Minggu, 01 November 2009

Babad Batu Besar VI

[Sasak.Org] Rustambing terguncang guncang dikursinya padahal dia baru saja duduk beberapa saat ketika Bom menghantam hotel sebelah. Gawat dua hotel sekaligus diledakkan dalam jarak 10 menit. Rustambing lari keluar ruangan bersama semua karyawan laki perempuan. Meskipun tak ada seorang yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Dalam benak Rustambing hanya ada satu `gempa". Dia sering sekali diguncang sperti itu di gumi paernya. Setidaknya guncangna ini ada pada 6 skala richter. Di gedung samping, asap membubung dan manusia kocar kacir. Ada yang teriak histeris, `Booom" . Korban bermunculan dari dalam asap dan ada bebrapa orang yang dipapah dan digotong ke halaman lalu digeletakkan begitu saja.

Rustambing sadar, terrorist telah beraksi memporak porandakan negeri. Dia meberi pertolongan dengan gesit pada orang orang yang lemas dan histeris. Dia sudah biasa menjadi belian kecil kecilan untuk urusan mental recovery (memulihkan mental). Kalau dikampung ada yang ngamuk ngamuk dia cukup meniup niup kening pasien dan mengurut urut tangan dan kaki seperti reflexiolgy itu. Orang dasan menganggapnya belian sungguh padahal Rustambing tidak percaya takhyul. Kebanyakan pasien itu sedang down atau common cold alias masuk angin, maklum kebanyakan momot meco. Yang momot orang yang disalahkan bakex berax.

Sudah lima orang yang ditangani barulah muncul mobil polisi dan ambulan. Pertolongan sering sekali terlambat di negeri kami karena hambatan birokrasi dan alasan lain. Bagaimana mungkin orang akan menolong harus lapor atasan, isi formulir dan sebagainmya. Korban yang tewas banyak sekali karena keterlambatan PPPK. Waktu Tsunami Aceh, dibutuhkan antibiotik untuk tetanus, karena hambatan semacam itu obat obatan terlambat padahal masih harus bersepeda tau jalan kaki kalau sudah berhasil masuk daerah bencana. Orang yang kena tetanus akan mati dalam tiga hari kalau tak ada antibiotiknya. Dan entah berapa yang meninggal karena keterlambatan kita bereaksi.

Rustambing berkoordinasi dengan para manajer yang berkantor disekitar Mega – Kuningan untuk mengambil langkah selanjutnya. Sebagian karyawan sudah pulang dan ada yang ke RSU untuk pemeriksaan kesehatan. Rustambing adalah salah satu manajer di daerah elit itu sejak dua tahun terakhir ini. Dia banyak diminta menangani masalah spiritual dilingkungan para kapitalist itu. Pergaulannya sangat luas menembus batas agama, adat dan bangsa. Untuk Ramadhan tahun ini dia sudah masuk daftar sebagai pengisi ceramah diberbagai mushalla kantor kantor besar di Jakarta. Dia bertekad akan membasmi terorisme dari bumi ini. Dia percaya keadilanlah yang harus ditegakkan. Kalau terrorist itu merupakan korban cuci otak, maka kita harus preventif dengan mengisi otak pemuda kita dengan kasih sayang dan pendidikan yang terbuka. Tidak cukup hanya berteori tapi kita buktikan dengan perbuatan. Mengajak mereka bermain bersama, out bound, kemah sambil pengajian. Menanamkan JIHAD untuk memerangi hawa nafsu sendiri adalah priorotas utama. Kalau sudah sampai ditema itu, Rustambing tanpa sadar berhenti bicara dan dadanya sesak. Jakunnya akan turun naik menelan liurnya yang pahit. Dia bisa bicara tentang JIHAD melawan hawa nafsunya di Jakarta dan bisa meyakinkan para karywan sehingga makin keras mereka bekerja dan makin tekun meniti karir. Semetara di dasannya ada 1 TG untuk 200 penduduk. Suatu prestasi gemilang yang tak ada bandingnya didunia ini. Kalau di suatu Negara ada 1 polisi untuk 300 penduduk, itu cukup untuk mengendalikan keamanan. Tapi TG yang berserakan itu tak kunjung sanggup mengamankan masyarakatnya dari momot meco, busung dan maling. Sering hati kecil Rustambing menjerit, karena dia bisanya ceramah diluar tapi gagal di gumi paer.

Rustambing mulai bimbang dengan pilihannya tinggal di kota besar. Dia ingin pulang ke gumi paer. Dia sudah mulai mengumpulkan uang untuk sebuah revolusi di tanah kelahirannya tapi duit tak kunjung jadi banyak sebab 90 persen dia kirim dan dibagikan kepada yang memerlukannnya. Rasanya tak habis habisnya manusia yang kritis yang terus menunggu uluran tangan. Lambat laun Rustambing merasa lebih baik hidup dengan cara Rasul SAW. Kosnya hanya dua kamar dengan kamar mandi umum. Meskipun untuk kelas manajer seperti dia ada fasilitas kredit apartemen. Dia lebih baik membangun manusia dan kemanusian daripada benda yang akan musnah. Dia menghayalkan seandainya Fir'aun membangun Piramid bersama dengan membangun manusianya, niscaya ada generasi hebat yang lahir kembali setelah 1000 tahun peradaban itu. Nyatanya Mesir tamat juga, dan begitupula Babilonia. Mengapa manusia cendrung mengabaikan kemanusiaannya sendiri. Rustambing lupa bahwa manusia sesunguhnya adalah makhluk pintar diantara yang bodoh sehingga dia sering ikut bodoh dan banyak yang mati dalam kebodohannya. Berapa banyak yang mati karena mengejar lembaran rupiah di ibu kota ini. Berapa banyak yang tenggelam dilaut sebagai TKI illegal untuk mengejar harta?. Diantara pilihan bodoh itu momot meco masih lumayan, karena mereka paling banter hanya mengotori dasan namun tidak membikin susah orang dinegeri lain. Berarti orang yang momot meco itu punya potensi besar untuk dikembangkan. Sebab mereka sesungguhnya manusia murni yang sedapat dapatnya tidak mengganggu orang lain.

Dewa Perang sedang duduk di tengah sawah yang sedang siap panen, dia banyak bersiul dan mereret. Irama tembang merarix malik mendayu dayu dari balik bebalexnya. Dia dapat firasat bahwa ada instruksi dari bos. Laptop Toshiba satellite dibuka dan dia dapatkan email dari bos. "Perintah tertulis untuk Dewa Perang. Segera data para orang yang salah sebut. Dimana saja mereka berada dan berapa banyak pemuda pemudi yang momot meco dan ngotok otok tiap pagi dan petang dimusim ini!". Perintah selesai.

Dewa Perang bingung, siapa maksudnya orang salah sebut. Di dasan ini, semua orang dipanggil mamix sejak beberapa tahun belakangan ini. Akibat dari cara berbahasa Indonesia yang kurang baik dan tidak benar mereka bicaranya ngelantur. Dia ragu, mungkinkah yang dimaksud salah sebut itu adalah semua orang kampung yang disebut mamix?. Anak laki lakinya dipanggil raden nune dan yang perempuan jadi baix semua.

Setelah mengotak atik semua informasi dan bicara dengan bajang bajang yang kuliah di Unram, IKIP, IAIN dan Hamzanwadi yang kebetulan suka ngotok otok di bough. Dewa Perang berkesimpulan. Daftar orang salah sebut dikampung itu, bukan orag yang dimaksudkan si bos. Setelah shalat isya dan ikut pengajian, Dewa Perang minum air putih sesudah sikat gigi pakai siwax. Dia merenung, dan sekejap dia dapat jawabannya. Pasti yang dimaksud adalah TG. Diapun tidur dengan nyenyak tanpa rasa takut akan kemalingan, sebab dia sudah popular juga diantara para maling. Seolah ada kode etik diantara orang yang sudah saling mengenal. Tapi maling yang tertangkap di dasan ini akan MATI!.

Seorang anggota komunitas yang sangat aktif dan bersemangat memberi data lewat SMS sebab internet di gumi paer nyambungnya suka suka. Di Lombok Timur ada 500 orang yang SALAH SEBUT. Anggota yang satu ini sangat peduli dengan gumi paer sebab dia berhadapan langsung dengan kenyataan. Bisa dibayangkan alangkah pusing dan sedihnya hati. Apa saja yang dilakukan seolah seperti bola yang memantul terus. Sampai sampai dia sempat frustrasi. Dewa Perang melanjutkan SMS untuk menjawab keprihatinan semetonnnya.

Satu cara meton, berhentilah menyebut mereka TUAN karena mereka gagal. Menjadi Tuan bagi dirinya saja tidak bisa, buktinya mereka sampai didaftar untuk pengobatan gratis dan bahkan hanya 120 yang layak dianggap miskin dan 380 tidak layak dimasukkan daftar mungkin karean tidak termasuk "TG". Mereka juga tidak berhasil menjadi Tuan bagi jamaahnya, buktinya para pemgikutnya tak juga maju dan sehat.

Jangan pula kita sebut mereka Guru karena mereka tak punya akta mengajar dan tidak sedang menjadi GTT. Oleh sebab kita suka menyebut orang sembarangan maka kitapun tidak punya kriteria/syarat sehingga sembarangan kalau bicara dan memanggil orang. Memanggil keliru maka yang datang juga orang yang keliru dan apa yang kita harapkan?.

Kalau kita sebut nama ULAMA barulah tepat, kriterianya jelas dan kasat mata, sebab ULAMA ini adalah ilmuwan, cendekiawan, tuan bagi diri dan masyarakatnya, guru bagi bangsanya tapi yang jelas ULAMA itu sunyi dari hingar bingar dunia. Sebab ULAMA itu bersifat sangat JUHUD.

Laporanpun diteruskan ke Rustambing bahwa ada banyal orang yang salah sebut itu. Orang momot mecopun ternyata sangat banyak. Sehingga susah mendatanya. Selanjutnya disepakati bersama untuk mulai saat ini tidak memanggil orang dengan sebutan yang salah dam menuntaskan si momot meco. Mudah mudahan ini sebuah permulaan agar masyarakat kita yang sudah telanjang, sudah berikrar, sudah sangkep dan sudah piawai dan ingin professional, semakin memahami diri dan segera mengambil langkah besar untuk sebuah pembebasan.

Wallahualambisswab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP


Comments (3)

M. Roil Bilad: ...
Wah semakin berkembang ini cerita Rustambing.

====================
Terlalu keras mengkritik TG, kadang-kadang jadi keder juga saya yang baca. Jangan-jangan ntar dianggap orang kalau pengritik itu pengen jadi tuan guru. Namun jika memang mungkin harus dibuat pedas, harus lebih pedas dari cabe rawit biar terasa.

1
Mugi-mugi sing nulis tetap dijaga keikhlasannya hanya karena Allah...1

July 25, 2009


Hazairin R. JUNEP: ... http://www.hazairinrjunep.blogspot.com
Kita tak boleh takut mengkritik ulama kita,mereka adalah orang yang mengganti para Nabi, jangan sampai mereka hanya bangga dengan nama dan jubah tapi tidak mencerminkan penerapan ilmunya dalam kehidupan nyata. Isnyaallah mereka 2
adalah orang yang berlapang dada, amiin.2

July 25, 2009


M. Roil Bilad: ...
3
Sip, sepakat tiang----3

July 26, 2009

Tidak ada komentar: