inax inax, dedare dan amax serta papux balox. Mereka bergilir menanam ditempat yang berpindah pindah. Begitupun saat Ngeder yaitu membersihkan tanaman padi dari rerumputan liar sampai pada saat Matax, panen sedangkan untuk Berelah atau mebersihkan lahan dari Roman atau sisa padi dilakukan oleh para pria termasuk anak laki laki.

Sekarang musim padi berbunga, cantik sekali pemandangan disepanjang lahan yang berundak dan berbukit. Sebagian orang membakar sampah untuk mengusir balang (belalang) dan kenango (walang sangit). Ada juga yang menjaring kedua serangga itu untuk dijadikan lauk yang sedap dan bergizi. Rustambing sibuk memberi makan ikan mujair, nila dan lele yang dipelihara di halaman rumah. Dengan modal terpal yang dibuat segi empat dan tingginya 40 cm, sudah dapat bak ikan yang bagus. Bibit lele 2 kg masuk dalam satu bak dan pakannnya habis 2 karung dalam 3 bulan. Saat panen padi lelepun sudah besar dan siap dijual atau dimakan sendiri. Inilah contoh keluarga Sasak yang masih menerapkan nilai lama. Memenuhi kebutuhan sendiri, bekerja keras dengan modal yang telah diberi Allah yaitu tanah yang subur, meskipun hujan hanya 3 atau 4 bulan setahun tapi ketika hujan deras menyiram, airnya harus ditampung. Mereka mempunyai bak penampung air yang dibuat sederhana dengan kolam sedalam 2m dan lebar 1.5 meter mengelilingi rumah. Air itu menjadi persediaan setahun cukup untuk minum dan memasak. Bahkan untuk ternaknya pada saat yang sangat kritis dapat ikut minum setiap siang hari yang terik. Di tepi bak penampung ditanam komak, botor, kemangi, terong, cabai, tomat, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, jagung dsb secara tumpang sari. Ketika padi berbunga semua tanaman tumpang sari inipun memberi hasil yang melimpah. Rumah bambu beratap Rae (ilalang) dengan lantai bersih yang secara teratur disapukan kotoran sapi dan kerbau basah, adalah suarga bagi keluarga Sasak yang tentram dan sejahtera karena hasil upaya tangan dan kaki sendiri. Keluarga ini belum pernah mengalami kekurangan dalam makanan. Itulah sebabnya banyak sekali anak cerdas yang lahir dari dasan ini.

Perjalanan pencarianpun diteruskan ke wilayah sekitar PUSAT NEGERI (Cakranegara) dan mulailah Rustambing memasuki bekas bekas perjalanan sejarah anak bangsanya, dia mulai pergi ke tempat HIBURAN dan KEGEMBIRAAN (Narma- Mada : Narmada) disitu terdapat banyak mata air besar dan salah satunya adalah sebuah tempat untuk bersuci agar awet mda. Awet muda sering disangka untuk tetap muda secara fisik, sesungguhnya awet muda dimaksud adalah kembali ke awal, dan yang dapat kembali ke awal adalah kenangan dan spiritual. Kembali ke janji pati seorang manusia yang berpegang pada janji pati CINTA sang LINGGAM dan YONI (Pemalix dan Kawox). Manusia yang mengulang terus janji itu adalah manusia yang berimbang. Bukankah mereka terikat pada TRI HITA KARANA. Manusia harus menjaga keseimbangan keterhubungannya dengan TUHAN, dengan Sesama MANUSIA dan ISI ALAM?. Awet muda adalah mengawetkan daya pesona kita dengan kekuatan ruh seorang manusia yang menjadi pemban bagi dunianya sendiri.

Rustambing sebagai lelaki sejati, kerap menitikkan airmata mengenang tingkah polah anak bangsanya yang tak kunjung lepas dari keterpurukan, sementara alat dan sarana untuk lepas landas sudah tersedia jauh sebelum kehadiran manusia sendiri. Waktu, Tanah, Air, Lautan, Gunug dan Matahari. Sayang manusia di gumi paer ini ibarat benda kusam yang hanya nyantel di ketiak harta besar itu. Hanya membuat jelek pemandangan saja. Dia ingat betapa banyak tanah ditelantarkan. Di ujung timur negeri ini ada tanah luas yang LANDAI (Rambang) yang hanya cukup diklaim oleh oknum tapi 60 tahun ditelantarkan sebagai landasan nganggur menunggu pesawat luar angkasa jatuh. Memontong bertebaran diseantero gumi, hanya kering kerontang, melompong ditinggal anak dasan menombak sawit di negeri seberang. Bahkan di tanah penuh DURI (Keruak) tanahnya belah belah tapi banjir dimusim hujan, adalah juga seperti tanah tak bertuan berbulan bulan. Padahal disitulah tempat sang DEWA CINTA (Medana) bertahta karena dahulu disana ada suarga loka yang akhirnya dibiarkan jadi ladang penuh duri.

Daripada sedih terus lebih baik perjalanan diteruskan, Dewa Perang yang selalu diam karena bingung melihat betapa gobloknya nak bangsa Sasak, dibentak Rustambing agar tidak melamun. Mereka Pergi melihat taman Kecil bernama BURUNG MERAK JANTAN (Mayure). Keindahan burung merak jantan tercermin di bangunan yang ada ditengah telaga. Alangkah bagusnya keadaan saat kehidupan harmonis, sehingga tangan dan kaki manusia dapat membangun monument sebesar itu. Kini orang cukup bangga membangun rumah berdinding tinggi yang memutus akses tetangganya karena takut berbagi. Orang bangga membangun masjid besar tapi yang datang shalat hanya satu shaf.

Ketika perut makin lapar Dewa Perang protes pada Rustambing. Dia minta makanan yang enak dan banyak. Maka meraka cukup ngacir ke barat sedikit sudah ada restoran ayam taliwang. Sayuran yang DISEBAR ASALAN (beberux), yang DICAMPUR ADUK (Urap urap) dan yang MELURUSKAN (Pelencang: pelecing) agar semangat yeng kendor jadi lurus lagi. Nikmat sekali mereka melahap kelor yang dicampur terong dan kacang panjang dengan kemangi.

Acara terakhir adalah berziarah ke tempat BISIKAN yang MENYEBAR ( Lingsar). Disnilah mereka menemukan tempat ritual kuno bangsa Sasak dimana orang masih berdatangan untuk meminta berkah. Mereka membakar kemenyan sebagai bagian dari ritual kuno, menyebar beras kuning yang disapukan di kepala dan minum air kembang setaman lalu uang logam seratusan yang kuning dimasukkan ke salah satu mata air. Semua ini adalah ritual yang tak dikenal dalam agama Islam. Tapi karena orang masih mempertahankan budaya apa mau dikata. Kepercayaan masih kental pada hal hal yang bebau syirik bahkan ada yang meminta pada LINGGAM yaitu bentuk penyembahan agama tertua di bumi ini yang sudah ada 3000 tahun sebelum ISA. Linggam dalam bahasa Sasak disebut KEMALIX ( Pemali, Tabu, alat kelamin pria) yang menggambarkan kehormatan bila Linggam tetap tegak. Dalam kisah TG dan TT akhirnya TG membunuh diri dengan memukul KEMALIXnya artinya dia kehilangan kehormatan atau melanggar tabu.

Rustambing bimbang untuk menguraikan betapa manusia gumi paer ini sebagian besar telah bersinkretisme. Ada kelompok masyarakat yang mencampurkan dua aliran yang berbeda untuk mencari keselarasan. Sebenarnya hal itu sangat baik apabila dilakukan antara dua aliran sejenis seperti yang terjadi pada Agama SYIWA – BUDA di Jawa atau antara aliran agama KRISTEN. Tapi agama Islam dicampur dengan yang lain sudah tentu bikin pusing. Islam mengajarkan Allah Yang Esa dan Rahmatanlilalamin, kita sebar salam sudah cukup tugas kita. Kita tak perlu mengajak ajak apalagi dengan paksa orang lain agar ikut kita. Begitupun Oarang Hindu dengan Tri Hita Karanya cukup mereka sebarkan itu tanpa mengajak orang lain ikut menjadi Hindu. Sebaliknya Orang Kristen tak perlu menganjak siapa saja jadi Kristen bukankah mereka hanya disuruh menyebarkan cinta. Sebarkanlah Salam dan cinta kepada alam semesta ini agar kita semua damai jangan begejuh terus sampai kiamat. Marilah berusaha memahami diri dengan benar lalu menyelamatkan diri baru kemudian memahami dan menyelamatkan semua makhluk.

Ketika kedua orang itu sampai di tanah WARISAN (Praya), alangakah ramainya manusia memadati lapangan dan jalan jalan dasa. Mereka sedang ada hajat besar, tapi ini jam orang shalat ashar dan mengisi pengajian sore. Massa gegap gempita dengan gendang belex belax dan berbagai pentas budaya dari seluruh negeri se provinsi berjubel ambil panggung dan unjuk kebolehan. Sampai azan maghrib berkumandang, bunyi gendang betalu talu, massa terus bergembira, Ikomah lewat dan mesjid raya bebadan besar itu berisi kaum minoritas tua dan pejabat berseragam yang mengambil barisan pertama.
Inilah buah sinkretisme dan neoliberalisme yang telah menyatu dalam gaya hidup anak bangsa Sasak. Indentitas paling hakiki dikikis habis. Generasi muda senang hidup instant setelah stigma islam teroris ditempelkan dijidat mereka. Sekarang bebajang dapat berkalung salib dan dedare membuka dada sambil berjingkrak jingkrak. Modernisasi diartikan bebas telak. Internet menghidangkan film film lokal di youtube, asli produk anak dasan yang lebih berani dari film barat sekalipun. Layaklah, bukankah murid lebih hebat dari guru?. Bodoh sekali anak dasan ini, orang barat sangat tekun belajar adat istiadat dan agama kita yang nilainya sangat tinggi sementara sebagian kecil anak dasan yang sudah jadi murid para orientalis atau kolonalis, petentang petenteng melebihi kekejaman dan kesombongan gurunya. Rustambing sangat khawatir, TG melanggar janji patinya dan ketika terlambat sadar, jamaahnya sudah habis apakah ia akan memukul pemalixnya juga?

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP



Comments (1)

mansur: ...
Sinkretisme dalam berbagai bentuk memang sangtlah berbahaya dan merugikan

Khusunya dalam beragama, sudah jarang kita temukan tempat pengajian yang mendasar dari, sifat 20, bersuci, cara berniat, kebanyakan adalah ceramah dari orang2 yang tahunya agama juga dari ceramah sebelumnya. hasilnya banyak yang menghafal niat shalat (bahkan bahasa arabnya) tetapi tidak tau bagaimana berniat yang benar, bersuci yang benar, dan beragama yang benar.
Kalau orang itu mau diajari/diperbaiki sih mending, tetapi banyak juga yang seolah lebih hebat karena telah banyak mengahafal ayat dan hadits.

1
wallahu a'lam 1


July 20, 2009

Babad Batu Besar III

[Sasak.Org] Melihat luasnya lahan yang dipakai untuk ambisi datunya membangun bandara, Rustambing tepekur, alangkah sayangnya keputusan itu. Bukan tidak boleh tapi sangat tergesa gesa seperti selalu saja terjadi pada setiap pembangunan apa saja. Mungkin watak datu datu Sasak sudah demikian pekatnya diliputi oleh sifat tergesa gesa sehingga mereka tak tahu sekal priritas yang dapat menyelamatkan anak bangsa dan sekaligus memajukan segala sector. Sore sore setelah macul dan melinggis sawah kering itu mereka duduk di brugax persis di tepi jalan di jebak dasan. Ada seorang yang dituakan ikut duduk sambil minum kopi dan ambon kulut. Temanya sederhana dan tak ada protokol, semua yang hadir sudah faham bahwa yang tua yang harus banyak bicara tapi sesepuh kita ini bilang: " Jangan sungkan sungkan, inilah saatnya kita kembali mengungkapkan rasa cinta kita yang lama dikubur oleh musuh kita yang tampak dan tidak tampak!". Rustambing heran apa gerangn musuh tak tampak itu. Dia hanya mengira kira maksud sesepuh ini.

Musuh yang tidak yampak itu jauh lebih dahsyat dari semua penjajah kuno disatukan dengan yang super modern. Yang tidak tampak itu ada didalam dada dan otak manusia yang tidak terpimpin oleh ruh. Ruh itu adalah titipan yang ditanam Nenex ke dalam benda titipan berupa awak. Kapan saja cangkokan titipan pada benda titipan ini diambil maka kedua titipan itu musnah. Titipan itu dijadikan pemimpin bagi yang tampak, tapi yang tampak sering terlalu pongah dan suka berlaku sesukanya, padahal dia hanyalah tanah yang sama dengan tain petux!. Bila sudah berkuasa sang penjajah yang tak tampak itu, Cahaya tak dapat dilihatnya karena kotoran tak punya mata. Kita adalah kotoran, tanpa adanya ruh.

Rustambing geleng geleng, dia belum pernah mendengar seorang TG pun yang sangat kejam menganggap diri ini hanya kotoran. Sang Dewa Perang, suka senyum senyum sendiri, maklum semua yang diucap sesepuh itu telak mengenai dirinya. Dia doyan sekali makan dan siap melawan rintangan yang dihadapi di jalan pencarian ini. Istilah si Dewa Perang ini adalah "andelang baduk doang". Rustambing yang penasaran ingin sekali bertanya tapi dia ragu, maklum dia sudah belajar etika di berbagai belahan dunia. Agama apa saja dilahap, adat apa saja dicermati, maka sangat hati hati sekali dia soal berbicara, jangan sampai ada yang tersinggung dengan sepotong bunyipun.

Pagi berikutnya mereka bawa lagi linggis dan pacul, Dewa Perang cekatan sekali melinggis tanah yang berempak empak dan liat itu. Campuran tanah vulkanik dan tanah liat yang kalau basah hanya kerbau yang sanggup menginjak injaknya agar empuk. Tak ada yang mengira jika musim tanam lahan tandus ini dapat berubah menjadi suarga padi yang hijau dan akhirnya menguning. Aroma tanah kering ini sedap sekali seperti ada yang membakar ubi jalar, aromanya terbang ke angkasa. Dalam dongeng inax dahulu, bidadari itu makannnya hanya dari aroma saja karena dia berwujud benda halus dan tinggal di awang awang.

Agak siang sedikit saat orang shalat dhuha, terdengar teriakan dari seorang lelaki kurus. Dia menuntun istrinya ke bebalex di atas pelepe bangket. Nampak istrinya kesakitan, memegang perutnya yang besar. Rustambing dan Dewa Perang melempar senjata dan lari mendekat. Ibu itu sudah terlentang diatas para para dan suara bayi memecah diantara asap asap onggokan roman yang dibakar, mengalun bersama tiupan angina alus. Rustambing memberi instruksi kepada pengawalnya untuk mengambil air satu ember dan memanggil belian. Sementara itu dia memberi pertolongna pertama. Tangan dicuci bersih dan bayi diambil lalu diselimuti. Penantian yang lama sekali, belian tak kunjung tiba padahal Dewa Perang sudah siap denagn air seember penuh. Rustambing membaca basmillah dan mengambil silet cukur yang baru di tas pinggangnya. Dia bergerak seperti dokter puskesmas yang hendak mengoperasi pasien koreng. Dengan hati hati diambilnya benang yang juga ada di paket kecil dalam kembokannya itu. Di pelepe tumbuh kunyit yang subur dia cabut satu dan digerusnya sebagai antiseptic.Benang dibasahi kunyit agar steril lalu diikatnya tali pusar si bayi kira kira 10 cm dan dipotonglah dibagian atasnya. Kemudian bayi itu di bersihkan dan ditidurkan disisi ibunya. Rustambing bilang: Azankan!. Si Dewa Perang maju tapi disintat, sebab bila dia sampai kumandangkan azan pasti orang tengax mati tertawa dengan logatnya yang bermelodi dangdut. Maka Amaxnyalah yang mengzankan dan mengikomahkannya. Belian baru nongol saat ikomah selesai seperti mau sholat saja papux itu. Datang dishaf terakhir. Tapi giliran mengurus ibu bayi adalah tugas perempuan belian itu.

Rustambing, Dewa Perang dan Tanax Awu menjadi saksi kelahiran anak laki laki dasan disaat orang membongkar dan merusak lingkungan hanya kerena urusan perut para datu ambisius dengan segudang rencana pada bandara itu. Ibu dan bayi itu dibuatkan tandu untuk diangkut pulang. Amax bayi dan Dewa Perang menandu sang ibu sementara Rustambing menggendong bayi sebab papux belian sudah peot sekali sehingga tak kuat membawa penginang sendiri. Terjal sekali lahan lahan ini, bongkahan tanah keras sekali. Sering petani yang melinggis celaka dibuatnya karena bongkahan menggelinding dan linggis mengenai kaki. Atau terpeleset saat jalan. Harus hati hati sekali melintasi sawah tadah hujan yang berhektar hektar itu. Sesampai di dasan, mereka sudah dinanti semua penghuni dasan yang tadinya bekerja di sawah. Mereka masukkan ibu dan bayi untuk istirahat dan mandi kemudian semua kumpul di berugak.

Sesepuh datang, sangkep bersama. Rustambing dipangil bersama Dewa Perang dan amax bayi itu. Sesepuh berterima kasih pada Rustambing serta Dewa Perang. Dan sebagai tanda mata, sesepuh meminta agar nama bayi itu Rustambing. Rustambing tidak setuju karena takut jadi orang beken sebab baru kali inilah selama 500 tahun dasan itu ada, seorang laki laki menolong kelahiran bayi!. Dewa Perang melirik Rustambing memberi kode agar dia setuju. Tapi Rustambing punya nama buat bayi itu. Usulnya adalah " Tameng Muter". Sesepuh langsung senyum dan setuju. Rustambing adalah pepadu hebat di zaman dahulu dan dia bersenjatakan tombak dan tameng yang dapat berputar sangat cepat sehingga musuh jadi pusing. Dewa Perang bingung, mengapa di zaman modern kok masih ada nama begituan sih.


"Papuk" kata Rustambing. Saya punya alasan kuat mengapa kita memerlukan tameng muter saat sekarang ini. "Apaan' celetuk Dewa Perang. Orang pakai bazoka situ masih muter muter!. Sang sesepuh mencoba menyetop Dewa Perang dan minta agar mendengar alasan pemilihan nama itu. Rustambing lalu menanyakan kepada sesepuh mengapa terjadi degradasi budaya, adat dan tradisi di dasan ini. Kecuali dasan Sade, yang dibuat sebagai iming iming turis apakah masih ada yang dibanggakan?. Rustambing ini lupa diri, seharusnya tak kasar dan tajam kalau bicara pada sesepuh. Dia segera minta maaf; " Ampure papux" saya khilaf. Sesepuh bilang: " kita sudah lama sekali tidak punya orang kritis di dasan ini bahkan di tanah Selaparang sudah tak terdengar lagi suara yang agak berbeda. Mereka selalu amin kepada apa dan siapa saja. Inilah akibatnya. Teruskan bajang apa yang menjadi pertimbanganmu dan beri alasan yang masuk akal agar bajang yang kumpul disini, di brugax ini kembali merasakan ruh dari padepokan kuno kita ini.

Rustambing melihat betapa komunikasi antar anak dasan sangat lemah dan jarang terjadi. Mereka tak dapat bicara satu dengan yang lain. Ada anak ngebut, dilarang tidak mau, akhirnya berkelahi. Tidak cukup sampai disitu masing masing kelompok saling undang untuk gabung dalam perkelahian. Lain waktu ada bajang yang mengganggu wanita dasan dan mulailah disulut api perang. Kenapa hari demi hari dasan makin aus, kumuh, beringas dan tak punya harapan?. Lahan yang luas untuk bercocok tanam makin hilang diganti bandara. Apakah kita tidak memikirkan dengan dalam bahwa manusia butuh beraktifiatas. Memacul, melinggis, pano, menanam, ngeder, matax, dan menggali dan memacul lagi. Hidup ini perlu aktifitas rutin. Itulah inti dari ibadah. Ibadah itu perlu ritual. Ritual itu perlu gerakan yaitu perbuatan dan aktifitas. Dari situlah roda kehidupan berputar. Makan itu adalah bagian dari aktifitas atau gerakan ritual. Jangan jadi tujuan!


Papux balox kita telah membuatkan kita sarung artinya supaya kita mengurung diri, membatasi diri. Kereng dari kata kurung seperti dereng dan durung ia berubah bunyi tanpa kehilangan makna. Kita harus membatasi perputaran diri sebagai mikrokosmos yang beredar di porosnya. Ada batasan jelas jika dilanggar jadi khaos. Perempuan kita memakai lambung. Lambung artinya panggul, karena sesungguhnya semua anak manusia dipanggul oleh wanitanya. Wanita yang baik melahirkan bangsa yang baik, apabila wanitnya buruk maka semua bangsanya buruk! Lambung dalam bahasa modern berarti juga melambung, mengangkat tinggi. Lihatlah betapa indahnya lambung yang dibuat berhias ditepian. Berwarna warni. Kita anak dasan serasa melambung melihatnya dan yang memakainyapun tak kalah melambungnya sehigga serasa terbang. Hitam adalah tanah, karean perempuanlah yang punya gumi, epen bale. Merah berarti darah kita yang sama. Kuning adalah padi kita dan hijau adalah hutan kita sedang biru adalah langit kita. Itulah warna warni dasan yang sejati.

Tameng Muter dipilih sebagai bentuk perlawanan agar terjadi kelahiran kembali di dasan ini. Saat ini dan disini dibutuhkan tameng muter yang dapat berputar cepat dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi. Ketika anak dasan masih beraktifitas seperti melinggis dan memacul ditawarkan bandara besar, akibatnya harkat martabat pasti terinjak. Alif bengkok saja tidak tahu bagaimana mereka dapat mengisi lowongan kerja yang beribu ribu banyaknya itu. Bandara memerlukan puluhanh ribu SDM kalau tiap orang menghidupi 3 orang maka semua anak dasan makmur. Tapi tak ada yang kapable untuk diandalkan sekedar jadi Klining servis!. Apakah kita akan melihat ahli momot meco pindah dari boug ke pinggir bandara nonton pesawat datang dan pergi?. "Papux, saya tak sanggup lagi membiarkan Tanax Awu yang sempat jadi ladang pertempuran tak berimbang antara anak dasan dengan para centeng kaki tangan asing dan datu lokal". Kita semua ingin agar para datu lebih bijak, mempersiapkan manusia dahulu baru yang lainnya. Jangan selalu tergesa ingatlah KERENG dan LAMBUNG, jangan sampai kita terus saling membantai. Tameng Muter harus kita didik dengan akhlak mulia, mengerti politik dan ekonomi, tahu lingkungan dan diplomasi, dengan kemampuan komunikasi seorang polyglot. Mari carikan lagi 9 Tameng Muter untuk mengahadapi musuh yang selalu saja pandai memutar mutar kepala kita sampai pusing. Sesudah pusing karena mabuk fulus, arak dan jabatan, tidak ada kecualinya para datupun hanya diarak dalam gorong batang! Tameng Muter adalah amunisi kita untuk memutar kembali roda kehidupan anak dasan yang siap dengan kemajuan zaman.
Maju dan jayalah bangsa Sasak!

Wallahualam bissawab
Demikina dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Babad Batu Besar II

[Sasak.Org] Rustambing bersama Dewa Perang membawa keris kecil buatan abad ke 14 yang dibuat sendiri oleh kakek moyangnya, ahli keris yang terkenal tempat para raja dan bahkan Gajah Mada memesan.

Ia mencari sanak saudaranya keturunan Papux Guru yang berasal dari BARAT DAYA (Bayan) yaitu trah BATU BESAR yang bercerai berai di Seantero negeri orang LEMPANG (Lombox). Papux Guru Lahir tahun 1860 dan trahnya adalah semua orang yang menggunakan Bahasa TERSERET (Teros) yang menyebar hampir merata di Sasakstan. Mulai dari BUKIT BERBUNGA (Gunung Sari) TANAH KOSONG (Gomong), KAMPUNG RAYA (Dasan Agung), LAHAN yang banyak pohon SUKUN (Karang Sukun), BUNGA KERANG ( Kembang Kerang), TERCECER (Erot), KEBUN JARAK (Ketangga), TANAH TINGGI (Dasan Tinggang) dan BATU BESAR Tua (Selaparang).

Ada kabar angin yang mengatakan bahwa trah Papux Guru yang masih menyimpan takepan yang lengkap mengenai babad lama ada di selatan gumi. Rustambing harus menyeleksi dasan dasan paling strategis. Dia telah mencoret dari daftar berbagai dasan sepanjang jalur Ampenan - Labuhan Lombok. Mulai dari tempat PEMBANTAIAN (Sambelia), DEWA BATU TERJAL ( Pringga Baya), dasan sunyi yang JARANG penduduk (Rarang), dan dasan yang BERSERAKAN (Terara).

Sementara itu dia sudah ke utara di BARAT DAYA (Bayan) kemudian tempat orang MENGENDURKAN diri alias istirahat (Gondang) meluncur ke KARANG BERLUBANG (Batu Bolong) dan masuk ke sungai dan menyeberang dengan MENGANGKAT pakaian di SATU TANGAN (Peninting) sampailah di tempat KEPALA (Otak Dese). Karena capek dia memutuskan menginap sambil mencari pedang di LADANG BUNGA dan tumbuhan BEBELA (Sekarbela).

Pada hari yang ditentukan Rustambing berangkat lagi ke Selatan, kali ini tak mau sendirian dia menggamit Dewa Perang yang sudah kebanyakan momot meco selama ditingal ke Utara. Dia banyak dikomplen kalau bicara melodinya khas dan bikin senyum orang, tapi itu karena soal kebiasaan. Mulai memasuki pantai pertama tama mengunjungi tempat tua, dimana seorang perempuan BERANAK pernah DIASINGKAN(Selong Belanak). Disini mereka bertemu dengan sesepuh yang ternyata masih satu keturunan. Sorenya melewati tempat orang pernah MENGAMUK (Pengantap) menuju tempat PALING UJUNG (Sengkol). Inilah tempat paling lama disinggahi Rustambing untuk sinau penaox dari orang orang yang masih memegang adat yang lebih asli dibanding tempat lain.

Ternyata di Selatan inilah terletak dasan dasan yang tetap mempraktikkan ajaran yang biasa disapaikan di BRUGAX. Ada satu dasan dimana dahulunya adalah tempat BERTAPA YANG AJEG (SADE), sempit tapi punya selera seni Sasak. Orang orang disini ternya masih bersaudara semua. Rustambing Masih mempelajari lagi tempat penting mana yang harus diprioritaskan, mengingat waktu yang terbatas dan informasi yang sangat minim. Rencana akan ke TUAN yang rumahnya ada pohon WARU (Jero Waru) dan harus mampir ke saudaranya yang kesulitan air unutk membantu satu Kontainer berisi 5000 liter air di tempat yang SERBA SALAH (Pemongkong).

Rencana petualangan sementara akan diakhiri di tempat ORANG RAMAH yang suka BERGOTONG ROYONG (Sakra). Tapi sekarang Rustambing dan Dewa Perang harus mengambil linggis dan pacul untuk menggali sawah sebagai persiapan menanam padi gogo dilahan tadah hujan disekitar TANAH yang berwarna ABU (Tanax Awu). Mereka bekerja sama bahu membahu dengan para pepadu dari dasan orang BERKULIT GELAP (Pujut) bertatap tatapan dengan centeng centeng sewaan mengawasi lahan luas yang sudah diborong untuk landasan pacu bandara besar. Entah apa yang akan terjadi pada nasib mereka kelak.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Komentar:

Comments (4)

lmjaelani: ... http://lalumuhamadjaelani.wordpress.com
1
wah, makin mangstab!1

July 16, 2009

nazar: ...
2
berarti pertamax neh miq LM 2

July 16, 2009


Aji: ...
Asslkm....Wah kebetulan aku lagi nyari selewok papuk guru nih,konon yang tertinggal poton selewok yang tidak dimakan api....tapi sblmnya Papuk guru 3
yang dimaksud disini yang mana yach....?3

August 05, 2009

Hazairin R. JUNEP: ... http://www.hazairinrjunep.blogspot.com
Aji, coba katakan Papuk Guru yang mana yang kamu sendiri kenal, siapa tahu di 4
KS ada orang yang menyimpan sisa ujung sewox itu.4

August 06, 2009

Babad Batu Besar I

[Sasak.Org] Seorang pepadu bernama Rustambing dari BATU BESAR (Batu Belex) memutuskan pergi berkelana di seantero Tanah YANG SESAK (Tanah Sasak). Setelah agak siang dia mencapai dasan yang ada PANCURAN air (Pancor), dia lalu mandi dan minum sepuasnya.

Kemudian meneruskan perjalanan ke dasan tempat PENGASINGAN (Selong), disana tumbuh banyak pohon kenari besar besar. Dari situ perjalanan diteruskan ke utara menembus kebun dan semak lalu keluar di dasan kecil Berlobang lobang (Kerongkong). Ia mencoba berjalan lebih cepat agar bertemu DEWA PERANG ( Suralaga) sebelum gelap.

Setelah bertemu dengan dewa perang maka keduanya berjalan menuju HUTAN PERSEBAHYANGAN (Wanesabe). Di Sana mereka menginap sebelum pergi Ke tempat PERSEMBAHAN PARA HAMBA (Sembalun). Esok harinya pagi pagi sekali mereka pergi berziarah ke bekas Kerajaan BATU BESAR(Selaparang).

Tapi mereka tidak tahu jalan dan memasuki dasan yang BERPUTAR PUTAR (Swela). Ternyata mereka salah jalan dan tahu tahu sampai di dasan BATU BATU TERJAL (Pringgasela) di dekat TANAH LUAS TEMPAT TUMBUHNYA POHON NANGKA (Lendang nangka). Mereka berfikir alangkah baiknya mencari kendaraan saja daripada tersesat terus. Kedua orang itu pergi ke BUAH ASAM MAS (Masbagik) menaiki bis kecil menuju TANAH IBUKU (MATARAM).

Pertama mereka keluar dari batas wilayah di dasan PARA BUDAK (Jenggi) lewat dasan para PEMARAH (Kopang) lalu tiba tiba ada yang MERINTANGI (Mantang) setelah itu mengambil WARISAN (Praya) dan berbelok belok menuju terminal CAHAYA (Sweta) karena sopir menghidar dari polisi mereka tidak masuk di terminal ALAM SEMESTA YANG TUNGGAL (Mandalika) sesampai di PUSAT KERAJAAN( Cakranegara) mereka makan pelecing dan cabut ke tempat pembutan TALI TEMALI (Ampenan) di ujung paling jauh pulau ini.

Rustambing belum mendapatkan sesuatu yang lama dicarinya, kita akan lihat kemana lagi dia bertualang.


Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhklas

Hazairin R. JUNEP


Komentar:
1
lmjaelani: ... http://lalumuhamadjaelani.wordpress.com

wow luar biasa.

bagaimana dengan PEMONGKONG, RARANG, TERARA, REMBIGE, SAKRE, 1
SEMBALUN, SEMBELIA, PUJUT, LOYOK, GONDANG, GOMONG, dll?1
July 15, 2009

2
mansur: ...
Kopang = Pemarah
sedih juga jari dengan kopang

Paling Bagus Kutaraja : Kotanya para raja atau kota yang menghasilkan raja. (terbukti! )

July 15, 2009

3
lmjaelani: ... http://lalumuhamadjaelani.wordpress.com

nggih miq, tiang kebetulan dari King City 3

July 16, 2009

4
Jati: ...
Wah.. King City hehehe, tiang ingat ada seorang cewek disana.. cantik manis dan sopan, duLu pernah main kerumahnya tapi sekarang dia sudah nikah.. heuheuheu..

July 16, 2009

5
sasaki: ...

untolerable..story5

July 25, 2009