Tampilkan postingan dengan label Kesasakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesasakan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2009

Sasak Aku Sasak

(Sasak.org) Kamis, 10 April 2008 01:00

Saya belum pernah bahkan mebayangkan Selaparang secara geopolitis, bagi saya Selaparang hanyalah nama lain tanah Sasak atau Lombok. Saya menulis menggunakan kata Selaparang beberapa kali karena sebagai Sasak perantau, hanya nama itu yang terngiang selain kata Lombok. Saya ingat sejarah kata Jawa, bahwa itu diucapkan pertama kali oleh bangsa Greek (Yunani) yang berusaha keras mencapai Nusantara sejak Zaman Iskandar Makduni atau Yang Agung (325 SM). Mereka tiba pada abad ke 2 M, lama sekali baru ada yang bisa sampai, berapa generasikah? Tidak tahu, yang pasti mereka belum pernah berhenti bermimpi dan berjuang mencapai Nusantara. Saat mereka menginjakkan kaki di pulau yang indah mereka teriak; “YEVA” artinya cantik. Dari kata Eva, Hawa, muncullah Jawa, Java, Hava dan Yava. Lebih dari 1800 tahun nama itu dipakai oleh orang Nusantara. Dan orang Sunda, Banten, Betawi, Baduwi serta 5 bangsa yang mendiami Jateng dan entah berapa bangsa di Jatim, belum pernah ada yang menggugat. Orang Jawapun tidak pernah mengklaim tanah pasundan sebagai miliknya. Tentu salah satu sebabnya adalah karena nama itu hanya untuk penanda peta belaka, meskipun akhirnya ada juga bangsa yang menyebut diri Jawa juga.

Saya mengajak kepada semua dan terutama diri saya sendiri untuk menempa diri dengan senantiasa berlapang dada atas pandangan yang berbeda. Tulisan2 saya berkali kali menyatakan bahwa maksud dan tujuan saya menulis di milis ini adalah dalam rangka saling asah asuh atau sebagai pencerahan. Kalau bukan karena itu untuk apakah saya bersusah payah menghabiskan waktu dan energi. Saya sungguh menginginkan Bangsa Sasak maju dan terutama yang secara langsung membaca tulisan ini.

Tiap orang di milis ini adalah unik dan jalan hidupnya juga unik. Jaminan hak kebebasan diberikan Allah bahkan untuk menentang firmanNYA sekalipun. Apalagi kita hanya di sesangkok ini, hukum kita adalah kesepakatan untuk saling mengerti dan saling mendorong kepada kemajuan bersama. Marilah kita berlapang dada senantiasa, karena pengalaman hidup didunia nyata memberi kita pengetahuan bahwa Bangsa Sasak kurang maju karena tidak lapang dada dalam menerima perbedaan.

Yang saya herankan adalah mengapa kita begitu militan, menganggap seolah kalau ada kelompok yang saling menyahut dalam milis sebagai orang2 yang sempit. Seumpama kelompok yang dianggap terlalu Lotim. Kitapun sangat konservatif dalam mengemukakan pandangan, bahwa kita harus memperhatikan orang lain untuk diangkat kepermukaan. Tetapi bagaimana kalau kita tidak menguasai persoalan? Bukankah akan kacau balau kalau kita paksakan. Alangkah baiknya segala sesuatu dibiarkan tumbuh dari sisi manapun. Milis ini adalah untuk komunitas Sasak, oleh karena itu marilah kita senantiasa membaca dalam kerangka kesasakan itu. Sekali lagi Kesasakan.

Mengapa kita harus persoalkan LOTIM LOTENG dan LOBAR, apakah kita sadar bahwa nama2 itu adalah bersifat administratif. Peta hanya ada di buku geografi dan atlas, garis2 dibuat manusia menuruti kelok2 egoismenya. Untuk apa kita membawa garis2 itu ke sesangkok kita kalau akan memperkeruh keadaan saat sangkep berjalan. Lupakanlah batas geopolitis itu.Loteng dahulunya adalah bagian dari Lotim. Pernah saya katakan pada semeton Sulye Jati yang asli Praye, bahwa saya menetapkan diri menjadi Sasak yang bersahaja. Lihatlah saya menulis menggunakan bahasa Selong untuk pertama kali pada hari ini. Agar saya dapat menunjukkan kesasakan yang lebih mewakili, bagian tertentu. Bila kita tak mengerti bukankah kita dapat bertanya. Kalau ada yang salah bukankah kewajiban kita untuk memperbaiki. Saya juga menulis puisi2 sasak dengan tulisan biasa. Tidak ada penyusunan yang mengarah kepada teknik memudahkan pembaca untuk menikmatinya. Kalau saya susun dengan cara seolah sedang mengajar orang mengapresiasi alangkah tidak bijaksananya. Bukankah semua dapat menyusun kalimat itu dan memotongnya sesuka hati? Dari kreatifitas itulah akan kita dapati pembaca yang mumpuni. Ibarat masakan, ada yang dapat dicampur ada yang harus dipisah atau bisa juga tidak peduli hantam semua. Demikian pula terhadap tulisan lain, setiap orang dapat bereaksi sesuai dengan keunikannya. Hatta dengan persepsi keliru sekalipun. Halaman milis tak akan habis untuk menulis tanggapan dan koreksi dan disitulah intinya, kita saling asah asuh

Marilah kita tunduk kepada hati nurani kita sendiri, dengan pikiran jernih dan kepala tetap dingin kita buka segala kemungkinan untuk menyampaikan pendapat. Tidak ada maksud membela si ini atau si itu. Apalagi hendak menyinggung perasaan seseorang. Orang muda belajar dari orang tua dan orang tua juga belajar dari yang muda.

Demikianlah matahari berputar dari barat ke timur dan sesekali rembulan muncul di gulita malam. Sesiapa yang sanggup mencari hikmah dan menebarkannya, maka dialah orang yang paling beruntung. Hanya sesederhana itu semeton jari inax amax….

Wallhualambissawab

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

Sasak Berbahasa Sasak

(Sasak.org) Kamis, 09 Oktober 2008 01:00

Musim lebarn kali ini ada ratusan SMS masuk dan memenuhi inbox sampai macet sehingga pengiriman balasan ada banyak yang gagal. Satu SMS bisa berisi sampai 5 pesan SMS sekali . Isinya puisi dan pantun yang panjang sekali. Sampai lupa menulis nama sendiri. Tentu tidak ada yang salah mengenai pemanfaatan pelayanan singkat itu. Hanya saja pengguna kurang memahami dan gagal menggunakan alatnya secara tepat guna.

Ketrampilan berkomunikasi sangat jarang diperhatikan bahkan tidak termasuk hal yang ditekankan dalam proses pendidikan Bangsa Sasak. Dalam komunikasi formal atau nonformal dikalangan bajang Sasak bisa dipastikan mereka menggunakan Bahasa Indonesia. Atau dicampur antara Bahasa Sasak dan Indonesia. Saya jadi ingin tahu apakah pada pertemuan KS’ers di Tete Batu, tanggal 4 oktober itu menggunakan Bahasa Sasak atau Inggris atau Indonesia. Saya mengira tidak dalam Bahasa Sasak. Sudah sangat sering saya ikut acara kumpul selalu bahasanya non Sasak.

Bahasa menunjukkan Bangsa, apakah benar demikian. Sejak adanya kesadaran berbangsa satu, maka bangsa Nusantara meramu bahasa Lokal dicampur unsur asing untuk menjadi bahasa nasionalnya. Bahasa Indonesia adalah bahasa buatan, bangsa Nusantara oleh karenanya menjadi termasyhur atas kepiawaiannya menyusun Bahasa sendiri di luar yang jumlahnya ribuan itu. Setelah 80 tahun Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang maju dari segi jumlah penuturnya yang mencapai 250 juta. Ya memang bahasa Indonesia telah menjadi salah satu bahasa besar dunia setidaknya urutan ke enam. Tapi pengaruhnya sangat lemah, tidak banyak pusat studi yang memfokuskan pada studi Bahasa Indonesia di manca negara. Bukankah Bahasa Indonesia mencerminkan bangsa yang menggunakannya. Bangsa yang lemah tanpa pengaruh baik dari segi kebudayaan dan ekonomi apalagi secara politik.

Bahasa Besar dunia yang dipakai di PBB adalah Bahasa bangsa yang kuat atau pernah sangat kuat diberbagai bidang. Tetapi diluar PBB itu banyak bahasa kuat lainnya yang pengajarannya bahkan melebihi salah satu bahasa resmi PBB itu. Misalnya bahasa Jepang, Korea dan Jerman. Karena faktor ekonomi bahasa tersebut berkembang pesat di seantero dunia.

Bangsa Sasak baru saja muncul di milenium ke 3 ini, bahasanya belum kompak dan solid, pemakainya masih minder dan tidak yakin bahwa mereka adalah sebuah bangsa dengan jumlah 3 juta lebih. Bahasanya tidak memiliki gramatika yang cermat, kosa katanya tidak dikenal secara menyeluruh oleh para penutur. Mereka cukup dengan kosa kata dasar setingkat 1000 kata dan itulah yang membuat mereka tidak dapat
berkomunikasi dengan lancar dan memilih menggunakan bahasa asing.

Komunikasi yang tidak lancar berdampak sangat luas dan sering tragis, catatlah dengan baik kasus TKI ilegal, mereka pada umumnya hanya momot dan kemos kemos karena tidak dapat berekspresi dengan bahasa yang tepat, bahkan berbahasa Indonesiapun kaku. Sekali mengusir TKI 100 ribu morat marit dan separuhnya adalah Bangsa Sasak. Karena level kosakatanya sekitar 1000 maka harga TKI ya, tidak jauh dari angka itu. Apa benar ada hubungan jumlah kosa kata dengan upah, jelas ada. Coba cari pekerjaan di negera maju, salah satu sayarat adalah TOEFL minimal 550 artinya orang yang mencapai skor itu dapat berkomunikasi dengan baik dengan Bahasa Inggris. Setidaknya gaji 10 juta keatas yang diterima.

Bahasa yang besar tumbuh dari bangsa yang besar, kaya, kuat dan berkuasa. Bahasa Inggris itu, tiap 5 orang di dunia 4 orang memakainya atau mempelajarinya. Karena Bangsa Inggris sangat berpengaruh selama 500 tahun terakhir. Bangsa yang kuat meskipun kecil jumlahnya, bahasanya juga berkembang indah dan kuat. Contoh bahasa kecil adalah bahasa Islandia dengan penutur 250 ribu orang tapi tiap orang rata rata berlangganan 4 koran sehari. Sumber ekonominya adalah perikanan dan kekayaan alamnya adalah air panas. Bentuk bahasanya tidak berubah selama 1000 tahun dan sasteranya yang terkenal adalah SAGA.

Bangsa Sasak memiliki SDA yang melimpah, SDM yang bersesak sesak, tapi tidak memiliki bahasa yang solid sehingga komunikasinya lemah. Satu satunya kata yang paling sering keluar dari mulut bajang Sasak adalah: ” Ndex Tiang Semel ” . dan untuk melumpuhkan orang lain digunakan kata yang sama; ” sang semelan mex!”. Bahasa yang kuat dapat membangun karakter yang kuat. Kebanggaan sebuah bangsa tanpa bahasa yang kuat seperti gertakan tanpa aksi. Karena begitu disandingkan dengan bangsa lain mereka jadi rapuh seperti kerupuk.

Semoga Sasak diaspora dapat menarik, mendorong kalau perlu ngoros oros anak bangsanya agar lebih berambisi, lebih disiplin waktu dan tertib, lebih disiplin kerja, lebih terbuka dan beradaptasi dan tidak pilih pilih dalam bekerja.

Mari kita kembangkan Bahasa Sasak dari sekedar kosa kata seputar sambal dengan level 1000 kata menjadi bahasa yang solid dan bermartabat.

Martabat tinggi berarti setia menjaga harga diri dan punya rasa malu. Harga diri terletak pada karya dan merasa malulah jika tak dapat melakukan hal baik bagi anak bangsa.

Wallahualam bissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas


Hazairin R. JUNEP

Glossarium:
Ngoros-oros ; menarik, menyeret
Ndex tiang semel : saya malu
Sang semelan mex: kamu tidak tau malu

Rabu, 27 Mei 2009

Sasak Coba Bijak

(Sasak.org) Jumat, 08 Februari 2008 01:00
Hebat! hebat!, Orang Lombok Timur yang biasanya melempar uang waktu pengajian ternyata bisa juga diajak menyumbang 1000 rupiah untuk orang jompo. Selama bebrtahun-tahun jama’ah pengajian melempar uang, hasilnya hanya memperkaya oknum tertentu, sementara masyarakat belum pernah beranjak dari keterpurukan ekonomi.

Saya ingat seorang teman saya yang dokter spesialist di Temanggung Jateng, beliau cerita bahwa di desa tempat dia bertugas ada pengumpulan uang 1000 rupiah per kepala untuk biaya kesehatan masyarakat. Tiap orang tidak perlu repot dengan biaya berobat bahkan sampai operasi berat.
Lombok , dalam sejarah panjangnya tak pernah bebas dari kelaparan dan pengemis. Rasanya sudah saatnya tokoh-tokoh yang ada melakukan tindakan nyata untuk menolong masyarakat dalam bidang kesehatan dan pendidikan.
Saya banyak mengunjungi negara tujuan TKI, anak-anak muda Sasak ada dimamana-mana dan mereka sekedar jadi budak belian. Memang gajinya sedikit lebih tinggi daripada di Indonesia, tetapi mereka selain jadi budak belian juga menjadi korban penipuan baik oleh agen penyaklur TKI, pejabat dan orang-orang birokrasi sampai satpam bandara tak luput merampok hasil jerih payah mereka.
Semuanya berpangkal pada masalah rendahnya pendidikan secara umum. Pendidikan umum yang dahulu dapat diperoleh di santren-santren kini dimonopoli oleh institusi yang disebut sekolah atau universitas.

Kami anak-anak sasak ditahun 70-an yang tinggal di Selong, pergi ke sekolah di siang hari dan ke santren-santren di petang hari. Sedangkan di tempat lain anak-anak dikirim ke diniyah-diniyah. Demikianlah kami memperoleh pendidikan umum kami
Sekarang anak-anak dimasukkan ke sekolah bagai bahan mentah masuk pabrik. Tiap-tiap anak harus keluar dari gedung itu dengan format yang telah ditentukan, mengerikan sekali, karena kodrat manusia tak boleh dibuat begitu.

Akan tetapi semua telah dipersiapkan, dengan berbagai sarana yang ada tiap orang dewasa dan orang tua telah secara sistematis mengadopsi cara berpikir, cara memandang segala sesuatu menurut standar yang sesungguhnya berlawanan dengan keyakinan mereka. Pergi sekolah tidak identik dengan belajar. Kalau sekolah dapat mencetak orang sehebat Habibie, mengapa ITB hanya punya satu Habibie, dan satu Soekarno?
Pendidikan modern adalah pendidikan monyet, karena tujuannya tak lebih agar monyet-monyet dapat mempertunjukkan ketrampilan tertentu.
Kalau cuma untuk pintar, sekolah tak diperlukan. Kalau hanya untuk cerdas sekolah juga tak diperlukan. Manusia harus pintar, cerdas dan pandai sekaligus.

Pintar adalah milik semua mahluk hidup. Tumbuhan pun bisa pintar, semisal pohon putri malu. Atau monyet dapat mengambil pisang dengan galah dsb.
Cerdas adalah percepatan berpikir mengenai konsep-konsep yang telah dikumpulkan. Hewan punya juga kecerdasan tertentu. Simpanse dapat mengerti banyak kata-kata.
Pandai adalah milik khusus manusia, karena tatarannya adalah mencakup nilai- nilai kebaikan yang berupa kebijaksanaan.

Bagaimana kita dapat memberikan ketiga hal yang menjadi impian setiap orang?
Orang bijak dan orang sholeh banyak yang tidak pernah pergi menengok sekolahan. Semisal nabi, ulama, biksu, pendeta, kaum sufi dsb. Tetapi yang sangat pasti mereka adalah orang yang belajar dengan cara nmasing-masing.
Dalam riwayat ulama-ulama muslim, ada yang memiliki guru sampai 10.000 orang dengan berguru sembari berkelana, apa gedung sekolahnya diboyong?
Orang Sasak punya dongeng-dongeng tetapi tak ada kitab-kitab yang ditinggalkan oleh para pendahulu mereka. Bahkan kitab-kitab peninggalan dari Jawa atau Bali tak terlihat dalam koleksi perpustakaan di Lombok.
Pendidikan umum hendaknya meliputi ilmu-ilmu dasar seperti Berhitung sederhana, Bahasa, Akhlak, Akidah, Seni, Olahraga dan Sastra.

Pada suatu ketika bertahun yang lalu saya terpaksa harus masuk kelas untuk mengajar di SMA. Saya iba karena sesungguhnya tak banyak siswa yang berminat belajar. Maka saya katakan pada mereka bahwa siapa saja yang tidak berminat boleh keluar main dan kalau sudah bosan bermain silakan kembali. Saya berkata dengan tulus, dan ada beberapa anak yang keluar dan kembali saat menginginkan kembali.
Saya iba karena mereka seperti lari dari rumah karena tak kuasa menderita dan ingin cepat keluar dari gedung sekolahan karena juga merasa menderita.

Anak-anak selalu lebih maju dari orangtuanya, hal itu jarang dipertimbangkan, karena itu anak-anak senantiasa menganggap orangtunya kolot atau bodoh. Mereka tidak kerasan di rumah karena banyak hal yang mereka cari tak ditemukan pada orangtuanya.
Orangtua mengirim anak ke sekolah dengan harapan mereka dapat menemukan jati diri meraka sesuai dengan perkembangan zaman.
Apa lacur, guru mereka adalah orang-orang yang sama frustrasinya dengan anak-anak itu. Sebagaian besar guru tidak kompeten karena perekrutan apa adanya dan lebih banyak lagi sekedar sukarela seperti saya waktu itu.
Adakah siswa berprestasi yang menjadi guru? Ada tetapi jarang. Yang juara masuk ke universitas terkemuka, yang kuat badannya dan bagus nilainya pergi ke Akabri dsb. Sisa-sisa dapat pergi ke institut pendidikan guru. Setelah pusing tujuh kelililng baru lulus dan menjadi guru dalam keadaan sedih dengan gaji dibawah kebutuhan hewan.

Apakah perlu Ijazah IPA untuk jadi TKI? Ya perlu sekali agar dapat dilatih menjadi pekerja handal dibidang teknologi di negara maju. Ijazah IPS juga perlu sekali karena banyak sekali yang diperlukan tenaga terampil dibidang sosial, ekonomi dsb. Ijazah ilmu budaya, tentu juga penting karena siapakah yang akan mengurus pekerjaan di bidang pariwisata, budaya, seni dsb.?
Tetapi yang paling utama adalah, modal kepribadian yang kokoh, yang tidak mudah dipucundangi dan harus profesioanl.
Kemakmuran tanah Selaparang tidak dapat diperoleh dari sumber daya alam yang terbatas, tetapi dari generasi muda yang berilmu tinggi, berakhlak mulia dan beramal sholeh.

Saya beruntung pernah hidup di tanah Selaparang selam 20 tahun, dan saya berguru kepada alim ulama semasa kecil dan dari mereka saya tahu bahwa saya tidak perlu ijazah untuk dapat bekerja dengan baik, dan saya berhasil membuktikannya.
Wallahualam bissawab,

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Sasak MOSOT

(Sasak.org) Sabtu, 09 Februari 2008 01:00
Seorang laki-laki kurus dengan ekpresi wajah yang keras, menunjukkan betapa ia seorang yang berhati karang. Selembar surat diterima dari ibunya yang renta dan tinggal sendiri di sebuah dasan kawasan perbukitan diperbatasan desa nun di Lombok Timur sana. Telah lebih dari 30 tahun ia habiskan waktu, harta dan kesehatan jiwa raganya di perantauan. Ia tinggal di kamar yang sama sejak tiba di kota Jogjakarta. Sekali sebulan aku datang berkunjung untuk menasihati dia agar berusaha mengubah perilakunya yang menyia-nyiakan harta orang tuanya. Kali itu, ketika aku datang, ia tak dapat sembunyikan perasaan terharunya. Aku pura-pura tak peduli. Aku sodorkan koran yang baru saja kubeli di pengasong jalanan dan kami membaca di kamarnya yang sempit.

Aku menyebut tempat kosnya sebagai kuburan karena penghuninya orang mati. Mati hati dan kreatifitasnya. Kami berasal dari daerah yang sama dan sekolah di 2 SMA yang sama. Bedanya aku pindah ke Mataram sedang dia pindah ke Selong. Kami bertukar sekolahan.

Hari itu kami membuat pelecing kangkung dan rarit ( bukan kambut!). Pedasnya minta ampun. Aku benar-benar kalang kabut karena 25 tahun aku tak makan sepedas itu. Aku telah beradaptasi dengan gudeg dan makanan Jogja lainnya.
Temanku ini, tak pernah sungguh-sungguh beradaptasi dengan lingkungan. Makanannya tetap Sasak. Bahasa Jawanya tidak karuan. Setelah makan ia sodorkan surat ibunya kepadaku, ia merasa diriku adalah saudaranya, dan aku sudah tak beribu cukup lama. Aku membacanya seolah surat dari ibuku sendiri.

Surat itu adalah himbauan kepada putra yang dikasihinya:
" Anakku sayang, aku tak ingin menganggumu, tapi waktu telah habis, Bapakmu telah mati, aku sudah renta"
Aku berehenti sejenak, karena napasku tercekat ditenggorokan. Kulihat kawanku menerawang langit-langit.
" Anakku, segeralah kau pulang, ladang kita tak tak ada yang urus, santren kita tak lagi hidup dengan pengajian anak-anak".
Aku tak lagi meneruskan membaca harapan sang ibu, karena aku mulai marah pada kawanku itu.

Aku katakan padanya bahwa dia adalah pengecut yang paling buruk untuk jadi contoh bagi anak-anak di desa kami.
Bagaimana tidak? Kawanku ini tak beridentitas. Aku mebentaknya dengan keras. Kamu ini apa sih? Ku katakan mahasiswa, kau tak pernah belajar! Ku katakan Muslim, kau tidak sembahyang! Ku katakan Orang Sasak, kaupun tak tahu adat! Dia hanya membisu seperti biasanya. Dasar batu!
Sampai setua itu dia tetap memilih hidup membujang ( mosot). Jadi apa gunanya dia ada di dunia ini?

Aku terpaksa dengan keras mengusirnya, agar dia pulang ke desa kami untuk dapat mengabdi disana. Aku yakin di desa kami masih banyak orang seusia dia atau tetua desa yang disegani. Semoga dia dapat berubah.
Kesultanan Jogja telah banyak mencetak cendekiawan Sasak, tapi banyak lagi yang hanya jadi katak dalam tempurung.
Niat tidak bulat dan ketika berangkat dari Lembar atau Rembiga banyak yang lupa berempak (menghentakkan kaki) 3 kali dan bersumpah untuk tidak menengok ke belakang.
Kurang makan sedikit, mental jadi rapuh. Tidak punya uang semangat melayang. Demiakian keadaan semeton jari di perantauan. Hanya sedikit yang berhasil karena doa dan kerja keras.

Bebarapa minggu yang lalu aku menerima SMS dari kawanku itu, bahwa dia bekerja untuk sebuah yayasan kemanusian dan pendidikan di desa kami.
Dengan rasa haru aku panjatkan rasa syukurku pada Allah bahwa sahabatku yang lebih keras dari batu itu dapat juga berbuat sesuatu. Mosot ...mosot sudah capek jadi datu muter baru sadar! Tapi masih ada waktu panjang...


Wallahualam bissawab,
Demikian dan maaf,

Hazairin R. JUNEP
Pekerja lepas

Sasak Membuat Kapal Terbang

(Sasak.org) Sabtu, 16 Februari 2008 01:00
Dahulu sekali ketika Pak Bedor menjajakan bakso sambil memukul mangkok, keliling dari kampung ke kampung. Harga baksonya hanya Rp.10,- dollar amerika mungkin Rp.200,- saat itu. Kalau direktur BRI, mengundang orang-orang berpakaian rapi makan malam, kulihat mereka makan mi instant, yang masih langka di masa itu. Aku tahu semua karena aku anak kecil yang senang bertualang.

Masjid kebanggaan warga Selong hanya satu yang besar yaitu Masjid Mbung Papak. Desa khusus kota Selong, seperti disebutkan oleh tokoh penting saat itu, Bapak HM Amin Shaleh, dibagi beberapa dasan dan ada dua mbung papak, timur dan barat. Bagi orang Kampung Jawa dan Kampung Sembilan, kami penduduk Mbung Papak adalah orang udik. Karena kalau mereka hendak ke tempat kami mereka mengatakan pergi ke DASAN.

Jalan yang punya nama seingatku adalah dua saja, Selain jalan raya itu, ada Jalan Muhdar yang pendek, membentang dari masjid Mbung Papak sampai perempatan telkom, di depan telkom itulah banyak kantor tempatku betualang bagai agen CIA kecil. Yang kedua ada Jalan Manis. Jangan kaget, jalan Manis ini sama sekali tidak manis. Bentangannya panjang dari lapangan Bayangkara sampai kuburan umum. Dan disepanjamg kiri kanannya ada parit. Aku sudah bilang tidak manis, bukan tidak ada gadis manis disana. Pemandangannya yang tidak manis, bagaimana tidak, sepanjang tepi jalan, berhadapan njampen orang berak sesukanya. Kalau ada air masih lumayan tapi kalau tak ada air ya …ampuun. Alangkah buruknya perilaku manusia, bukankah kebersihan adalah bagian dari iman?

Penduduk disepanjang jalan ini mungkin banyak menanggung beban mental. Di ujung barat terletak Resot Polisi yang terkenal tempat menyiksa orang. 399 meter ke timur ada penjara tempat menyekap pongoran yang berseragam biru tua. Dan 299 meter dari penjara ke timur ada kuburan umum.
Anak-anak sering saling olok-olok, atau saling menakuti. Kalau sampai dilaporkan polisi atas kenakalannya mereka akan disiksa dan disel lalu dikirim ke penjara untuk disiksa lagi dan dikirim ke kubur dengan seragam biru. Malang sekali nasib orang dasan itu.

Pongoran yang menghuni bui Selong setiap hari dipongor membuat batu bata, di sebelah barat daya Lapangan Porda. Aku sering mandi dengan batang pisang di kali dekat keren bata mereka. Kulihat mereka makan ubi atau jagung. Ada beberapa kali pongoran melarikan diri, tapi kebanyakan kembali sendiri. Mereka tidak sampai hati menyusahkan pengawasnya yang berwajah teduh dan tak pernah marah. Kadang aku mendekati keren dan pengawas itu dingin tak bereaksi. Mungkin tempat kerjanya yang kelam mempengaruhi jiwanya jadi biru. Kalau siang mereka tetap bekerja kecuali makan dan shalat. Mereka tak pernah shalat berjamaah. Mungkin takut terseret di akhirat sebagai teman maling karena berjamaah semasa hidupnya dengan pongoran.

Tiap subuh aku selalu terjaga mendengar paggilan azan yang sangat indah. Cerubek Bawi (megaphone) sudah ada dan suara Papux Enab sang Merebot, berkumandang 5 kali sehari kecuali ada relawan yang lain menggantikannya, Ia bertindak sebagai imam dan sekaligus muazzin. Papux juga bekerja sebagi penjaga kebersihan dan mengawasi kolam. Kalau di desa mereka menggunakan corong dari seng untuk azan dan khotbah.

Hobiku bertualang sering bentrok dengan kedisiplinan Papux mengurus masjid itu. Aku sering lari kencang dan mencebur ke kolam dihari yang panas atau hujan lebat. Air kolam jadi kotor. Meskipun aku sudah menyelidiki keberadaan Papux, tapi ajaib dia selalu ada ketika aku mencebur dan membuat kolam kotor. Dan Tib-tiba Papux sudah berdiri dipintu masjid dengan pemukul beduk, menghardik kami dan melempar tongkat itu bagai pemain kasti nasional. Benturan tongkat itu meledak didinding kolam, aku dan anak lain melompat lari lintang pukang, meninggalkan pakaian kami… telanjang bulat bersembunyi di rumah. Setelah reda kami kembali, biasanya saat akan azan.

Kami mengambil pakaian dan wudux bersam Papux, oh betapa teduhnya wajah beliau, tak ada benci sama sekali padahal sejam dua jam yang lalu aku porak porandakan telaga kesayangannya. Kamipun sholat berjamaah sambil tertawa-tertawa tak tahan mengingat kelakuan kami.
Aku punya kenangan yang sangat indah saat bulan puasa, Papuk membagikan bantal (ketan berisi pisang raja) pada tengah malam saat tadarus dimalam Ramadan. Aku tidur pulas, kakakku menjejalkan bantal dimulutku, aku terbangun, kulihat Papuk mengaji terus.
Siang hari Papux aktif mengolah sawah diseputar masjjid. sekeliling kolam ditanami cabe dan kemangi. Penghuni asrama tentara di Embung, sering meminta sayuran pada Papuk.

Suatu siang ada anak tentara yang datang, dia berkata: Papux, saya disuruh ibu minta kemangi”. Papux, Tanya: “ apa?” anak itu mengulangi dengan pelan dan jelas ” Ibu menyuruh saya minta kemangi Papux?”
Papux yang tak begitu pandai berbahasa Indonesia menjawab dengan nada yang penuh welas asih : Nak, buang dirimu di telaga!” anak itu lari pulang karena takut. Bagaimana mungkin Papux menuyuruihnya lompat ke kolam sedangkan dia perlu kemangi.
Ahirnya, ibu anak itu datang, dan Tanya kenapa Papux marah adakah anaknya membuat kesal. Papux bilang tidak. Maka ibu itu bilang : saya mau minta kemangi, papux”.
“ Oh ya, silax kemangikan dirimu disana!” Ibu itu bersungut-sungut pergi memetik kemangi.

Masjid kebanggaan kami punya dua hal lagi, selain kolam yang kubuat comberan itu. Papux Enab dan Kapal terbang. Aku selalu duduk bersama misanku yang sekarang jadi lurah itu. Kami mengamati pesawat terbang yang menghiasi atap masjid, warnanya putih terbuat dari semen. Di dunia ini hanya masjid kami yang bisa didarati pesawat terbang. Arsiteknya tentu berpikir bahwa Agama dan kemajuan (sains dan teknology) harus jalan beriringan. Sebuah pemikian ultra modern bagi masyarakat udik seperti orang dasan kami. Tak kusangka kami telah hidup bersama pemikir besar di tempat terpencil itu.

Aku selalu memimpikan terbang mengelilingi dunia ini. Sepuluh tahun kemudian aku benar benar terbang dengan Singapore airlines yang terbesar pada masanya. Aku selalu ingat papux Enab. Ia selalu memanggil jamaah diantara azan dan iqamah: “Semeton jari inax amax, silax te pade shalat berjamaah, tunax awal waktu!” Diulangnya beberapa kali dan hanya tiga empat shaf diwaktu siang dan banyak diwaktu malam dan subuh.
Sekarang tidak ada lagi pesawat, masjidku tersayang telah hilang, dan diganti Kubah besar sekali. Aku mengenang Papux dengan suara yang parau menghimbau untuk shalat di awal waktu. Aku ingat orang-orang memenuhi shaf, wajah mereka tenang bersih dan tunduk.

Sekarang kemajuan telah dicapai, tak ada lagi yang njampen di pinggir kali, semua bergerak lebih cepat. Masjid-masjid dipenuhi untuk sekedar senam bersama 5 kali sehari.
Wajah –walah tak lagi teduh, kehidupan makin rumit, pengemis, pengangguran dan kriminal, tumbuh subur..
Bagaimana, harus kukatakan, betapa malangnya nasib tanah leluhurku, betapa hancur perasaanku. Anak-anak Sasak sedang menuju kehancuran yang tiada disadarinya. Ustadku memilih jadi pegawai, guruku telah berpulang, TUAN GURU telah tiada, mimbarnya tak pernah terisi. Siapa yang akan menjaga warisan leluhur yang mulia ini.
Semua bertarung dalam arena, tak ada wasit… waktu berputar dan akan menggilas tanah Seleparang jadi serpihan sejarah yang terlupakan.

Wallahu alam bissawab,

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Glossarium:
Njampen : nongkrong, jongkok ditepi selokan
Pongoran : narapidana
Pongor : dipaksa kerja
Buang (bauang, bau) : petik, dapatkan

Sasak Doyan Nada

(Sasak.org) Sabtu, 16 Februari 2008 01:00
Orang Sasak adalah jago makan yang tak dapat disandingkan dengan siapapun. Jagoan super jadi inspirasi manusia dimanapun berada. Tokoh impian yang hebat secara fisik, atau dari segi ilmu apalagi spiritual selalu jadi idola dimana mana. Ada Superman dalam khayalan, Mohammad Ali dalam olah raga tinju. Einstein di bidang science dan Para Nabi sebagai panutan spiritual.Di Gumi Selaparang ada Gurantang sebagai pahlawan yag asalnya tidak diketahui. Tapi di desa-desa Gurantang kalah beken dengan tokoh juara makan sedunia yaitu MR.Doyan Nada. Jangan salah paham. Tokoh ini tak mengerti partitur musik karena dia tak sempat mendengar musik selain musik dari perutnya sendiri. Doyan Nada artinya senang makan kalau di Lotim namanya Doyan Mangan. Orang Lotim lebih non formal bahasanya karena itu nada atau neda dipakai dalam tataran komunikasi yang lebih tinggi.

Selain terkenal sebagai negeri seribu masjid, seribu maling dan seribu patung momot Orang Sasak adalah orang yang pembrani dalam soal makan apa saja. Ikan hiu, tidak dimakan oleh kebanyakan warga dunia sejak bertahun tahun, hanya beberapa dekade belakangan mulai laku. Orang Sasak adalah pemakan ikan pemangsa yang buas itu.
Mereka juga melonjak-lonjak kalau menangkap Manate dengan menyebutnya duyung kaox - ikan duyung kerbau. Padahal Manate dilindungi di seantero jagad ini.
Aku sering pergi ke Labuhan Haji, pagi pagi sekali saat madax (air surut) kami suka mencari ikan kecil dan bintang laut. Kadang kalau tidak madax kami mencirox. Mencirox adalah membantu nelayan mendaratkan perahunya ke pantai. Saat ikan tangkapan bagus anak-anak yang mendorong perahu dapat jatah satu dua ikan untuk lauk makan nasi.

Suatu saat seorang nelayan menangkap manate sebesar kerbau muda. Semua orang berkumpul melihat duyung itu dan memegangnya. Makhluk besar itu tersengal ketakutan. Airmatanya menitik dan orang-orang mulai mengatakan yang aneh-aneh tentang putri duyung yang sedang memberi tahukan kejadian ini, itu atau ramalan bencana dsb.
Nelayan Sasak tak peduli hal-hal begituan. Mereka dapat dikibuli tentang bebalox sisik yang berwarna putih sebagai jelmaan manusia. Atau ada yang bertemu bidadari laut dengan cepat dipercaya. Tapi kalau dapat ikan duyung, mereka tak peduli setan alaskah, Rinjani meletuskah, sembelih saja. Maka Manate besar itu di sembelih rame-rame. Dagingnya enak seperti daging sapi kata mereka.

Seumur hidup aku jarang mendengar ada tangkapan duyung, karena memang untuk sampai ke Labuhan Haji Manate harus menyeberang Pasifik 13000 atau 15000 kilometer dari Karibia atau sisi Pasifik Amerika Tengah. Kalau tempat itu dekat, niscaya dipurakax sudah semua manate oleh orang Sasak.
Sebagai keturunan langsung Mr. Doyan Nada, dapat diliat keseharian Orang Sasak. Kalau makan nasinya nambun macam gunung Rinjani. Sudah nasi segunung dilaboh
( disiram kuah) lagi. Sudah habis segunung masih hantam lagi dengan labohan yang lain.

Kemampuan makan Orang Sasak tak tertandingi. Pernah aku mengundang kawanku MOSOT, makan malam dengan seorang tokoh perdamaian berkulit putih. Bule itu bertanya kepadaku, kemana makanan sebanyak itu, lenyap begitu saja ditelan MOSOT yang badannya kurus. Bule itu terpana karena perut si MOSOT tetap lempeng tak ada tanda dia habis nguntal gunung Merapi…
Allah memberi Sasak karunia yang tak terlukis dengan kata meskipun aku pakai kamus terbesar dengan 160.000 kata sekalipun. Orang-orang NTT yang sering melintas di Lombok menyebut pulau itu RESTORAN mini Indonesia. Tak ada makanan yang tak enak, entah Sasak beleg itu menyadari atau tidak, akan karunia itu, aku tak tahu.

Ada satu makanan yang tak pernah aku temukan di tempat lain, atau belum mungkin. Bahkan di Jepang yang orangnya memakan apa saja dari laut, tak juga aku temukan disana. Makanan laut yang bernama kima (CHAMA GIGAS) yang hidup di perairan Tanjung Luar dan Teluk Ekas serta sepanjang wilayah Lombok Tenggara. Orang sasak tak banyak bertanya kalau dapat makanan enak. Mereka tidak mau tahu seperti halnya tentang Manate itu.

Kima adalah sejenis siput besar dengan warna gelap dan bermahkota dengan titik titik putih berkilau indah. Kalau di daratan ada burung cendrawasih atau merak (mayura) maka di laut Kima adalah ratu kecantikan alam air. Sudah cantik, gemulai dan mempesona harganya pun mahal sekali untuk ukuran siput yang akan dimakan. Dagingnya yang dikeringkan laris manis.
Aku memesan kima sekali setahun saat musim banyak dijual. Tiap kali aku makan aku senantiasa tersedu sambil berzikir alangkah nikmatnya kima itu. “ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”.

Di sebuah restoran Inggris siput yang tak seenak Kima harganya 3000 dolar Amerika satu porsi. Orang Sasak memakan ratunya siput tambah nasi segunung dan belaboh dengan kuah pelalahnya.(kira-kira seperti bumbu bali). Mereka tak sadar betapa kesempatan makan kima adalah hak istimewa (privilege) yang diberikan khususon untuk Orang Sasak. Cara memasaknyapun hanya mereka yang ahli.

Entah karena doyan nada (suka makan), menyebabkan berkembangnya nafsu serakah dan kurang tahan cobaan sehingga Orang Sasak malas belajar dan cendrung mengambil jalan pintas. Berapa Tuan Guru telah pergi, dari Tuan Guru Lopan, Tuan Guru Tret Tet Tet, Tuan Guru Pancor dan Tuan Guru Bolang. Mereka telah berurai airmata, hilang gigi dan habis rambut dan suara saking lelahnya menghimbau warganya agar melihat betapa besar nikmat dari Allah yang harus disyukuri dengan menjalankan kehidupan yang baik sesuai syariat. Tapi yang makan terus makan, yang maling terus maling, ustad melepas tugas dan menukarnya dengan jabatan tak berharga, guru tak lagi mengajar, Tuan Guru meninggalkan mimbar. Semua bertempur dalam arena perebutan kekuasaan.
“ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Wallahualam bissawab

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

Sasak Jabakan Tua

(Sasak.org) Minggu, 17 Februari 2008 01:00
Petang itu anak-anak berkumpul di santren Dasan tempat tinggalku. Kami akan mengikuti pengajian rutin. Kalau pengajian semua jamaah khusuk mendengar dan jarang sekali ada pertanyaan. Seolah semua yang dijelaskan ustad terang benderang sehingga mudah dicerna dan semua faham dengan sempurna.

Santren atau surau itu kecil sekali, tapi dapat memuat semua ibu dan jamaah wanita se Dasan kami. Tiap Dasan ada satu santren atau setidaknya tiap bloklah. Satu blok dibatasi oleh gang yang simetris. Dasan tempatku tinggal ada 3 blok yang agak besar dan 2 sub blok di bagian selatannya. Di dalam blok ada lorong-orong tikus yang juga lurus.

Bangunan rumah sangat sederhana, rumah kami adalah yang pertama semi permanent dan tiap rumah berjarak satu atau dua meter. Di sisi jalan besar tumbuh pepohonan, bambu, kapuk, nyiur, jeranjang, nangka dan lainnya. Lampu listrik hanya ada di perempatan jalan sedang di dalam dasan gelap gulita.

Waktu antara magrib dan isa yang disebut selak isa, adalah saat paling ditakuti anak-anak. Karena terlatih ditakuti misanku yang saat ini jadi lurah itu, aku kebal dan bahkan aku sering mencari tuselax (leak). Memang aku sangat takut tapi apa boleh buat kita hidup selain bersama maling ada banyak juga tuselax. Tapi sampai tua aku belum pernah bertemu dengan tuselax kecuali mendengar derapnya saat terbang.

Malam jumat, selak isa, sangat mencekam, aku mengintip di persilangan lorong tikus dekat Rumah HM Amin Shaleh di ujung timur laut Lapangan Porda. Aku tahu keponakanku yang sudah tua-tua, maksudku jauh lebih tua dari umurku, akan segera lewat satu persatu. Mereka nakal semua dan sering menakuti aku padahal aku adalah paman mereka. Aku merangkak dan saat ku dengar langkah seorang dari mereka aku melompat ke seberang seperti kucing, aku sering disuruh lompat harimau tapi gak bisa, cukuplah aku melompati lorong. Astaga naga! Teriak korbanku, aku mengenalinya, dia adalah si Rahza yang telinganya joang. Dia lari tunggang langgang ke santren.

Lama aku menunggu mangsa lain tapi tak ada, sialan bulu kudukku mulai berdiri, kuliat ujung rumpun bambu berayun-ayun dan suaranya gemerisik. Aku mulai takut, meski aku membaca surat Al Fatiha tiga kali hatiku belum tentram. Cerubek Bawi (megaphone) sudah berkoar mengundang orang pengajian.

Aku tiba di santren, ternyata keponakanku yang lain sudah disana, rupanya mereka lewat sebelah utara melintas di depan rumah TGH Zainal Abidin dan ke kanan di depan toko Amax Kaka Muhit. Mereka mendengar dengan gegap cerita si Rahza yang joang itu. Katanya dia ditakuti macan yang melompat di lorong selatan. Aku diam saja, aku tak melihat macan waktu dia lewat. Lagipula mana ada macan di Lombok.

Malam itu hatiku sangat tersentuh mendengar kisah nabi Yusuf AS. Pak Ustad menguraikan kisah itu dengan penuh perasaan sehingga aku terseret ke masa entak kapan. Aku berpendapat bahwa aku adalah Yusuf kecil dan keberanian Nabi Gagah itu aku kagumi. Aku akan berbuat seperti Yusuf AS yang dibuang di sumur. Aku ngeri membayangkan bagaimana ia bertahan ketemtem di air sumur. Setelah besaran dikit aku baru tahu sumurnya kering. Pak Ustad tidak bilang sumur itu kering kerontang. Jadi semalaman aku tak tidur membayangkan Nabi keselem.

Ustadku itu sangat baik tapi kalau ada anak usil marahnya tak terkira. Mungkin darah mudanya yang membara, istilah itu aku ketahui setelah dengar lagu dangdut Oma Irama, lama kamudian. Kami diajarnya membaca Al Qur’an dan dituntunnya Shalat dengan memahami nakna bacaan secara hafalan. Bodohnya aku tak kunjung dapat menghafal arti Al Fatiha dan ayat pendek lainnya. Cara mengajarnya sangat berlainan dengan caraku belajar. Aku cendrung menyendiri dan melahap buku sedang kami harus belajar ramai-ramai. Aku tak biasa berebut dan rame begitu.

Aku agak terhambat belajar di santren, dasar aku petualang kecil, tiap giliran diperiksa bacaan per satu paragraph, aku sangat bosan menunggu giliran, maka aku membuat quiz sendiri sama teman kiri kananku. Aku menyebut huruf hijaiyah satu persatu temanku harus menebak kata apa yang kumaksud. Teman-temanku sangat menikmati tebakan itu karena kata yang kupilih adalah kata yang dikenal dan harus lucu.

Fa! Fa! Kof! Kataku, temanku bertanya Fa atas atau bawah atau dapen? Maksudnya fatah, kasrah atau domah. Aku akan menjawab mana yang aku suka. Maka tebakan jitu tak ada kata lain yang lebih tepat dari pada Papux karena P tak ada dalam bahasa Arab. Aku tak mau menyebut kata yang lebih lucu lagi karena akan membuat sakit perut kalau banyak tertawa. Tapi Setan kecil yang ikut quizku gak tahan mereka tertawa sampai ustad marah…

Tiba-tiba aku mendengar desingan benda terbang tak teridentifkasi (UFO) melintas bagai kilat ditelinga kiriku, setelah itu di depan hidungku. Rupanya bukan UFO tapi jabakan tua dari nyiur kosong yang bentuknya lonjong kayak kapal selam. Ustad melempari kami dengan Jabakan. Tak terbayang kalau sampai kena salah satu bisa bonyong atau pegat kepalanya. Jabakan adalah alas untuk Al Qur’an, dibuat dari kelapa yang kosong dan di bentuk kurva diatasnya sehingga buku dapat dibuka waktu membaca.

Besoknya aku memboyong adikku mengaji ditempat lain. Aku berpindah sampi pecok dari satu santren ke santren lain. Aku gini-gini santrinya Tuan Guru H Zainal Abidin juga. Akhirnya Ayahku jengkel sekali, karena tiap dicek ke santren satu beliau tak ketemu batang hidungku, sebab hidungku kubawa kemana-mana dan belum pernah ketinggalan. Masuk lagi ke santren berikutnya aku juga tidak ada. Bagaimana mau ketemu, aku sedang nonton James Bond untuk usia 17 tahun sedangkan aku baru kelas 4 SD.

Penjaga Bioskop yang kebanyakan dari Kompi C aku akali, badanku yang kecil tak diliat waktu menyelinap dibelakang orang dewasa. Jahanam aku tak mengerti mereka ngomong apa di film itu tapi tembak-tembakan seru dan adegan percintaan aku gak faham itu.

Suatu malam Ayahku menangkapku di Bioskop dan menyeretku pulang, Beliau ambil jabakan dari rak, aku kecut sekali kukira akan di keprukkan di kepalaku. Lalu Ayah keluar dari kamar dengan Al Qur’an besar dan di pasang di depanku. “Baca” perintahnya, bulu kudukku berdiri, Allah berfirman: “ Bacalah dengan nama Tuhanmu…”.

Sekarang Ayahku bertindak sebagai tuhan di depanku. Aku baca Alqur’an itu dengan ta’zim, setelah beberapa saat Ayah pergi dan belakangan sekali aku tahu beliau menitikkan airmata mendengar aku menbaca SURAT YUSUF yang aku sukai itu.

Ayahku mengira aku tak dapat mengaji selama ini.

Beberapa minggu kemudian aku diundangkan beberpa guru ngaji untuk menghatamkan Al Qur’an. Aku tidak hatam di masjdi atau santren tapi di rumah. Ayahku menamkan perinsip yang kuat bahwa belajar dapat dimana saja asalkan sungguh sunguh dalam melasanakannya.. Jabakan tuaku sudak tak ada karena rumah tua kami telah kurobohkan dan kudirikan mushalla kecil agar orang dasan dapat belajar disana.

Diperpustakaanku aku menyimpan jabakan yang persis sama dengan UFO yang terbang di depan hidungku dulu. Aku mendapatkannya di kali dekat ruamahku. Orang Lombokpun tak tahu barang apa itu, karena Jabakan adalah monument masa silam. Aku menyimpannya dan bercerita pada keluargaku mengenai kapal selam kecil itu . Jabakan boleh lenyap, tapi tradisi mengaji (belajar) jangan sampai melayang dari gumi Selaparang.

Wallahu alam bissawab

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Glossarium:
Ketemtem : tenggelam dengan mengeluarkan buih dipermukaan air
Keselem : tenggelam
Jabakan : rehan, standard buku
Pecok: penyok, remuk, berantakan
Pegat : putus, terpenggal

Minggu, 24 Mei 2009

Sasak Akan Sekolah

(Sasak.org) Kamis, 14 Februari 2008 01:00
Sesungguhnya hidup adalah pendidikan, karena tidak ada manusia yang selesai belajar tahu semua. Belajar dari buaian sampai ke liang lahat adalah ungkapan yang sangat dikenal orang Sasak.. Belajarlah hingga ke negeri China., kata orang bijak..

Yang lebih tegas lagi Allah memerintahkan tiap-tiap manusia wajib menuntut ilmu. Alam semesta adalah guru yang paling baik bagi manusia. Ketika lahir setiap bayi punya kemampuan daya tangkap yang sungguh luar biasa.

Dalam waktu 2 tahun, selama ia menyusu ibunya, ia sanggup menyerap seluruh informasi dasar untuk dapat berkomunikasi. Sampai umur 5 tahun seorang manusia telah menguasai 80% dari seluruh pengetahuannya selam hidup.

Ibu adalah madrasah utama bagi semua manusia. Orang muslim memiliki sistem hukum yang dapat menjawab segala persoalan hidup. Tiap manuasi dibimbing untuk tumbuh berkembang secara utuh.

Mula-mual fisik manusialah yang tumbuh dengan sangat pesat. Ketika mengalami pertumbuhan itu kesadaran akan waktu belum diperhatikan. Segalanya cepat berlalu dan tiba-tiba mulai menyadari lingkungan berputar bersamanya dan mulailah terasa adanya waktu sebagai bagian penting kehidupan ini.

Saat menyadari waktu mulailah tumbuh dan berkembang akal sehat. Setiap apa yang dilihat mulai direkam dan dikumpulkan dalam konsep- konsep yang berupa kumpulan informasi yang tertata rapi.

Setelah akal mulai mencapai perkembangan penuh tiba-tiba perasaan bergejolak tentang identitas diri. waktu kecil memang banyak tanya tapi itu sekedar reaksi dari pengaruh lingkungan. Kali ini kekuatan dahsyat mendorong untuk segera menemukan jati diri.

Tiap manusia diciptakan Allah secara istimewa. Tak ada manusia yang mau hidup dengan gaya yang persis sama dalam segala hal. Pasti masing-masing bertumbuh menurut gaya dan kodratnya.

Ibu telah menuntunnya menjadi manusia dengan watak dasar yang kuat, ayah membimbing bagai menyiram bunga agar subur dan indah. Ayahlah yang mengisi bagian yang penting selanjutnya, sedang ibu tinggal merestui saja.

Dalam masa pembentukan diri inilah saat yang genting bagi anak, dimana pengaruh usia sebaya, lingkungan dan masyarakat mulai menyusupi simpul kepribadiannya. Anak yang telah ditempa Ibu dan Ayah tidak gampang dipengaruhi, tapi kejahatan orang lain dapat menjebaknya. Apalagi kejahatan yang drencanakan secara sistematis.

Malangnya manusia tidak tahu persih kapan tiap tahapan itu mulai dan berhenti, hanya gambaran umum dari pengalaman sehari-harilah jadi patokan. Lebih malang lagi manusia sangat gampang lupa dan mengabaikan hal-hal detail mengenai perkembangan anaknya. Seolah pasrah begitu saja.

Adakah orangtua menyadari bahwa neraka adalah orang lain? Mereka ribut ketika tertimpa kemalangan yang menyangkut anaknya. Inilah sifat manusia Sasak, selalu berkutat pada akibat tanpa peduli akan hal-hal yang diabaikan selam ini sebagai sebab semua kekacauan.

Kasus narkoba pada anak, dimulai saat orang tua mengabaikan anak. Ketika ada orang tua yang terlalu sayang sehingga takut kehilangan anak. Rasa takut kehilangan anak itu membuatnya jadi manusia pengecut dan takut menolak permintaan anak. Mula-mula anak diberi apapun karena rasa sayang tapi lambat laun anak dikuasai dajjal dan takutlah orangtua kepadanya.

Masyarakat adalah mula-mula bagai anak kecil yang juga mengalami perkembangan seperti seoarng manusia. Masyarakat lebih mudah diolah dari luar dari pada seorang anak. Ibu membuai anaknya dengn sabar sampai habis napasnya, habis darahnya habis rambutnya untuk menumbuhkan anaknya agar jadi sehat, kuat dan hebat, berguna bagi nusa bangsa dan agama. Masihkan orang tua menanamkan cita-cita itu?

Masyarkat tidak membuat ibu siapapun jadi peot. Tapi menghancurkan hati setiap ibu yang ada di bumi ini, kalau sampai masayarakat tumbuh rusak. Makanan, pakaian, hiburan adalah pengganti ibu. Ketiga hal itu membuai ,menimang dan memabukkan masyarakat. Mereka tidak tumbuh seperti bayi sehat tapi jadi makhluk raksasa yang tak dapat mengekang hawa nafsunya.

Dalam kisah-kisah kuna sebernarnya tokoh pahlawan adalah cermin seorang anak ibu yang kukuh dan hebat dalam berjuang sedangkan Raksasa adalah makhluk besar bernama, komplotan, gang dan masyarakat yang bobrok , penuh akal bulus dan kultus individu.

Manusia sesungguhnya membutuhkan pendidikan untuk menumbuh kembangkan ketiga bagian dari dirinya yaitu badan/fisik, akal dan spiritualnya.
Ancaman yang paling berbahaya dari kehidupan modern adalah pendidikan ala pelatihan monyet yang mengukur keberhasilan dari kecakapan anak melakukan sesuatu. Kebutuhan mengembangkan ketiga kekuatan manusia yang diperintahkan Allah untuk sama-sama di awasi tidak dilaksakan. Akibatnya, kehancuran akhlak pertama-tama kemudian badan tidak sehat dan akalpun menghilang.

Kehidupan modern yang menuntut segala sesuatu harus berkembang dan menguntungkan membuat sekelompok raksasa tidak suka dengan keindahan, ketentraman dan kesejahteraan yang diperoleh dan dinikmati umat yang berpegang pada penjagaan dan pelestarian tiga kekuatan manusia itu.

Raksasa merancang untuk merusak sistem pertahanan umat dengan meniru cara ibu membesarkan anak. Mulai dengan memberi makanan enak, membuai dan menghancurkan, kesehatan badan, akal dan spritiual berturut-turut. Lewat media cetak, elektronik, sarana pendidikan , sarana hiburan dan sedikit demi sedikit yang haram disuramkan, yang halal disembunyikan maka semua nilai jadi berubah.

Tiba-tiba umat tunduk dengan segala aturan yang bertentangan dengan akidahnya. Manusia tidak lagi melakukan apa yang dituntun Allah tapi mereka berlomba melakukan apa yang dikehendakinya.
Karena semua sudah siap dan tampak benar dari segala sudut pandang, maka antek-antek raksasa menyusup keseluruh rumah penduduk. Dengan serentak dan dengan harmoni yang bagus tiap orang tiba-tiba merasa sudah pandai tanpa belajar.

Titel apa saja dapat disandang, dari sarjana , kiyai, tuan guru dll….Apa yang terlihat sekarang adalah penghancuran bangunan akidah dan akhlaq manusia Sasak. Bagaimana mungkin semua cendekiawan karbitan ini dapat mendorong Tuan Gurunya untuk mengerjakan barang kotor? Tuan Guru pada hakikatnya adalah guru yang harus mengajar dan menjaga akidah manusia. Politik adalah bagian dari tanggung jawab orang yang memang disiapkan untuk itu. Aapakah Tuan Guru sekarang ini juga karbitan, sehingga mau saja didorong-dorong melakukan hal yang tidak pantas dilakukan.

Memang Rasulullah memberi contoh, Beliau adalah presiden, jendral, da’i dll. Tapi jangan lupa Beliau mempersiapkan dan membina masyarakat 40 tahun untuk dapat melaksanakan apa yang menjadi impian Beliau. Tuan Guru dapat maju bila masyarakat itu mayoritasnya sudah berakhlak mulia dan beramal sholeh. Kalau belum maka disitulah Tuan Guru dipaksa oleh kewajibannya untuk memperjuangkan masyarakat yang demikian sampai berhasil.

Pernah suatu hari ditanyakan apa beda orang Sasak dan orang Minang? Selain bahasa dan adatnya, ada satu hal yang kontras yaitu: tiap 10 orang minang 9 menuntut ilmu, 1 naik haji kalau orang Sasak sebaliknya, 1 menuntut ilmu, 9 naik haji.

Orang yang menuntut ilmu dan pergi berhaji sepulangnya ia menemukan warganya penuh dengan hewan dan sedikit malaikat. Itulah sebabnya mereka memilih lebih mengasingkan diri tanpa meninggalkan kewajiban.
Manusia yang telah berhaji sangat dekat dengan sifat malaikat, kecuali masih nampak dan menempel dibumi, mereka melihat, mendengar, merasa, dan apa saja karena Allah. Bebisnis murni karena Allah, berjuang hanya karena Allah. Sedang hewan tidak pernah berhenti berkutat pada kesenangan duniawai.

Betapa banyaknya haji yang membangunkan tidur raksasa, lalu pasrah bergayut dikaki kekuasaan denawa itu. Seterusnya menjadi saksi pemerkosaan, pembantaian dan penghacuran manusi dan alam sekitarnya.

Inilah fakta gumi Selaparang, yang anak-naknya ribut diujung kejadian tapi sebab-sebab selalu diabaikan.

Wallahualam bissawab

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP

Sasak Kawin Cerai

(Sasak.org) Sabtu, 16 Februari 2008 01:00
Temanku si Rihip kawin waktu kelas 2 SMA, dan punya anak satu, banyak yang tahu tapi dia mengancam siapa saja, kalau sampai ada yang melaporkan ke sekolahan akan dia santet. Orang tuanyanya petani di daerah pedalaman.. Kawan satu ini berasal dari Lotim bagian utara dan wanen meski badannya kecil.

Si Kizu temanku yang lain kawin setamat SMA, dan langsung punya anak. Dia ini tinggal dan besar di Pancor. Orang tuanya seorang penguasaha ikan di Tanjung Luar. Meraka punya banyak barak penangkapan ikan di laut.

Si Simah kawin waktu kelas satu SMA dan itu untuk kedua kalinya. Orang tuanya petani dan peternak kerbau di Perbukitan Pijot sana. Mereka punya sawah luas meski tadah hujan dan beberapa kerbau yang menghasilkan susu.

Si Rihip bercerai dan tidak suka sekolah, sekarang dia bekerja jadi PNS ngurus orang desa. Kemungkinan besar waktu memasukkan lamaran dia mengancam nyantet kepala kanwilnya kalau tidak diluluskan. Si Kizu jadi buruh bangunan karena tak sanggup meneruskan bisnis ayahnya yang cemerlang. Sedang si Simah entah berapa kali lagi dia bercerai karena kawin. Dia bertani, tapi seperti halnya perkawinannya kebanyakan gagal dari pada panen.

Tiga kawanku kukorbankan jadi bulan-bulan pada kesempatan ini, mereka tak tahu dan pembaca tak juga mengenalnya. Kalau aku ceritakan orang lain bisa timbul fitnah. Kalau kebetulan kawanku mengetahui tulisan yang membuatnya mukmer (muka merah), maka aku bersedia di sumpax senax dan ditambah nasi seponjol pun aku mau. Dari pada aku diam saja, tak ada gunanya punya teman yang khusus diturunkan Allah sebagai contoh bagi pendidikan generasi sekarang.

Kawin untuk cerai adalah salah satu kelakuan orang Sasak. Selain begawe, besual, mudax nyelex , perot, kajuman, mendat, dan lain-lain, masalah beseang atau bercerai sungguh mencengangkan banyaknya. Waktu aku kecil, aku suka betualang ke kantor-kantor dan gedung dewan. Kadang ke pengadilan negeri atau pengadilan agama. Sebagai anak kecil yang belum sekolah aku tak mengerti mengapa ada bapak-bapak pakai pakaian rapi berangkat pagi- pulang siang seperti orang kelelahan tiap hari. Dalam hati aku bersumpah untuk tidak mengerjakan hal tolol seperti itu dalam hidupku. Lama-lama aku tau mereka adalah pegawa daerah.

Selama bertualang aku sering menghadiri sidang pencuri paling beken se dunia, namanya Bin Manyu. Entah berapa kali si maling ini keluar masuk bui yang di depan kebun raya itu. Selong dahulu punya kebun raya dengan pohon-pohon kenari raksasa yang biasa dipakai latihan memanjat dan meluncur oleh anggota kompi C di sebelahnya, jalan raya yang lengang tapi bersih dan mina upaya yang penuh ikan besar-besar.

Belakangan aku dengar si Bin Manyu itu di buang ke Nusa Kambangan. Entah dunia mana itu. Ke luar Selong saja aku tak pernah, paling-paling Labuhan Haji, yang waktu itu aku kira dekat Jakarta. Jadi mana aku tahu tempat yang bernama Nusa Kambangan. Yang pasti kata kakakku yang juga petualang sampi tua itu, tempat pembuangan si maling itu yang kebetulan mosot, adalah tempat yang mengerikan sekali. Aku sangat takut mendengar cerita itu.

Di dekat ruamhku, pada masa yang kemudian sekali, sesudah aku tahu apa itu pemda dan dewan serta pengadilan. Aku makin gak punya cita-cita pakai seragam, terus mondar-mandir dari rumah ke kantor ke rumah lagi, ngeri …banyak kulihat mereka akhirnya mati baik waktu masih mondar mandir atau sudah pensiun… aku melihat betapa malang manusia dalam hidupnya.

Maksduku didekat ruamahku, tiba-tiba terpampang pelang, Pengadilan Agama. Wah menarik perhatianku. Bagaiman agama sampai diadili. Yang satu pengadilan negeri, seharusnya yang diadili negara atau negeri tapi maling. Kini agama mau diadili.

Aku tertarik mendengar suara orang bertanya dengan mengulang tiap pertanyaan dua-tiga kali dengan keras. Suara orang itu tegas dan mengandung nada perihatin yang tertahan. Bahasanya Sasak tapi logatnya Jawa.

Dia adalah hakim yang akan menghuni neraka atau surga, nanti kita akan saksikan dipengadilan yang sebernarnya. Dia bertanya: “Kembex De ngendeng beseang, ibu?” Aku melihat secara bergantian hakim dan ibu muda itu. Dalam hati aku kagum akan kecantikannya, sungguh wanita malang itu pastilah pernah atau selalu disakiti hatinya. Kaget aku mendengar jawabannya, “Cinta tiang wah buex! Cintaku sudah habis!”. Pak hakim menimpali, “Bau de pikrang malik ibu? Tiang embeng side waktu seminggu nggih?”
Wanita itu menjawab, “dendek, cintan tiang wah buek! Tidak, cintaku telah habis!”..

Lelaki dungu yang jadi suaminya, diam saja, kadang senyum pahit dan mukmer tapi tak berkata apapun. Wajahnya seperti orang ngenjen, ntah apa yang akan keluar…

Hatiku pilu dan ingin kutuliskan puisi untuk mencatat peristiwa yang mengguncangkan batinku itu, tapi otakku buntu, meskipun aku ngenjen tetap saja aku tak tahu bagaimana memulai kata yang tepat.

Perceraian adalah buah dari perilaku yang kurang baik atau kebiasan buruk. Pada umumnya orang Sasak yang berdesak-desak hidupnya, karena tidak berani pergi merantau akhirnya kawin antar sesamanya, baik dalam satu keluarga besar, klan atau sesuku.

Di perkampungan padat seperti dasan-dasan di tanah Selaparang, kebanyakan penduduk masih bertalian persaudaraan satu sama lain. Hidup sperti terisolasi, maju sumpek, mundur nabrak, kekiri macet, ke kanan buntu…

Ketika berhimpitan inilah warga sering saling menyakiti, meskipun tidak pernah terpikir untuk bertidak demikian. Keperluan yang sama, keinginan yang sama, dapat di umpamakan di WC umum, apa yang terjadi kalau WC hanya dua dan ada 4 orang yang sedang mencret? Dalam keterdesakan seperti itu hilang akal, bahkan iman. Tinggallah tai yang bersi maha lela memerintah karena yang lain lain telah dilumpuhkan.

Dalam dasan sempit itu tumbuh berkembang anak-anak Sasak yang secara naluriah akan tiba saatnya kawin. Karena yang mengendalikan adalah nafsu maka akal dan iman tak pula berguna. Meski dilakukan dengan upacara adat dan agama akhirnya akan kandas juga mahligai yang coba di bangun.

Perceraian itu lambat laun terjadi karena akumulasi rasa benci yang teramat sangat. Cobalah lihat ke cermin dan bicarlah sendiri, anda akan tertawa. Tapi coba lihat pasangan anda dan angkat tangan kiri, ia akan angkat tangan kiri sebelum anda suruh. Kalau itu hanya kebetulan, sekarang tampar pipi sendiri ternyata pasangan anda juga menampar pipinya sendiri.

Mungkin itu terlalu berlebihan, tapi lihat baik-baik pasangan itu adalah serupa tapi tak sama dalam arti serupa sifatnya, serupa perilakunya, serupa kesukaannya dan serupa pengalaman hidupnya. Orang seperti itu akan saling membenci. Orang yang membeci pasangannya pada dasarnya membenci sesuatu yang merupakan bagian dari dirinya (kok serupa sih) yang kebetulan ada pada pasangannya itu. Hal –hal lain yang bukan merupakan bagian diri tidak akan berpengaruh. Saudara kembar bukan tapi sangat mirip, dan kawin, janggal sekali…

Sepasang manusia yang dilahirkan di dasan yang sama, dari keturunan yang sama, bertumbuh kembang di lingkungan yang sama akan memiliki banyak kesamaan. Peri laku buruk, penyakit bawaan dan lain-lain. “Bertebaranlah engkau dimuka bumi ini”, Firman Allah, untuk mencari rezeqi. Bukan hanya rezeqi makanan dan kebutuhan sehari- hari yang dimaksud tapi juga termasuk jodoh, agar engkau saling kenal satu sama lain karena Allah menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa dan berbeda-beda…

“Buex wah cintan tiang! Habis sudah cintaku!” Subhanallah, bagaimana mungkin perasaan cinta bisa hilang. Tembang yang rumit dapat ditulis partiturnya. Keindahan alam dapat diurai dengan puisi dan lukisan. Kesahduan dan kenikamatan cinta tak sanggup digambarkan dengan konsep yang nyata.

Apa itu cinta, telah banyak aku tanyakan kepada semua bangsa, duta besar, sutradara setingkat oscar, ratu kecantikan, menteri, penulis, jurnalis, kiyai, uskup dan banyak lagi, tak ada yang dapat dengan singkat mendefinisikannya.

Kalau ada yang Tanya, apa itu gendang belex, dengan serta merta anak kecil dapat bercerita, ringkas den jelas. Tapi cinta, belum pernah manusia berhenti menuliskan, membicarakan, menyelami dan mengejar bayangannya. Tiada yang berhasil.

Orang-orang menyangka, kemesraan adalah cinta, seks adalah cinta, kawin adalah cinta, berkeluarga adalah cinta. Bukan, bukan itu. Semua yang disebut tadi dapat musnah seketika. Sedangkan cinta tidak. Jadi makhluk apakah sebernarnya cinta itu?

Cinta adalah makhluk spiritual yang berkelompok dengan iman, akhlaq dan akidah. Astagfirullah al adhiim. Bagaimana mungkin cinta itu adalah makhluk yang berkaitan dengan hal spiritual itu.

Islam diturunkan sebagai Rahmatan lil alamin. Cinta atau kasih sayang bagi semua isi alam raya ini. Wujud cinta itu tidak ada, ia bagaikan penyakit, yang dapat dilihat dan dirasakan adalah gejalanya.

Manusia yang ditumbuhkan dalam suasana kasih sayang yang berasal dari iman atas kebenaran dan dengan akhlak yang terpuji akan membentuk menusia yang memiliki akidah yang kuat. Semua hal spiritual itu akan menggejala dalam perilaku manusia sehari-hari. Semua dimanifestasikan dalam napas kehidupan bermasyarakat.

Akidah yang kuat akan mengendalikan manusia menjaga akhlaknya tetap mulia, akhlak mulia adah counterpart atau pasangan sejati iman yang benar dan setelah itu dijamin cinta dan kasih sayang bersemi ke seantero alam semesta ini.

Ketika Cinta dan kasih sayang disemaikan oleh iman, dipupuk oleh akhlag dan direngkuh oleh akidad itulah yang disebut Rahmatan lilalamin. Tiada rasa benci, dengki, talo ati, peratean, melax, melut, mele menang mesax dan sederet keburukan lagi terhapus atau tak akan sempat muncul sama sekali.

Wallahualam bissawab,

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas,

Hazairin R. JUNEP


Glossarium:
nenjen : mengejan
talo ate : iri
Peratean: sirik
melak : rakus
melut : malas
mele menang mesah : mau menang sendiri
seponjol : wadah nasi

Sabtu, 23 Mei 2009

Sasak Berwisata

(Sasak.org) Minggu, 02 November 2008 01:00
Pariwisata dalam pengertian saya, sederhananya adalah menyebar atau meninggikan (pari) dan menggandakan, mengembangkan (vi) jati diri (sata,satva). Demikian itu adalah tujuan mulia dari sebuah perjalanan seorang manusia dalam membangun jati dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya jumlah pelaku perjalanan diri itu, sebagai homo ekonomikus, orangpun mulai merancang strategi mencari keuntungan. Tadinya para peziarah atau petualang dapat leluasa bepergian dan tidur bahkan makan minum hampir gratis semua, mulai jadi setengah komersial dan akhirnya komersial murni.

Allah menciptakan manusia berkufu, berbangsa dan berbudaya aneka ragam dan bersamaan dengan itu karunia terbesar manusia adalah Ilmu. Dengan ilmu itu kita diwajibkan untuk membaca firmanNya agar kita mengenal diri dan alam semesta. Mengapa muslim berbondong bondong ke tanah suci Mekkah? Karena mereka terikat kontrak sejarah dan Allah memasukkan kontrak itu sebagai kewajiban no 5 bagi mereka yang mampu. Perjalanan itu adalah salah satu pariwisata tertua di dunia ini dan boleh dicatat sebagai terbesar sepanjang sejarah kita. Muslim Indonesia adalah jamaah terbanyak.

Berapa besar kekayaan berpindah ke tanah suci tiap tahun, padahal tidak ada industri besar yang mengekspor barang mahal. Yang membuat orang datang adalah keyakinan yang sangat kuat bahkan kadang lebih kuat dari kemampuan ekonomi mereka yang sebenarnya. Jamaah dari Negara Asia selatan dan Afrika banyak yang tidur di tenda tenda sederhana dengan memasak sendiri. Tak terbayang betapa sulitnya menjaga kelangsungan sebuah ibadah penting dalam keterbatasan fasilitas seperti mereka dapat usahakan. Tapi kalau soal mabrur dan tidaknya itu urusan Allah.

Pariwisata modern, sama sekali terlepas dari hal hal yang kita bicarakan diatas. Meskipun pada dasaranya setiap perjalanan baik berlatar agamis atau hedonis akan mengahsilkan kebahagiaan bathin. Setiap manusia sunnatullah ingin bepergian, jarang ada orang yang terus bersembunyi di rumah atau kampungnya. Negara berekonomi pesat menjadi pionir dalam hal pariwisata hedonis. Mereka dapat membayar biaya mahal untuk dapat memenuhi hasrat petualangannya dan keingintahuannya akan dunia lain. Perbedaan alam dan budaya adalah faktor utama yang menarik minat mereka dan baru kemudian hal hal lain seperti berjudi, beristirahat dan lain sebagainya.

Diawal berkembangnya pariwisata Lombok, sedikit turis yang datang tetapi umumnya mereka adalah intelektual dan orang kaya. Tahun 1980an sebagai relawan, saya banyak bertemu dan berdiskusi dengan pakar pakar antropologi, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Mereka adalah orang berpengaruh dibidangnya dan salah satu orang yang saya temui itu adalah Prof. Robert Apter dari UCLA yang kepadanya saya berjanji untuk datang ke kampusnya dalam 6 bulan. Ternyata benar kami satu pesawat dari Singapura ke San Fransisco dan benar benar saya masuk kampusnya meskipun dia tidak tahu itu. .Kemudian Gunter Spitzing, dari Jerman adalah pemerhati Indonesia, kami berdiskusi panjang lebar, saat itu dia baru saja membuka Indonesische Seminar di Hamburg, belum becus berbahasa Indonesia. Kini bukunya menyebar bahkan bahasa Bali ditulisnya pula.

Lombok sebagai negeri yang sangat kaya akan SDA untuk pariwisata modern, selalu berada dalam sepuluh besar dalam Daftar Tujuan Wisata Indonesia. Diantara yang sepuluh itu Bali kemudian Jogjakrta berturut turut menduduki peringkat 1 dan 2. Bali memiliki alam yang kurang indahnya dibanding dengan Lombok. Jogjakarta jauh lebih minim lagi. Yang membuat mereka terus menduduki peringkat atas pertama tama adalah SDM yang memadai. Jogjakarta memiliki SDM yang melimpah meskipun saya pribadi melihat kebobrokan dimana mana tapi pariwisata mereka cukup menjanjikan, terutama domestik. Bali telah dikenal sejak tahun 1930 an. Saya tinggal di Bali beberapa bulan di tahun 1978 dan keadaannya sangat minim fasilitas, tapi saat itu pembangunan infrastruktur mulai tumbuh dan akhir tahun 1980an mereka panen wisatawan sampai sekarang.

Membangun pariwisata Lombok tidak susah, karena tanpa diapa apakan saja sudah indah dan menarik minat pengunjung. Yang pertama adalah fasilitas dan infrastruktur harus dibereskan. Jalan baik dengan rambu yang jelas dan lalu lintas yang tertib. Hotel dari kelas penginapan ramai ramai satu kamar sampai bintang 5 plus plus. Hotel atau losmen terendah sekalipun harus bersih dan aman dan terjaga higinisnya.
Warung sampai restoran mahal sama amannya dari segi kesehatan dan keindahan. Transport dari yang termurah sampai termahal juga memberi kenyamanan dan keamanan. Tentu masalah haraga adalah soal berapa banyak fasilitas yang diinginkan, tapi tidak berarti harga murah lantas orang jadi tidak aman dan nyaman. Singkatnya datang ke Lombok haruslah menemukan rasa aman dan nyaman.

Ada satu hal yang sering diabaikan oleh pemerintah terutama dan para stakeholder pariwisata di Indonesia. SDM yang direkrut kebanyakn seadanya. Sopir dan kondektur, kurang dipersiapkan, mental spiritualnya sehingga akhlak mereka rata rata bobrok, belum lagi soal komunikasi. Para karyawan hotel dan rstoran banyak yang kurang bersemangat dan tidak kompeten. Pegawai travel agent yang direkrut secara KKN serta pemandu wisata yang bekerja seperti robot. Lebih parah lagi pegawai dan pejabat di Lingkungan Depbudpar sangat tidak mengusai masalah. Sudah pergi studi banding kemana mana bahkan samapi luar negeri, tetap saja tak menambah kemajuan.

Kesiapan SDM di Lombok mutlak harus diusahakan sekarang juga. Jangan sampai mendatangkan SDM dari Jawa dan Bali. Akademi bahasa dan pariwisata, dengan jurusan multi bahasa dan keterampilan multi di bidang restoran; tiketing, kepemanduan, kerajinan dsb segera di buka di Lombok Tengah, agar dekat dari semua wilayah Lombok. Bagi masyarakat luas harus disediakan lembaga pendidikan khusus yang tak mensyaratkan ijazah dan lama waktu belajar, semacam Akademi Sasak yang bertanggung jawab mengembangkan pendidikan dan kebudayaan berkelanjutan.

Pemandu wisata sebagai bagian terpenting dari bisnis pariwisata harus mendapat perhatian utama dalam pendidikandan pembekalan profesi. Tahun 1983 saya banyak tawaran untuk memandu wisatawan asing, saya sudah polyglot tapi saya tidak ingin terjun bebas ke dunia yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Waktu itu pemandu wisata atau guide banyak yang akhlaknya rusak dan berstatus liar. Saking banyaknya guide liar, rusaklah nama profesi yang satu ini. Setelah 10 tahun mempelajari keadaan saya secara resmi melibatkan diri, berkat kawan saya yang hebat, Si MOSOT, yang menerangkan secara detail perihal profesi itu di lapangan.

Saya merintis profesionalisme diantara para pekerja yang semata mencari keuntungan cepat. Perjuangan saya memprofesionalkan diri menyebabkan banyak pintu tertutup. Tetapi amax saya bilang, jangan takut masih banyak pintu lain yang terbuka. Dan benar setelah saya memperoleh piagam dari Menparsenibud saya makin berjaya dengan menentukan tarif sendiri. Sampai detik ini, saya tidak kekurangan pekerjaan malah harus menolak demi kesehatan dan menjaga agar saya dapat berbuat meskipun hanya sekecil debu untuk kemanusiaan dan perdamaian dan khususon untuk KS ini.

Apa gunanya kita berwisata, datang ke suatu tempat dan bengong seperti melihat gambar? Distulah diperlukan seseorang yang dapat dengan rinci menerangkan hal ikhwal tempat yang kita kunjungi. Taj Mahal atau Borobudur tak akan berarti apa apa kalau hanya menyangkut statistik. Semua data ada dibuku pelajaran SD. Tapi seorang pemandu wisata yang handal dapat menghidupkan sepotong batu kecil yang teronggok di sudut bangunan.

Tantanngan terbesar pariwisata Lombok adalah membangun profesionalisme SDMnya. Profesionalisme dapat berkembang apabila ada factor pendukung sperti minat yang tinggi, pendidikan , pengalaman, kompetensi, penghasilan yang sesuai. Di bidang apapun orang bekerja apabila faktor faktor tersebut kurang atau bahkan tidak ada maka profesinalisme tidak akan muncul. Akibatnya pekerjaan dan bisnis akan stagnan.

Berhasil tidaknya pariwisata Lombok kembali kepada usaha masyarakat luas terutama pemerintah dan stakeholder (pemangku kepentingan) bidang pariwisata ini. Mari kita bulatkan tekad untuk bekerja kerasa demi kemakmuran diri, keluarga, tetangga, warga dasan, dan masyarakat gumi Sasak keseluruhan.

Semoga pariwisata dapat segera mengangkat harkat martabat bangsa Sasak yang sering terpuruk oleh gizi buruk dan kemiskinan yang dibuat absolut oleh para pemimpinnya.
Amiiin.

Wallauhalam bissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Sasak Outstanding

(Sasak.org)Sabtu, 08 November 2008 01:00
Malam itu mal mal selikur dan tarawih baru saja bubar, aku duduk di depan rumahku di bawah pohon jambu air kecil yang lebat buahnya. Seorang jamaah masjid berhenti dan mengucapkan salam. Kubawa masuk ke rumah dan kami minum teh wangi cap mawar. Dia adalah sahabat lamaku yang sudah tak mengenal diriku lagi karena terpisah bertahun tahun. Namanya M.N dan lahir di sebuah desa di Gerung.

Dia bicara dengan bahasa Sasak hormat, dan bertanya dimana gerangan sahabatnya yang dulu kos bersamanya di Old Gomong . Saya ingin bertemu dengannya, sudah lama tidak bersua, sambungnya. Aku menatapnya terus, tapi dia masih bertanya, aku merasa dia tak mengenali aku sama sekali. Aku bertanya padanya; anak amaxku yang mana yang ingin side temui ?. Orangnya pendiam, ramah dan pandai jelasnya. Aku jadi kepala besaar sekali. Antara rasa malu dan geli aku katakan akulah orang yang kau maksud. Dia terkejut sampai mencret….


M.N adalah sahabatku yang kudoakan agar dia senantiasa bahagia dan tetap dalam lindungan Ilahi. Penampilannya sederhana, persis seperti prof. Natsir, ulama kharismatik kita itu. Sahabatku ini kemana saja hanya pakai sarung. Dia mondok di Ma’had Pancor. Waktu kos barsama, kami suka masak kelor dan kadang makanan mewah berupa lebui dan lindung totok. Rekan rekan kami yang di IKIP dan UNRAM bergantian membawa makanan khas desa masing masing. Ada satu orang yang kami ejek sebagai waktu telu. Dia jengkel minta ampun, hanya karena dia datang dari desa yang masyarakatnya dahulunya jadi basis X3 itu. Dan nama nama kami yang junior memakai alias. Semua mengambil nama bintang beken saat itu. Kerjaan kami mengintip dari jauh gadis gadis cantik di apotik Cakra yang kebanyakan etnis China itu. Dulu Cakra sepertinya lebih asri dari keadaan sekarang. Gubernur bangse Sasak tidak becus memeperindah kotanya.

Sahabatku yang satu ini sungguh manusia istimewa dan berhati mulia. Aku tak menduga dia seorang yang hampir buta huruf. Selama kos, dia kelihatan seperti orang terpelajar lagi bijaksana. Aku tentu tak mungkin mengungkit soal soal pribadi sehingga selama kos bareng dia aku tak pernah tanya kuliah dimana atau ambil jurusan apa. Ini akibat aku belajar Bahasa Asing sejak umur 9 tahun, dibuku panduan kita tak dibenarkan menanyakan umur, agama, dan detail lain sampai orang tersebut omong sendiri. Aku tahunya, dia itu ya kuliahlah.

Makin larut malam ramadan itu, suara amax mengaji sayup sayup, membaca surat Ar Rahmaan. Aku bertanya mengenai kuliahnya di Ma’had. Dia bercerita bahwa dahulu dia di kos untuk menolong adiknya yang kuliah di IKIP sampai lulus. Aku tak tahu cerita selanjutnya karena aku meneruskan kuliah di Jogjakarta. Ceritanya, dia membimbing adiknya sejak SD. Sahabatku ini mengorbankan diri untuk menyekolahkan adiknya. Karena persoalan biaya dia terima tidak masuk SD demi agar adiknya jadi pintar. MN bekerja di sawah dengan rajin, adiknya yang bernama MZ jadi murid pintar dan berprestasi. MN semkin bangga dengan adiknya. Bagi MN adiknya adalah titipan ayahnya yang telah meninggal bertahun yang lalu. Mereka tinggal bertiga dengan ibu. MN merasa perlu belajar menulis agar dia dapat ikut menikmati bacaan adiknya. Tangannya yang sering berlumpur lumpur dan kasar memegang pensil seperti memegang arit. Dia mulai menulis rabak rabak dan tak karuan bentuknya. MZ mengajari kakaknya sampai berhasil menghafal abjad. Itu terjadi sesudah adiknya SMA! Rasa sayang MN kepada adiknya membuat adiknya manja sekali, kalau ujian, dia tingal bilang pada kakaknya, semua tinggal beres, MN akan memasak, mencuci dan mengurus keperluan sang adik. Rupanya itulah yang membuatnya tinggal dikos itu.

Ketika adiknya sudah kuliah di semester akhir, MN sudah pandai menulis dan membaca, dia ikut pengajian dan nyantri diberbagai tempat sebagi pendengar. Usahnya yang gigih membuatnya lulus dari mengaji dan berhak meneruskan ke ma’had kapan dia mau.

MZ telah dinyatakan lulus BA dan dapat pekerjaan sambil meneruskan kuliah tingkat sarjananya. MZ kawin dan tidak tanggung tanggung dia beristri dua! Karirnya bagus dan dia kelelahan, entah karena kerja berat atau capek ngurus dua istrinya. Anaknya entah berapa sudah. Tak lama kemudian MZ meninggal dunia….

MN sudah lama tidak mengurus MZ karena sudah selesai tugas berat dari ayahnya menjaga sampai lulus sekolah. MN yang merana akhirnya memutuskan mengambil ma’had di Pancor, dia tetap memakai sarung dan tangannya kasar karena lumpur sawah tapi jemarinya lincah menulis dan mebuka kitab kitab kuning, akhirnya dia lulus dengan gemilang. Ketika bertemu dengan saya dia ingin bertanya mengenai tugasnya menjadi da’i yang akan mengisi pos di Kalimantan. Wajahnya pucat, karena dia bukan tak ingin menjalankan jihadnya tapi dia masih mengurus ibunya yang sudah renta. Aku tak perlu bertanya mengapa dia tak juga menikah…karena itu salah satu pertanyaan pribadi yang tak dibenarkan untuk ditanyakan menurut buku panduanku.

Bagi orang kebanyakan, MN adalah ramban biax , bukan siapa siapa, tapi kalau mereka sampai tahu niscaya akan dicium dan dipeluknya dia. Sekarang aku memikirkan nasibnya, apakah dia masih di desanya atau dimana rimbanya. Aku ingin memeluk sahabatku yang berhati mulia itu dan akan ku oros oros dimuka para pejabat dan pemimpin agar menjadikannya contoh manusia Sasak sejati yang tak pernah mampir di
sekolahan tapi berhasil menyelesaikan kuliah ma’hadnya. Dia seorang sarjana tulen dalam ilmu kehidupan. Aku berkali kali bertanya pada ustad mengenai lailatul kodar itu dan penjelasannya biasanya panjang dan tidak meyakinkan. Malam itu baru mal mal selikur aku merasakan kehadiran lailatul kodar saat amax melantunkan Surah Ar Rahmaan itu.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Glosarium:
Mal mal selikur ; malam ke 21 ramadan
Ramban biax ; jenis tanaman beracun, dihindari
Lebui ; kacang hitam, gude
Lindung ; belut
Ma’had ; pondok pesantren tinggi
Rabak ; kasar
Oros oros ; menyeret

Sasak Menanti Rembulan

(Sasak.org)Sabtu, 08 November 2008 20:56
Namaku Zafnat Falea, aku lahir dan besar di negeri kecil Sasakistan, negeri orang Sasak. Negeri ini hanyalah sebuah pulau seluas 4500 km persegi dengan penduduk padat yang tidak habis habisnya aku hitung. Aku menghabiskan masa kecilku samapi remaja dari satu dasan ke dasan lain dimana tinggal keluarga besar kami. Klan kami sungguh besar dan meliputi semua klan Sasaki. Memang sesungguhnya kami saling bertalian darah satu dengan yang lainnya. Aku merasa beruntung karena aku mempunyai saudara disetiap titik yang mana saja dari kelompok lima masyarakat Sasaki yang dibikin kemudian untuk keperluan ilmiah oleh orang orang yang hobi kegiatan akademis.

Bangsaku dikotak kotakkan dalam garis geopolitik imajiner dan berdasar dialek bahasa kami. Biarlah para akademisi iseng itu mengatakan apa saja, tapi bagi klanku kami hanyalah satu, ya satu itu, satu Sasak yang metunggal aji sopox itu.

Aku mulai hari hariku di dasan kecil di Selong, kemudian kuhabiskan hari selanjutnya di Labuhan Haji, Poh Gading, Korleko. Kemudian; Karang Sukun, Dasan Agung, Gomong, Kembang Kerang, Gunung Sari, Narmada, Keruak, Pujut, Labuhan Lombok, Sambelia, Meringkik, Ekas, Lembar dan Ampenan sampai Gondang dan Sembalun.

Sebagai seorang Sasak aku telah minum air dari semua sungai yang mengalir di Sasakistan, air Segara Anak yang mengalir ke Gawah Toya sudah pula kucicipi, pun pengembul Teminyak telah membasuhku berkali kali. Kelor kelentang, lebui, cotek, cumi, kima dan bahkan hiu dan pari dari segenap lautan yang mengelilingi Gumi Lombok dan juga daging menjangan datang mengunjungki dari hutan hutan lebat Sasakistan.

Kau pikir namaku aneh bukan?. Nama nama kami adalah nama kuno, kami menyebut Ibu kami Ianx sebagai titisan dewi Inanna dari Sumeria. Amaxku seorang petani, sangat sederhana dengan petak kecil seluas 35 are dan memontong kecil sebagai gardu pandang ke lembah dan bukit disebelah barat, tempat tenggelamnya sang surya. Kami adalah marhaenis sejati yang berdikari dengan rahmah Allah yang memberi tanah subur dan panen melimpah. Aku lahir sebagai anak keenam. Kakakku aneh semua, ada yang kawin muda, ada yang asyik bekerja tak punya anak saking lamanya mosot dan setelah berkeluarga tak ada yang dilakukan kecuali mengumpulkan harta benda dan mengisolir diri dalam kepicikan otaknya yang kecil.

Ayahku seperti semua saudaranya adalah manusia idealis, dia merasa diri sebagi salah satu nabi besar, tapi ragu menamakan anaknya yang tertua sebagi nama putra nabi. Tidak seperti Amax kake, anaknya yang tertua dinamakan Ismail dan yang keduanya Ishak. Dia merasa diri sebagai Ibrahim tentu saja. Seorang mukmin hendaknya mengidentikkan diri sebagai nabi agar kuat ikatan bathinnya kepada akidahnya. Dikeluarga kami hanya aku yang dibebani nama nabi. Ayahku tak berani memberi nama berikutnya dari keluarga nabi yang dipilih, tak ada adikku yang bernama Benyamin atau Yahuda, mungkin takut anak cucunya menyerupai perilaku Yahudi. Karena melihat bangsa Sasak sekarang yang sudah makin meniru kelakuan orang Israel yang merepotkan dunia.

Repotnya amaxku menginginkan aku besar seperti Nabi hebat yang membuat konsep ekonomi terpadu pertama di dunia itu. Nabi itu menyelamatkan Bangsa Mesir dari busung lapar. Bagaimana aku hendak meniru Nabi hebat itu, tak ada padang pasir yang harus aku taklukkan. Tak ada kekeringan 7 tahun, lagi pula parasku bagaikan tengkulak dibanding manusia tertampan di pelanet ini. Pokoknya jauh panggang dari apilah.

Tapi amaxku berkata lain, paras boleh seperti tengkulak pesok, tapi kita bukanlah benda sembarang benda atau makhluk sembarang makhluk karena kita dikirim ke bumi dengan misi suci. Kita adalah khalifah untuk zaman kita, untuk bangsa kita, untuk dasan kita, untuk klan kita, untuk keluarga kecil kita atau setidaknya untuk diri kita. Khalifah dengan wajah tengkulak tidak apa, tapi hati semulia nabi itu perkara usaha dan jihad. Aku takut sekali dengan cakap amax yang terus menempaku jadi Zafnat Falea sesungguhnya.

Ketika amax mengeluh betapa mahalnya biaya pendidikan untuk kami yang banyak, aku usul padanya agar bicara pada kakak kakaku atau keluarga lain agar bekerja sama membangun SDM. Sampaikan wahai amax agar saudaraku mau menyisihkan 10% dari penghasilan mereka untuk mendukung kami dalam pendidikan. Amax tak sanggup bicara, kata katanya habis ditenggorokan.

Kami menjual sedikit sedikit tanah yang dibeli dengan susah payah agar aku dapat pendidikan terbaik yang mampu kami maksimalkan. Setelah aku merasa kuat aku pergi merantau mencari ilmu dinegeri seberang. Negeri Jambu Dwipa. Ayahku hanya sanggup mengirim uang 15 ribu perbulan, itu adalah 30 % penghasilanya. Aku merasa berdosa karena sepertiga rezeki keluarga besarku aku pakai sendiri. Meskipun semua ikhlas tapi perasaan bersalah terus menghantui aku dan kadang mengganggu konsnetrasiku belajar.

Uang sejumlah itu tak cukup untuk kegiatanku, jadi aku harus berjalan kaki agar dapat menyimpan ongkos bis yang 50 rupiah sekali jalan. Dengan ongkos dua kali jalan aku bisa membeli sepiring nasi dengan telur dan sayur. Porsi makanan itu kecil sekali untuk badukku yang terus bergelora. Tapi Amax telah mengajar aku hidup di jalan sufi. Kalau makan hendaknya diukur isi perut kita, sepertiga untuk makanan, spertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Alhamdulillah gelora perutku berkurang dan mereda setelah aku minum air. Meskipun sudah tahu, kalau ada kesempatan makan bareng, aku suka lupa, pernah aku dan teman Sasakku makan bisa 3 piring masing masing setinggi gunung rinjani, entah kemana nasi itu hilang. Kami sering diejek senior lain, kalau yang nguntal nasi sebanyak itu adalah setan yang bercokol di perut. Yah setannya kita sendirilah….

Keluarga besarku yang sebagian besar memakai nama nama nabi itu pendidkannya mentok SD dan SMP, saudaraku sendiri minimal SMA dilewati. Banyak dari mereka beterbangan ke mana mana. Ada juga yang menekuni ilmu limu gaib seperti orang kuno yang belum mengenal islam. Anehnya praktik keleniknya dicampur dengan tradisi yang berbau sufisme yang islami.

Bangsa Sasak yang aku sayangi ini bagaikan darah dagingku sendiri, mereka adalah napasku sebab semuanya terlibat dalam pendidikanku, mereka membesarkan aku dari ujung ke ujung Gumi Selaparang . Mereka mengunjungiku saat sakit dan menolong orang tuaku saat sulit. Mereka beramah tamah kepadaku setiap saat. Senyum mereka sehangat matahari. Gadis gadis bangsaku wangi bagai melati. Meskipun ada gejala makin nyentet kelakuan mereka terutama gadis kota tapi di pedalaman, masih ada yang berambut panjang yang setia menantiku dan akan memelihara alam asri kami sepanjang waktu.

Kami wangse Sasak adalah penganut kultur matriarkhis, tetapi kami juga mengadopsi hukum Islam sehingga secara waris ikut ayah tetapi kedekatan keluarga cendrung ke garis ibu. Klan kami sama kuatnya baik dari garis amax atau inax, baik secara syariah maupun dari segi tradisi matriarkhis itu.

Kalau kami akan menikah kami berpantang meminta calon istri, meskipun kami sekeluarga sebenarnya saling kenal satu dengan lain. Kami harus mencuri calon istri agar kami bertindak sebagi kesatria. Perempuan kami tak dapat didikte soal jodoh, mereka akan lari dengan lelaki pilihannya. Ada juga kasus yang tidak mencuri karena mereka bertetangga dekat, atau sudah modern. Mereka sangat keras wataknya
sehingga banyak yang berakhir pada perceraian sebelum saling mengenal lebih dalam.

Yang kacau sekali adalah mereka banyak kawin muda dan rapuh sekali, banyak janda masih sangat belia dan terpaksa jadi TKW atau babu untuk meneruskan hidupnya yang porak poranda. Sebagai orang berpendidikan akau berjuang mengentaskan keterpurukan anak bangsaku dengan segala daya upaya. Amax mengajarkan aku untuk tidak cinta dunia agar tidak takut mati. Aku bertekad untuk menghindari kehidupan hedonis agar aku dapat mengulurkan tangan kepada anak anak terlantar yang berjejer di gang gang sepanjang dasan dasan dimana aku melewatkan masa kecil dan remajaku.

Aku Zafnat Falea, tampangku seperti pelingkak melekuk, tapi tanganku kuat dan badanku kokoh, aku akan mengangkat gadis gadis bangsaku agar menjadi ratu yang pandai dan gemulai. Rasulullah berkata bahwa apabila keadaan wanita baik maka seluruh bangsa akan baik, dan apabila keadaan wanitanya buruk maka seluruh bangsa akan buruk!. Inilah pekerjaan rumahku yang terbesar, membangun SDM dan mengangkat harkat perempuan kami. Kami telah menumbuh kembangkan dengan sengaja maling dan pelacur di negeri kami, kami telah menyadari kesalahan itu. Semoga Allah memberi cahaya kepada Anak Bangsaku agar aku tak sebatang kara dan terus menangisi mereka tanpa henti.

Wallahualam bissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Glosarium:
Tengkulak : tempurung kelapa
Pesok : remuk, penyok
Baduk : lambung, perut
Nguntal : menelan habis
Nyentet : genit
Pelingkak : gagang daun kelapa
Melekuk : tertekuk, terlipat

Sasak Sangkep

(Sasak.org) Minggu, 02 November 2008 01:00
Anak Bangsa Sasak yang bertebaran di berbagi bagai belahan dunia, tiba tiba menemukan tempat sangkep ketika sasak.org muncul. Kalau di Lombok bebajang banyak sangkep di gardu atau boug pinggir jalan dan yang lebih afdol lagi di santren atau di masjid mesjid.

Dunia maya memberikan komunikasi cepat sehingga dalam waktu relatif singkat telah terdaftar ratusan anggota di KS yang merupakan sesangkok, tempat bertemunya pepadu dan sesepuh Sasak diaspora maupun yang ada di Gumi Sasak sendiri.

Diawal keberadaannya saya lihat KS banyak berisi pengajian Islami, tentu harus demikian karena Bangsa Sasak adalah Muslim yang bersahaja. Mereka sangat taat dan rajin mengaji. Lambat laun makin ramai ide bermunculan, dari sekedar kontak semacam kelompencapir, komunitas ini telah muncul sebagai sumber inspirasi dan tujuan dalam mencari berita atau apa saja yang berkaitan dengan kesasakan.

Saya telah dengan berani menantang pepadu pepadu agar menulis tentang apa saja untuk mengasah keterampilan dan untuk sekedar berabagi cerita. Tapi sampai 2 tahun ini masih sangat sedikit anggota KS yang berpartisipasi. Mudah mudahan silent mayority ini tetap aktif membaca meskipun tak beraksi langsung, tapi setidaknya dapat menjadi topik diskusi dengan sesama anak bangsa Sasak di masyarakat Lombok atau di perantauan.

Sasak.org adalah tonggak sejarah bangsa Sasak dalam berkiprah di dunia Ilmu pengetahuan dan budaya. Peran penting sebagai sumber informasi dan jembatan antar anggota serta lebih luasnya dengan masyarakat, mulai dirasakan manfaatnya. Para perantau di daerah lain maupun di Luar Negeri, dapat membaca cerita cerita dalam bahasa Sasak dan artikel tentang kesasakan yang secara teratur ditampilkan. Yang paling mutahir adalah dengan adanya kebijakan baru untuk menulis sendiri berita yang fresh langsung oleh para relawan yang bertindak sebagai jurnalis. Mereka ternyata dapat menyajikan berita yang sama berbobotnya dengan wartawan profesional.

Dalam catatan saya telah bermunculan para kritikus sastera yang brilian, pemikiran mereka sangat mumpuni tetapi sebagai kebiasaan orang Sasak di Lombok sana, mereka ini kurang mau terbuka dan agresif. Para sesepuh seperti Le Mujitahid Amien terus mendorong pepadu agar lebih rajin dan hasilnya kita memiliki penulis dan kritikus yang telah mempunyai blog dengan tulisan berbobot. Mereka antara lain; LM Jaelani yang merupakan motor sasak.org, Aswian dan Nazar yang rajin dan kritis, Abdi Sani yang bahasa Sasaknya indah, Abedian Ahmad yang selera sasteranya melewati batas Sasaknya tanpa kehilang akar, Le Wharid Rahmana yang tajam, Rozi yang lucu dan cerdas, Zaky Zamany meskipun jarang mucul, Buni Yani yang hilang, Yusril dan Eri Taruna yang berani dengan ide berbeda dan yang baru muncul adalah MRB di Leuven Belgia dan lain lain.

Sekarang setelah 2 tahun berkiprah, kita semua berharap bahwa sasak.org atau Komunitas Sasak akan terus berjuang untuk dapat membimbing masayarakat agar selalu saling asah asuh dan asih. Mari kita kuatkan kembali prinsip kekeluargaan Bangsa Sasak yang senantiasa beriuk tinjang dalam segala hal. Engkau adalah aku, aku adalah engkau. Kita tak perlu memberi sebutan apa apa sperti title kepada anggota karena kita hanyalah manusia bersahaja yang berjuang memajukan anak bangsa kita. Kita tak perlu disebut cendekiawan ataupun budayawan untuk dapat mempersembahkan sesuatu.

Berapa banyak sudah kita melihat orang yang dengan mudah disebut TG, Syech, Kyai, Romo, perilakunya tak berbeada dengan orang dijalanan. Lebih baik kita jadi orang yang tidak disebut apapun tapi dapat memberi sumbangan hatta sekecil debu bagi kemaslahatan anak bangsa dan kemanuasian pada umumnya.

Saya sering menulis dalam bahasa Sasak dan harus membuat glosarium di bawahnya karena Anak Bangsa Sasak banyak yang tak paham bahasa ibunya. Bahkan tidak banyak yang mengerti kandungan tembang Sasak yang sering dinyanyikan di dalam hati. Bahasa Sasak saya pakai yang biasa dan belum pernah memakai yang bentuk hormat. Jangan terkejut kalau saya pakai yang biasa sebab banyak orang Sasak menganggapnya bahasa kasar.

Bahasa Sasak terbagi dalam dua bentuk yaitu bentuk biasa dan bentuk hormat. Pembagian itu sama dengan bahasa modern seperti Perancis, Spanyol, Jerman atau Rusia. Kalau bahasa Inggris tidak punya pembagian seperti itu. Bahasa Jawa ada Ngoko, Madio dan Hinggil. Jadi orang Sasak sering menganggap bahasa bentuk hormat itu sebagai hinggil. Coba perhatikan orang yang menggunakan bentuk hormat, pasti perilakunya menunjukkan ekpresi rasa hormat. Kalau bahasa hinggil hanya ada di Keraton Solo dan Jogjakarta.

Dengan demikian maka tidak pada tempatnya kita merasa sungkan untuk mengatakan aku/eku/ke kepada orang yang kita anggap seumur atau berhubungan dekat dengan kita seperti anggota KS ini. Bahasa bentuk hormat tentu sangat baik dipakai sebagai bukti keberadaannya, tetapi dapatkah kita konsisten memakainya.

Berikut contoh bahasa bentuk hormat:

Sampun side pirengang ware nike?

Bahasa bentuk biasa:

Wah m dengah berite no? wah si/de denger berite s/ino? Wah di dengah berita senuxn?

Tidak perlu diperpanjang tentang bagaimana menggunakan bahasa Sasak, yang penting kita bersama sama menumbuh kembangkanya dengan kebiasaan menggunakannya sesuai dengan cara kita masing masing. Setelah mengetahui 2 bentuk bahasa itu, tidak adalagi perlunya memikirkan mau pakai gaya mana, sebab gaya manapun asalkan akar katanya jelas dijamin pembaca akan memahami. Jangan lupa untuk kata yang sulit buatlah glosarium di bagian akhir tulisan.

Wallahualam bissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas


Hazairin R. JUNE

Sasak Berselingkuh

(Sasak.org) Senin, 31 Maret 2008 01:00
Lebih dari satu miliar penduduk dunia mengaku dan memasang identitas diri sebagai Muslim. Mereka dengan bangga menunjukkan diri sebagai panganut Islam yang paling hebat. Dari Afrika Utara sampai Philippina dan bahkan seantero dunia ada banyak kaum itu. Di Eropah tersebar cukup besar warga muslim; di Inggris, Perancis dan Jerman sedang di negara UE lainnya lebih kecil jumlahnya.

Penyebaran ini terentang dari ujung barat ke timur dan dari utara ke selatan mencakup lebih dari separuh globe. Layaklah para penganut agama ini mempunyai kultur dan tradisi yang sangat berwarna warni. Di negara berpadang pasir luas dan terik matahari kejam dan angin berpasir bergolak tidak akan sama perilaku manusianya dibanding dengan negara yang hijau, tenang dan damai alamnya seperti Indonesia. Islam sebagai keyakinan dan cara hidup telah memberi sumbanagan sangat besar bagi peradaban dunia modern. Semua orang sudah tahu bahwa abad pencerahan yang disebut renaisance itu terinspirasi dari kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai kaum muslim, kala itu. Cendekiawan Kristiani dan Yahudi banyak sekali belajar di universitas Islam yan sangat bermutu di Timur Tengah maupun Spanyol.

Islam datang sebagi penyelamat manusia yang mulai berselingkuh dengan tuhan tuhan lain yang menyebabkan peradaban manusia ambruk satu demi satu. Pada Saat Nabi Muhammad SAW mendeklarasikan Islam, masyarakatnya sangat kental dengan kesyirikan dan kebiadaban. Anak anak perempuan yang lahir dikubur hidup hidup. Puncak kekejian manusia tak ada lagi memelebihi membunuh bayi mereka sambil tertawa. Muhammadlah yan telah menyelamatkan manusia dari keterpurukan martabat, kehancuran nilai moral dan pembasmian kelompok lemah oleh kelompok kuat. Islam disusun atas landasan Rahmatan lil alamin, yang berarti kasih sayang kepada semua makhluk. Di dalam Al Qur’an tertera tuntunan hidup yang terang dan jelas. Tuntunan Islam dibangun atas pilar pilar yang disebut Rukun Isalam. Pertama Syahadat yaitu mengakui Allah itu Esa. Tidak ada tuhan selain Allah. DIA tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada yang serupa dengan DIA. Hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Segalanya. Kemudian mengakui bahwa Muhmmad adalah Rasul Allah. Rasul ini adalah penuntun bagi pengikutnya. Semestinya ummat yang telah berbaiat kepada Islam hanya mengikuti jalan yang di firamankan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah. Nabi Saw adalah suri taualadan (role model) satu satunya bagi ummat Islam karena beliau adalah Uswatun hasanah (contoh sempurna).

Kedua menegakkan shalat, bukan sekedar mengerjakan tetapi menegakkan. Kalau tidak tegak aturannya dan persiapannya, tidak dapat shalat dilaksanakan dengan sempurna. Aturan dan tata tertib harus ditegakkan, dilaksanakan barulah dapat dikatakan sholatnya tegak. Sholat lima waktu dalam sehari semalam adalah, waktu waktu khusu untuk hening
sejenak, segala sesautu memerlukan waktu untuk berproses. Kodrat manusia yang tiada sempurna membuatnya harus berhenti sejenak dalam rutinitas keseharian, baik karena alasan teknis atau alasan kebutuhan lain. Alasan teknis, manusia perlu merestaurasi tubuhnya dengan makan dan buang air, buang gas dan beristirahat. Alasan diluar teknis adalah mengelola akal dan fikiran. Bukankah manusia memilki tiga aspek yang wajib dijaga dan dipelihara dengan baik sebagai amanat dari Sang Khlaik. Badan, jiwa dan ruh. Tidak ada jalan lebih bagus daripada Sholat dalam hal menjaga ketiganya. Dengan makanan halal dan baik, mandi dan berpakaian serta rumah yang baik, niscaya badan akan sehat, kuat dan tangkas. Melalui membaca dan mepelajari ayat ayat Allah jiwa akan berkembang cerdas, manusiawi dan bercahaya. Hanya bila badan dan jiwa terjaga dengan baiklah maka ruh dapat manyatu dengan keduanya.

Ketiga Puasa, perpaduan kekuatan jasmani dan jiwa, bagaikan pertarungan dua makhluk raksasa yang sangat dahsyat sehingga tak ada wasit darimanapun yang dapat menengahi mereka kecuali diri manusia sendiri. Kekuatan kedua makhluk itu berasal dari makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang diperoleh dari makhluk hidup lain dapat memperbesar badan sedangkan makanan dan minuman jiwa yang masuk lewat panca indra akan menumbuhkan raksasa yang tak berwujud didalam diri manusia. Puasalah yang dapat mengendalikan dan menyeimbagkan kekuatan dua makhluk yang bercokol di satu tubuh itu. Puasalah yang menempa manusia menjadi makhluk berbudi pekerti, humanis dan zuhud kepada dunia (tidak hedonis).

Keempat membayar zakat, apabila manusia telah dapat mengendalikan dua unsur besar dalam badannya, maka ia perlu keseimbangan. Kalau manusia makan perlu pembuangan maka jiwapun memerlukan system penyeimbang. Zakat adalah usaha mematahkan egoisme diri yang serakah dan ingin mengangkangi segala harta dunia. Peperangan melawan keserakahan itu akan mengukir keindahan siluet kemanusian yang bernama harkan dan martabat.

Kelima pergi Haji ke Makkah, setelah manusia dapat mengelola bagian teknis dan non teknis dari badan dan jiwanya kini giliran ruh yang harus diurus. Ruh itu suci, firman Allah bersifat ruhani. Selama mengelola hidupnya hidup manusia berkutat mengurus badan dan jiwanya saja. Tentu manusia tak sanggup mengurus ruhnya karena ia tak dapat dimengerti. Ruh tetap suci karena tangan bahkan egoisme manusia tak dapat menyentuhnya. Kalau ia datang lahirlah anak kalau dia pergi matilah manusia. Ruh datang dan pergi menuruti perintah Yang Maha Empunya. Maka badan dan jiwa wajib pergi mengantarkan ruhnya untuk memenuhi panggilan Rabnya. Lihatlah orang orang yang menjalankan ibadah haji, mereka tidak perlu pakaian mewah, semuanya sederhana
karena bukan badan yang sedang diurus tetapi ruh. Ketika ruh bertemu ruh, maka lihatlah badan dan jiwa jadi luruh….

Kelima rukun Islam itu dapt diumpamakan sebagai bangunan kokoh kuat dan indah. Sayhadat adalah pondasi dan lantainya. Sahalat adalah tiang tiang besar dan kecilnya.Puasa adalah dindingnya yang menutupi dari ganguan luar. Zakat adalah pintu dan jendelanya serta haji adalah atapnya yang indah.

Bagaimana mungkin seseorang hanya dapat mendirikan tiang dan pergi begitu saja? Bangunan apa namanya, stone hange atau batu tegak? Tak mungkin pula ada orang menembok rumahnya tanpa ada pintu dan jendela sama sekali. Lebih tak mungin lagi kalau ada orang tiba tiba hendak memasang atap saja, maka ambruklah dia.

Masyarakat muslim yang tersebar luas diseantero jagad ini, melaksanakan Islam dengan bersahaja. Tidak ada yang keluar dari tuntunan awal yaitu Al Qur’an dan Hadits. Namun lambat laun perkembangan tradisi dan budaya mempengaruhi perilaku mereka sehinga
beragamlah warna warni kehidupan ini. Memang Allah menciptakan manusia bersuku dan berbangsa bangsa agar saling mengenal. Alangkah indahnya perbedaan perbdeaan kultur dan tradisi manusia. Betapa indahnya Ayat Ayat Allah yang bernama manusia itu.

Kemajuan disalah satu bidang telah membawa manusia dalam kehancuran seperti sebelum mengenal Islam itu. Einstein mengatakan agama tanpa ilmu buta dan ilmu tanpa agama pincang. Jadi memajukan hanya salah satu saja maka lihatlah akibatnya selama ini. Manusia telah dengan pongahnya memisahkan agama dari kehidupan dunianya. Tiba tiba semua orang menganggap agama adalah urusan pribadi. Pandangan itu adalah buah dari ajaran liberalisme yang mengkritisi peran gereja dalam negara dimasa lalu.

Ummat Islam terlalu kebelinger karena termakan oleh ajaran liberalisme dan neoliberalisme, sehinga mau saja mengikuti langkah orang lain yang sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Islam mengikat dengan kuat akan kebutuhan peri kehidupan material dan spiritual. Kebodohan lain lagi adalah menganggap akhirat itu sebagai masa yang sangat jauh dan susah menunggunya. Sayang sekali kalau akhirat dianggap jauh, karena sejatinya itu adalah istilah yang tidak hanya berarti hari pembalasan tetapi juga berarti spiritual atau ruhaniah.

Jadi akhirat berarti ruhaniah sebagai bandingan dari material atau duniawiyah. Akhirat selama hidup kita adalah mencapai kesimbangan dan keharmonisan raga dan jiwa. Bila satu manusia hidup dengan cahaya maka manusia lain akan memperoleh cahaya juga. Tetapi bila mausia mulai hedonis (cinta dunia) maka setiap kawan dan tetangganya kan juga tertular penyakit hedonis.

Penyakit senang dunia dan meninggalkan akhirat (spiritual) menjadikan manusia mulai mempertuhankan apa saja yang sekiranya membawa keuntungan kepadanya secar material. Ketika semua orang telah memikirkan keuntungan material disitulah timbul kapitakisme. Dari kapitalisme lahirlah liberlisme, karena tanpa liberlisme keuntungan besar tak mungkin didulang begitu mudah. Semakin hari semakin banyak manusia yang beralih kepada akidah barunya kalpitalisme.

Ummat Islam adalah ummat terkuat dalam menjaga sendi sendi akidahnya dan merefleksikanya dalam segala lini kehidupan. Agama Islam menawarkan jalan hidup (way of life) yang tiada dimiliki oleh agama manapun sebelum maupun sesudahnya. Agama Islam mengatur dari yanmg terkecil semisal cara bersuci sampai yang terbesar yaitu masalah politik dan ekonomi. Karena kecanggihannya itulah maka masyarakat muslim dimanapun dapat survive dan berdaya guna bagi masyarakat sekitarnya. Orang Islam adalah manusia globalis pertama yang memawa bendera rahmatan lil alamin.

Celakanya, Ummat Islam sebagian besar terbuai dan tidak cukup sigap menghadapi serangan luar yang bertubi tubi menghancurkan anak abangsanya. Mengingat bahwa Isalm adalah sistem kekebalan canggih yang melindungi ummatnya dari serangan penyakit dunia maka musuhpun masuk bagai virus ke dalam tubuh Islam sendiri. Sejak awal pertumbuhanya Islam memang selalu dimasuki virus dari berbagai arah tetapi kekuatan para ulama sepanjang masa terus mengawal ummat agar tidak tercemar. Sekarang virus sudah disebarkan sendiri oleh kalangan ummat islam, banyak yang berlagak sebagai kiyai, kyai haji, haji, tuan guru, dan ajengan yang berjubah kebesaran bagai ulama sejati, tetapi sesungguhnya jubah mereka terlalu besar untuk otak sekerdil mereka itu. Justru para da’i palsu yang bersembunyi dibalik nama kyai dan sebangsanya itulah yang merusak sendi kehidupan ummat Islam. Mereka membawa gaya hidup hedonis, sok pop dan modern. Mulai bermain dengan shalawat dan bahkan Ayat Al Qur’an diperjualbelikan dengan eceran. Para kiyai hidup dalam kemewahan dan membangun menara babel dari uang jamaah miskin yang seharusnya dipakai beli nasi untuk anaknya yang busung lapar.

Ummat Islam telah dikendalikan oleh musuh musuhnya yang sangat takut dengan system imunisasi akidah yang dimiliki. Tidak ada yang lebih mudah dalam merusak kekebalan itu kecuali dengan memeberi makanan enak sembari memasukkan virus baru. Astagfirullahaldhim, kini kita dapat saksikan muslim saling membenci. Anak melawan orang tuanya. Pemuda pemudi hidup bebas bernarkoba ria. Mahasiswa dan pelajar tidak lagi suka berjuang dalam menuntut ilmu tinggi, semuanya serba instan. Berapa banyak mereka yang bergelar Doktor dan Profesor tapi menjiplak karya ilmiah dan korupsi.

Ketimpangan semakin menjadi jadi ketika ada rekayasa yang menyudutkan ummat Islam sebagai dalang terorisme. Ini adalah puncak segala fitnah bagi muslim tetapi sudah terlanjur dibuai semua bagai kerbau dicucuk hidungnya, amin saja. Karena diancam kalau tidak ikut perekayasa artinya ikut teroris, maka mulailah kita jadi pak turut.

Suatu hari saya kedatangan sekelompok apoteker dari Rusia, mereka menanyakan ntentang berbagai seluk beluk kultur, filsafat dan agama nusantara. .Saya kesusahan memulai ketika mereka menanyakan Islam dan mencampur adukkan budaya, tradisi, politik dan sisi keamanan yang dikaitkan dengan terorisme sampai wanita dan polygami. Tanyalah saya tentang sejarah candi dan simbul mana saja saya akali begitu rupa sampai puas dengan informasi lengkap macam ensiklopedia yang diupdate tiap menit. Tapi memulai menjelaskan perkara yang di otak mereka itu sudah punya gambaran buruk dan didkit dikit ada rasa anti pati kalau bukan benci sekali, sungguh bikin simpul syarafku jadi kusut masae.

Saya harus mengurai benang kusut terlebih dahulu. Pertama kukatakan bahwa saya muslim yang bersahaja dan mempelajari dengan penuh hormat setidaknya 8 agama lain yang ada disekeliling kita serta berpuluh bahasa dunia agar aku dapat mamahami serba sedikit isi dunia kita. Bahwa Islam mempunyai misi yang disebut Rahmatan lil Alamin. Sebuah misi kasih sayang kepada semua makhluk Tuhan, apalagi yang bukan muslim, benda mati saja wajib dikasihi. Saya paparkan serba sedikit seperti saya gambarkan diatas dan menggaris bawahi bahwa Islam itu damai, titik. Lalu!, kata mereka, menuding terorisme dan masalah hak wanita. Ya, Islam itu teresebar dari barat ke timur dan bahkan seluruh bumi.

Mereka memeliki kultur yang sangat berbeda satu sama lain. Banyak aspek kultural di suatu negara berpenduduk muslim dilihat orang sebagai bagian dari ajaran Islam, padahal sering hal itu justru bertolak belakang dengan misi Islam yang sesungguhnya. Jangan kita
katakan bahwa kalau ada 5 kriminal muslim yang berbuat jahat, serta merta disebut Teroris Muslim. Mengapa ETA di Spanyol tidak disebut teroris Katolik dan IRA di Irlandia Utara tidak disebut teroris Protestan atau sebangasanya dan pula ekstrimis Hindu di India tak disebut teroris Hindu dan Orang Buda yang membantai Muslim di Rohingya tak pernah disebut Teroris Budis.

Penjelasan panjang lebar mencairkan perasaan masing masing, saya pribadi ,merasa senang bahwa ada orang yang mau berdialog dan mereka senang karena ada orang yang terbuka mengakui serba kekurangan dan kelebihan yang kita miliki masing masing.

Sayapun mulai mengambil contoh tentang sekelompok orang yang dizalimi 500 tahun, baik di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Mengapa mereka tidak boleh melawan orang yang menzalimi mereka seumur hidup?. Kalau ada sekelompok orang ingin menguasai daerah tertentu dengan menginvasi dan mengebom apakah mereka yang punya tanah air tidak boleh melawan dengan segala kekuatan, mempertahankan martabatnya?

Mengapa orang yang menginvasi disebut lain sedang yang mempertahankan martabatnya disebut teroris? Oh, tidak semua begitu kata mereka, saya katakan juga bahwa tidak semua muslim Teroris. Manusia modern termasuk yang muslim telah berselingkuh dengan tuhan modern lewat agama baru mereka tanpa meninggalkan keyakinan atau agama sebelumnya. LSM kemanusiaan dahulunya dibangun karena sentuhan hati agamis demi kemuliaan kemanusiaan. Pasukan pemberontak dahulunya dibangun untuk berjihad menjaga harkat martabat bangsa yang diinjak penjajah beratus tahun, yang membangkitkan glora kepahlawan pejuang yang mematri citanya di jalan Tuhan. Negara makmur berbondong mengulurkan tangan karena merasa berdosa melihat derita rakyat dari bangsa miskin dan terbelakang akibat penjajahan, dengan alasan balas budi mereka datang menyelamatkan.

Sekarang, apa saja dapat diputar balikkan. Yang mau menolong karena kemanusiaan mencari peluang keuntungan sebesar besarnya dengan konsesi konsesi. Yang berjihad tidak lagi dijalan Tuhan tetapi berselingkuh dijalan tuhan lain bernama apa saja, kekuasaan, keuntungan dan sebagainya. Negara besar tidak lagi menolong, meski bicaranya hibah, tetapi tetap akan mencekik kelak.

Dunia ini penuh dengan tipu muslihat, dari sudut manapun pencoleng senantiasa mencari kesempatan untuk mengambil keuntungan dari kelalaian kita. Kita lalai karena senang mengikuti orang orang yang telah berselingkuh dan lambat laun kitapun mulai mempertuhankan jabatan, uang, kehormatan, gengsi dan tumpukan materi.

Islam tak dapat dirusak virus apapun sepanjang ummatnya berpegang teguh pada tali Allah. Apalagi sekedar kartoon atau film “fitna”, tidak kan sampai mana-mana. Ummat Islam yang yakin tidak akan berbuat onar karena Allah menjaga kesucian firmanNYA. Masa depan dan keselamatan ummat Islam ada di tangan mereka sendiri, mari kembali kepada pilar pilar Islam yang memebentengi kita dari segala bencana. Jadilah muslim yang bersahaja.

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf,
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP