" Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang orang kafir. Dan ampunilah kami, Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Al Qur'an 60:5)
Hazairin R. Junep
[Sasak.Org] Hari hari dimusim panas ini debu berterbangan menerpa dusun yang makin tampak suram dan kumuh. Daun daun bambu luruh dan menerpa pengorong. Ada sebatang pohon yang menjorok menerobos ke sisi pengorong lainnya dan mengotori rumah tetangga sebelah. Suatu siang yang panas Amax Cenun didatangi Mamix Gunase. Mereka adalah tetangga terdekat dan sudah hidup berpuluh tahun. Mamix Gunase datang dengan wajah sekeras karang dan semerah api unggun di malam dingin kemarau ini. Kata katanya meluncur seperti bicaranya jendral Van Ham yang mati dibunuh di Cakra Negara.
Perkaranya sangat spele, daun daun bambu kering menutupi sedikit pekarangan Mamix Gunase. Amax Cenun tahu hal itu tapi dia orang yang sangat segan pada tentangganya sehingga meskipun dia sangat ingin membersihkan halaman tetangganya, dia tak berani. Bahkan kalau lewatpun dia selalu menunduk nunduk mekok telor sepanjang pengorong sampai rumahnya. Mamix Gunase berasal dari dasan di sebuah wilayah di Tanah Selaparang. Orang mengenalnya sebagi datu pagah. Pagah dalam arti yang sebenarnya. Dia orang yang punya pendirian kuat dan tidak mau mengalah. Sebaliknya Amax Cenun yang asli kampung itu dikenal perot dan blok. Dia sangat menjaga kehormatan orang lain. Saking hati hatinya dia tampak blok dan perot tapi dibalik sikapnya itu ia setingkat dengan ulama dalam ilmu agama. Hanya saja dia tidak mampu berhaji dan tak terpandang karena bukan orang berpunya.
Di antara penghuni dasan itu ada seorang terpelajar yang tinggal di tepi kali berbatas sawah. Dia pernah datang ke tempat Amax Cenun untuk menawar pekarangannya yang strategis. Orang terpelajar itu gagal mebeli pekarangan karena pemiliknya orang yang sederhana dan tidak ingin anaknya jadi gelandangan tapi bermobil. Ia tak ingin mewariskan barang rongsokan atau nekad naik haji tapi punya anak cucu kere dikemudian hari. Oknum terpelajar ini main mata dengan Mamix Gunase dengan mengarang cerita bahwa Amax Cenun adalah dukun santet, suka menenung orang.
Kepada Amax Cenun si oknum punya versi yang lain tentang Mamix Gunase itu. Katanya mamix itu akan merebut pekarangan Amax Cenun dengan segala cara. Sehingga kedua tetangga itu saling tidak suka dan bahkan seperti musuh.
Dasan ini punya kebanggaan luar biasa, mana ada negeri yang dijajah hanya 50 tahunan, hampir semua wilayah Nusantara dijajah Belanda dan asing lain antara 350 sampai 400 tahun. Tanah Selaparang officially terjajah 50 tahun atau kurang. Memang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Bali tapi selalu ada perlawanan sampai jendral Belanda mati dan kerajaan Bali mundur. Kasus dua tetangga itu sangat sering terjadi pada saat adanya konflik politik. Perbedaan kepentingan membuat fihak tertentu menghalalkan segala cara. Memasuki ranah agama, adat dan budaya, merusak anak dasan dari dalam.
Diamanapun dan dalam tiap kesepatan musuh musuh yang tidak senang pada kekuatan ikatan anak Bangsa Sasak yang erat seperti cekelan padi atau rekatnya ketan bersiram gula merah. Beratus tahun mereka ditarik tarik agar terburai dan dapat dikuasai, berabad pula mereka berhasil lepas dan merekat lagi. Tak ada penjajah apapun yang dapat merusak kekuatan ikatan semeton dasan besar ini. Cerita yang mengatakan bahwa ada warga dasan sebelah yang bersembunyi saat perang dan dasan satu lagi kocar kacir lari adalah isapan jempol yang dibuat agar anak dasan besar ini pecah dan terburai. Kita telah lolos dari jeratan dan politik devide et impera. Sekarang kita sudah kuat tapi masih ada tugas besar pepadu untuk menjaga anak bangsa ini agar tak dijajah oleh penjajah baru yang canggih. Daya tarik hidup bebas, hedonis dan instant. Inilah musuh yang terus mengerogoti setelah musnahnya fitnah adu domba yang membelenggu kita dimasa lalu.
Anak anak Mamix Gunase dan Amax Cenun beruntung memahami persoalan sesungguhnya, sebab mereka mengaji bersama dan sekolah bersama selama 12 tahun. Hari hari hujan dan panas mereka lalui selama itu. Belajar dan bermain bersama. Meskipun anak Mamix sudah Doktor, masa 12 tahun sekolah jauh lebih berperan penting dalam hidup kedua orang itu. Tak akan ada oknum yang dapat memecah belah mereka. Inilah wajah anak dasan baru, yang kuat, pintar, cerdas dan pandai sekaligus. Mereka adalah Sasak pemberani dan pagah dalam arti yang sebenarnya. Pepadu harapan masa depan dasan. Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!
Wallahualam bissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Tampilkan postingan dengan label Kesasakan 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesasakan 2. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 November 2009
Sasak Lahir Kembali
[Sasak.Org] Dasan kami kecil tapi asri dengan selokan alami yang mengalir air sepanjang tahun. Belut, mujair serta lele masih bersembunyi ditepi tepi yang ada tumbuh rerumputan air. Kalau ikan kecil seperti pudah dan kepala timah atau yang lebih besar pudah jamax alias wader atau kami sebut ikan pelangi, tinggal ulurkan tangan dan dapat kita tangkap dengan mudah saking banyaknya. Kegiatan anak dasan adalah mencari kayu bakar, menggembala, menyabit rumput, membantu di sawah dan banyak kegiatan produktif lainnya. Hari hari dimulai ketika merebot mengumandangkan azan subuh, sesudah itu jalan jalan ramai dan musik yang sangat indah mengalun dari jalan yang ramai. Suara inax inax yang bergerombol jalan ke pasar satu satunya di dekat gedung Gabimas. Ditingkahi suara pelembaran bambu pengangkut terong dan ubi, bunyinya seperti musik keroncong Tugu yang teratur bersahutan dengan sesekali diselingi lenguhan hembus nafas para pengangkut. Terong yang besar besar warna lila dan tomat yang bentuknya lonjong disebut tomat Arab. Ubi jalar yang besar besar, labu , bokah, truwuk, komak dan kendokak dan banyak lagi. Kemakmuran yang lebih merata diantara masyarakat yang tawaduk itu hanyalah kenangan yang sekejab sirna ditelan kejahilan anak bangsa yang dengan mudah ditipu para penjajah modern.
Ketika itu para anak dasan yang bersarung dan berbaju hanya satu itu, bermain slodor dan klereng atau main karet , yeye, bekel dan permainan yang paling bergengsi adalah main kasti, mereka punya idealisme hebat, cita cita yang banyak dibicarakan adalah ingin jadi Tentara, polisi, jaksa, dokter, guru dan ustad. Di dasan itu belum pernah ada pepadunya yang merantau jauh jauh. Kalau orang menyebut Karang Jangkong, Dasan Agung atau Monjok itu sudah seperti luar negerilah. Meskipun bagi orang dewasa ke Mataram itu hanya disebut turun. Dan Bis Sampoerna yang disetir Pak Jamal yang tinggal didasan kami hanya merambat dari Labuhan Haji ke Ampenan. Merambat sekali, tapi saat itu fikiran kami masih merambat juga. Kalau sudah ada yang muntah muntah berarti sudah capai dan kita sampai di Labuhan Haji. Kalau sampai Ampenan mungkin saja orang sudah remuk baru tiba. Kalau anak sekarang pasti sudah diinfus saat turun kendaraan karena dehidrasi.
Di blok sebelah barat ada rumah Bapak HM. Amin Shaleh yang disewa oleh TNI untuk jadi Asrama. Itulah satu satunya bangunan besar dengan banyak kamar. Ada sepuluhan tentara tinggal disitu. Mereka itu sangat disegani oleh warga dasan. TNI saat itu mengayomi sekali, keamanan terjaga kecuali maling dapat mengibuli mereka. Ada satu anggota yang suka mabok dan dibuang oleh komandannya di selokan gombleng yang bau. Dia akan bangun sendiri dan rupanya kayak monyet dengan wajah belepotan raok. Kami nonton diatas dan lari lintang pukang begitu dia bangun, dia teriak seperti Tarzan. Setelah banyak membaca majalah intisari saya mengerti mengapa orang itu mabok terus. Kesepian di dasan asing yang hanya berlistrik malam, menyelimuti hatinya yang muda.
Setelah TNI pindah asrama di embung, rumah berkamar kamar itu disewa oleh pendatang yang tiba tiba muncul dari antah berantah. Ada 4 orang yang saya catat dengan baik.mereka adalah pendatang dari Minangkabau. Meskipun saya sudah tahu letak semua pulau dan ibukota provinsi bahkan semua Negara dunia sampai yang terpencil saya tahu semua, tapi kali itulah saya berinteraksi pertama kali dengan orang asing. Sebenarnya dasan kami sudah banyak orang luar yang jadi warganya tapi sudah tidak lagi asing karena mereka menyatu dan berbahasa Sasak dengan sempurna. Kalau diberi skor semacam TSFL (Test of Sasak as Foreign Language) mereka sudah mencapi 600 semua. Ada Banjar, Madura dan Jawa bahkan guru SMA ada yang dari Bengkulu.
Tapi empat orang Minang ini mebawa wawasan baru bagi kami, mereka rajin mengaji dan bekerja keras menjual obat, pakaian dsb. Mereka pandai berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pengetahuan kesusastraan tinggi sehingga kalau bicara, pantun dan pepatah melayang disan sini. Mereka banyak membaca padahal pendidikan formal tak ada. Warga dasan tak ada yang baca Koran atau majalah. Satu satunya bacaan adalah Al Qur'an tapi aneh sekali tidak ada usaha dari ulama untuk membumikan Al Qur'an itu agar warga melaksanakan isinya dengan baik dan benar. Sepertinya para Ulama itu sangat menjaga dan memelihara kebodohan warga agar jangan sampai hilang taatnya kepada sang ulama. Aneh dan jahat sekali karena ketaatan sesungguhnya ditujukan hanya kepada Allah bukan?.
Salah satu dari orang Minang itu, mengisahkan hidupnya sampai saya berlinang airmata hingga detik ini. Ia seorang laki laki yang di negerinya tidak punya hak waris karena Inaxnyalah yang berkuasa. Warisan diturunkan kepada perempuannya. Saat kelas 3 SD dia diusir ibunya dengan diberi sebutir telur ayam. Dia pergi ke langgar dan masjid masjid berkelana. Berbekal mengaji di langgar itulah dia hidup dari satu pulau ke pulau lain.Saya merasa orang ini hebat sekali sementara anak dasan malas belajar. Bagimana tidak hebat saya anak kecil dilayani juga, coba kalau ada bebajang ngotok di bough dan saya mendekat mereka serta merta bilang; pergi …anak kecil mau ikut ngotok! Satu satunya kesempatan saya main dengan anak yang lebih besar adalah kalau saya disuruh mengangkat layangannya saat ditarik terbang. Mendingan saya mengejar belalang dengan sapu lidi.
Orang Minang itu kemana saja bersama, bulan ini ke Timor, Bulan depan ke Bima atau ke Sumba terus saja bersama dan saling urus keperluan masing masing. Tapi aneh setelah sekian lama saya sering bertemu dengan mereka di Pancor atau di Selong lagi. Mereka rupanya cocok sekali dengan sifat religius warga dasan ini. Warung Padang belum ada saat itu. Orang dasam memasak makanan sangat lezat di rumah masing masing karena bumbunya sampai berpuluh macam dalam satu hidangan. Masakan Padang jauh dibelakang. Ada satu hal yang kucatat dengan baik dipangkal otakku yang paling tersembunyi agar tidak mudah hilang. Orang orang itu selalu saling menjaga karena merasa senasib dan sepenanggungan. Mereka adalah orang orang yang kita sebut Tilar Negara. Pegangan mereka sangat jelas. Adat bersendi Syara' Syara' bersendi Kitabullah. Adat itu bersendikan Syari'at dan Sayariat itu berinti Al Qur'an. Pendeknya mereka berbuat apapun berpedoman pada Syari'at dari Al Qur'an itu. Saya lihat mereka bertemu dan berpisah sama eloknya.
Warga dasan tiba tiba kehilangan seorang pepadu entah kemana rimbanya, dia itu selalu jadi problem, suka nyolong kecil kecilan karena kekurangan dan broken home. Meskipun sudah broken home dan orangtuanya bercerai tapi mereka rukun hidup bersama amaxnya yang kawin lagi dan tinggal besebelahan. Hebat sekali warga dasan satu itu. Setelah berpuluh tahun pemuda hilang itu pulang dan bingung menanyakan rumahnya dimana. Pohon nangka yang besar di depan rumah HM Amin Shaleh itu lenyap, selokan kering, pemuda seumuran sudah jadi amax amax dan inax inax. Akhirnya ketemu juga rumahnya yang telah menjadi gubuk karena semakin menyempit dibagi bagi. Dia sendiri sudah lama hilang dari ingtan orang kecuali ianaxnya yang selalu mengaharap. Pemuda itu merantau ke Sulawesi lalu ke Sumatra. Apa yang dibawa pulang?. Hanya cerita kosong melompong. Dia jadi buruh membantu di kapal nelayan Bugis dan menjadi petani membantu mertuanya membakar ladang, titik! Setelah pulang dia tak lagi balik kepada istri dan keluarganya di Sumatra sana.
Ketika saya bertualang sampai Bali, tak ada tenmpat tujuan tak ada keluarga, tapi saya seorang pemuda tanggung 17 tahun kurang, sudah digembleng dan dibok bok amax dengan penyerahan diri kepada Allah. Dalam keadaan lemas dan kesulitan seorang muallaf menampung saya. Ia adalah istri merebot M.Ali seorang nelayan tua Bugis yang taat dan sederhana. Sudah miskin dan susah masih mau menampung saya dirumahnya. Sedangkan disebelahnya tinggal orang dasan berpangkat dan kaya, menolak sekedar untuk menolong memberi informasi bahkan saya diusir dari masjid!. Waktu di Dasan saya sering main ke pantai ke pantai sampai di Tanjung Ringgit dan bergaul dengan nelayan yang banyak Bugisnya itu. Kini ayah angkat saya adalah orang Bugis. Bangsa ini sungguh luar biasa, mereka sangat kuat berpegang pada akidahnya sehingga timbul keberanian yang luar biasa. Mereka adalah manusia paling berani mengarungi samudra luas. Mereka adalah pengunjung setia Australia sebelum disentuh para penjahat Eropah. Orang Bugis berlayar sampai ke Madagaskar. Semua pulau di Pasifik bahkan pulau Paskah di dekat wilayah Chili. Di Candi Borobudur ada gambar perahu besar di sisi barat dan utara, perahu itu sangat indah. Menurut catatan dari China jalur pasifik sudah dilalui pelayaran Asia ke Amerika. Sekali lagi sebelum pejahat Eropah yang datang 750 tahun kemudian menghancurkan semuanya.
Suatu hari di bulan agustis 2008 saya berkunjung ke sebuah desa kecil di Belgia Selatan kira kira satu jam dari perbatasan Prancis di sekitar Musium Napoleon Bonaparte dan patung Le Petit Corporal. Saya turun dari kereta api yang bersih sekali dan masuk trowongan menuju stasiun kecil untuk mencari taksi. Teman saya mencari transport, menelpon taksi tapi tak ada, bahkan bis juga tidak ada. Semua orang menggunakan mobil sendiri atau jalan kaki kalau yang dekat, satu dua kilometer itu tergolong dekat untuk desa ini. Karena tak berhasil dapat taksi sayapun keluar dati gedung kecil itu. Di depan saya ada seorang wanita yang menatap saya dalam dalam, saya berdebar, dia berpenampilan dan berwajah seperti orang Timor. Dia teriak dengan suara tersedu: "Indonesia?". Dia menghampiri dengan cepat sebelum saya selesai bilang "Ya" dan saya balik bertanya Ibu? Saya mengira dia orang dasan dan saya masih berbahasa Indonesia. Dia ternyata berbahasa Prancis. Kami sama sama terharu karean dua anak dasan yang terpisah ribuan tahun bertemu di negeri yang jauh sekali. Dengan bahasa Prancis kami berbincang, dia berdoa terus untuk saya dengan berlinang air mata. Saya akhirnya tahu dia dari Madagaskar dan mengaku sebagai anak Nusantara, siapa lagi kalau bukan Bugis!
Saya mengambil fotonya, sesungguhnya dia adalah orang Madagaskar kedua yang saya kenal. Sebelumnya ada seorang dokter yang rindu negeri moyangnya datang dari Paris dan hanya sehari kami bersama tapi dia meperlakukan saya sebagai saudaranya sampai saat ini. Saya belajar dari bapak saya M.Ali, Orang Madagaskar dan teman saya seasrama dahulu, bahwa orang Bugis adalah orang yang berpegang pada tali Allah sehingga mereka dengan berani dan bangga jadi manusia Mredeka!. Ya, kemerdekaan hati dan fikiran membuat mereka kuat dimanapun dan kapanpun.
Petualangan saya yang lain adalah, ketika sampai di Jakarta saya adalah participant Canada World Youth terakhir yang mendapat orang tua asuh karena masing masing berebutan mendahului. Saya paling beruntung seperti selalu saja saya alami. Saya mendapat orang tua asuh Batak dengan istri cantik jelita dari Jogjakarta. Saya mendapat keluarga dengan kultur berwarna warni. Saya belajar dari keluarga saya yang Batak ini, apa itu Ala Kita. Bagaimana mereka saling panggil Itok dan Lae. Dan banyak lagi tentang Batak Tembak labgsung. Mereka bicara apa adanya, meskipun kadang bikin panas telinga orang dari kebangsaan lain. Setelah sampai di Sumatera sayapun mendapat ibu asuh batak pula dan ayah saya seorang melayu intelektual yang selalu jadi khatib dan imam di masjid. Sayapun punya saudara angkat dari Aceh, Timor, Papua, Borneo dan Sulawesi, kalau Maluku banyak sekali.
Sewaktu di Bali, saya tersesat di Kuta dan ditolong seorang ibu pedagang asongan. Saya diantar ke rumah seorang semeton dari Cakranegara, dia seorang Hindu Bali tapi dengan segala kemampuan menolong saya. Dia akan pindah tugas ke kabupaten lain dalam beberapa hari. Maka saya diurus dan diberi surat pengantar kepada orang dasan kaya dan berpangkat yang saya sebut diatas. Saya belajar banyak dari semeton semeton kita yang kita sebut Dengan Bali ini, baik di Bali maupun di Lombok. Mereka bilang: "Engakau adalah aku, aku adalah engkau".
Setelah saya pulang ke Lombok sayapun dibuang oleh bangsa sendiri dan saya mendapat nikmat tingal di sebuah dasan terpencil di Sila Bima. Sayapun mendapat orang orang yang cinta kepada saya dan belajar kepada mereka sastra dan budaya Bima dalam waktu singkat. Mereka punya prinsip "duduk dulu baru belajar" artinya terima dahulu tanggung jawab baru dipeklajari. Dan merekaun saling tolong dalam kesulitan. Sepanjang hari dasan terpencil itu dihiasi oleh alunan orang mengaji dirumah rumah panggung reot dan bolong. Wajah mereka bercahaya dan bicaranya leas. Ntah mengapa dimanapun saya berada saya mendapat orang tua asuh atau saudara angkat yang menolong saya setiap saat. Di Sila inilah saya mulai membangun karakter kesasakan diantara perantau dasan dan sampai kini kami masih erat berhubungan meskipun sudah berpuluh tahun terpisah jarak dan waktu.
Petualangan kecil kecilan saya di berbagai belahan nusantara dan dunia ini, mengajarkan banyak hal tapi ada yang penting yang membuka mata dan hati saya sehingga saya bertekad membebaskan anak bangsa Sasak dari ketertinggalannya yang makin mundur saja. Mengapa akhlak dan mentalitas generasi sekarang tergerus dan masyarakatnya terpecah belah?. Belajar dari para orangtua angkat saya dan saudara angkat saya dari Nusantara maupun manca Negara, saya melihat bahwa anak Bangsa Sasak telah menukar identitas dan ajimatnya dengan masalah duniawi berupa kepentingan sesaat. Mereka makin miskin tapi buka kemiskinan yang dilawan. Mereka makin bodoh tapi bukan kebodohan yang dilawan. Lihatlah berapa banyak yang terus memilahara kemiskinan dan kebodohan. Lombok Selatan dan Utara kesulitan air dari tahun ke tahun tapi bukan kesulitan iar yang diurus tapi proyek bantuan asing yang diperebutkan. Mengapa tidak mulai dengan membangun pipa pipa air atau menampung air hujan disetiap rumah. Hujan 3 bulan cukup banyak untuk kebutuhan sepanjang tahun. Air hujan melimpah dibiarkan mengalir ke laut begitu saja. Saya pernah bertualang di Gawah Sekaroh sampai Ekas dan bukit yang sekarang ada hotel paradisenya itu. Air tidak kurang tapi akal tidak jalan dan niatpun tidak ada. Sekolah mahal terus jadi alasan tetapi mengapa tidak dibuat sekolah ala dasan yag asli 100% murah dan bermutu yaitu datang ke berugax?. Jangan kita menyesatkan anak bangsa hanya dengan mengerahkan mereka ke sekolah untuk mengejar nilai UN yang akhirnya banyakan tidak lulus. Dan akhirnya bagai kutukan tak terampuni mereka dicap sebagai anak gagal, padahal yang diukur adalah ketangkasan ikut permainan proyek orang diknas!. Tapi mari kita ajar mereka untuk bercocok tanam dilahan yang ada. Biarpun kering harus kita usahakan dangan teknologi sederhana. Ada jenis pohon yang tahan kering diprioritaskan. Tampungan air hujan dan destilasi air laut sederhana dikembangkan. Lebih baik kita punya lahan kering daripada basah. Bukankah lebih gampang tanah kering daripada tanah becek?.
Dasan yang maju pesat diberbagai tempat yang saya kunjungi mempunyai sejarah panjang banyaknya pepadu mereka yang merantau. Bangsa yang sering kita sebut lebih baik dari kita itu adalah bangsa perantau. Bandingkan dengan anak bangsa Sasak. Yang merantau sangat kecil. Yang terbesar berasal dari Lotim oleh karena itu Lotim jauh lebih berkembang dari kabupaten lain di Lombok ini. Di mulai dari ulama ulama dan kemudian pepadu pepadu sekarang sudah menerobos dunia. Kemudian Loteng lalu Lobar yang terakhir. Inilah saatnya kita perjuangkan sebanyak banyaknya generasi muda dikirim keluar untuk bekerja dan belajar. Kita harus tetap istikomah agar dapat mengejar ketertinggalan ini. Kalau kita kerja keras insayaallah dalam 5 tahun kita sudah melampaui zaman renaissance Bangsa Sasak. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan satu ikrar: Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (3)
lmjaelani: ... http://lalumuhamadjaelani.wordpress.com
Ayo merantau, kita kosongkan pulau lombok selama 10 tahun.
Cari pengalaman dan pengetahuan hidup di rantau, jangan terpaku dan merasa cukup 1
tinggal di tepurung kelapa.1
July 14, 2009
dimaz: ...
Ha ha .... Miq Junep nulis panjang lebar. Cuma yang baca mungkin sangat terbatas. Kalau saja tulisan ini
bisa dibaca oleh sebagian besar keluarga dan generasi muda sasak wah pasti akan berdampak positif terhadap kemajuan Bangsa Sasak.
Saya, sasat ini tinggal di Kaltim sangat prihatin dengan penderitaan bangsaku Bangsa Sasak. Di saat orang lain kelebihan gizi, semeton jari di Lombok
malah busung lapar.
Untuk memperbaiki kondisi perekonomian tidak diperlukan waktu terlalu lama bila masyarakat mau keluar meninggalkan pulau ini. Saya kenal beberapa
orang Lotim yang di Kaltim. Ada yang dari Sakra jadi pengacara, ya tentu saja kaya raya untuk ukuran kita masyarakat sasak. Ada yang jadi pengusaha, dan banyak yang punya peternakan.
Memang tidak ada pelajaran khusus untuk menjadi makmur. Buku tulisan Robert Kiyosaki mungkin bisa
menjadi pedoman. Keluarga Sasak tradisional umumnya tidak mengajarkan pada anak-anak bagaimana
agar kita hidup enak. Anak-anak disekolahkan, itu juga tidak begitu terurus. Makan seadanya. Para ibu biasanya hanya berlinang air mata bila memberi makan anak-anak mereka apa adanya. Jarang sekali yang memberi pelajaran gizi bagaimana agar
anak-anak mereka sehat dan cerdas. Itu karena para ibu tersebut tidak punya pengetahuan tentang gizi. Juga karena tidak punya makannan yang baik
untuk anak-anak mereka.
Untuk kemajuan cara berpikir kita dan perbaikan finansial, maka tidak ada salahnya kita membaca
buku semacam rich dad, poor dad, cash flow quadran. Buku-buku tersebut banyak sekali memberi
saya inspirasi. Dan saya tercengang bagaimana bodohnya saya selama ini. Bahwa keluarga saya juga
keluarga tradisional yang tidak tahu apa-apa tentang menndidik anak, menjadikan mereka cerdas
dan melek finansial.
Benar kata Miq Junep. Dalam waktu 5 tahun kita dapat melampau renaisance bangsa sasak. Tapi bagaimana kita memulai renaisance ini. Biar semua
masyarakat sasak tahu dan mau diajak melakukan perobahan ini?
Salam,
Dimaz
2
July 16, 2009
H.MUSA SHOFIANDY: ... http://ramendsho.wordpress.com
Tulisan sanak HRJ cukup membuat kita jd penasaran sambilan ngedumel base antah berantahnya. Penasaran dengan kepedulian org2 rantauan terhdp sesamanya apalagi sesama Bangse nya sendiri,dan tdk ketinggalan terhdp tanah kelahirannya, mereka saling bantu dan saling "angkat" tdk usah jauh2 cb lihat semeton2 kitan yg dari timur (Bima/Dompu) mereka saling bantu bagaikan sdr sekandung, baik dirantauan maupun di dasannya, mknya banyak semeton2 kita yg "jadi orang" Di Jkt yg tergolong Kota Besar dan Ibukota RI, kita tdk nyangka kalau tmn2 Bima banyak yang "jadi orang" Nah.. bagaimana dengan Bangsa kita Bangse Sasak? Kalau dirantau "mungkin ya" bisa saling bantu, saling "angkat:, tapi kalau di Gumi ne mesak, Tanak Sasak, bagaikan permainan "Jurakan" saling antuk (saling peterik) saling injak, saling tendang, saling ,menjerumuskan. Kalau ada yg kelihatan maju dan berkembang, berbagai upaya dilakukan utk menjatuhkan Bangsenya. Salah satu bukti terbaru adlh kasus pergantian 4 Direksi Bank NTB. bbrp waktu lalu. Ke empat2 nya diganti dg org luar (embeh jage).
Beberapa hari setelah Rapat Pemegang Saham (Gubernur dan Bupati se NTB) dilakukan,pada hari Minggu tgl 7 Juli 2009 sy ketemu dg salah seorang Pimpinan Cabang Bank NTB. Saya tanya kenapa para Direksi yng org NTB. itu diganti semua? Apa mereka tdk mampu, pernah berbuat salah atau bgmn, tanya saya. Beliau jawab, bukan begitu dan permasalahan yg sebenarnya sampai ia diganti kita tdk tau persis, karena kalau kita lihat kemampuan dr k4 4 Direksi yg diganti itu, tdklah kalah dengan penggantinya yg semuanya org2 luar NTB. Tapi kenapa mereka yg Putra Daerah NTB itu diganti semua,dg org luar NTB. Kenyataan ini jg mendapat sorotan dan kritikan dr para wakil rakyat (anggota DPRD NTB) dan mempertanyakannya kepada para pemegang Saham, tapi namanya manusia yg sdh pinter semua, para pemegang saham membela diri,mrk merasa dr tdk salah menunjuk org luar, KECUALI, Walikota Mataram, Bp.HM.Ruslan,SH. yg ada kepeduliannya, yakni dengan mengusulkan agar dari 4 Direksi itu jangan diganti semua, tpi biarkan 2 org Putra NTB dan 2 orang dr luar, karena beliau juga yakin dan percaya bahwa Putra2 NTB yg ada di Bank NTB itu mampu untuk mengendalikan Bank NTB.Tapi rupanya usul itu tdk ditanggapi, dan beliau (HM.Ruslan,SH) keluar ruang rapat sebelum selesai. Kalau saja Bangse Sasak yg kebetulan saat ini lg berkuasa, tdk mau memperhatikan Bangse nya sendiri...Berembe.... meton...? Mknya bg semeton2 yg saat ini tinggal digumi kelahirannya dan mrk punya kepedulian terhdp Kemajuan Bangse Sasak yang kayaknya Sulit utk mewujudkan keinginannya Memajukan Bangse Sasak, banyak yg berfikir, Lebih Baik Hidup di rantauan dg tenang dp hidup di Gumi mesak, penuh kekesalan dg ulah polah mrk yg tdk peduli dg Bangsenya sendiri...Tetu ne meton LMJ..seperti yg diungkap di atas.....
Tapi bg km sendiri, apapun yg terjadi, Usaha dan Upaya kita utk Membangun Bangse Sasak, tdk harus pudar, krn dunia... terus berputar... ada kalanya mendung, hujan, angin kencang dllnya, tapi suatu saat PASTI akan terjadi cuaca yang menyejukkan yg akan membawa kita untuk ingin Hidup Seribu Tahun Lagi......... Amien.
Ketika itu para anak dasan yang bersarung dan berbaju hanya satu itu, bermain slodor dan klereng atau main karet , yeye, bekel dan permainan yang paling bergengsi adalah main kasti, mereka punya idealisme hebat, cita cita yang banyak dibicarakan adalah ingin jadi Tentara, polisi, jaksa, dokter, guru dan ustad. Di dasan itu belum pernah ada pepadunya yang merantau jauh jauh. Kalau orang menyebut Karang Jangkong, Dasan Agung atau Monjok itu sudah seperti luar negerilah. Meskipun bagi orang dewasa ke Mataram itu hanya disebut turun. Dan Bis Sampoerna yang disetir Pak Jamal yang tinggal didasan kami hanya merambat dari Labuhan Haji ke Ampenan. Merambat sekali, tapi saat itu fikiran kami masih merambat juga. Kalau sudah ada yang muntah muntah berarti sudah capai dan kita sampai di Labuhan Haji. Kalau sampai Ampenan mungkin saja orang sudah remuk baru tiba. Kalau anak sekarang pasti sudah diinfus saat turun kendaraan karena dehidrasi.
Di blok sebelah barat ada rumah Bapak HM. Amin Shaleh yang disewa oleh TNI untuk jadi Asrama. Itulah satu satunya bangunan besar dengan banyak kamar. Ada sepuluhan tentara tinggal disitu. Mereka itu sangat disegani oleh warga dasan. TNI saat itu mengayomi sekali, keamanan terjaga kecuali maling dapat mengibuli mereka. Ada satu anggota yang suka mabok dan dibuang oleh komandannya di selokan gombleng yang bau. Dia akan bangun sendiri dan rupanya kayak monyet dengan wajah belepotan raok. Kami nonton diatas dan lari lintang pukang begitu dia bangun, dia teriak seperti Tarzan. Setelah banyak membaca majalah intisari saya mengerti mengapa orang itu mabok terus. Kesepian di dasan asing yang hanya berlistrik malam, menyelimuti hatinya yang muda.
Setelah TNI pindah asrama di embung, rumah berkamar kamar itu disewa oleh pendatang yang tiba tiba muncul dari antah berantah. Ada 4 orang yang saya catat dengan baik.mereka adalah pendatang dari Minangkabau. Meskipun saya sudah tahu letak semua pulau dan ibukota provinsi bahkan semua Negara dunia sampai yang terpencil saya tahu semua, tapi kali itulah saya berinteraksi pertama kali dengan orang asing. Sebenarnya dasan kami sudah banyak orang luar yang jadi warganya tapi sudah tidak lagi asing karena mereka menyatu dan berbahasa Sasak dengan sempurna. Kalau diberi skor semacam TSFL (Test of Sasak as Foreign Language) mereka sudah mencapi 600 semua. Ada Banjar, Madura dan Jawa bahkan guru SMA ada yang dari Bengkulu.
Tapi empat orang Minang ini mebawa wawasan baru bagi kami, mereka rajin mengaji dan bekerja keras menjual obat, pakaian dsb. Mereka pandai berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pengetahuan kesusastraan tinggi sehingga kalau bicara, pantun dan pepatah melayang disan sini. Mereka banyak membaca padahal pendidikan formal tak ada. Warga dasan tak ada yang baca Koran atau majalah. Satu satunya bacaan adalah Al Qur'an tapi aneh sekali tidak ada usaha dari ulama untuk membumikan Al Qur'an itu agar warga melaksanakan isinya dengan baik dan benar. Sepertinya para Ulama itu sangat menjaga dan memelihara kebodohan warga agar jangan sampai hilang taatnya kepada sang ulama. Aneh dan jahat sekali karena ketaatan sesungguhnya ditujukan hanya kepada Allah bukan?.
Salah satu dari orang Minang itu, mengisahkan hidupnya sampai saya berlinang airmata hingga detik ini. Ia seorang laki laki yang di negerinya tidak punya hak waris karena Inaxnyalah yang berkuasa. Warisan diturunkan kepada perempuannya. Saat kelas 3 SD dia diusir ibunya dengan diberi sebutir telur ayam. Dia pergi ke langgar dan masjid masjid berkelana. Berbekal mengaji di langgar itulah dia hidup dari satu pulau ke pulau lain.Saya merasa orang ini hebat sekali sementara anak dasan malas belajar. Bagimana tidak hebat saya anak kecil dilayani juga, coba kalau ada bebajang ngotok di bough dan saya mendekat mereka serta merta bilang; pergi …anak kecil mau ikut ngotok! Satu satunya kesempatan saya main dengan anak yang lebih besar adalah kalau saya disuruh mengangkat layangannya saat ditarik terbang. Mendingan saya mengejar belalang dengan sapu lidi.
Orang Minang itu kemana saja bersama, bulan ini ke Timor, Bulan depan ke Bima atau ke Sumba terus saja bersama dan saling urus keperluan masing masing. Tapi aneh setelah sekian lama saya sering bertemu dengan mereka di Pancor atau di Selong lagi. Mereka rupanya cocok sekali dengan sifat religius warga dasan ini. Warung Padang belum ada saat itu. Orang dasam memasak makanan sangat lezat di rumah masing masing karena bumbunya sampai berpuluh macam dalam satu hidangan. Masakan Padang jauh dibelakang. Ada satu hal yang kucatat dengan baik dipangkal otakku yang paling tersembunyi agar tidak mudah hilang. Orang orang itu selalu saling menjaga karena merasa senasib dan sepenanggungan. Mereka adalah orang orang yang kita sebut Tilar Negara. Pegangan mereka sangat jelas. Adat bersendi Syara' Syara' bersendi Kitabullah. Adat itu bersendikan Syari'at dan Sayariat itu berinti Al Qur'an. Pendeknya mereka berbuat apapun berpedoman pada Syari'at dari Al Qur'an itu. Saya lihat mereka bertemu dan berpisah sama eloknya.
Warga dasan tiba tiba kehilangan seorang pepadu entah kemana rimbanya, dia itu selalu jadi problem, suka nyolong kecil kecilan karena kekurangan dan broken home. Meskipun sudah broken home dan orangtuanya bercerai tapi mereka rukun hidup bersama amaxnya yang kawin lagi dan tinggal besebelahan. Hebat sekali warga dasan satu itu. Setelah berpuluh tahun pemuda hilang itu pulang dan bingung menanyakan rumahnya dimana. Pohon nangka yang besar di depan rumah HM Amin Shaleh itu lenyap, selokan kering, pemuda seumuran sudah jadi amax amax dan inax inax. Akhirnya ketemu juga rumahnya yang telah menjadi gubuk karena semakin menyempit dibagi bagi. Dia sendiri sudah lama hilang dari ingtan orang kecuali ianaxnya yang selalu mengaharap. Pemuda itu merantau ke Sulawesi lalu ke Sumatra. Apa yang dibawa pulang?. Hanya cerita kosong melompong. Dia jadi buruh membantu di kapal nelayan Bugis dan menjadi petani membantu mertuanya membakar ladang, titik! Setelah pulang dia tak lagi balik kepada istri dan keluarganya di Sumatra sana.
Ketika saya bertualang sampai Bali, tak ada tenmpat tujuan tak ada keluarga, tapi saya seorang pemuda tanggung 17 tahun kurang, sudah digembleng dan dibok bok amax dengan penyerahan diri kepada Allah. Dalam keadaan lemas dan kesulitan seorang muallaf menampung saya. Ia adalah istri merebot M.Ali seorang nelayan tua Bugis yang taat dan sederhana. Sudah miskin dan susah masih mau menampung saya dirumahnya. Sedangkan disebelahnya tinggal orang dasan berpangkat dan kaya, menolak sekedar untuk menolong memberi informasi bahkan saya diusir dari masjid!. Waktu di Dasan saya sering main ke pantai ke pantai sampai di Tanjung Ringgit dan bergaul dengan nelayan yang banyak Bugisnya itu. Kini ayah angkat saya adalah orang Bugis. Bangsa ini sungguh luar biasa, mereka sangat kuat berpegang pada akidahnya sehingga timbul keberanian yang luar biasa. Mereka adalah manusia paling berani mengarungi samudra luas. Mereka adalah pengunjung setia Australia sebelum disentuh para penjahat Eropah. Orang Bugis berlayar sampai ke Madagaskar. Semua pulau di Pasifik bahkan pulau Paskah di dekat wilayah Chili. Di Candi Borobudur ada gambar perahu besar di sisi barat dan utara, perahu itu sangat indah. Menurut catatan dari China jalur pasifik sudah dilalui pelayaran Asia ke Amerika. Sekali lagi sebelum pejahat Eropah yang datang 750 tahun kemudian menghancurkan semuanya.
Suatu hari di bulan agustis 2008 saya berkunjung ke sebuah desa kecil di Belgia Selatan kira kira satu jam dari perbatasan Prancis di sekitar Musium Napoleon Bonaparte dan patung Le Petit Corporal. Saya turun dari kereta api yang bersih sekali dan masuk trowongan menuju stasiun kecil untuk mencari taksi. Teman saya mencari transport, menelpon taksi tapi tak ada, bahkan bis juga tidak ada. Semua orang menggunakan mobil sendiri atau jalan kaki kalau yang dekat, satu dua kilometer itu tergolong dekat untuk desa ini. Karena tak berhasil dapat taksi sayapun keluar dati gedung kecil itu. Di depan saya ada seorang wanita yang menatap saya dalam dalam, saya berdebar, dia berpenampilan dan berwajah seperti orang Timor. Dia teriak dengan suara tersedu: "Indonesia?". Dia menghampiri dengan cepat sebelum saya selesai bilang "Ya" dan saya balik bertanya Ibu? Saya mengira dia orang dasan dan saya masih berbahasa Indonesia. Dia ternyata berbahasa Prancis. Kami sama sama terharu karean dua anak dasan yang terpisah ribuan tahun bertemu di negeri yang jauh sekali. Dengan bahasa Prancis kami berbincang, dia berdoa terus untuk saya dengan berlinang air mata. Saya akhirnya tahu dia dari Madagaskar dan mengaku sebagai anak Nusantara, siapa lagi kalau bukan Bugis!
Saya mengambil fotonya, sesungguhnya dia adalah orang Madagaskar kedua yang saya kenal. Sebelumnya ada seorang dokter yang rindu negeri moyangnya datang dari Paris dan hanya sehari kami bersama tapi dia meperlakukan saya sebagai saudaranya sampai saat ini. Saya belajar dari bapak saya M.Ali, Orang Madagaskar dan teman saya seasrama dahulu, bahwa orang Bugis adalah orang yang berpegang pada tali Allah sehingga mereka dengan berani dan bangga jadi manusia Mredeka!. Ya, kemerdekaan hati dan fikiran membuat mereka kuat dimanapun dan kapanpun.
Petualangan saya yang lain adalah, ketika sampai di Jakarta saya adalah participant Canada World Youth terakhir yang mendapat orang tua asuh karena masing masing berebutan mendahului. Saya paling beruntung seperti selalu saja saya alami. Saya mendapat orang tua asuh Batak dengan istri cantik jelita dari Jogjakarta. Saya mendapat keluarga dengan kultur berwarna warni. Saya belajar dari keluarga saya yang Batak ini, apa itu Ala Kita. Bagaimana mereka saling panggil Itok dan Lae. Dan banyak lagi tentang Batak Tembak labgsung. Mereka bicara apa adanya, meskipun kadang bikin panas telinga orang dari kebangsaan lain. Setelah sampai di Sumatera sayapun mendapat ibu asuh batak pula dan ayah saya seorang melayu intelektual yang selalu jadi khatib dan imam di masjid. Sayapun punya saudara angkat dari Aceh, Timor, Papua, Borneo dan Sulawesi, kalau Maluku banyak sekali.
Sewaktu di Bali, saya tersesat di Kuta dan ditolong seorang ibu pedagang asongan. Saya diantar ke rumah seorang semeton dari Cakranegara, dia seorang Hindu Bali tapi dengan segala kemampuan menolong saya. Dia akan pindah tugas ke kabupaten lain dalam beberapa hari. Maka saya diurus dan diberi surat pengantar kepada orang dasan kaya dan berpangkat yang saya sebut diatas. Saya belajar banyak dari semeton semeton kita yang kita sebut Dengan Bali ini, baik di Bali maupun di Lombok. Mereka bilang: "Engakau adalah aku, aku adalah engkau".
Setelah saya pulang ke Lombok sayapun dibuang oleh bangsa sendiri dan saya mendapat nikmat tingal di sebuah dasan terpencil di Sila Bima. Sayapun mendapat orang orang yang cinta kepada saya dan belajar kepada mereka sastra dan budaya Bima dalam waktu singkat. Mereka punya prinsip "duduk dulu baru belajar" artinya terima dahulu tanggung jawab baru dipeklajari. Dan merekaun saling tolong dalam kesulitan. Sepanjang hari dasan terpencil itu dihiasi oleh alunan orang mengaji dirumah rumah panggung reot dan bolong. Wajah mereka bercahaya dan bicaranya leas. Ntah mengapa dimanapun saya berada saya mendapat orang tua asuh atau saudara angkat yang menolong saya setiap saat. Di Sila inilah saya mulai membangun karakter kesasakan diantara perantau dasan dan sampai kini kami masih erat berhubungan meskipun sudah berpuluh tahun terpisah jarak dan waktu.
Petualangan kecil kecilan saya di berbagai belahan nusantara dan dunia ini, mengajarkan banyak hal tapi ada yang penting yang membuka mata dan hati saya sehingga saya bertekad membebaskan anak bangsa Sasak dari ketertinggalannya yang makin mundur saja. Mengapa akhlak dan mentalitas generasi sekarang tergerus dan masyarakatnya terpecah belah?. Belajar dari para orangtua angkat saya dan saudara angkat saya dari Nusantara maupun manca Negara, saya melihat bahwa anak Bangsa Sasak telah menukar identitas dan ajimatnya dengan masalah duniawi berupa kepentingan sesaat. Mereka makin miskin tapi buka kemiskinan yang dilawan. Mereka makin bodoh tapi bukan kebodohan yang dilawan. Lihatlah berapa banyak yang terus memilahara kemiskinan dan kebodohan. Lombok Selatan dan Utara kesulitan air dari tahun ke tahun tapi bukan kesulitan iar yang diurus tapi proyek bantuan asing yang diperebutkan. Mengapa tidak mulai dengan membangun pipa pipa air atau menampung air hujan disetiap rumah. Hujan 3 bulan cukup banyak untuk kebutuhan sepanjang tahun. Air hujan melimpah dibiarkan mengalir ke laut begitu saja. Saya pernah bertualang di Gawah Sekaroh sampai Ekas dan bukit yang sekarang ada hotel paradisenya itu. Air tidak kurang tapi akal tidak jalan dan niatpun tidak ada. Sekolah mahal terus jadi alasan tetapi mengapa tidak dibuat sekolah ala dasan yag asli 100% murah dan bermutu yaitu datang ke berugax?. Jangan kita menyesatkan anak bangsa hanya dengan mengerahkan mereka ke sekolah untuk mengejar nilai UN yang akhirnya banyakan tidak lulus. Dan akhirnya bagai kutukan tak terampuni mereka dicap sebagai anak gagal, padahal yang diukur adalah ketangkasan ikut permainan proyek orang diknas!. Tapi mari kita ajar mereka untuk bercocok tanam dilahan yang ada. Biarpun kering harus kita usahakan dangan teknologi sederhana. Ada jenis pohon yang tahan kering diprioritaskan. Tampungan air hujan dan destilasi air laut sederhana dikembangkan. Lebih baik kita punya lahan kering daripada basah. Bukankah lebih gampang tanah kering daripada tanah becek?.
Dasan yang maju pesat diberbagai tempat yang saya kunjungi mempunyai sejarah panjang banyaknya pepadu mereka yang merantau. Bangsa yang sering kita sebut lebih baik dari kita itu adalah bangsa perantau. Bandingkan dengan anak bangsa Sasak. Yang merantau sangat kecil. Yang terbesar berasal dari Lotim oleh karena itu Lotim jauh lebih berkembang dari kabupaten lain di Lombok ini. Di mulai dari ulama ulama dan kemudian pepadu pepadu sekarang sudah menerobos dunia. Kemudian Loteng lalu Lobar yang terakhir. Inilah saatnya kita perjuangkan sebanyak banyaknya generasi muda dikirim keluar untuk bekerja dan belajar. Kita harus tetap istikomah agar dapat mengejar ketertinggalan ini. Kalau kita kerja keras insayaallah dalam 5 tahun kita sudah melampaui zaman renaissance Bangsa Sasak. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan satu ikrar: Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (3)
lmjaelani: ... http://lalumuhamadjaelani.wordpress.com
Ayo merantau, kita kosongkan pulau lombok selama 10 tahun.
Cari pengalaman dan pengetahuan hidup di rantau, jangan terpaku dan merasa cukup 1
tinggal di tepurung kelapa.1
July 14, 2009
dimaz: ...
Ha ha .... Miq Junep nulis panjang lebar. Cuma yang baca mungkin sangat terbatas. Kalau saja tulisan ini
bisa dibaca oleh sebagian besar keluarga dan generasi muda sasak wah pasti akan berdampak positif terhadap kemajuan Bangsa Sasak.
Saya, sasat ini tinggal di Kaltim sangat prihatin dengan penderitaan bangsaku Bangsa Sasak. Di saat orang lain kelebihan gizi, semeton jari di Lombok
malah busung lapar.
Untuk memperbaiki kondisi perekonomian tidak diperlukan waktu terlalu lama bila masyarakat mau keluar meninggalkan pulau ini. Saya kenal beberapa
orang Lotim yang di Kaltim. Ada yang dari Sakra jadi pengacara, ya tentu saja kaya raya untuk ukuran kita masyarakat sasak. Ada yang jadi pengusaha, dan banyak yang punya peternakan.
Memang tidak ada pelajaran khusus untuk menjadi makmur. Buku tulisan Robert Kiyosaki mungkin bisa
menjadi pedoman. Keluarga Sasak tradisional umumnya tidak mengajarkan pada anak-anak bagaimana
agar kita hidup enak. Anak-anak disekolahkan, itu juga tidak begitu terurus. Makan seadanya. Para ibu biasanya hanya berlinang air mata bila memberi makan anak-anak mereka apa adanya. Jarang sekali yang memberi pelajaran gizi bagaimana agar
anak-anak mereka sehat dan cerdas. Itu karena para ibu tersebut tidak punya pengetahuan tentang gizi. Juga karena tidak punya makannan yang baik
untuk anak-anak mereka.
Untuk kemajuan cara berpikir kita dan perbaikan finansial, maka tidak ada salahnya kita membaca
buku semacam rich dad, poor dad, cash flow quadran. Buku-buku tersebut banyak sekali memberi
saya inspirasi. Dan saya tercengang bagaimana bodohnya saya selama ini. Bahwa keluarga saya juga
keluarga tradisional yang tidak tahu apa-apa tentang menndidik anak, menjadikan mereka cerdas
dan melek finansial.
Benar kata Miq Junep. Dalam waktu 5 tahun kita dapat melampau renaisance bangsa sasak. Tapi bagaimana kita memulai renaisance ini. Biar semua
masyarakat sasak tahu dan mau diajak melakukan perobahan ini?
Salam,
Dimaz
2
July 16, 2009
H.MUSA SHOFIANDY: ... http://ramendsho.wordpress.com
Tulisan sanak HRJ cukup membuat kita jd penasaran sambilan ngedumel base antah berantahnya. Penasaran dengan kepedulian org2 rantauan terhdp sesamanya apalagi sesama Bangse nya sendiri,dan tdk ketinggalan terhdp tanah kelahirannya, mereka saling bantu dan saling "angkat" tdk usah jauh2 cb lihat semeton2 kitan yg dari timur (Bima/Dompu) mereka saling bantu bagaikan sdr sekandung, baik dirantauan maupun di dasannya, mknya banyak semeton2 kita yg "jadi orang" Di Jkt yg tergolong Kota Besar dan Ibukota RI, kita tdk nyangka kalau tmn2 Bima banyak yang "jadi orang" Nah.. bagaimana dengan Bangsa kita Bangse Sasak? Kalau dirantau "mungkin ya" bisa saling bantu, saling "angkat:, tapi kalau di Gumi ne mesak, Tanak Sasak, bagaikan permainan "Jurakan" saling antuk (saling peterik) saling injak, saling tendang, saling ,menjerumuskan. Kalau ada yg kelihatan maju dan berkembang, berbagai upaya dilakukan utk menjatuhkan Bangsenya. Salah satu bukti terbaru adlh kasus pergantian 4 Direksi Bank NTB. bbrp waktu lalu. Ke empat2 nya diganti dg org luar (embeh jage).
Beberapa hari setelah Rapat Pemegang Saham (Gubernur dan Bupati se NTB) dilakukan,pada hari Minggu tgl 7 Juli 2009 sy ketemu dg salah seorang Pimpinan Cabang Bank NTB. Saya tanya kenapa para Direksi yng org NTB. itu diganti semua? Apa mereka tdk mampu, pernah berbuat salah atau bgmn, tanya saya. Beliau jawab, bukan begitu dan permasalahan yg sebenarnya sampai ia diganti kita tdk tau persis, karena kalau kita lihat kemampuan dr k4 4 Direksi yg diganti itu, tdklah kalah dengan penggantinya yg semuanya org2 luar NTB. Tapi kenapa mereka yg Putra Daerah NTB itu diganti semua,dg org luar NTB. Kenyataan ini jg mendapat sorotan dan kritikan dr para wakil rakyat (anggota DPRD NTB) dan mempertanyakannya kepada para pemegang Saham, tapi namanya manusia yg sdh pinter semua, para pemegang saham membela diri,mrk merasa dr tdk salah menunjuk org luar, KECUALI, Walikota Mataram, Bp.HM.Ruslan,SH. yg ada kepeduliannya, yakni dengan mengusulkan agar dari 4 Direksi itu jangan diganti semua, tpi biarkan 2 org Putra NTB dan 2 orang dr luar, karena beliau juga yakin dan percaya bahwa Putra2 NTB yg ada di Bank NTB itu mampu untuk mengendalikan Bank NTB.Tapi rupanya usul itu tdk ditanggapi, dan beliau (HM.Ruslan,SH) keluar ruang rapat sebelum selesai. Kalau saja Bangse Sasak yg kebetulan saat ini lg berkuasa, tdk mau memperhatikan Bangse nya sendiri...Berembe.... meton...? Mknya bg semeton2 yg saat ini tinggal digumi kelahirannya dan mrk punya kepedulian terhdp Kemajuan Bangse Sasak yang kayaknya Sulit utk mewujudkan keinginannya Memajukan Bangse Sasak, banyak yg berfikir, Lebih Baik Hidup di rantauan dg tenang dp hidup di Gumi mesak, penuh kekesalan dg ulah polah mrk yg tdk peduli dg Bangsenya sendiri...Tetu ne meton LMJ..seperti yg diungkap di atas.....
Tapi bg km sendiri, apapun yg terjadi, Usaha dan Upaya kita utk Membangun Bangse Sasak, tdk harus pudar, krn dunia... terus berputar... ada kalanya mendung, hujan, angin kencang dllnya, tapi suatu saat PASTI akan terjadi cuaca yang menyejukkan yg akan membawa kita untuk ingin Hidup Seribu Tahun Lagi......... Amien.
Sasak Untung Rugi
"Orang yang hari ini lebih baik keadaannya daripada hari kemarin adalah Orang yang beruntung. Orang yang hari ini keadaannya sama saja dengan hari kemarin adalah Orang yang rugi. Dan Orang yang hari ini lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan hari keamarin adalah Orang yang celaka". Al Hadits.
[Sasak.Org] Merenungkan hadist diatas membuat saya jadi sedih sekali, karena sebagian terbesar anak dasan adalah orang yang momot meconya makin hari makin kronis. Artinya hari kini mereka terus menerus lebih buruk dari hari kemarin mereka. Membandingkan hari kemarin dan hari ini pada kehidupan ahli momot meco itu sperti melihat kebusukan yang terjadi pada penyakit kanker yang tak terobati.
Catatan Pemililihan Presiden kemarin menunnjukkan bahwa yang ikut adalah orang berpendidikan SMP kebawah sebanyak 80%. Pantas saja mereka tak tahu menahu soal memilih pemimpin. Siapa yang dapat mengerti issue issue yang dikumandangkan oleh para kandidat selama ini. Apa itu neolib, pro rakyat, bekerja lebih cepat lebih baik, bahkan yang mau dilanjutkan yang mana dan apa saja juga tidak diketahui. Rakyat ini cukup melihat penampilan dan citra orang sudah berbondong memilih. Itu terjadi secara nasional sampai tingkat dasan. Banyak yang mengelabuhi rakyat dengan mengulang jargon bahwa rakyat sudah pinter, mereka tahu siapa yang harus dipilih. Rakyat sekarang sudah pinter semua. Rakyat hanya ingin tentram dalam bekerja. Berapa kali pemilu dan masih saja hasilnya membikin pilu. Sesudah kenduri besar itu kita selalu kembali berkutat dengan hutang, pengangguran dan masalah penyakit yang diimpor dari para penjajah modern. Flu burung dibuat agar kita lupa serbuan ke Irak. Flu babi dibuat agar kita lupa krisis moneter. Kita yang tak terkait dengan masalah orang asing itu kok ikut ikut menderita. Permainan para kapitalist ini makin membuat bodoh yang 80% dengan mengalihkan perhatian mereka pada satu hal. Gegap gempita kampanye, bagikan uang, bayarkan bonus. Kenikmatan itu membuat mereka menjadi hantu yang digiring ke dalam botol.
Anak bangsa Sasak yang terus celaka itu perlu disetir dengan kekuatan revolusi agar tidak jadi bahan mainan musiman. Pertama perhatian diprioritaskan pada masalah kesehatan. Orang sehat perlu makan cukup dan berimbang, orang yang mau makan harus bekerja keras dan baik. Kedua perbaiki pendidikan. Untuk dapat bekerja dengan baik dan lebih keras, orang harus diberi pendidikan dan pelatihan yang tepat. Ketiga ketahanan pangan. Orang yang ingin makmur, hidup sehat dan sejahtera harus menguasai iptek, bekerja keras dan displin tinggi. Disiplin tinggi hanya bisa dicapai oleh orang yang berbudi pekerti ( Budi artinya pengetahuan dan pkrti artinya kejujuran) alias berakhlak mulia.
Kalau kita buat hitungan kasar tentang isi dasan saat ini pasti kita ketir ketir untuk mulai usaha penyelamatan, apalagi mau buka usaha dagang atau industri. Dari Tiga juta penduduk sebanyak 2,4 juta berpendidikan SMP atau kurang. Kalau yang berpenghasilan Rp. 20 ribu perhari dianggap miskin maka silahkan hitung berapa banyak mereka dengan anak dan istri satu atau dua.Masih ada lagi yang bahkan tidak berpenghasilan karena bergantung pada alam sehingga mereka makan setiap jumat sekali!.Belum lagi yang tidak suka kerja atau kelompok momot meco. Kaum terpelajarnya 10% dan bertebaran di seluruh dunia. Kebanyakan pulang saat pensiun dan menunggu gorong batang baru, handmade asli produk dasan. Kondisi seperti ini menjadi lahan subur pertumbuhan maling, penipu, penjudi, tukang putar putar keling kota dan TKI bermasalah.
Tanah Selaparang ini adalah tanah yang penuh dengan ulama yang disebut TG. Dari sisi manapun TG ini selalu terlibat. Sebagai masyarakat yang cenderung menggantungkan diri pada segelintir orang yang dikultuskan, maka harapan anak dasan tidak bisa tidak , mereka bersandar pada para TG yang sama banyaknya dengan kelompok momot meco itu. Tiap dasan ada puluhan TG masakan mereka tak dapat memutar revolusi lebih cepat?.
Peluang untuk mengubah kehidupan sangat luas. Tanah subur yang terbengkalai dapat diusahakan menjadi lahan pertanian produk unggulan. Bukit bukit bisa disulap menjadi lahan subur dengan mengerahkan insinyur pertanian yang bergentayangan disetiap pengorong dasan. Bekerjasama dengan Insinyur peternakan yang masih menunggu nasib jadi PNS, bukankah lebih baik mulai menggarap apa yang ada didepan mata?. Masih banyak lagi para calon manajer abadi yang menyimpan rapi Ijazah SE dan calon abadi lawyer yang IP kumulatifnya tiga koma. Janganlah pendidikan sarjana membuat mereka jadi tidak mau memegang pacul dan sabit.
Bekerja adalah bentuk ibadah, kekayaan yang utama adalah kekayaan hati. Kekayaan hati inilah yang akan menyelamatkan dasan dari celaka duabelas yang terus menerus menerpa selama 12 bulan pertahun dan entah sudah berapa putaran 12 berlalu.Anak dasan terjebak dalam pusaran yang membuatnya makin momot meco. Inilah saatnya kita hentikan lingkaran syaiton itu dan kita ganti dengan langkah tegap seorang yang bertawaf. Acungkan tanganmu dengan tawaduk(rendah hati dan taat) dan katakan, bahwa Allah menolong orang yang menolong dirinya sendiri.
Walalohualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (1)
mansur: ...
Untuk skala kecil, saja masih banyak orang-orang dasan yang cukup kaya untuk sekedar membuka lapangan usaha buat tetangganya tetapi enggan 1
melakukannya. memang bukanlah suatu kewajiban tetapi sebuah keterpanggilan.1
July 13, 2009
[Sasak.Org] Merenungkan hadist diatas membuat saya jadi sedih sekali, karena sebagian terbesar anak dasan adalah orang yang momot meconya makin hari makin kronis. Artinya hari kini mereka terus menerus lebih buruk dari hari kemarin mereka. Membandingkan hari kemarin dan hari ini pada kehidupan ahli momot meco itu sperti melihat kebusukan yang terjadi pada penyakit kanker yang tak terobati.
Catatan Pemililihan Presiden kemarin menunnjukkan bahwa yang ikut adalah orang berpendidikan SMP kebawah sebanyak 80%. Pantas saja mereka tak tahu menahu soal memilih pemimpin. Siapa yang dapat mengerti issue issue yang dikumandangkan oleh para kandidat selama ini. Apa itu neolib, pro rakyat, bekerja lebih cepat lebih baik, bahkan yang mau dilanjutkan yang mana dan apa saja juga tidak diketahui. Rakyat ini cukup melihat penampilan dan citra orang sudah berbondong memilih. Itu terjadi secara nasional sampai tingkat dasan. Banyak yang mengelabuhi rakyat dengan mengulang jargon bahwa rakyat sudah pinter, mereka tahu siapa yang harus dipilih. Rakyat sekarang sudah pinter semua. Rakyat hanya ingin tentram dalam bekerja. Berapa kali pemilu dan masih saja hasilnya membikin pilu. Sesudah kenduri besar itu kita selalu kembali berkutat dengan hutang, pengangguran dan masalah penyakit yang diimpor dari para penjajah modern. Flu burung dibuat agar kita lupa serbuan ke Irak. Flu babi dibuat agar kita lupa krisis moneter. Kita yang tak terkait dengan masalah orang asing itu kok ikut ikut menderita. Permainan para kapitalist ini makin membuat bodoh yang 80% dengan mengalihkan perhatian mereka pada satu hal. Gegap gempita kampanye, bagikan uang, bayarkan bonus. Kenikmatan itu membuat mereka menjadi hantu yang digiring ke dalam botol.
Anak bangsa Sasak yang terus celaka itu perlu disetir dengan kekuatan revolusi agar tidak jadi bahan mainan musiman. Pertama perhatian diprioritaskan pada masalah kesehatan. Orang sehat perlu makan cukup dan berimbang, orang yang mau makan harus bekerja keras dan baik. Kedua perbaiki pendidikan. Untuk dapat bekerja dengan baik dan lebih keras, orang harus diberi pendidikan dan pelatihan yang tepat. Ketiga ketahanan pangan. Orang yang ingin makmur, hidup sehat dan sejahtera harus menguasai iptek, bekerja keras dan displin tinggi. Disiplin tinggi hanya bisa dicapai oleh orang yang berbudi pekerti ( Budi artinya pengetahuan dan pkrti artinya kejujuran) alias berakhlak mulia.
Kalau kita buat hitungan kasar tentang isi dasan saat ini pasti kita ketir ketir untuk mulai usaha penyelamatan, apalagi mau buka usaha dagang atau industri. Dari Tiga juta penduduk sebanyak 2,4 juta berpendidikan SMP atau kurang. Kalau yang berpenghasilan Rp. 20 ribu perhari dianggap miskin maka silahkan hitung berapa banyak mereka dengan anak dan istri satu atau dua.Masih ada lagi yang bahkan tidak berpenghasilan karena bergantung pada alam sehingga mereka makan setiap jumat sekali!.Belum lagi yang tidak suka kerja atau kelompok momot meco. Kaum terpelajarnya 10% dan bertebaran di seluruh dunia. Kebanyakan pulang saat pensiun dan menunggu gorong batang baru, handmade asli produk dasan. Kondisi seperti ini menjadi lahan subur pertumbuhan maling, penipu, penjudi, tukang putar putar keling kota dan TKI bermasalah.
Tanah Selaparang ini adalah tanah yang penuh dengan ulama yang disebut TG. Dari sisi manapun TG ini selalu terlibat. Sebagai masyarakat yang cenderung menggantungkan diri pada segelintir orang yang dikultuskan, maka harapan anak dasan tidak bisa tidak , mereka bersandar pada para TG yang sama banyaknya dengan kelompok momot meco itu. Tiap dasan ada puluhan TG masakan mereka tak dapat memutar revolusi lebih cepat?.
Peluang untuk mengubah kehidupan sangat luas. Tanah subur yang terbengkalai dapat diusahakan menjadi lahan pertanian produk unggulan. Bukit bukit bisa disulap menjadi lahan subur dengan mengerahkan insinyur pertanian yang bergentayangan disetiap pengorong dasan. Bekerjasama dengan Insinyur peternakan yang masih menunggu nasib jadi PNS, bukankah lebih baik mulai menggarap apa yang ada didepan mata?. Masih banyak lagi para calon manajer abadi yang menyimpan rapi Ijazah SE dan calon abadi lawyer yang IP kumulatifnya tiga koma. Janganlah pendidikan sarjana membuat mereka jadi tidak mau memegang pacul dan sabit.
Bekerja adalah bentuk ibadah, kekayaan yang utama adalah kekayaan hati. Kekayaan hati inilah yang akan menyelamatkan dasan dari celaka duabelas yang terus menerus menerpa selama 12 bulan pertahun dan entah sudah berapa putaran 12 berlalu.Anak dasan terjebak dalam pusaran yang membuatnya makin momot meco. Inilah saatnya kita hentikan lingkaran syaiton itu dan kita ganti dengan langkah tegap seorang yang bertawaf. Acungkan tanganmu dengan tawaduk(rendah hati dan taat) dan katakan, bahwa Allah menolong orang yang menolong dirinya sendiri.
Walalohualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (1)
mansur: ...
Untuk skala kecil, saja masih banyak orang-orang dasan yang cukup kaya untuk sekedar membuka lapangan usaha buat tetangganya tetapi enggan 1
melakukannya. memang bukanlah suatu kewajiban tetapi sebuah keterpanggilan.1
July 13, 2009
Sasak Yang melengket
[Sasak.Org] Sejarah Perang dingin sangat panjang menghiasi masa hidup beberapa generasi. Kalau kita baca atau lihat garis perjalanan manusia selama masa itu pasti tidak banyak yang mengetahui bagaimana orang hidup di belahan lain dunia ini. Warga Amerika yang menganggap Indonesia adalah suatu bagian dari Bali dan Orang Indonesia menganggap penduduk Uni Sovyet sebagai PKI semua adalah hal yang normal terjadi. Dimasa itu komunikasi terbatas dan semua orang lebih tertutup. Ketertutupan itu banyak disebabkan oleh situasi politik di bagian negara blok timur dan negera berkembang.
Kalau di Amerika Serikat dan Eropah Barat keterbukaan disegala bidang mebawa perkembangan kemajuan disegala bidang dan kemunduran di bidang tertentu. Kualitas hidup yang makin tinggi tidak menghentikan penderitaan dan kemerosotan disebagian rakyatnya. Sampai saat ini banyak gelandangan dan buta huruf dan jangan lupa pemakai narkoba, angka aborsi serta perceraian lebih dari 50%. Adalah harga mahal dari kemajuan itu.
Uni Sovyet dan Negara Blok Timur, boleh saja tertutup dan kurang maju dibanding dengan Negara Barat itu. Nilai nilai yang berkembang mengarah pada pembangunan karakter kuat bangsa. Sekarang kita bisa melihat sisa sisa dokter, insinyur dan pakar berbagai bidang dengan tingkat professional paling TOP adalah hasil dari system tertutup Blok Timur. Olah ragawan terhebat muncul dari Blok Timur dan sekrang China yang masih menjalankan nilai yang sama. Satu satunya kekurangan adalah pertumbuhan industri modern sangat terbatas. Selama masa Uni Sovyet terjadi deficit. Ada uang tak ada barang. Orang sangat irit dan hati hati. Masyarakat tidak konsumtif dan pemboros. Tetangga saling kenal dan banyak berinteraksi. Kebudayaan berkembang dengan kemampuan berkelit dari tirai besi. Bermain dicelah celah tirai yang berbahaya membuat kecerdasan manusianya semakin tajam dan hasilnya sungguh brilliant. Teater besar bertumbuh dengan performance nilai seni tinggi. Film film yang dibuat selama 60 tahunan sampai saat ini tak ada yang menandingi mutu seni dan nilai nilai yang dikandungnya sangat manusiawi dan mendidik selian menghibur. Kini sudah berubah semua maka mulailah manusianya kena obesitas dan tumbuhlah gelandangan dan penyakit sosial lain dimana mana.
Apa yang terjadi di Gumi Sasak selama masa perang dingin?. Satu satunya yang dihafal anak anak dasan adalah musim kembang Bagik atau perekong tengkulak, saat musim kemarau dan suhu udara bisa sangat dingin dimalam hari maupun di siang hari. Kalau perang dingin tidak banyak dibincangkan di boug bough dasan. Sambil makan biji bagik yang menambah amunisi kentut yang dibincangkan adalah hal hal spele yang kurang membawa semangat kearah pembaharuan disegala bidang. Hiburannya bukan film bagus atau buku yang bersastra tinggi tapi sahut sahutan kentut akibat kembung biji bagik itu.
Kalau ada pengajian bukan sibuk mencatat isi ceramah tapi sibuk menahan perut yang siap meletus. Itulah sebabnya banyak jamaah yang diam diam pulang duluan.
Menunggu dan menunggu itulah satu satunya alasan anak dasan tetap hidup. "Lemax lamun wah menu atawa meni jax!". Kelak bila sudah begini atau begitulah!. Ketika tidak kunjung ada yang datang atau berubah mereka menghibur diri; lemax lamun wah muni guk! Itu sama dengan pepatah Rusia yang berkata : "Nanti kalau kepiting sudah bersiul di puncak gunung!". Diantara anak anak dasan itu sebenar banyak sekali yang pintar dan cerdas. Namun sayang mereka ini sering sekali digilas oleh oknum oknum tertentu sehingga sepintar dan secerdas apapun anak dasan, dia jadi takut bersuara.
Kalau ada pepadu bicara kebenaran kemungkinan besar dia akan ditanya; "kamu ini siapa, siapa amaxmu?". "Baru merantau 2 hari berani bicara. Saya ini sudah 40 tahun merantau, kok kamu ajari!". Orang Sasak ini aneh, kalau tak boleh dibilang lucu, bila sedang bersemangat mereka bisa sesumbar bahwa mereka sanggup diinjaka injak demi menjunjung bangsa Sasak agar makin tinggi derajatnya, tapi tidak ada yang mau berjongkok dibawah. Bagaimana mau naik kalau tak ada yang menjunjung. Akibat dari kejadian demi kejadian yang membunuh kretifitas dan spirit generasi mudanya maka lambat laun tumbuhlah pemuda dengan mental mengkrut. Krut atu Krot adalah buah dari penindasan dan akar sebab musabab dari Perot (pérot). Kalau di Selong lebih jelek lagi namanya Pelot (pélot) artinya lengket, melekat, sperti tai ayam yang lengket. Melengket terus tidak berani lepas saking takutnya independent.
Karena pelot atu perotnya itu, anak anak dasan tidak berani mengungkapkan kebenaran meskipun para TG mengajarkan dengan tegas dan jelas bahwa:" Kita harus mengatakan kebenaran itu meskipun pahit". Paling banter kalau sempat nyeletuk, mukanya merah dan sembunyi. Kasihan sekali mereka sampai menyebut nama saja takut sekali. Akibatnya surat kaleng merajalela. Padahal isi dan pesannya sungguh luar biasa, mengandung kebenaran dan keterdesakan untuk ditindaklanjuti. Sayang sekali karena yang menyampaikannya adalah orang yang tidak jelas maka issue yang diangkatpun hilang begitu saja. Pernah ada tetangga yang melempar rumah bosnya bermalam malam, tidak ada penyelesaian sampai keduanya capai. Sekarang ada masalah di dasan, ada busung, ada PSK, ada yang sakit keras, ada maling, ada koruptor semua didiamkan saja sampai bosan, sampai mati, sampai ada busung lagi, PSK lagi dan seterusnya.
Kurangya keterbukaan bangsa Sasak dalam menyelesaikan perkara ini bukan karena perang dingin tapi karena ditutupnya akses belajar IPTEK dan pengarahan pendidikan agama pada kebutuhan sesaat dan kekuasaan. Agama yang seharusnya menjadi sumber inspirasi menuju manusia Soleh dan beriptek jadi tidak berjalan karena terkooptasi oleh kepentingan tertentu. Dasan penuh dengan kiyai, guru, tukang, pedagang, polisi dan bahkan tentara, murid, nahasiswa dan mentri kleder. Ada satu kesamaan dari semua anak dasan itu, meskipun ada di kantor, di tempat ibadah, di kampus maupun di ladang. Mereka Perot alias Pelot! Mereka tak berdaya oleh UN, mereka tak berdaya oleh amplop, mereka tak berdaya melawan KKN mereka tak berdaya karena takut tidak kebagian jatah. Mereka mengeluhkan tetek bengek ritual yang tak perlu.
Sekarang kita mulai dari diri sendiri, satu butir pasir dan mari kita berjongkok agar anak anak dasan berani naik dipundak kita. Kita beri mereka kesempatan melihat jauh ke depan, mengibarkan bendera bangsanya, membuatnya bangga dan berani menyebut namanya dengan lantang dalam mengumandangkan kebenaran. Selamat Tinggal Perot! Berhentilah jadi pepadu melengket, Pelot!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Kalau di Amerika Serikat dan Eropah Barat keterbukaan disegala bidang mebawa perkembangan kemajuan disegala bidang dan kemunduran di bidang tertentu. Kualitas hidup yang makin tinggi tidak menghentikan penderitaan dan kemerosotan disebagian rakyatnya. Sampai saat ini banyak gelandangan dan buta huruf dan jangan lupa pemakai narkoba, angka aborsi serta perceraian lebih dari 50%. Adalah harga mahal dari kemajuan itu.
Uni Sovyet dan Negara Blok Timur, boleh saja tertutup dan kurang maju dibanding dengan Negara Barat itu. Nilai nilai yang berkembang mengarah pada pembangunan karakter kuat bangsa. Sekarang kita bisa melihat sisa sisa dokter, insinyur dan pakar berbagai bidang dengan tingkat professional paling TOP adalah hasil dari system tertutup Blok Timur. Olah ragawan terhebat muncul dari Blok Timur dan sekrang China yang masih menjalankan nilai yang sama. Satu satunya kekurangan adalah pertumbuhan industri modern sangat terbatas. Selama masa Uni Sovyet terjadi deficit. Ada uang tak ada barang. Orang sangat irit dan hati hati. Masyarakat tidak konsumtif dan pemboros. Tetangga saling kenal dan banyak berinteraksi. Kebudayaan berkembang dengan kemampuan berkelit dari tirai besi. Bermain dicelah celah tirai yang berbahaya membuat kecerdasan manusianya semakin tajam dan hasilnya sungguh brilliant. Teater besar bertumbuh dengan performance nilai seni tinggi. Film film yang dibuat selama 60 tahunan sampai saat ini tak ada yang menandingi mutu seni dan nilai nilai yang dikandungnya sangat manusiawi dan mendidik selian menghibur. Kini sudah berubah semua maka mulailah manusianya kena obesitas dan tumbuhlah gelandangan dan penyakit sosial lain dimana mana.
Apa yang terjadi di Gumi Sasak selama masa perang dingin?. Satu satunya yang dihafal anak anak dasan adalah musim kembang Bagik atau perekong tengkulak, saat musim kemarau dan suhu udara bisa sangat dingin dimalam hari maupun di siang hari. Kalau perang dingin tidak banyak dibincangkan di boug bough dasan. Sambil makan biji bagik yang menambah amunisi kentut yang dibincangkan adalah hal hal spele yang kurang membawa semangat kearah pembaharuan disegala bidang. Hiburannya bukan film bagus atau buku yang bersastra tinggi tapi sahut sahutan kentut akibat kembung biji bagik itu.
Kalau ada pengajian bukan sibuk mencatat isi ceramah tapi sibuk menahan perut yang siap meletus. Itulah sebabnya banyak jamaah yang diam diam pulang duluan.
Menunggu dan menunggu itulah satu satunya alasan anak dasan tetap hidup. "Lemax lamun wah menu atawa meni jax!". Kelak bila sudah begini atau begitulah!. Ketika tidak kunjung ada yang datang atau berubah mereka menghibur diri; lemax lamun wah muni guk! Itu sama dengan pepatah Rusia yang berkata : "Nanti kalau kepiting sudah bersiul di puncak gunung!". Diantara anak anak dasan itu sebenar banyak sekali yang pintar dan cerdas. Namun sayang mereka ini sering sekali digilas oleh oknum oknum tertentu sehingga sepintar dan secerdas apapun anak dasan, dia jadi takut bersuara.
Kalau ada pepadu bicara kebenaran kemungkinan besar dia akan ditanya; "kamu ini siapa, siapa amaxmu?". "Baru merantau 2 hari berani bicara. Saya ini sudah 40 tahun merantau, kok kamu ajari!". Orang Sasak ini aneh, kalau tak boleh dibilang lucu, bila sedang bersemangat mereka bisa sesumbar bahwa mereka sanggup diinjaka injak demi menjunjung bangsa Sasak agar makin tinggi derajatnya, tapi tidak ada yang mau berjongkok dibawah. Bagaimana mau naik kalau tak ada yang menjunjung. Akibat dari kejadian demi kejadian yang membunuh kretifitas dan spirit generasi mudanya maka lambat laun tumbuhlah pemuda dengan mental mengkrut. Krut atu Krot adalah buah dari penindasan dan akar sebab musabab dari Perot (pérot). Kalau di Selong lebih jelek lagi namanya Pelot (pélot) artinya lengket, melekat, sperti tai ayam yang lengket. Melengket terus tidak berani lepas saking takutnya independent.
Karena pelot atu perotnya itu, anak anak dasan tidak berani mengungkapkan kebenaran meskipun para TG mengajarkan dengan tegas dan jelas bahwa:" Kita harus mengatakan kebenaran itu meskipun pahit". Paling banter kalau sempat nyeletuk, mukanya merah dan sembunyi. Kasihan sekali mereka sampai menyebut nama saja takut sekali. Akibatnya surat kaleng merajalela. Padahal isi dan pesannya sungguh luar biasa, mengandung kebenaran dan keterdesakan untuk ditindaklanjuti. Sayang sekali karena yang menyampaikannya adalah orang yang tidak jelas maka issue yang diangkatpun hilang begitu saja. Pernah ada tetangga yang melempar rumah bosnya bermalam malam, tidak ada penyelesaian sampai keduanya capai. Sekarang ada masalah di dasan, ada busung, ada PSK, ada yang sakit keras, ada maling, ada koruptor semua didiamkan saja sampai bosan, sampai mati, sampai ada busung lagi, PSK lagi dan seterusnya.
Kurangya keterbukaan bangsa Sasak dalam menyelesaikan perkara ini bukan karena perang dingin tapi karena ditutupnya akses belajar IPTEK dan pengarahan pendidikan agama pada kebutuhan sesaat dan kekuasaan. Agama yang seharusnya menjadi sumber inspirasi menuju manusia Soleh dan beriptek jadi tidak berjalan karena terkooptasi oleh kepentingan tertentu. Dasan penuh dengan kiyai, guru, tukang, pedagang, polisi dan bahkan tentara, murid, nahasiswa dan mentri kleder. Ada satu kesamaan dari semua anak dasan itu, meskipun ada di kantor, di tempat ibadah, di kampus maupun di ladang. Mereka Perot alias Pelot! Mereka tak berdaya oleh UN, mereka tak berdaya oleh amplop, mereka tak berdaya melawan KKN mereka tak berdaya karena takut tidak kebagian jatah. Mereka mengeluhkan tetek bengek ritual yang tak perlu.
Sekarang kita mulai dari diri sendiri, satu butir pasir dan mari kita berjongkok agar anak anak dasan berani naik dipundak kita. Kita beri mereka kesempatan melihat jauh ke depan, mengibarkan bendera bangsanya, membuatnya bangga dan berani menyebut namanya dengan lantang dalam mengumandangkan kebenaran. Selamat Tinggal Perot! Berhentilah jadi pepadu melengket, Pelot!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Sasak Yang Menggugat
[Sasak.Org] Kalau menyempatkan diri berbincang dengan para ahli momot meco di sepanjang bough dasan dan juga dengan penghuni lain yang bahkan lebih berpendidikan topik yang sering diangkat adalah tidak adanya kepeduliaan para datu kepada masyarakat dasannya. Bahkan gugatan itu sampai juga di sesangkok maya KS. Sangat aneh bahwa hal itu bisa terjadi di dasan yang sempit dengan kebiasaan berbincang sangat terbuka, tidak juga terjadi komunikasi yang baik antara datu yang dipilh sebagai penuntun dan masyarakat yang dituntun. Masyarakat dasan mengalami busung lapar, putus sekolah, pengangguran dan kriminalitas meningkat, tidak dibalas dengan kebijakan, keputusan datu untuk mengatasi semua problem yang berdatangan.
Mengapa setiap orang merasa putus asa begitu mudah dalam menyelesaikan persoalan dasan kita?. Datu merasa sedang berjuang meningkatkan kemakmuran sedang di fihak orang dasan merasa diabaikan, dibiarkan dan ditelantarkan. Para penguasa menjalankan kebijakan dengann bertindak tegas dan kalau perlu keras untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Lantas dimana kesalahannya kalau tujuan bertindaknya sangat bagus. Menertibkan, mengatur dan mempermudah adalah ancang ancang yang digariskan untuk ditindak lanjuti. Tiba tiba kita melihat balita mati mengerikan, PSK tenggelam di kali, anak jalanan lari dan datang lagi. Petani tembakau gantung diri karena terlibat lintah darat. Dan banyak sekali kejadian yang mencerminkan ketidak berdayaan para datu mengelola persoalan masyarakat kita.
Ketika Dasan sekecil Selong tiba tiba dibuat municipal, para stakeholders mendasarkan pembentukannya hanya pada kepentingan tertentu sperti memperluas kesempatan berkarir segelintir orang. Membuka parlemen baru, membuka kantor baru dan merekrut pegawai baru. Akal akalan speperti ini adalah jalan pintas yang diusahakan untuk memberi lapangan kerja tanpa mengembangkan sumber daya alam dan SDM yang menyeluruh. Mengekpolitasi sumber keuangan yang terbatas akan membuat kreatifitas mentok dan akan berputar terus ditempat yang sama. Bagaimana mungkin SDM yang sama dapat menopang sendiri kehidupan kota (municipal) dengan administrasi baru tapi sumber keungan yang menyempit?.
Demokrasi saat ini berada pada level sekedar diperbincangkan semacam pelajaran teori mesin di zaman anak dasan belum pernah melihat mesin apapun. Demokrasi sebagai sebuah cara belum mampu dipraktikkan dengan sesungguhnya. Warga dasan masih miskin dan tidak faham disuruh memilih orang yang pandai menebar pesona, membangun citra lewat media segala macam. Setelah memilih lalu ramai ramai menggerutu karena pemimpinnya ternyata sama saja dengan orang dasan biasa yang tidak begitu faham posisi, kewenangan dan kepemimpinan. Lambat laun demokrasi hanya berjalan seperti bisnis MLM yaitu teknik memasarkan bertingkat dengan komisi sedikit sini, banyak untuk sana, sedikit buat kalian banyak buat saya.
Dahulu sebelum demokrasi diperbincangkan masyarakat dapat memilih datu dengan caranya dan kehidupan dasan lebih tentram dan gotong royong. Itu sudah dulu sekali, ketika anggota masyarakat memiliki tuntunan yang pasti yaitu ketaatan pada syariat. Mereka belum pernah memformalkan dengan bentuk perda atau UU tapi setiap orang menjalankan ibadah dengan tekun. Buah dari ketaatan itu menjadikan masyarakat yang tentram dan damai. Agama tidak diperbincangkan sebanyak para TG berceloteh dengan menakuti jamaah prihal neraka jahannam. Cukup orang dengan pengajian kecil di brugax sudah dapat menjadi energi positif yang diaktualisasikan dengan basa basi yang hangat. Ketika tetangga betegur sapa saling menawarkan makanan dan begawe bersama itu adalah bagian dari adat yang mengembangkan kebersamaan. Sekarang para TG berceloteh dengan lancar soal demokrasi dan issue isme isme lain yang sama menakutkannnya dengan Neraka. Kalau neraka tempatnya jauh maka sebaliknya ancaman isme lain menggerogoti mental spiritual anak dasan. Karena terus didera ceramah membingungkan maka anak dasan menjadi apatis kemudian mencari cara sendiri yang lebih menyenangkan hidupnya. Bukan hanya lupa dengan neraka bahkan surga juga sudah tak berarti apa apa. Anak muda dasan sudah ogah belajar, orang tua mereka memberi uang berkecukupan atau berlebihan sehingga disalah gunakan untuk narkoba dan kesenangan kecil lain.
Setelah pengajian berubah jadi sekedar ritual, sebetulnya ritual dalam islam sangat terbatas dan sifatnya langsung kepada Allah. Jamaah sangat penting untuk mengembangkan sistim sosial sebagai wujud dari hablum minan nas. Mengapa ritual dibesarkan dan akhirnya menjadi ajang berniaga juga semacam MLM itu. Kiyai kecil menyetor ke kyai besar dengan mengerahkan jamaah berbondong untuk mempebesar pengaruh orang perorang. Orang yang telah mencapai kekuasaan besar baik lewat ritus ataupun politik akan meningkatlah posisi daya tawarnya. Mereka dapat sangat berkuasa sehingga banyak orang disekelilingnya memanfaatkan dengan cerdik. Setelah itu tak akan ada anggota masyarakat di luar kelompoknyua yang dapat bertemu untuk menyampaikan inspirasi.
Kalau kita ingin berubah kearah kemajuan yang berkemakmuran, maka kita harus mulai dengan diri sendiri. Kalau di dasan yang berkuasa adalah para dukun kuat maka kita harus mulai belajar perdukunan dan membuat padepokan dengan anggota yang kita bentuk sendiri dan kita kuatkan. Hanya dengan kekuatan dukunlah kita dapat berunding dengan dukun lain di dasan kita. Bahkan dengan kepala dari kepalanya dukunpun kita dapat menembus dan menundukkannya setElah kita mengetahui rahasia dukuN itu.
Sekarang yang berkuasa adalah TG, periksa saja orang disekitarnya disitu pasti penuh dengan TG kecil kecil. Berfikirlah dengan cara TG kecil kecil itu. Pelajari adat istiadatnya. Pelajari kebutuhannya kalau perlu setor jamaah dan bikin mereka menjulang tinggi tinggi kalau perlu tidak bisa turun lagi. Setelah itu tidak perlu berunding berunding apalagi mendatangi mereka bagai pengemis agar kita di dengar. Kalu kita telah beri dia singgasana setinggi tower Kuala Lumpur mana sempat dia mengurus yang dibawah. Buktinya TKW disiksa dan TKI diusir masih terus berlanjut karena suara kita sudah tidak terdengar. Kitalah yang membangunkannya singgasana. Kalau begitu kita juga sanggup membuat singgasana untuk diri sendiri dan singgasana untuk setiap individu anak dasan.
Tidak ada kompromi antara orang lemah dengan orang kuat. Tidak ada bicara antara atasan dan bawahan. Tidak ada keputusan yang menunggu anak dasan selesai dulu dengan hajatnya. Oleh karean itu jangan pernah menganggap merekA sesungguhnya sedang bekerja untuk rakyat jelata. Mereka sedang bekerja untuk dirinya sendiri. Dan engkau, wahai anak bangsa Sasak, untuk siapa engkau bekerja?.
Mari kita bangun manuisa dan kemanuisaan, sebab bila kita mengira bahwa kita bekerja keras untuk membuat sesuatu maka sesuatu itu akan musnah. Bila kita mengira kita dapat membangun tangga ke langit maka ia akan runtuh. Tapi bulatkanlah tekad untuk berbuat hanya karna Allah. Karena apa yang kita buat karna Allah maka ia akan terus terjaga dari generasi ke generasi.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Mengapa setiap orang merasa putus asa begitu mudah dalam menyelesaikan persoalan dasan kita?. Datu merasa sedang berjuang meningkatkan kemakmuran sedang di fihak orang dasan merasa diabaikan, dibiarkan dan ditelantarkan. Para penguasa menjalankan kebijakan dengann bertindak tegas dan kalau perlu keras untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Lantas dimana kesalahannya kalau tujuan bertindaknya sangat bagus. Menertibkan, mengatur dan mempermudah adalah ancang ancang yang digariskan untuk ditindak lanjuti. Tiba tiba kita melihat balita mati mengerikan, PSK tenggelam di kali, anak jalanan lari dan datang lagi. Petani tembakau gantung diri karena terlibat lintah darat. Dan banyak sekali kejadian yang mencerminkan ketidak berdayaan para datu mengelola persoalan masyarakat kita.
Ketika Dasan sekecil Selong tiba tiba dibuat municipal, para stakeholders mendasarkan pembentukannya hanya pada kepentingan tertentu sperti memperluas kesempatan berkarir segelintir orang. Membuka parlemen baru, membuka kantor baru dan merekrut pegawai baru. Akal akalan speperti ini adalah jalan pintas yang diusahakan untuk memberi lapangan kerja tanpa mengembangkan sumber daya alam dan SDM yang menyeluruh. Mengekpolitasi sumber keuangan yang terbatas akan membuat kreatifitas mentok dan akan berputar terus ditempat yang sama. Bagaimana mungkin SDM yang sama dapat menopang sendiri kehidupan kota (municipal) dengan administrasi baru tapi sumber keungan yang menyempit?.
Demokrasi saat ini berada pada level sekedar diperbincangkan semacam pelajaran teori mesin di zaman anak dasan belum pernah melihat mesin apapun. Demokrasi sebagai sebuah cara belum mampu dipraktikkan dengan sesungguhnya. Warga dasan masih miskin dan tidak faham disuruh memilih orang yang pandai menebar pesona, membangun citra lewat media segala macam. Setelah memilih lalu ramai ramai menggerutu karena pemimpinnya ternyata sama saja dengan orang dasan biasa yang tidak begitu faham posisi, kewenangan dan kepemimpinan. Lambat laun demokrasi hanya berjalan seperti bisnis MLM yaitu teknik memasarkan bertingkat dengan komisi sedikit sini, banyak untuk sana, sedikit buat kalian banyak buat saya.
Dahulu sebelum demokrasi diperbincangkan masyarakat dapat memilih datu dengan caranya dan kehidupan dasan lebih tentram dan gotong royong. Itu sudah dulu sekali, ketika anggota masyarakat memiliki tuntunan yang pasti yaitu ketaatan pada syariat. Mereka belum pernah memformalkan dengan bentuk perda atau UU tapi setiap orang menjalankan ibadah dengan tekun. Buah dari ketaatan itu menjadikan masyarakat yang tentram dan damai. Agama tidak diperbincangkan sebanyak para TG berceloteh dengan menakuti jamaah prihal neraka jahannam. Cukup orang dengan pengajian kecil di brugax sudah dapat menjadi energi positif yang diaktualisasikan dengan basa basi yang hangat. Ketika tetangga betegur sapa saling menawarkan makanan dan begawe bersama itu adalah bagian dari adat yang mengembangkan kebersamaan. Sekarang para TG berceloteh dengan lancar soal demokrasi dan issue isme isme lain yang sama menakutkannnya dengan Neraka. Kalau neraka tempatnya jauh maka sebaliknya ancaman isme lain menggerogoti mental spiritual anak dasan. Karena terus didera ceramah membingungkan maka anak dasan menjadi apatis kemudian mencari cara sendiri yang lebih menyenangkan hidupnya. Bukan hanya lupa dengan neraka bahkan surga juga sudah tak berarti apa apa. Anak muda dasan sudah ogah belajar, orang tua mereka memberi uang berkecukupan atau berlebihan sehingga disalah gunakan untuk narkoba dan kesenangan kecil lain.
Setelah pengajian berubah jadi sekedar ritual, sebetulnya ritual dalam islam sangat terbatas dan sifatnya langsung kepada Allah. Jamaah sangat penting untuk mengembangkan sistim sosial sebagai wujud dari hablum minan nas. Mengapa ritual dibesarkan dan akhirnya menjadi ajang berniaga juga semacam MLM itu. Kiyai kecil menyetor ke kyai besar dengan mengerahkan jamaah berbondong untuk mempebesar pengaruh orang perorang. Orang yang telah mencapai kekuasaan besar baik lewat ritus ataupun politik akan meningkatlah posisi daya tawarnya. Mereka dapat sangat berkuasa sehingga banyak orang disekelilingnya memanfaatkan dengan cerdik. Setelah itu tak akan ada anggota masyarakat di luar kelompoknyua yang dapat bertemu untuk menyampaikan inspirasi.
Kalau kita ingin berubah kearah kemajuan yang berkemakmuran, maka kita harus mulai dengan diri sendiri. Kalau di dasan yang berkuasa adalah para dukun kuat maka kita harus mulai belajar perdukunan dan membuat padepokan dengan anggota yang kita bentuk sendiri dan kita kuatkan. Hanya dengan kekuatan dukunlah kita dapat berunding dengan dukun lain di dasan kita. Bahkan dengan kepala dari kepalanya dukunpun kita dapat menembus dan menundukkannya setElah kita mengetahui rahasia dukuN itu.
Sekarang yang berkuasa adalah TG, periksa saja orang disekitarnya disitu pasti penuh dengan TG kecil kecil. Berfikirlah dengan cara TG kecil kecil itu. Pelajari adat istiadatnya. Pelajari kebutuhannya kalau perlu setor jamaah dan bikin mereka menjulang tinggi tinggi kalau perlu tidak bisa turun lagi. Setelah itu tidak perlu berunding berunding apalagi mendatangi mereka bagai pengemis agar kita di dengar. Kalu kita telah beri dia singgasana setinggi tower Kuala Lumpur mana sempat dia mengurus yang dibawah. Buktinya TKW disiksa dan TKI diusir masih terus berlanjut karena suara kita sudah tidak terdengar. Kitalah yang membangunkannya singgasana. Kalau begitu kita juga sanggup membuat singgasana untuk diri sendiri dan singgasana untuk setiap individu anak dasan.
Tidak ada kompromi antara orang lemah dengan orang kuat. Tidak ada bicara antara atasan dan bawahan. Tidak ada keputusan yang menunggu anak dasan selesai dulu dengan hajatnya. Oleh karean itu jangan pernah menganggap merekA sesungguhnya sedang bekerja untuk rakyat jelata. Mereka sedang bekerja untuk dirinya sendiri. Dan engkau, wahai anak bangsa Sasak, untuk siapa engkau bekerja?.
Mari kita bangun manuisa dan kemanuisaan, sebab bila kita mengira bahwa kita bekerja keras untuk membuat sesuatu maka sesuatu itu akan musnah. Bila kita mengira kita dapat membangun tangga ke langit maka ia akan runtuh. Tapi bulatkanlah tekad untuk berbuat hanya karna Allah. Karena apa yang kita buat karna Allah maka ia akan terus terjaga dari generasi ke generasi.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Sasak Yang Pagah
[Sasak.Org] Bajang Sulye Jati dan semua anggota KS yang ku cintai, Seandainya kita duduk di brugax dan bicara seperti ini alangkah dahsyatnya atmosfer kesasakan yang melingkupi perasaan kita. Lewat sesangkok maya ini saja saya merasa begitu menyatu denganmu dan semua semeton KS ini.
Bajang jangan lupa, kita memang selalu welcome dengan semua orang Sesama Bangsa Indonesia. Indonesia adalah sebuah negara kesatuan yang sesungguhnya tidak punya budaya melainkan terdiri dari budaya berbagai bangsa seperti halnya budaya bangsa Sasak, bangsa Jawa, bangsa Bali dll.
Pada suatu periode selama 32 tahun kekuasaan ada pada satu orang yang kuat. Saya tetap setuju dengan Pak Harto dengan caranya mengendalikan negara dengan sedikitnya 750 bahasa ini. Bahwa kita punya pemimpin import di Lombok, itu karena ada yang memaksakan. Bajang Sulye tentu tidak mengalami saat generasi saya dan sebelum saya, protes dan ditangkap. Setelah itu semua lebih terkendali mungkin sejak Dewan Mahasiswa dihapus. Kita selalu menginginkan pemimpin dari kalangan Sendiri bukan karena rasis tapi seharusnya memang demikian. Kalau ada pemimpin yang hebat dari orang luar kita dapat menerima asal sesuai dengan aspirasi kita semua. Zaman Orba tidak ada aspirasi aspirasian toh?.
Ciri khas Sasak adalah memiliki kebudayaan yang berkepribadian yang dipengaruhi budaya Melayu (Islam), Jawa dan Bali dan sedikit Bugis dan Banjar. Kita Punya Gamelan, Wayang dan Sastera lisan yang berciri kearifan lokal (genius lokal). Ciri utamanya adalah berwarna keislaman. Budipekerti yang kita terima turun temurun adalah dari tiga budaya itu.
Degradasi nilai budaya Sasak itu mulai merosot ketika ada oknum yang bertopeng budayawan membenturkan satu nilai dengan nilai lain yang sebenarnya sudah jadi dan mengkristal di gumi paer. Misalnya segala hiburan adalah bagian dari budaya umum. Budaya terdiri dari dua suku kata, budi – pengetahuan dan daya- upaya, usaha artinya Mengupayakan, menumbuhkembangkan, pengetahuan adalah alat untuk mentransfer nilai Budipekerti, Budi - pengetahuan dan pekerti - kejujuran. Pengetahuan dan kejujuran itu adalah alat pembentukan karakter utama menuju integritas seorang manusia. Manusia sejati mempunyai integritas kuat. Integritas kuat berisi ilmu pengetahuan dan kejujuran. Inti dari pada akhlak itu adalah pengetahuan dan kejujuran. Oleh karena itu orang berilmu dan jujur dapat melaksanakan agamanya dengan sangat baik. Manusia religius inilah ciri utama bangsa Sasak.
Ciri khas kita yang paling menonjol yang masih bisa kompak kita sebut dan setujui adalah PAGAH. Pagah berasal dari bahasa Kawi PAGEH mengandung makna Keteguhan, Ketabahan, Kekokohan, Kesetiaan, Keseimbangan, Ketepatan, Kemantapan. Adakah kita sadar apa yang kita ucapkan? Ketika kita mengatakan Aku si Pagah atau Kamu si pagah, apakah yang dimaksudkan adalah bahwa kita mempunyai kualitas PAGEH itu?. Kalau kita memang tahu apa itu PAGAH maka kita sesungguhnya punya jati diri khas, yang Bajang inginkan. Manusia Pagah adalah manusia yang tahu siapa dirinya, apa yang diinginkannya dan kemana tujuannya melangkah.
Mengapa ciri khas kita menghilang, karena dunia materialisme memang memerlukan masyarakat yang tak kuat akar budayanya. Maka kitapun mengalami apa yang dialami oleh sebagian besar bangsa di dunia yang menukar identitas diri dengan materi. Budayawan bertopeng itu menjual barang murah seperti musik dan lagu yang menonjolkan seks, tarian erotis dan segala kegiatan yang bersifat hedonis semata yang membunuh kreatifitas dan nilai peradaban kita demi mengeruk keuntungan duniawi.
Bajang, panjang sekali bicara kita tapi mungkin ini sekedar menggugah hati dan fikiran kita untuk dapat mengembangkan pembicaraan kearah yang lebih dahsyat lagi.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (2)
M. Roil Bilad: ...
Tulisan diatas merupakan jawaban HRJ atas pertanyaan dan diskusi di milis KS tentang makna sasak yang pagah. Rasanya diskusi ini juga baik diikuti oleh pembaca lainnya di luar milis.
Oleh karena itu saya berinisiatif mengupload.
Artikel bisa diturunkan atas permintaan penulis.
1
Pemban KS juga mengundang segenap pembaca untuk turut meramaikan.1
July 07, 2009
M. Roil Bilad: ...
Tiang orang praye--- gak tahu diri apakah pagah apa tidak. Tapi yang tiang rasakan, adalah pagah mempertahankan pemikiran yang dianggap benar. Dalam hal ini, tiang mengakui kalau tiang pagah.
Tapi konon papuk balok tiang juga bukan orang praye, mereka dari merang-lebak, persis ditengah-tengah bendungan batujai yang tergusur akibat dibangunnya bendungan batujai tersebut.
Jadi siapa orang praye yang sebenarnya??? Mungkin LWR lebih tahu-----
2
Salam,2
July 07, 2009
Bajang jangan lupa, kita memang selalu welcome dengan semua orang Sesama Bangsa Indonesia. Indonesia adalah sebuah negara kesatuan yang sesungguhnya tidak punya budaya melainkan terdiri dari budaya berbagai bangsa seperti halnya budaya bangsa Sasak, bangsa Jawa, bangsa Bali dll.
Pada suatu periode selama 32 tahun kekuasaan ada pada satu orang yang kuat. Saya tetap setuju dengan Pak Harto dengan caranya mengendalikan negara dengan sedikitnya 750 bahasa ini. Bahwa kita punya pemimpin import di Lombok, itu karena ada yang memaksakan. Bajang Sulye tentu tidak mengalami saat generasi saya dan sebelum saya, protes dan ditangkap. Setelah itu semua lebih terkendali mungkin sejak Dewan Mahasiswa dihapus. Kita selalu menginginkan pemimpin dari kalangan Sendiri bukan karena rasis tapi seharusnya memang demikian. Kalau ada pemimpin yang hebat dari orang luar kita dapat menerima asal sesuai dengan aspirasi kita semua. Zaman Orba tidak ada aspirasi aspirasian toh?.
Ciri khas Sasak adalah memiliki kebudayaan yang berkepribadian yang dipengaruhi budaya Melayu (Islam), Jawa dan Bali dan sedikit Bugis dan Banjar. Kita Punya Gamelan, Wayang dan Sastera lisan yang berciri kearifan lokal (genius lokal). Ciri utamanya adalah berwarna keislaman. Budipekerti yang kita terima turun temurun adalah dari tiga budaya itu.
Degradasi nilai budaya Sasak itu mulai merosot ketika ada oknum yang bertopeng budayawan membenturkan satu nilai dengan nilai lain yang sebenarnya sudah jadi dan mengkristal di gumi paer. Misalnya segala hiburan adalah bagian dari budaya umum. Budaya terdiri dari dua suku kata, budi – pengetahuan dan daya- upaya, usaha artinya Mengupayakan, menumbuhkembangkan, pengetahuan adalah alat untuk mentransfer nilai Budipekerti, Budi - pengetahuan dan pekerti - kejujuran. Pengetahuan dan kejujuran itu adalah alat pembentukan karakter utama menuju integritas seorang manusia. Manusia sejati mempunyai integritas kuat. Integritas kuat berisi ilmu pengetahuan dan kejujuran. Inti dari pada akhlak itu adalah pengetahuan dan kejujuran. Oleh karena itu orang berilmu dan jujur dapat melaksanakan agamanya dengan sangat baik. Manusia religius inilah ciri utama bangsa Sasak.
Ciri khas kita yang paling menonjol yang masih bisa kompak kita sebut dan setujui adalah PAGAH. Pagah berasal dari bahasa Kawi PAGEH mengandung makna Keteguhan, Ketabahan, Kekokohan, Kesetiaan, Keseimbangan, Ketepatan, Kemantapan. Adakah kita sadar apa yang kita ucapkan? Ketika kita mengatakan Aku si Pagah atau Kamu si pagah, apakah yang dimaksudkan adalah bahwa kita mempunyai kualitas PAGEH itu?. Kalau kita memang tahu apa itu PAGAH maka kita sesungguhnya punya jati diri khas, yang Bajang inginkan. Manusia Pagah adalah manusia yang tahu siapa dirinya, apa yang diinginkannya dan kemana tujuannya melangkah.
Mengapa ciri khas kita menghilang, karena dunia materialisme memang memerlukan masyarakat yang tak kuat akar budayanya. Maka kitapun mengalami apa yang dialami oleh sebagian besar bangsa di dunia yang menukar identitas diri dengan materi. Budayawan bertopeng itu menjual barang murah seperti musik dan lagu yang menonjolkan seks, tarian erotis dan segala kegiatan yang bersifat hedonis semata yang membunuh kreatifitas dan nilai peradaban kita demi mengeruk keuntungan duniawi.
Bajang, panjang sekali bicara kita tapi mungkin ini sekedar menggugah hati dan fikiran kita untuk dapat mengembangkan pembicaraan kearah yang lebih dahsyat lagi.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (2)
M. Roil Bilad: ...
Tulisan diatas merupakan jawaban HRJ atas pertanyaan dan diskusi di milis KS tentang makna sasak yang pagah. Rasanya diskusi ini juga baik diikuti oleh pembaca lainnya di luar milis.
Oleh karena itu saya berinisiatif mengupload.
Artikel bisa diturunkan atas permintaan penulis.
1
Pemban KS juga mengundang segenap pembaca untuk turut meramaikan.1
July 07, 2009
M. Roil Bilad: ...
Tiang orang praye--- gak tahu diri apakah pagah apa tidak. Tapi yang tiang rasakan, adalah pagah mempertahankan pemikiran yang dianggap benar. Dalam hal ini, tiang mengakui kalau tiang pagah.
Tapi konon papuk balok tiang juga bukan orang praye, mereka dari merang-lebak, persis ditengah-tengah bendungan batujai yang tergusur akibat dibangunnya bendungan batujai tersebut.
Jadi siapa orang praye yang sebenarnya??? Mungkin LWR lebih tahu-----
2
Salam,2
July 07, 2009
Sasak Mengadu Kenari Pecah
[Sasak.Org] Pulang ke kampung halaman adalah kalimat paling romantis yang ada di benak setiap anak dasan. Di Prancis orang menyebutnya Retour aux Champs, kalau orang kota mungkin tidak punya istilah seromantis yang kita punya. Yang jelas adalah bahwa ditiap dada anak dasan ada kemauan baik yang tak pernah padam untuk pulang dan berbagi. Dasan kami yang sunyi telah melahirkan begitu banyak orang penting yang mendiaspora di seluruh dunia. Ketika pulang mereka sudah hampir renta, pulang lihat lihat lalu hilang lagi. Paling banter sekedar meramaikan jamaah masjid sesudah itu mati. Di makamlah kita mengetahui sang tokoh adalah orang yang pernah mengukir prestasi, mencapai pangkat dan jabatan tinggi di negeri orang. Jadi dasan ini hanya melahirkan, mengasuh dan membesarkan lalu menerimanya kembali dalam keadaan tua, luka, luruh dan beku, sesudah pohon pohon yang ditanam papux balox tumbang semua.
Kami pernah punya gubernur, bupati, mayor, kolonel, doktor dan professor yang asli anak dasan tapi bersama mereka kami hanya diajak Pelagax Lekong Belax, Mengadu Kenari Pecah!. Bagaimana jadinya kalau dua kenari yang sudah pecah dibentur benturkan, sudah tentu isinya yang gurih dan nikmat tak dapat disantap karena jadi remah bercampur pecahan cangkang dan tanah. Sesudah itu bubar dengan rasa aneh, senang dan jengkel. Senang bagi yang iri karena orang lain tak dapat menikmati. Jengkel karena mau menikmati tidak bisa. Aneh karena perbuatan ini dilakukan seolah ini adalah tradisi yang dibudi dayakan.
Ketika para Sasak diaspora pulang kampung, umumnya pada saat hari raya, keadaan dasan tentu lebih meriah dan gembira. Ritual sekali setahun akan diupayakan sedapat mungkin lain dari yang lain, sebisanya yang tidak ada diadakan, yang biasa dibikin luar biasa bahkan yang tidak biasapun dijadikan biasa. Pada hari itu terjadi pemborosan, penghamburan dan ekstasi meliputi perasaan anak dan orang dewasa. Satu Minggu berbinar binarlah wajah dasan. Selanjutnya 11 bulan 3 minggu, cerita mengalir sedih, tragids dan kadang mencekam. Pelagak Lekong Belax, adalah aktifitas menunggu waktu, padahal waktu tak pernah datang. Waktu dianggap datang dan pergi padahal waktu jauh lebih dahulu hadir dari pada papuk balok toker goneng. Kitalah yang ditunggu oleh waktu namun karena bongoh bin belok ajum kita menganggap diri sebagai tokoh utama yang duduk disinggasana untuk dilayani oleh sang waktu.
Pelagak Lekong Belax adalah ungkapan yang disamapaikan oleh Sasak Lokax kita untuk menyindir orang orang yang banyak berbuat sia sia, menghabiskan waktu melonjak lonjak girang di tanah lapang. Papux Balox kita telah membuat Brugax sejak zaman dahulu kala. Tempat itu adalah padepokan khusus untuk berkumpul dalam rangka melengkapi dan mengisi diri dengan senjata ilmu dan agama. Para Sasak Lokax bergilir memberi kuliah dalam rangka membangun karakter pepadu dan dedare yang tangguh. Ilmu mereka adalah budi pekerti. BUDI artinya pengetahuan KRTI artinya kejujuran.Dari Brugax itulah muncul para Sasak Kelet yang kelak sebagian menjadi Sasak Lokax. Mereka inilah yang sanggup meneruskan nilai nilai kesasakan yang dapat membuat badan kita tegap dan wajah kita sumringah.
Saat saat runtuhnya tanah Selaparang, di ujung barat Jawa para penguasa mabuk oleh anggur Porto atau Malaga yang dibawa orang asing yang mengincar kekayaan negeri ini. Setelah mabuk para raja dan pangeran bertelanjang melepaskan tanah tanahnya yang luas untuk dikuasai orang asing. Dalam keadaan mabuk itu mereak kehilangan semuanya termasuk kemerdekaannya. Manusia dimanapun sama saja, kalau hitungannya sudah tepat mereka bisa naik, turun atau hancur. Semuanya adalah akibat tangan mereka sendiri. Ketika memasuki gumi Selaparang, pesawat berhenti tepat di depan banguna besar bebentuk Brugax. Inilah satu satunya warisan yang masih dibanggakan bangsa Sasak. Keluar dari bandara, semua gedung besar bentuknya adalah brugax. Di pintu masuk setiap rumah sepanjang jalan sampai ke Selong, di kiri kanan dihiasi brugax kecil seperti tempat menaruh sesajen. Mengapa brugax ikut ikutan seperti pelagax lekong belax?. Seperti rongsokan yang tidak dilirik orang.
Para Sasak Lokax dan Sasak Kelet enggan bersuara karena semakin banyaknya Sasak Lebung yang tidak mau menghiraukan nasihat. Taka ada gunanya memberi wejangan karena tidak ada apresiasi lagi, masing masing orang bahkan tidak mendengarkan diri. Mereka tetap menenggak arak meskipun nuraninya berbisik HARAM. Mereka tetap mencuri meskipun hati kecilnya meronta. Lambat laun tak ada lagi bedanya antara yang satu dengan yanag lain, saking banyaknya maling dan pemabuk, khatibpun takut menyebutkan ayat ayat yang melarang tindakan mabuk dan maling, sebab jamaah bisa tersinggung dan mesjid yang 1000 itu bisa sunyi.
Saat kritis itu dimulai dari Brugax juga, disiplin yang ikut rapuh ditelan materialisme, mengubah peri laku para sesepuh kita. Mereka ingin ikut menikmati kesenangan sesaat. Mereka suka pakaian dan makanan mewah. Ketika perut semakin membuncit otak makin bebal dan hati jadi tumpul. Apakah yang tersisa yang dapat dipersembahkan kepada generasi baru bangsa Sasak?. Brugax disepanjang jalan antara Ampenan sampai Labuhan Lombok paling bagus berfungsi sebagai tempat ronda sesaat. Lebih banyak digunakan untuk main kartu, mabuk dan bejorax. Memang kegiatan melengkapi diri atau mempersenjatai diri pernah dan sempat dilakukuan di masjid masjid. Tapi Sejak ustad jadi PNS dan kiyai jadi deputat, tinggal anak anak tanggung yang membimbing adik kecilnya membaca Alif Ba Ta, sudah itu mari kita begawe untuk khataman Al Qur'an.
Gumi Sasak penuh oleh orang berperut buncit, berhati tumpul dan otaknya bebal, darimanakah kita mulai?. Dari diri sendiri, Bagi yang muda dan bersemangat hentakkan kaki tiga kali sembari mengulang syahadat dan takbir 3 kali, lalu singsingkan lengan baju beriuk mengajak bicara semua anak bangsa bahwa kita harus kembali ke Brugax karena jika tidak segera kembali bangsa ini akan menjadi pakar ilmu pelagax lekong belax!. Kepada yang punya anak, mulailah membuat anak jadi militant, dengan membangun akidah yang kuat dan tradisi mencintai ilmu. Kehancuran anak dimulai saat orangtua sangat cinta dan takut kehilangan anak, sehingga rusaklah anaknya itu tanpa disadari.
Kepada Sasak diaspora, mari kita berbuat sesuatu tanpa menuggu; nanti kalau sudah kaya, nanti kalau sudah cukup, nanti dulu karena sekarang saya sedang ambil doktor, nanti dulu kalau sudah pensiun. Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi! Waktu tidak memerlukan kita, dia lebih tua dari kita, maka berhentilah mengadu adu kenari yang sudah pecah itu. Aku tak akan lupa Tanah Selaparang yang melahirkanku, menimangku, membesarkanku dan aku tak mau sekedar lewat diangkut orang dengan gorong batang dengan upacara membesar besarkan apa yang kulakukan hanya di negeri orang. Setidaknya aku ingin berkata kepadamu wahai anak bangsa Sasak, "Bacalah dengan nama Tuhanmu ….".
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yanga ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (1)
Nazar: ...
Satu lagi karya miq junep yang menghantam ulu hati..
tiang tetap optimis bangsa sasak akan menemukan kembali jati dirinya, menjadi sasak kelet yang mampu berbuat untuk bangsa sendiri dengan tetap berpegang teguh akidah..
Mudah2an kami sasak odak ini bisa berbuat lebih banyak sehingga tidak seperti yang dikatakan miq junep..
"Dasan kami yang sunyi telah melahirkan begitu banyak orang penting yang mendiaspora di seluruh dunia. Ketika pulang mereka sudah hampir renta, pulang lihat lihat lalu hilang lagi. Paling banter sekedar meramaikan jamaah masjid sesudah itu mati."
1
July 06, 2009
Kami pernah punya gubernur, bupati, mayor, kolonel, doktor dan professor yang asli anak dasan tapi bersama mereka kami hanya diajak Pelagax Lekong Belax, Mengadu Kenari Pecah!. Bagaimana jadinya kalau dua kenari yang sudah pecah dibentur benturkan, sudah tentu isinya yang gurih dan nikmat tak dapat disantap karena jadi remah bercampur pecahan cangkang dan tanah. Sesudah itu bubar dengan rasa aneh, senang dan jengkel. Senang bagi yang iri karena orang lain tak dapat menikmati. Jengkel karena mau menikmati tidak bisa. Aneh karena perbuatan ini dilakukan seolah ini adalah tradisi yang dibudi dayakan.
Ketika para Sasak diaspora pulang kampung, umumnya pada saat hari raya, keadaan dasan tentu lebih meriah dan gembira. Ritual sekali setahun akan diupayakan sedapat mungkin lain dari yang lain, sebisanya yang tidak ada diadakan, yang biasa dibikin luar biasa bahkan yang tidak biasapun dijadikan biasa. Pada hari itu terjadi pemborosan, penghamburan dan ekstasi meliputi perasaan anak dan orang dewasa. Satu Minggu berbinar binarlah wajah dasan. Selanjutnya 11 bulan 3 minggu, cerita mengalir sedih, tragids dan kadang mencekam. Pelagak Lekong Belax, adalah aktifitas menunggu waktu, padahal waktu tak pernah datang. Waktu dianggap datang dan pergi padahal waktu jauh lebih dahulu hadir dari pada papuk balok toker goneng. Kitalah yang ditunggu oleh waktu namun karena bongoh bin belok ajum kita menganggap diri sebagai tokoh utama yang duduk disinggasana untuk dilayani oleh sang waktu.
Pelagak Lekong Belax adalah ungkapan yang disamapaikan oleh Sasak Lokax kita untuk menyindir orang orang yang banyak berbuat sia sia, menghabiskan waktu melonjak lonjak girang di tanah lapang. Papux Balox kita telah membuat Brugax sejak zaman dahulu kala. Tempat itu adalah padepokan khusus untuk berkumpul dalam rangka melengkapi dan mengisi diri dengan senjata ilmu dan agama. Para Sasak Lokax bergilir memberi kuliah dalam rangka membangun karakter pepadu dan dedare yang tangguh. Ilmu mereka adalah budi pekerti. BUDI artinya pengetahuan KRTI artinya kejujuran.Dari Brugax itulah muncul para Sasak Kelet yang kelak sebagian menjadi Sasak Lokax. Mereka inilah yang sanggup meneruskan nilai nilai kesasakan yang dapat membuat badan kita tegap dan wajah kita sumringah.
Saat saat runtuhnya tanah Selaparang, di ujung barat Jawa para penguasa mabuk oleh anggur Porto atau Malaga yang dibawa orang asing yang mengincar kekayaan negeri ini. Setelah mabuk para raja dan pangeran bertelanjang melepaskan tanah tanahnya yang luas untuk dikuasai orang asing. Dalam keadaan mabuk itu mereak kehilangan semuanya termasuk kemerdekaannya. Manusia dimanapun sama saja, kalau hitungannya sudah tepat mereka bisa naik, turun atau hancur. Semuanya adalah akibat tangan mereka sendiri. Ketika memasuki gumi Selaparang, pesawat berhenti tepat di depan banguna besar bebentuk Brugax. Inilah satu satunya warisan yang masih dibanggakan bangsa Sasak. Keluar dari bandara, semua gedung besar bentuknya adalah brugax. Di pintu masuk setiap rumah sepanjang jalan sampai ke Selong, di kiri kanan dihiasi brugax kecil seperti tempat menaruh sesajen. Mengapa brugax ikut ikutan seperti pelagax lekong belax?. Seperti rongsokan yang tidak dilirik orang.
Para Sasak Lokax dan Sasak Kelet enggan bersuara karena semakin banyaknya Sasak Lebung yang tidak mau menghiraukan nasihat. Taka ada gunanya memberi wejangan karena tidak ada apresiasi lagi, masing masing orang bahkan tidak mendengarkan diri. Mereka tetap menenggak arak meskipun nuraninya berbisik HARAM. Mereka tetap mencuri meskipun hati kecilnya meronta. Lambat laun tak ada lagi bedanya antara yang satu dengan yanag lain, saking banyaknya maling dan pemabuk, khatibpun takut menyebutkan ayat ayat yang melarang tindakan mabuk dan maling, sebab jamaah bisa tersinggung dan mesjid yang 1000 itu bisa sunyi.
Saat kritis itu dimulai dari Brugax juga, disiplin yang ikut rapuh ditelan materialisme, mengubah peri laku para sesepuh kita. Mereka ingin ikut menikmati kesenangan sesaat. Mereka suka pakaian dan makanan mewah. Ketika perut semakin membuncit otak makin bebal dan hati jadi tumpul. Apakah yang tersisa yang dapat dipersembahkan kepada generasi baru bangsa Sasak?. Brugax disepanjang jalan antara Ampenan sampai Labuhan Lombok paling bagus berfungsi sebagai tempat ronda sesaat. Lebih banyak digunakan untuk main kartu, mabuk dan bejorax. Memang kegiatan melengkapi diri atau mempersenjatai diri pernah dan sempat dilakukuan di masjid masjid. Tapi Sejak ustad jadi PNS dan kiyai jadi deputat, tinggal anak anak tanggung yang membimbing adik kecilnya membaca Alif Ba Ta, sudah itu mari kita begawe untuk khataman Al Qur'an.
Gumi Sasak penuh oleh orang berperut buncit, berhati tumpul dan otaknya bebal, darimanakah kita mulai?. Dari diri sendiri, Bagi yang muda dan bersemangat hentakkan kaki tiga kali sembari mengulang syahadat dan takbir 3 kali, lalu singsingkan lengan baju beriuk mengajak bicara semua anak bangsa bahwa kita harus kembali ke Brugax karena jika tidak segera kembali bangsa ini akan menjadi pakar ilmu pelagax lekong belax!. Kepada yang punya anak, mulailah membuat anak jadi militant, dengan membangun akidah yang kuat dan tradisi mencintai ilmu. Kehancuran anak dimulai saat orangtua sangat cinta dan takut kehilangan anak, sehingga rusaklah anaknya itu tanpa disadari.
Kepada Sasak diaspora, mari kita berbuat sesuatu tanpa menuggu; nanti kalau sudah kaya, nanti kalau sudah cukup, nanti dulu karena sekarang saya sedang ambil doktor, nanti dulu kalau sudah pensiun. Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi! Waktu tidak memerlukan kita, dia lebih tua dari kita, maka berhentilah mengadu adu kenari yang sudah pecah itu. Aku tak akan lupa Tanah Selaparang yang melahirkanku, menimangku, membesarkanku dan aku tak mau sekedar lewat diangkut orang dengan gorong batang dengan upacara membesar besarkan apa yang kulakukan hanya di negeri orang. Setidaknya aku ingin berkata kepadamu wahai anak bangsa Sasak, "Bacalah dengan nama Tuhanmu ….".
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yanga ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Comments (1)
Nazar: ...
Satu lagi karya miq junep yang menghantam ulu hati..
tiang tetap optimis bangsa sasak akan menemukan kembali jati dirinya, menjadi sasak kelet yang mampu berbuat untuk bangsa sendiri dengan tetap berpegang teguh akidah..
Mudah2an kami sasak odak ini bisa berbuat lebih banyak sehingga tidak seperti yang dikatakan miq junep..
"Dasan kami yang sunyi telah melahirkan begitu banyak orang penting yang mendiaspora di seluruh dunia. Ketika pulang mereka sudah hampir renta, pulang lihat lihat lalu hilang lagi. Paling banter sekedar meramaikan jamaah masjid sesudah itu mati."
1
July 06, 2009
Sasak Yang Busuk Itu
[Sasak.Org] Dini hari yang dingin dan sunyi di bulan april bertahun tahun yang lalu, angin menghembus daun bambu sampai batangnya bergesekan dan mengalunkan musik seperti cello yang teratur mengiringi nyanyian malam. Inax membangunkan amax karena ada suatu yang mendesak. Sebelum amax sadar dari tidurnya yang masih terbawa saat berjalan, inax sudah terduduk dilantai. Tangannya sempat menggelar tikar pandan didepannya. Dalam kepanikan itu, amax membuka pintu untuk mencari bantuan. Tetangga sebelah yang terusik bangun dan mempelajari apa yang terjadi. Setelah amax berbasa basi, tetangga segera memberi pertolongan, semuanya serba cepat. Seorang papux tua yang menjadi tamu di tetangga itu, datang menolong persis ketika jabang bayi itu keluar dan berteriak keras: " Aku datang wahai dunia!". Berulang teriakan itu menghentak pagi yang sunyi membuat ensambel musik pohon bambu, angin dan nyanyian si bayi. Diantara konser itu orang orang bicara keras dan pelan seperti penyanyi rap dari Amrik.
Papux itu, seorang belian dari dusun Jantuk, kelak oleh karena itu aku dipanggil "Jantuk" untuk merendahkanku. Papux itu mengangkat kedua kakiku tinggi tingi, kepalaku menggantung bingung, dia bilang kepada inax: " dengar semeton, anakmu ini akan pergi sangat jauh, jauh sekali". Inax menjawab dengan sangat lembut: "amin, mudahan dia dapat menjadi pembebas bagi anak bangsanya dimanapun dia berada". Amax yang berada disekitar dua wanita hebat itu berseru: "Amin ya Rabbal Alamin". Sesudah itu, amax mengazankan dan ikomah sekaligus lalu menyambar kitab yang selalu dia baca. Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.
Setiap manusia lahir sebagai anak zamannya, angin politik selalu jahat menerbangkan impian orang kecil untuk hidup tentram dan damai, kalau sejahtera itu adalah buah dari tentram dan damai. Tentram dan damai adalah buah dari orang berserah diri. Aku menikmati hidup kanak kanakku dalam tembang kedamaian orang dasan yang berpeluh dalam perjuangan menjaga hati dan fikiran. Tidak lama aku tidur bagai biji bambu yang bertapa selama 7 tahun didalam tanah sebelum ia tumbuh dengan kecepatan 11 cm per malam!. Aku mengalami mimpi buruk yang dahsyat saat tidur 7 tahunku itu. Selax ngeres, bebai, maling, ancul ancul ditambah lagi peristiwa yang mengukir sejarah bangsaku. Pemberontakan panjang dan melelahkan, pembunuhan atas anak bangsa satu oleh anak bangsa yang lain. Tembang indah anak dasan sempat menghilang karena, musik malam diganti deru mesin truk dan bunyi roda menggilas batu jalanan. Berhari hari dalam beberapa bulan anak dasan tidak cukup tidur karena tiap malam ada keributan dan orang tua berbisik dalam bicara, ada yang akan dibunuh!. Meskipun berbisik tapi kami anak kecil mendengar juga dan gigi gigi kami bergetar seperti per berspiral yang di pantul pantulkan. Hati kami kecut dan ludah rasa asam. Kata orang truk truk itu mengangkut PKI ke Kembang Kuning atau Lepak untuk dibantai. Lain waktu Kelompok etnis China yang jadi sasaran. Dasan kecil kami yang tentram menjadi ajang mengerikan sebab disisi selatan melintas jalan lingkar luar menuju timur yang membelok ke jalan raya satu satunya. Berselang seling, tiap malam ada teriakan dari tetangga. Setelah maling menggerayangi , Tau Selax ngeres menghembus jampinya lalu truk truk tancap gas melintas, alangkah panjangnya rasa takut.
Dua tahun pertamaku sejak aku berteriak: "Aku datang wahai dunia!". Aku sama sekali tidak diterima oleh gumi ini, dasan ini, angin ini, matahari ini, bulan ini dan entahlah bintang bintangpun enggan menyapaku. Bagaimana tidak, sekujur tubuhku melepuh dan membusuk. Aku dapat menguraikan keadaan tubuhku tiap incinya karena aku disiksa lagi saat aku SD, penyakit yang mirip aku sandang lagi beberapa kali di tahun tahun sekolah dasarku. Saat UNICEF turun tangan membagikan alat cangkul dan sabun mandi atau susu, saat itulah keadaan negeri sangat menyedihkan, namun lagu "Ku Lihat Ibu Pertiwi" tidak dilantunkan, karena kami tak sempat nembang, tiap tiap mata kanak kanak yang ku tatap ada tersirat rasa khawatir dan was was. Semua orang tampak seperti dalam bayangan bagai difilm film yang diberi nuansa warna dalam mimpi. Orang di dasan yang jauh menderita kelaparan, ada yang mati karena tak punya makanan setelah tanaman rusak dan tak bisa dirawat. Penyebabnya selain faktor alam juga karena tak berhenti rusuh. Disebelah rumahku ada gubuk kecil dan ada papux Anci yang menderita penyakit gawat, tapi hebatnya tak dikucilkan, dia dirawat oleh semua orang. Aku suka masuk ke gubuknya.
Dalam keadaan membusuk selama dua tahun, inax merawatku dengan linangan airmata tumpah. Yang luar biasa lagi semua saudara inax berbondong bondong menolongku. Mereka datang menembus pekatnya malam menelusuri jalan berduri dan berbatu. Kalau sekarang kita jalan kaki Selong - Korleko tentu sangat cepat sampai tapi dahulu jalan tikuslah satu satunya jalur dan turun naik sungai berpasir pula. Berangkat sore bisa tiba jam 4 pagi. Demikian mereka berbondong menawarkan apa saja agar berhentilah airmata inax menetes. Bukan aku hebat atau obat obatan mereka yang dahsyat, penyakit itulah yang telah bosan menggerogotiku, aku tak mati mati, malah mataku melotot terus. Mungkin aku berkata : " teruslah kau makan tubuhku sampai puas!". Umur tiga tahun aku memakai celana monyet kuning emas yang sudah suram karena celana itu warisan kakakku yang enam tahun lebih tua. Kami bermain ke jalan raya di depan Penjara. Diseberang jalan ada kebun raya kecil yang bagi kami anak kecil besar sekali. Pohon pohon kenari besar sekali, kami menganggapnya sebesar rumah!. "Marax belex bale", kata kami kalau bercerita. Itulah pertama kali aku dapat mengucapkan satu kata: " Ibu Pati". Kakak dan amaxku tertawa dan semua juga ikut tertawa. " Bupati" kata kakakku. Aku Diam karena malu. Kata pertama itu masih melekat diingtanku bersama burjo, cao dan gule gaet.
Aku pergi mendaftar ke SD, sendiri, rupanya amax sangat percaya kepadaku sejak kecil, bukankah akau sudah seharusnya mati membusuk, tapi tetap survive?. Aku datang Ke SD I di dekat kuburan umum Selong dan aku dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Waktu itu SMA Selong baru beberapa tahun dibuka, SD kami dipakai pagi hari dan siang hari giliran kami. Aku pergi ke sekolah jam 12.00 atau sebelumnya sedangkan SMA selesai jam 13.00 atau lebih SD mulai jam 13.00 sampai jam 17.00 kelak waktu di SMA Selong aku masih bertemu guru yang suka aku lihat mengajar ilmu ilmu yang aku tidak ketahui saat itu. Merekalah guru terakhir di gumi Sasak ini. Setelah mereka SDM yang menjadi pengajar berubah warna dan rupa, sikap dan perilaku sangat jauh seperti " jaox lalang gunung!".
Setelah kerusuhan bertubi bosan menghantui dasan kami, berangsur keadaan tenang tapi hidup masih susah sekali. Di musim kering pengemis berbaris di jalan jalan dan kami suka memesan ubi dari Paox Motong, makanan kami bermacam macam. Pernah kami makan ketan selama berbulan bulan karena kami sekeluarga sangat suka ketan, amaxpun menanam ketan, bukan padi seperti petani lainnya. Lain waktu kami makan padi padian sperti gandum biji, bulgur dan sorgum kalau umbi umbian lengkap kami santap sperti uwi, gembili, sudax, gadung, talas, ganyol dsb.. Kami punya kambing, ayam, bebek dan sapi. Aneh sekali susu kambing kami tidak ada yang memerahnya. Pengetahuan ternyata sangat berpengaruh pada pola makan. Sekarang susu kambing sangat dicari, sebab orang tahu manfaatnya. Celakanya wabah koreng melanda dasan dan semua orang kena, ada yang sangat parah sampai bopeng, aku juga tak luput, sekujur tubuhku bercak bercak dan ada yang bernanah, rasanya perih dan teriris. Lama sekali rasanya penderitaan itu, jalanku pincang dan aku harus disuntik penesilin beberpa kali. Aku berpikir bahwa dendam penyakitku yang membuatku busuk dua tahun rupanya bangkit dari tidur, dia tidak hilang, dia bercokol ditubuhku dan suatu saat yang ditentukan akan muncul lagi. Yah, aku tawakkal kepada Allah yang memberiku penyakit dan rezeki. Aku hanya bersandar kepadaNYA. Inax menyerahkanku kepadaNYA dan aku juga menyerahkan diriku kepadaNYA. Kalau bukan DIA aku pasti tidak hidup, tidak sakit dan tidak mati meskipun busuk, bahkan bususkkpun dari DIA juga.
Sekolah Dasar aku lalui dengan tanda Tanya besar, aku pernah bertanya tentang Tuhan, inax amax selalu dapat menerangkan dengan caranya dan aku puas tapi aku bertanya untuk apakah orang bersekolah?. Inak amaxku tak pernah memeberiku jawaban pasti, kalau untuk belajar tentu dirumah atau dimana saja bisa. Bukankah kakek moyang kami yang bernama Papux Guru tidak pernah makan genteng sekolahan tapi dia menjadi guru bangsanya. Aku kehilangan minat bersekolah setelah masuk SMP dulu hanya satu SMP di Selong. Aku kena malaria dan berbagai penyakit bahaya lain yang merontokkan rambutku, sampai obat keras ku telan semua tapi malaria sungguh dahsyat. Hingga sekarang masih ada aku dengar orang terkena malaria. Semua badan menggigil. Aku terkena malaria saat SMP dan SMA mengerikan sekali. Bergiliran orang dasan menggigil panas tapi dingin, dingin tapi panas. Semua berputar dan perutpun bergejolak memuntahkan semua yang diminum atau dimakan.
Waktu kelas tiga SD aku sakit entah apa tapi aku muntah dan panas demam, rambutku ada yang rontok, aku sering dijenguk inax kake yang bekas perawat, dia banyak memberi instruksi pada inax. Pada suatu saat di hari hari itulah malaikat menggendongku terbang ke langit dan ku lihat alam smesta yang maha luas. Aku mampir di planet planet asing yang kosong saat aku kelelahan aku minta pulang dan aku ada di dipan besar satu satunya di rumah kami. Beruntung sekali aku dapat melihat alam raya ini dari atas, tapi rasanya terbang dan apalagi saat pulang tak pernah lagi aku rasakan. Kalau itu mimpi dari manakah dia datang. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang pernah kita alami dan kita ketahui?. Aku tak tahu apa apa tentang planet dan alam semesta. Rasanya aku ingin belajar tentang alam ini, tapi sampai aku SMA tak ada seorangpun menjelaskan tentang astronomi lebih detail. Jangankan astronomi aku Tanya apa bedanya masuk IKIP dan Universitas saja tak ada yang dapat menerangkan kepadaku kecuali, satu jadi guru, satu jadi PNS. Bagaimana mau maju, jalan keluar saja tidak tahu.
Peristiwa besar di dasan kami, tak pernah dicatat dalam buku sejarah, kalau sekarang kita susun berarti kita membuatnya bukan mencatat kejadia sebenarnya. Aku mencatat dalam ingtan dari cerita inax, bagaimana HM Faisal memimpin pemberontajan di gedung Gabimas didepan rumah kami. Amax Iman belo bulu adalah salah satu pahlawan besar bersama tokoh lain dia berjuang merebut kemerdekaan. Kata merebut ini aku banggakan sekali, sebab sesungguhnya kita merdeka dan telah dirampas kemerdekaan kita itu oleh bangsa Asing,
Jangan kira pemuda dasan tidak hebat, aku agak lupa suatu waktu kakak kakak kami yang di SMA Selong dan semua pelajar yang aktif berdemo besar, mungkin memperotes suatu kebijakan pemerintah. Tiba tiba dasan ribut karena ada dua yang tertembak yaitu Kak Nanang dan kak Saleh. Mereka ini akhirnya ditangkap juga. Lama kemudian aku dengar kak Saleh jadi pelaut dan kak Nanang jadi Bos di Aceh. Aku heran mengapa setiap pepadu pintar pergi dan tak kembali ke Dasan?. Mungkinkah dasan ini memang ditakdirkan melahirkan orang hebat untuk pergi jauh?.
Minat belajarku jeblok waktu SMP, aku capek disuruh menghafal, aku capek dengan rumus, aku capek mondar mandir dan puncaknya aku pilih tidak naik kelas. Kawan kawanku hanya mentertawakanku, Yusuf Akhyar yang paling pinter hanya memandangku geli. Setelah aku tidak naik aku mengulang lagi tapi aku seperti anak autis dan bergerak sesukaku. Suatu hari aku diadu di arena oleh guru kami Pak Syafari. Semua murid menontonku beradu lawan Awan Jeweh. Pertarungan berakhir seri. Sementara kesukaanku berkoresponden dengan berbagai radio dan tokoh dunia terus aku lakukan, aku makin banyak menerima surat dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang terkesan adalah aku berkoresponden dengan mantan tentara AS di Guam. Dia pernah terbang ke Rambang dan Taliwang di masa PD II, sayang kami putus, karena hilang kontak. Lalu aku berkoresponden dengan pusat misionaris terbesar di Amerika yang berpusat di Ekuador. Bertahun kemudian aku menguasai bahasa Spanyol karena mereka banyak memberi inspirasi. Aku berkoresponden dengan Igor seorang tokoh radio yang bekerja di radio Moskwa dan terakhir di BBC London, dia bersedia mengajariku berbahasa Rusia tapi tidak kesampaian. Siapa mengira sekarang aku lancar berabhasa Rusia. Ah, masih banyak lagi kawan kawan koresponden yang mempegaruhi hidupku.
Selain berkoresponden aku suka filateli dan perangkoku boleh dibilang terlengkap di NTB meski aku tak pernah ikut lomba. Salah satu koleksiku adalah perangko yang masih utuh dengan amplopnya yang dikirm dari berbagai tempat oleh Le Mujitahid Amien. Orangnya tak pernah ku kenal secara pribadi tapi adik adiknya adalah kawan sekolah dan sekelasku. Dunia ini Tak selabar daun kelor tapi tiba tiba menjadi kenyataan karena tokoh ini tidak hanya memberiku inspirasi lewat amplop berprangko asing, tapi detik inipun kami terhubung lewat Sasak.org. nasib manusia selalu mencari titik berkumpulnya. Dimana semua cita cita baik akan menyatu, karena kekuatan energi cita cita mulia untuk menjayakan anak bangsa.
Dalam kenyataan hidup aku terbang mengikuti arah angin bertiup, tepat seperti waktu kepalaku diayun ayun Papux Jantuk, kiranya doa tiga orang hebat itu merasuk dalam otakku dan saat pencarian diri, tiap tiap manusia dasan membangun karakterku dengan sebutir pasir termasuk Kak Muji tanpa dia ketahui. Aku Si Sasak Busuk itu sedang menunggu malaikat untuk mengembalikan aku dari pelanet asing ini, aku lelah dan haus. Aku ingin pulang dan mengajarkan anak anak dasan terbang dengan sayap keikhlasan, dengan roda kecerdasan, dengan tenaga dahsyat reaktor ketawakkalan. Aku ingin anak dasan terbang di awang awang dengan segala kemungkinan terbentang di bawah sana. Aku ingin pulang…
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin . JUNEP
Comments (9)
Nazar: ...
lagi dan lagi miq junep selalu menginspirasi..
suatu saat tiang juga akan pulang, menjadi guru untuk anak2 dasanku.. cita2 yang belum kesampaian samnpai saat ini walaupun telah dimulai perlahan2 dengan membantu anak2 dasan yang bercita2 tinggi bersekolah..
1
Semoga Allah memudahkan dan mewujudkan semuanya
July 02, 2009
mansur: ...
Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.
Tiang tdk sempat melihat bentuk buku itu, tapi apakah tiang yang salah dengar, kalu 2
didusun tiang orang2 tua menyebutnya "Perukunan"
2
July 03, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam,
Tulisan meton HJUNEP yang menggelitik ini " sasak yg busuk itu " membuat disket otak tiang yang sudah banyak spamnya niki agak hang sedikit , maklumlah sudah rada sepuh karena senior an dari
beliau ini,-
Tiang jeri berkutat kebelakang mundur berpikir seperti nonton film " time tunnel " yang ber episode -
seputaran tahun 1990 lalu, cuma menambahkan kejadian dari tulisan meton niki, seingat tiang priode
tahun 1965 - 1966 waktu itu setelah meletusnya gunung agung yang menggelapkan hampir seluruh bali dan lombok di siang hari dan debunya hampir menjangkau seluruh kawasan daratan lombok dan kejadian pemberontakan PKI tahun 1965 yang menyebabkan tiang adalah "korban" naik klas selama 1,5 tahun dari klas 5 ke klas 6 disekolah SD yang satu satunya di tanjung teros ( sekarang kampung ini berpisah jadi kelurahan tanjung dan desa teros), seingat tiang para tokoh PKI golongan A dihabisi diseputaran antara tanjung - kembang kuning tepatnya di dasan sawe sekarang tempat ini sudah jadi perumahan masyarakat setempat dan satunya lagi antara tanjung- dasan geres/korleko tepatnya dua kilometer dari gubuk tanggak sekarangpun kawasan itu sudah berdiri perumahan dan SD Negeri tanjung 2,3 ?.-
Kalau saudara kita yang keturunan China ( mereka mereka ini adalah penjual barang sembako dan kelontong ), ada 6 keluarga di tanjung saat itu dan kebetulan anak anaknya adalah teman tiang sekolah SD dan main layang layang dan beselodoran, saat " pembantaian " mereka mereka semuanya pada sembunyi dan dilindungi oleh keluarga tiang yang kebetulan ditokohkan disana, cuman 3 orang yang terbunuh dan yang lainnya diselamatkan dan dibawa ke mataram, pendek cerita tahun 1969 - 1972 setelah agak dewasa tiang ketemu dengan mereka mereka ini diseputaran ampenan dan ternyata si pipo, asun, ayung menjadi juragan textile di kawasan kapitan ampenan, mereka mereka ini menjalin hubungan kembali dengan keluarga tiang dan sekali kali atas pesanan ibunya atau enciknya suka mengantarkan kue ringan ketempat tiang di asrama lombok timur di karang taruna mataram, Allah SWT memang punya rencana suatu saat tanpa disengaja tiang bersebelahan tempat duduk dg si pipo dalam penerbangan lombok - jakarta , ternyata beliaunya menjadi agent pabrik rokok terbesar di NTB, sampai di jakarta kami menyempatkan diri " makan malam " di restauran hotel dan bernostagia masa kecil dan cerita tentang kepedihan akibat dari pemberontakan PKI ini,- ( kalau ada waktu meton Hjunep coba buka cerita tentang saudara kita
keturunan yang ada diseputaran sisik - labuhan haji ? ),-
Meton HJunep ini memang betul belum pernah ketemu dengan tiang tetapi mungkin saja dulu waktu kecil siapa tahu ?, karena berdasarkan penelusuran dan " bakat intelejen kelas kampung" tiang niki ,karena orang tuanya " guru " dan almarhum ayah saya juga " guru " memudahkan ada interaksi
diantara keluarga guru tsb, tapi lepas dari itu yang penting selepuk dengan sasak " besemeton " apalegi sik lek diaspora niki,-
Yusuf Ahyar yang teman sekelasnya juga sekarang dah jadi Prof dan direktur lemlit Unram, kebetulan adalah sepupu tiang almarhum ayahnya adalah adik dari inaq tuan tiang, bulan lepas tiang sempat makan malam dengan beliau dan Prof sunarpi ( rektor Unram terpilih priode 2009 - 2014 ) di restauran taliwang bersaudara di panglima polim jakarta.
Jeri becerita pribadi ite ine ? leguk ndek ne ngumbe ngumbe so,karena perjalanan dari masing masing dengan ino berbeda beda, kebetulan tiang dit meton Hjunep ini dipertemukan kembali oleh yang Maha Kuasa, karena visi,mission yang sama barangkali ya ?
Jemak telanjutang malik ,-
Maju terus bangse sasak.
3
July 05, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam ,
Nazar juga yang kampungnya di kembang kuning,padahal dianya kelahiran Bogor, ALLAH SWT menemukan tiang dengannya di sesangkok niki,ternyata, ayahnya Mayor Rawitah Ashari ( kak itah )yang sering mampir di kumpulan anak anak lombok di bogor dan karena kegigihannya sempat kuliah atas saran kawan kawan disamping beliaunya jadi POMAD ( PASWALPRES ) di Istana Bogor dan SEKNEG Jakarta ,terakhir adalah anggota DPR Lotim dari Fraksi ABRI, setelah melanglang buana dari Bogor ke Flores menjadi komandan PM disana,balik ke Mataram dan pulang kampung ke selong adalah senior tiang di Bogor, yang jelas macam nazar ini cuma akan dapat cerita saja 4
dari meton Hjunep, he..he..
4
July 05, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam,
Tulisan meton HJUNEP yang menggelitik ini " sasak yg busuk itu " membuat disket otak tiang yang sudah banyak spamnya niki agak hang sedikit , maklumlah sudah rada sepuh karena senior an dari
beliau ini,-
Tiang jeri berkutat kebelakang mundur berpikir seperti nonton film " time tunnel " yang ber episode -
seputaran tahun 1990 lalu, cuma menambahkan kejadian dari tulisan meton niki, seingat tiang priode
tahun 1965 - 1966 waktu itu setelah meletusnya gunung agung yang menggelapkan hampir seluruh bali dan lombok di siang hari dan debunya hampir menjangkau seluruh kawasan daratan lombok dan kejadian pemberontakan PKI tahun 1965 yang menyebabkan tiang adalah "korban" naik klas selama 1,5 tahun dari klas 5 ke klas 6 disekolah SD yang satu satunya di tanjung teros ( sekarang kampung ini berpisah jadi kelurahan tanjung dan desa teros), seingat tiang para tokoh PKI golongan A dihabisi diseputaran antara tanjung - kembang kuning tepatnya di dasan sawe sekarang tempat ini sudah jadi perumahan masyarakat setempat dan satunya lagi antara tanjung- dasan geres/korleko tepatnya dua kilometer dari gubuk tanggak sekarangpun kawasan itu sudah berdiri perumahan dan SD Negeri tanjung 2,3 ?.-
Kalau saudara kita yang keturunan China ( mereka mereka ini adalah penjual barang sembako dan kelontong ), ada 6 keluarga di tanjung saat itu dan kebetulan anak anaknya adalah teman tiang sekolah SD dan main layang layang dan beselodoran, saat " pembantaian " mereka mereka semuanya pada sembunyi dan dilindungi oleh keluarga tiang yang kebetulan ditokohkan disana, cuman 3 orang yang terbunuh dan yang lainnya diselamatkan dan dibawa ke mataram, pendek cerita tahun 1969 - 1972 setelah agak dewasa tiang ketemu dengan mereka mereka ini diseputaran ampenan dan ternyata si pipo, asun, ayung menjadi juragan textile di kawasan kapitan ampenan, mereka mereka ini menjalin hubungan kembali dengan keluarga tiang dan sekali kali atas pesanan ibunya atau enciknya suka mengantarkan kue ringan ketempat tiang di asrama lombok timur di karang taruna mataram, Allah SWT memang punya rencana suatu saat tanpa disengaja tiang bersebelahan tempat duduk dg si pipo dalam penerbangan lombok - jakarta , ternyata beliaunya menjadi agent pabrik rokok terbesar di NTB, sampai di jakarta kami menyempatkan diri " makan malam " di restauran hotel dan bernostagia masa kecil dan cerita tentang kepedihan akibat dari pemberontakan PKI ini,- ( kalau ada waktu meton Hjunep coba buka cerita tentang saudara kita
keturunan yang ada diseputaran sisik - labuhan haji ? ),-
Meton HJunep ini memang betul belum pernah ketemu dengan tiang tetapi mungkin saja dulu waktu kecil siapa tahu ?, karena berdasarkan penelusuran dan " bakat intelejen kelas kampung" tiang niki ,karena orang tuanya " guru " dan almarhum ayah saya juga " guru " memudahkan ada interaksi
diantara keluarga guru tsb, tapi lepas dari itu yang penting selepuk dengan sasak " besemeton " apalegi sik lek diaspora niki,-
Yusuf Ahyar yang teman sekelasnya juga sekarang dah jadi Prof dan direktur lemlit Unram, kebetulan adalah sepupu tiang almarhum ayahnya adalah adik dari inaq tuan tiang, bulan lepas tiang sempat makan malam dengan beliau dan Prof sunarpi ( rektor Unram terpilih priode 2009 - 2014 ) di restauran taliwang bersaudara di panglima polim jakarta.
Jeri becerita pribadi ite ine ? leguk ndek ne ngumbe ngumbe so,karena perjalanan dari masing masing dengan ino berbeda beda, kebetulan tiang dit meton Hjunep ini dipertemukan kembali oleh yang Maha Kuasa, karena visi,mission yang sama barangkali ya ?
Jemak telanjutang malik ,-
Maju terus bangse sasak.
5
July 05, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, meton Hjunep..araq waktu bernostalgia dan menambahkan " sasak yang busuk itu " , Kak saleh dan Kak Nanang Amin ini dulu para pepadu selong, kecuali kak saleh yang tiang agak lupa, tetapi angkatan beliau ini banyak yang maju maju, kak nanang seangkatan dengan I dewa putu alam ( dulu sekolahnya di Bogor ) dan sempat di amrik sana sekarang jadi bos salah satu perusahaan asing di purwakarta, juga ada lalu sukarno jadi staff departemen pertanian di bogor,juga kakak tiang Le Zainul Ittikhad Amien selepas di thailand sana sekarang di Universitas Terbuka Dekan fakultas Ilmu sosial politik ,sempat jadi calon rektor tapi kalah , kalau kak nanang ,tiang ada tiga kali mampir di Lhouksemawe waktu beliau jadi Direktur SDM PT.Arun LNG,sekarang setelah pensiun beliau balik ke Malang kerumah istrinya disana karena beliau adalah jebolan UNBRA Malang, sekarang ada satu lagi sasak diaspora di Aceh sana , semeton kertasih suherman jadi penerus kak nanang,tahun lalu tiang sempat jumpa di pesta perkawinan anaknya Ir Akansio sabri Vice President PT. Arun LNG yang jadi jiran tiang di Bogor, adiknya nanang, saeful jangan jangan seangkatan hjunep sekarang masih disana beranak pinak dengan orang aceh, dulu tiang sering ke aceh kebetulan tiang bemukim di medan sumut jadi wakil kepala suku salah satu perusahaan asing membawahi sumatra dan juga ada adik tiang Le M.Helmy Amien jebolan Bogor kerja jadi kepala lab di PT. AAF ( asean aceh fertilizer )...ngomong ngomong nanang, angkatan beliau ini banyak yang berhasil,kebetulan juga Alm Bapak nya Nanang namanya Amin sama dengan Alm Ayah tiang dan kebetulan juga makam kedua orang tua kita ini bersebelahan di makam pahlawan sinar rinjani selong , kalau pulang kampung saya selalu mampir di makam beliau beliau ini,-
Pepadu peadu selong terutama seputaran gandor banyak sekali yang berhasil dari trahnya "lalu sahak " ada satriawan,iwan,amat, dari trahnya" Mahruf " ada ikhsan dan dari trahnya " TG zainal " ada Muhyi ( anggota DPD ) dan uyok pemilik taliwang bersaudara....sebenarne lueq sik jeri leguk seperti ongkat semeton jarang sik ulek ,-
Mudah mudahan sasak.org ini membuka wacana kita untuk " PULANG " dengan cara lain tidak harus "badan kita" sukur kalau bisa modelnya pak guru mansur...he...he...
coba kita wacanakan terus, insya ALLAH.
Maju terus bangse sasak.
6
July 06, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, bernostagia bareng hjunep lek sasak.org ini menambah banyak semeton sasak yang saya temukan , salah satunya NAZAR ( AJENG GANTENG ), tiang sudah dua kali ketemu waktu pertama di kantornya di Bank Indonesia Jl. thamrin Jakarta , kebetulan tiang kesana jumpa kawan, keduanya di tete betu lombok waktu sasak.org kopi darat disana waktu lebaran tahun lalu, yang menariknya nazar yang kelahiran bogor adalah anak dari senior tiang Rawitah Ashari ( kak itah ) beliau ini adalah tentara ( POMAD sekarang PASWALPRES ) yang bertugas di istana bogor dan jakarta , kak itah ini sekali kali datang ke tempat anak anak lombok berasrama dan mengakui saja asrama lombok padahal rumah kontrak patungan rame rame, kak itah ini sering kami daulat untuk melanjutkan sekolah, alhamdulillah beliau menyelesaikan sarjana mudanya dan sampai berpangkat mayor, beliau pulang kampung sebelumnya jadi komandan CPM ( pomad ) di Ende, flores dan balik ke Mataram ,terakhir jadi anggota DPR fraksi ABRI di selong sampai masa pensiunnya....generasinya sekarang NAZAR ini sudah kelihatan "bertualangnya" untuk menjadi pepadu sasak. alhamdulillah....tiang yang sepuh ini selalu membangkitkan sasak diaspora siq bajang bajang untuk terus berkiprah dibidang masing masing, suatu saat anda anda ini akan jadi " pemimpin " ditanah sasak...dan mulai sekarang dan seterusnya " merapatkan barisan " ,
Maju terus bangse sasak
7
July 06, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, tulisan sasak yg busuk ini banyak mengingatkan tiang ke masa lalu, kak nanang dan kak saleh,saya lupa lupa ingat kak saleh, tetapi kak nanang aini amin yang jadi boss sdm di pt.arun lng aceh,tiang sempat mampir di rumahnya di lhokseumawe dua atau tiga kali ditahun 1992/1993, kebetulan waktu itu tiang bermukim di medan sumut menjadi penanggung jawab salah satu perusahaan asing untuk kawasan sumatra, lagi pula saat itu secara tak terduga tiang ketemu pagah sasak Kertasih Sulaeman(loteng )anak buahnya nanang yg sama sama jebolan malang, sekarang kertasih yang melanjutkan posisi itu disana, terakhir ketemu kertasih tahun lalu waktu acara pernikahan anak bosnya agnasio sabri vice president PT. arun yang tetangga tiang di bogor,tiang juga ke lhokseumawe disamping urusan kerja ada adik tiang Le M.Helmy Amien jebolan bogor dan kerja di PT.AAF ( Asean Aceh fertilizer ) yang sekarang dah tutup, Nanang sendiri sekarang dah balik ke Malang dan pensiun disana...kalau adiknya Saeful Anwar ada di aceh sana sama dengan kertasih yang mendapatkan istri orang aceh...jangan jangan teman satu kelasnya hjunep di selong sana,-kebetulan sekali juga almarhum ayah tiang dan almarhum ayah nanang namanya sama " amin " dan makamnya almarhum berdekatan di makam pahlawan sinar rinjani selong, kalau pulang kampung tiang selalu berdoa di kedua makam tersebut.
Memang angkatan nanang ini banyak yang berhasil di rantauan ada H.I dewa putu alam sekrang jadi boss di purwakarta,lalu sukarno jadipejabat di pertanian, dan teman sekelasnya kakak tiang Le Zainul Ittikhad Amien,selepas di thailand sekarang di Universitas Terbuka,terakhir jadi dekan fakultas sosial politik dan calon rektor yang kalah....
Kalau orang gandor - selong banyak yang jadi jadi ada dari trahnya " Lalu Sahak " ada satriawan,iwan,amat, dari "Mahruf " ada ikhsan,selamet ali, "trahnya TG Zainal"
ada muhyi anggota DPD dan Baiq Zuhro pemilik ayam taliwang bersaudara yang franchaise nya ada di bali,bandung,jakarta...
Maju terus bangse sasak.
8
July 07, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, Nazar ( ajenk ganteng ) ini juga tiang pertama kenal di sasak.org, ternyata si ajenk ini kelahiran bogor , anak dari senior saya Rawitah Ashari ( kak itah ),beliau ini adalah salah satu serdadu sasak yang jadi Pomad/paswalpres, dan atas saran kawan kawan beliau melanjutkan sekolahnya di bogor disamping jadi tentara, setelah pulang kampung sempat jadi komandan cpm di flores dan terakhir jadi anggota DPR lotim dari fraksi ABRI...
Sekarang nazar ajenk ganteng meneruskan kegigihan kak itah , mudah mudahan pagah sasak akan memajukan generasi nazar dan seterusnya menjadi pemimpin dikemudian hari.
Maju terus bangse sasak.
9
July 07, 2009
Papux itu, seorang belian dari dusun Jantuk, kelak oleh karena itu aku dipanggil "Jantuk" untuk merendahkanku. Papux itu mengangkat kedua kakiku tinggi tingi, kepalaku menggantung bingung, dia bilang kepada inax: " dengar semeton, anakmu ini akan pergi sangat jauh, jauh sekali". Inax menjawab dengan sangat lembut: "amin, mudahan dia dapat menjadi pembebas bagi anak bangsanya dimanapun dia berada". Amax yang berada disekitar dua wanita hebat itu berseru: "Amin ya Rabbal Alamin". Sesudah itu, amax mengazankan dan ikomah sekaligus lalu menyambar kitab yang selalu dia baca. Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.
Setiap manusia lahir sebagai anak zamannya, angin politik selalu jahat menerbangkan impian orang kecil untuk hidup tentram dan damai, kalau sejahtera itu adalah buah dari tentram dan damai. Tentram dan damai adalah buah dari orang berserah diri. Aku menikmati hidup kanak kanakku dalam tembang kedamaian orang dasan yang berpeluh dalam perjuangan menjaga hati dan fikiran. Tidak lama aku tidur bagai biji bambu yang bertapa selama 7 tahun didalam tanah sebelum ia tumbuh dengan kecepatan 11 cm per malam!. Aku mengalami mimpi buruk yang dahsyat saat tidur 7 tahunku itu. Selax ngeres, bebai, maling, ancul ancul ditambah lagi peristiwa yang mengukir sejarah bangsaku. Pemberontakan panjang dan melelahkan, pembunuhan atas anak bangsa satu oleh anak bangsa yang lain. Tembang indah anak dasan sempat menghilang karena, musik malam diganti deru mesin truk dan bunyi roda menggilas batu jalanan. Berhari hari dalam beberapa bulan anak dasan tidak cukup tidur karena tiap malam ada keributan dan orang tua berbisik dalam bicara, ada yang akan dibunuh!. Meskipun berbisik tapi kami anak kecil mendengar juga dan gigi gigi kami bergetar seperti per berspiral yang di pantul pantulkan. Hati kami kecut dan ludah rasa asam. Kata orang truk truk itu mengangkut PKI ke Kembang Kuning atau Lepak untuk dibantai. Lain waktu Kelompok etnis China yang jadi sasaran. Dasan kecil kami yang tentram menjadi ajang mengerikan sebab disisi selatan melintas jalan lingkar luar menuju timur yang membelok ke jalan raya satu satunya. Berselang seling, tiap malam ada teriakan dari tetangga. Setelah maling menggerayangi , Tau Selax ngeres menghembus jampinya lalu truk truk tancap gas melintas, alangkah panjangnya rasa takut.
Dua tahun pertamaku sejak aku berteriak: "Aku datang wahai dunia!". Aku sama sekali tidak diterima oleh gumi ini, dasan ini, angin ini, matahari ini, bulan ini dan entahlah bintang bintangpun enggan menyapaku. Bagaimana tidak, sekujur tubuhku melepuh dan membusuk. Aku dapat menguraikan keadaan tubuhku tiap incinya karena aku disiksa lagi saat aku SD, penyakit yang mirip aku sandang lagi beberapa kali di tahun tahun sekolah dasarku. Saat UNICEF turun tangan membagikan alat cangkul dan sabun mandi atau susu, saat itulah keadaan negeri sangat menyedihkan, namun lagu "Ku Lihat Ibu Pertiwi" tidak dilantunkan, karena kami tak sempat nembang, tiap tiap mata kanak kanak yang ku tatap ada tersirat rasa khawatir dan was was. Semua orang tampak seperti dalam bayangan bagai difilm film yang diberi nuansa warna dalam mimpi. Orang di dasan yang jauh menderita kelaparan, ada yang mati karena tak punya makanan setelah tanaman rusak dan tak bisa dirawat. Penyebabnya selain faktor alam juga karena tak berhenti rusuh. Disebelah rumahku ada gubuk kecil dan ada papux Anci yang menderita penyakit gawat, tapi hebatnya tak dikucilkan, dia dirawat oleh semua orang. Aku suka masuk ke gubuknya.
Dalam keadaan membusuk selama dua tahun, inax merawatku dengan linangan airmata tumpah. Yang luar biasa lagi semua saudara inax berbondong bondong menolongku. Mereka datang menembus pekatnya malam menelusuri jalan berduri dan berbatu. Kalau sekarang kita jalan kaki Selong - Korleko tentu sangat cepat sampai tapi dahulu jalan tikuslah satu satunya jalur dan turun naik sungai berpasir pula. Berangkat sore bisa tiba jam 4 pagi. Demikian mereka berbondong menawarkan apa saja agar berhentilah airmata inax menetes. Bukan aku hebat atau obat obatan mereka yang dahsyat, penyakit itulah yang telah bosan menggerogotiku, aku tak mati mati, malah mataku melotot terus. Mungkin aku berkata : " teruslah kau makan tubuhku sampai puas!". Umur tiga tahun aku memakai celana monyet kuning emas yang sudah suram karena celana itu warisan kakakku yang enam tahun lebih tua. Kami bermain ke jalan raya di depan Penjara. Diseberang jalan ada kebun raya kecil yang bagi kami anak kecil besar sekali. Pohon pohon kenari besar sekali, kami menganggapnya sebesar rumah!. "Marax belex bale", kata kami kalau bercerita. Itulah pertama kali aku dapat mengucapkan satu kata: " Ibu Pati". Kakak dan amaxku tertawa dan semua juga ikut tertawa. " Bupati" kata kakakku. Aku Diam karena malu. Kata pertama itu masih melekat diingtanku bersama burjo, cao dan gule gaet.
Aku pergi mendaftar ke SD, sendiri, rupanya amax sangat percaya kepadaku sejak kecil, bukankah akau sudah seharusnya mati membusuk, tapi tetap survive?. Aku datang Ke SD I di dekat kuburan umum Selong dan aku dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Waktu itu SMA Selong baru beberapa tahun dibuka, SD kami dipakai pagi hari dan siang hari giliran kami. Aku pergi ke sekolah jam 12.00 atau sebelumnya sedangkan SMA selesai jam 13.00 atau lebih SD mulai jam 13.00 sampai jam 17.00 kelak waktu di SMA Selong aku masih bertemu guru yang suka aku lihat mengajar ilmu ilmu yang aku tidak ketahui saat itu. Merekalah guru terakhir di gumi Sasak ini. Setelah mereka SDM yang menjadi pengajar berubah warna dan rupa, sikap dan perilaku sangat jauh seperti " jaox lalang gunung!".
Setelah kerusuhan bertubi bosan menghantui dasan kami, berangsur keadaan tenang tapi hidup masih susah sekali. Di musim kering pengemis berbaris di jalan jalan dan kami suka memesan ubi dari Paox Motong, makanan kami bermacam macam. Pernah kami makan ketan selama berbulan bulan karena kami sekeluarga sangat suka ketan, amaxpun menanam ketan, bukan padi seperti petani lainnya. Lain waktu kami makan padi padian sperti gandum biji, bulgur dan sorgum kalau umbi umbian lengkap kami santap sperti uwi, gembili, sudax, gadung, talas, ganyol dsb.. Kami punya kambing, ayam, bebek dan sapi. Aneh sekali susu kambing kami tidak ada yang memerahnya. Pengetahuan ternyata sangat berpengaruh pada pola makan. Sekarang susu kambing sangat dicari, sebab orang tahu manfaatnya. Celakanya wabah koreng melanda dasan dan semua orang kena, ada yang sangat parah sampai bopeng, aku juga tak luput, sekujur tubuhku bercak bercak dan ada yang bernanah, rasanya perih dan teriris. Lama sekali rasanya penderitaan itu, jalanku pincang dan aku harus disuntik penesilin beberpa kali. Aku berpikir bahwa dendam penyakitku yang membuatku busuk dua tahun rupanya bangkit dari tidur, dia tidak hilang, dia bercokol ditubuhku dan suatu saat yang ditentukan akan muncul lagi. Yah, aku tawakkal kepada Allah yang memberiku penyakit dan rezeki. Aku hanya bersandar kepadaNYA. Inax menyerahkanku kepadaNYA dan aku juga menyerahkan diriku kepadaNYA. Kalau bukan DIA aku pasti tidak hidup, tidak sakit dan tidak mati meskipun busuk, bahkan bususkkpun dari DIA juga.
Sekolah Dasar aku lalui dengan tanda Tanya besar, aku pernah bertanya tentang Tuhan, inax amax selalu dapat menerangkan dengan caranya dan aku puas tapi aku bertanya untuk apakah orang bersekolah?. Inak amaxku tak pernah memeberiku jawaban pasti, kalau untuk belajar tentu dirumah atau dimana saja bisa. Bukankah kakek moyang kami yang bernama Papux Guru tidak pernah makan genteng sekolahan tapi dia menjadi guru bangsanya. Aku kehilangan minat bersekolah setelah masuk SMP dulu hanya satu SMP di Selong. Aku kena malaria dan berbagai penyakit bahaya lain yang merontokkan rambutku, sampai obat keras ku telan semua tapi malaria sungguh dahsyat. Hingga sekarang masih ada aku dengar orang terkena malaria. Semua badan menggigil. Aku terkena malaria saat SMP dan SMA mengerikan sekali. Bergiliran orang dasan menggigil panas tapi dingin, dingin tapi panas. Semua berputar dan perutpun bergejolak memuntahkan semua yang diminum atau dimakan.
Waktu kelas tiga SD aku sakit entah apa tapi aku muntah dan panas demam, rambutku ada yang rontok, aku sering dijenguk inax kake yang bekas perawat, dia banyak memberi instruksi pada inax. Pada suatu saat di hari hari itulah malaikat menggendongku terbang ke langit dan ku lihat alam smesta yang maha luas. Aku mampir di planet planet asing yang kosong saat aku kelelahan aku minta pulang dan aku ada di dipan besar satu satunya di rumah kami. Beruntung sekali aku dapat melihat alam raya ini dari atas, tapi rasanya terbang dan apalagi saat pulang tak pernah lagi aku rasakan. Kalau itu mimpi dari manakah dia datang. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang pernah kita alami dan kita ketahui?. Aku tak tahu apa apa tentang planet dan alam semesta. Rasanya aku ingin belajar tentang alam ini, tapi sampai aku SMA tak ada seorangpun menjelaskan tentang astronomi lebih detail. Jangankan astronomi aku Tanya apa bedanya masuk IKIP dan Universitas saja tak ada yang dapat menerangkan kepadaku kecuali, satu jadi guru, satu jadi PNS. Bagaimana mau maju, jalan keluar saja tidak tahu.
Peristiwa besar di dasan kami, tak pernah dicatat dalam buku sejarah, kalau sekarang kita susun berarti kita membuatnya bukan mencatat kejadia sebenarnya. Aku mencatat dalam ingtan dari cerita inax, bagaimana HM Faisal memimpin pemberontajan di gedung Gabimas didepan rumah kami. Amax Iman belo bulu adalah salah satu pahlawan besar bersama tokoh lain dia berjuang merebut kemerdekaan. Kata merebut ini aku banggakan sekali, sebab sesungguhnya kita merdeka dan telah dirampas kemerdekaan kita itu oleh bangsa Asing,
Jangan kira pemuda dasan tidak hebat, aku agak lupa suatu waktu kakak kakak kami yang di SMA Selong dan semua pelajar yang aktif berdemo besar, mungkin memperotes suatu kebijakan pemerintah. Tiba tiba dasan ribut karena ada dua yang tertembak yaitu Kak Nanang dan kak Saleh. Mereka ini akhirnya ditangkap juga. Lama kemudian aku dengar kak Saleh jadi pelaut dan kak Nanang jadi Bos di Aceh. Aku heran mengapa setiap pepadu pintar pergi dan tak kembali ke Dasan?. Mungkinkah dasan ini memang ditakdirkan melahirkan orang hebat untuk pergi jauh?.
Minat belajarku jeblok waktu SMP, aku capek disuruh menghafal, aku capek dengan rumus, aku capek mondar mandir dan puncaknya aku pilih tidak naik kelas. Kawan kawanku hanya mentertawakanku, Yusuf Akhyar yang paling pinter hanya memandangku geli. Setelah aku tidak naik aku mengulang lagi tapi aku seperti anak autis dan bergerak sesukaku. Suatu hari aku diadu di arena oleh guru kami Pak Syafari. Semua murid menontonku beradu lawan Awan Jeweh. Pertarungan berakhir seri. Sementara kesukaanku berkoresponden dengan berbagai radio dan tokoh dunia terus aku lakukan, aku makin banyak menerima surat dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang terkesan adalah aku berkoresponden dengan mantan tentara AS di Guam. Dia pernah terbang ke Rambang dan Taliwang di masa PD II, sayang kami putus, karena hilang kontak. Lalu aku berkoresponden dengan pusat misionaris terbesar di Amerika yang berpusat di Ekuador. Bertahun kemudian aku menguasai bahasa Spanyol karena mereka banyak memberi inspirasi. Aku berkoresponden dengan Igor seorang tokoh radio yang bekerja di radio Moskwa dan terakhir di BBC London, dia bersedia mengajariku berbahasa Rusia tapi tidak kesampaian. Siapa mengira sekarang aku lancar berabhasa Rusia. Ah, masih banyak lagi kawan kawan koresponden yang mempegaruhi hidupku.
Selain berkoresponden aku suka filateli dan perangkoku boleh dibilang terlengkap di NTB meski aku tak pernah ikut lomba. Salah satu koleksiku adalah perangko yang masih utuh dengan amplopnya yang dikirm dari berbagai tempat oleh Le Mujitahid Amien. Orangnya tak pernah ku kenal secara pribadi tapi adik adiknya adalah kawan sekolah dan sekelasku. Dunia ini Tak selabar daun kelor tapi tiba tiba menjadi kenyataan karena tokoh ini tidak hanya memberiku inspirasi lewat amplop berprangko asing, tapi detik inipun kami terhubung lewat Sasak.org. nasib manusia selalu mencari titik berkumpulnya. Dimana semua cita cita baik akan menyatu, karena kekuatan energi cita cita mulia untuk menjayakan anak bangsa.
Dalam kenyataan hidup aku terbang mengikuti arah angin bertiup, tepat seperti waktu kepalaku diayun ayun Papux Jantuk, kiranya doa tiga orang hebat itu merasuk dalam otakku dan saat pencarian diri, tiap tiap manusia dasan membangun karakterku dengan sebutir pasir termasuk Kak Muji tanpa dia ketahui. Aku Si Sasak Busuk itu sedang menunggu malaikat untuk mengembalikan aku dari pelanet asing ini, aku lelah dan haus. Aku ingin pulang dan mengajarkan anak anak dasan terbang dengan sayap keikhlasan, dengan roda kecerdasan, dengan tenaga dahsyat reaktor ketawakkalan. Aku ingin anak dasan terbang di awang awang dengan segala kemungkinan terbentang di bawah sana. Aku ingin pulang…
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin . JUNEP
Comments (9)
Nazar: ...
lagi dan lagi miq junep selalu menginspirasi..
suatu saat tiang juga akan pulang, menjadi guru untuk anak2 dasanku.. cita2 yang belum kesampaian samnpai saat ini walaupun telah dimulai perlahan2 dengan membantu anak2 dasan yang bercita2 tinggi bersekolah..
1
Semoga Allah memudahkan dan mewujudkan semuanya
July 02, 2009
mansur: ...
Kelak waktu SD aku membaca judul kitab itu: "Kerukunan" berisi tuntunan ibadah, doa dan ayat aya pendek Al Qur'an.
Tiang tdk sempat melihat bentuk buku itu, tapi apakah tiang yang salah dengar, kalu 2
didusun tiang orang2 tua menyebutnya "Perukunan"
2
July 03, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam,
Tulisan meton HJUNEP yang menggelitik ini " sasak yg busuk itu " membuat disket otak tiang yang sudah banyak spamnya niki agak hang sedikit , maklumlah sudah rada sepuh karena senior an dari
beliau ini,-
Tiang jeri berkutat kebelakang mundur berpikir seperti nonton film " time tunnel " yang ber episode -
seputaran tahun 1990 lalu, cuma menambahkan kejadian dari tulisan meton niki, seingat tiang priode
tahun 1965 - 1966 waktu itu setelah meletusnya gunung agung yang menggelapkan hampir seluruh bali dan lombok di siang hari dan debunya hampir menjangkau seluruh kawasan daratan lombok dan kejadian pemberontakan PKI tahun 1965 yang menyebabkan tiang adalah "korban" naik klas selama 1,5 tahun dari klas 5 ke klas 6 disekolah SD yang satu satunya di tanjung teros ( sekarang kampung ini berpisah jadi kelurahan tanjung dan desa teros), seingat tiang para tokoh PKI golongan A dihabisi diseputaran antara tanjung - kembang kuning tepatnya di dasan sawe sekarang tempat ini sudah jadi perumahan masyarakat setempat dan satunya lagi antara tanjung- dasan geres/korleko tepatnya dua kilometer dari gubuk tanggak sekarangpun kawasan itu sudah berdiri perumahan dan SD Negeri tanjung 2,3 ?.-
Kalau saudara kita yang keturunan China ( mereka mereka ini adalah penjual barang sembako dan kelontong ), ada 6 keluarga di tanjung saat itu dan kebetulan anak anaknya adalah teman tiang sekolah SD dan main layang layang dan beselodoran, saat " pembantaian " mereka mereka semuanya pada sembunyi dan dilindungi oleh keluarga tiang yang kebetulan ditokohkan disana, cuman 3 orang yang terbunuh dan yang lainnya diselamatkan dan dibawa ke mataram, pendek cerita tahun 1969 - 1972 setelah agak dewasa tiang ketemu dengan mereka mereka ini diseputaran ampenan dan ternyata si pipo, asun, ayung menjadi juragan textile di kawasan kapitan ampenan, mereka mereka ini menjalin hubungan kembali dengan keluarga tiang dan sekali kali atas pesanan ibunya atau enciknya suka mengantarkan kue ringan ketempat tiang di asrama lombok timur di karang taruna mataram, Allah SWT memang punya rencana suatu saat tanpa disengaja tiang bersebelahan tempat duduk dg si pipo dalam penerbangan lombok - jakarta , ternyata beliaunya menjadi agent pabrik rokok terbesar di NTB, sampai di jakarta kami menyempatkan diri " makan malam " di restauran hotel dan bernostagia masa kecil dan cerita tentang kepedihan akibat dari pemberontakan PKI ini,- ( kalau ada waktu meton Hjunep coba buka cerita tentang saudara kita
keturunan yang ada diseputaran sisik - labuhan haji ? ),-
Meton HJunep ini memang betul belum pernah ketemu dengan tiang tetapi mungkin saja dulu waktu kecil siapa tahu ?, karena berdasarkan penelusuran dan " bakat intelejen kelas kampung" tiang niki ,karena orang tuanya " guru " dan almarhum ayah saya juga " guru " memudahkan ada interaksi
diantara keluarga guru tsb, tapi lepas dari itu yang penting selepuk dengan sasak " besemeton " apalegi sik lek diaspora niki,-
Yusuf Ahyar yang teman sekelasnya juga sekarang dah jadi Prof dan direktur lemlit Unram, kebetulan adalah sepupu tiang almarhum ayahnya adalah adik dari inaq tuan tiang, bulan lepas tiang sempat makan malam dengan beliau dan Prof sunarpi ( rektor Unram terpilih priode 2009 - 2014 ) di restauran taliwang bersaudara di panglima polim jakarta.
Jeri becerita pribadi ite ine ? leguk ndek ne ngumbe ngumbe so,karena perjalanan dari masing masing dengan ino berbeda beda, kebetulan tiang dit meton Hjunep ini dipertemukan kembali oleh yang Maha Kuasa, karena visi,mission yang sama barangkali ya ?
Jemak telanjutang malik ,-
Maju terus bangse sasak.
3
July 05, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam ,
Nazar juga yang kampungnya di kembang kuning,padahal dianya kelahiran Bogor, ALLAH SWT menemukan tiang dengannya di sesangkok niki,ternyata, ayahnya Mayor Rawitah Ashari ( kak itah )yang sering mampir di kumpulan anak anak lombok di bogor dan karena kegigihannya sempat kuliah atas saran kawan kawan disamping beliaunya jadi POMAD ( PASWALPRES ) di Istana Bogor dan SEKNEG Jakarta ,terakhir adalah anggota DPR Lotim dari Fraksi ABRI, setelah melanglang buana dari Bogor ke Flores menjadi komandan PM disana,balik ke Mataram dan pulang kampung ke selong adalah senior tiang di Bogor, yang jelas macam nazar ini cuma akan dapat cerita saja 4
dari meton Hjunep, he..he..
4
July 05, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam,
Tulisan meton HJUNEP yang menggelitik ini " sasak yg busuk itu " membuat disket otak tiang yang sudah banyak spamnya niki agak hang sedikit , maklumlah sudah rada sepuh karena senior an dari
beliau ini,-
Tiang jeri berkutat kebelakang mundur berpikir seperti nonton film " time tunnel " yang ber episode -
seputaran tahun 1990 lalu, cuma menambahkan kejadian dari tulisan meton niki, seingat tiang priode
tahun 1965 - 1966 waktu itu setelah meletusnya gunung agung yang menggelapkan hampir seluruh bali dan lombok di siang hari dan debunya hampir menjangkau seluruh kawasan daratan lombok dan kejadian pemberontakan PKI tahun 1965 yang menyebabkan tiang adalah "korban" naik klas selama 1,5 tahun dari klas 5 ke klas 6 disekolah SD yang satu satunya di tanjung teros ( sekarang kampung ini berpisah jadi kelurahan tanjung dan desa teros), seingat tiang para tokoh PKI golongan A dihabisi diseputaran antara tanjung - kembang kuning tepatnya di dasan sawe sekarang tempat ini sudah jadi perumahan masyarakat setempat dan satunya lagi antara tanjung- dasan geres/korleko tepatnya dua kilometer dari gubuk tanggak sekarangpun kawasan itu sudah berdiri perumahan dan SD Negeri tanjung 2,3 ?.-
Kalau saudara kita yang keturunan China ( mereka mereka ini adalah penjual barang sembako dan kelontong ), ada 6 keluarga di tanjung saat itu dan kebetulan anak anaknya adalah teman tiang sekolah SD dan main layang layang dan beselodoran, saat " pembantaian " mereka mereka semuanya pada sembunyi dan dilindungi oleh keluarga tiang yang kebetulan ditokohkan disana, cuman 3 orang yang terbunuh dan yang lainnya diselamatkan dan dibawa ke mataram, pendek cerita tahun 1969 - 1972 setelah agak dewasa tiang ketemu dengan mereka mereka ini diseputaran ampenan dan ternyata si pipo, asun, ayung menjadi juragan textile di kawasan kapitan ampenan, mereka mereka ini menjalin hubungan kembali dengan keluarga tiang dan sekali kali atas pesanan ibunya atau enciknya suka mengantarkan kue ringan ketempat tiang di asrama lombok timur di karang taruna mataram, Allah SWT memang punya rencana suatu saat tanpa disengaja tiang bersebelahan tempat duduk dg si pipo dalam penerbangan lombok - jakarta , ternyata beliaunya menjadi agent pabrik rokok terbesar di NTB, sampai di jakarta kami menyempatkan diri " makan malam " di restauran hotel dan bernostagia masa kecil dan cerita tentang kepedihan akibat dari pemberontakan PKI ini,- ( kalau ada waktu meton Hjunep coba buka cerita tentang saudara kita
keturunan yang ada diseputaran sisik - labuhan haji ? ),-
Meton HJunep ini memang betul belum pernah ketemu dengan tiang tetapi mungkin saja dulu waktu kecil siapa tahu ?, karena berdasarkan penelusuran dan " bakat intelejen kelas kampung" tiang niki ,karena orang tuanya " guru " dan almarhum ayah saya juga " guru " memudahkan ada interaksi
diantara keluarga guru tsb, tapi lepas dari itu yang penting selepuk dengan sasak " besemeton " apalegi sik lek diaspora niki,-
Yusuf Ahyar yang teman sekelasnya juga sekarang dah jadi Prof dan direktur lemlit Unram, kebetulan adalah sepupu tiang almarhum ayahnya adalah adik dari inaq tuan tiang, bulan lepas tiang sempat makan malam dengan beliau dan Prof sunarpi ( rektor Unram terpilih priode 2009 - 2014 ) di restauran taliwang bersaudara di panglima polim jakarta.
Jeri becerita pribadi ite ine ? leguk ndek ne ngumbe ngumbe so,karena perjalanan dari masing masing dengan ino berbeda beda, kebetulan tiang dit meton Hjunep ini dipertemukan kembali oleh yang Maha Kuasa, karena visi,mission yang sama barangkali ya ?
Jemak telanjutang malik ,-
Maju terus bangse sasak.
5
July 05, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, meton Hjunep..araq waktu bernostalgia dan menambahkan " sasak yang busuk itu " , Kak saleh dan Kak Nanang Amin ini dulu para pepadu selong, kecuali kak saleh yang tiang agak lupa, tetapi angkatan beliau ini banyak yang maju maju, kak nanang seangkatan dengan I dewa putu alam ( dulu sekolahnya di Bogor ) dan sempat di amrik sana sekarang jadi bos salah satu perusahaan asing di purwakarta, juga ada lalu sukarno jadi staff departemen pertanian di bogor,juga kakak tiang Le Zainul Ittikhad Amien selepas di thailand sana sekarang di Universitas Terbuka Dekan fakultas Ilmu sosial politik ,sempat jadi calon rektor tapi kalah , kalau kak nanang ,tiang ada tiga kali mampir di Lhouksemawe waktu beliau jadi Direktur SDM PT.Arun LNG,sekarang setelah pensiun beliau balik ke Malang kerumah istrinya disana karena beliau adalah jebolan UNBRA Malang, sekarang ada satu lagi sasak diaspora di Aceh sana , semeton kertasih suherman jadi penerus kak nanang,tahun lalu tiang sempat jumpa di pesta perkawinan anaknya Ir Akansio sabri Vice President PT. Arun LNG yang jadi jiran tiang di Bogor, adiknya nanang, saeful jangan jangan seangkatan hjunep sekarang masih disana beranak pinak dengan orang aceh, dulu tiang sering ke aceh kebetulan tiang bemukim di medan sumut jadi wakil kepala suku salah satu perusahaan asing membawahi sumatra dan juga ada adik tiang Le M.Helmy Amien jebolan Bogor kerja jadi kepala lab di PT. AAF ( asean aceh fertilizer )...ngomong ngomong nanang, angkatan beliau ini banyak yang berhasil,kebetulan juga Alm Bapak nya Nanang namanya Amin sama dengan Alm Ayah tiang dan kebetulan juga makam kedua orang tua kita ini bersebelahan di makam pahlawan sinar rinjani selong , kalau pulang kampung saya selalu mampir di makam beliau beliau ini,-
Pepadu peadu selong terutama seputaran gandor banyak sekali yang berhasil dari trahnya "lalu sahak " ada satriawan,iwan,amat, dari trahnya" Mahruf " ada ikhsan dan dari trahnya " TG zainal " ada Muhyi ( anggota DPD ) dan uyok pemilik taliwang bersaudara....sebenarne lueq sik jeri leguk seperti ongkat semeton jarang sik ulek ,-
Mudah mudahan sasak.org ini membuka wacana kita untuk " PULANG " dengan cara lain tidak harus "badan kita" sukur kalau bisa modelnya pak guru mansur...he...he...
coba kita wacanakan terus, insya ALLAH.
Maju terus bangse sasak.
6
July 06, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, bernostagia bareng hjunep lek sasak.org ini menambah banyak semeton sasak yang saya temukan , salah satunya NAZAR ( AJENG GANTENG ), tiang sudah dua kali ketemu waktu pertama di kantornya di Bank Indonesia Jl. thamrin Jakarta , kebetulan tiang kesana jumpa kawan, keduanya di tete betu lombok waktu sasak.org kopi darat disana waktu lebaran tahun lalu, yang menariknya nazar yang kelahiran bogor adalah anak dari senior tiang Rawitah Ashari ( kak itah ) beliau ini adalah tentara ( POMAD sekarang PASWALPRES ) yang bertugas di istana bogor dan jakarta , kak itah ini sekali kali datang ke tempat anak anak lombok berasrama dan mengakui saja asrama lombok padahal rumah kontrak patungan rame rame, kak itah ini sering kami daulat untuk melanjutkan sekolah, alhamdulillah beliau menyelesaikan sarjana mudanya dan sampai berpangkat mayor, beliau pulang kampung sebelumnya jadi komandan CPM ( pomad ) di Ende, flores dan balik ke Mataram ,terakhir jadi anggota DPR fraksi ABRI di selong sampai masa pensiunnya....generasinya sekarang NAZAR ini sudah kelihatan "bertualangnya" untuk menjadi pepadu sasak. alhamdulillah....tiang yang sepuh ini selalu membangkitkan sasak diaspora siq bajang bajang untuk terus berkiprah dibidang masing masing, suatu saat anda anda ini akan jadi " pemimpin " ditanah sasak...dan mulai sekarang dan seterusnya " merapatkan barisan " ,
Maju terus bangse sasak
7
July 06, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, tulisan sasak yg busuk ini banyak mengingatkan tiang ke masa lalu, kak nanang dan kak saleh,saya lupa lupa ingat kak saleh, tetapi kak nanang aini amin yang jadi boss sdm di pt.arun lng aceh,tiang sempat mampir di rumahnya di lhokseumawe dua atau tiga kali ditahun 1992/1993, kebetulan waktu itu tiang bermukim di medan sumut menjadi penanggung jawab salah satu perusahaan asing untuk kawasan sumatra, lagi pula saat itu secara tak terduga tiang ketemu pagah sasak Kertasih Sulaeman(loteng )anak buahnya nanang yg sama sama jebolan malang, sekarang kertasih yang melanjutkan posisi itu disana, terakhir ketemu kertasih tahun lalu waktu acara pernikahan anak bosnya agnasio sabri vice president PT. arun yang tetangga tiang di bogor,tiang juga ke lhokseumawe disamping urusan kerja ada adik tiang Le M.Helmy Amien jebolan bogor dan kerja di PT.AAF ( Asean Aceh fertilizer ) yang sekarang dah tutup, Nanang sendiri sekarang dah balik ke Malang dan pensiun disana...kalau adiknya Saeful Anwar ada di aceh sana sama dengan kertasih yang mendapatkan istri orang aceh...jangan jangan teman satu kelasnya hjunep di selong sana,-kebetulan sekali juga almarhum ayah tiang dan almarhum ayah nanang namanya sama " amin " dan makamnya almarhum berdekatan di makam pahlawan sinar rinjani selong, kalau pulang kampung tiang selalu berdoa di kedua makam tersebut.
Memang angkatan nanang ini banyak yang berhasil di rantauan ada H.I dewa putu alam sekrang jadi boss di purwakarta,lalu sukarno jadipejabat di pertanian, dan teman sekelasnya kakak tiang Le Zainul Ittikhad Amien,selepas di thailand sekarang di Universitas Terbuka,terakhir jadi dekan fakultas sosial politik dan calon rektor yang kalah....
Kalau orang gandor - selong banyak yang jadi jadi ada dari trahnya " Lalu Sahak " ada satriawan,iwan,amat, dari "Mahruf " ada ikhsan,selamet ali, "trahnya TG Zainal"
ada muhyi anggota DPD dan Baiq Zuhro pemilik ayam taliwang bersaudara yang franchaise nya ada di bali,bandung,jakarta...
Maju terus bangse sasak.
8
July 07, 2009
Le Mujitahid Amien: ...
Salam, Nazar ( ajenk ganteng ) ini juga tiang pertama kenal di sasak.org, ternyata si ajenk ini kelahiran bogor , anak dari senior saya Rawitah Ashari ( kak itah ),beliau ini adalah salah satu serdadu sasak yang jadi Pomad/paswalpres, dan atas saran kawan kawan beliau melanjutkan sekolahnya di bogor disamping jadi tentara, setelah pulang kampung sempat jadi komandan cpm di flores dan terakhir jadi anggota DPR lotim dari fraksi ABRI...
Sekarang nazar ajenk ganteng meneruskan kegigihan kak itah , mudah mudahan pagah sasak akan memajukan generasi nazar dan seterusnya menjadi pemimpin dikemudian hari.
Maju terus bangse sasak.
9
July 07, 2009
Selasa, 30 Juni 2009
Sasak Yang Piawai
(Sasak.org) Saya mengira hanya tukang momot meco yang tidak mau belajar yang bisa bikin saya kelinggitan, ternyata anak Bangsa Sasak yang menggondol title akademis tertinggi pun bisa bikin keki. Saya tentu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tidak bermaksud su'uzon tapi sekilas saya menangkap keterjebakan tokoh kita ini dalam pola pikir yang dependen sekali. Bagaimana tidak kelinggitan, saya berpandangan bahwa memiliki hak paten adalah kesempatan paling langka untuk 230 juta bangsa yang ada di Nusantara ini dan lebih langka lagi khususon bagi anak Bangsa Sasak.
Mengapa saya begitu menyayangkan keputusan sang cendekiawan yang melepaskan kesempatan mengangkat harkat martabat 3 juta bangsa Sasak, dan menukarnya dengan sekedar title yang hanya berlaku di lingkunagn akademis atau kampus saja. Dulu waktu SMA kasek saya beprestasi nasional dan kepala SMP saya berprestasi nomor satu nasional dan sangat diincar pusat, beliau tidak mau sebab ingin tinggal di Lombok saja. Saya membayangkan seandainya beliau menerima tawaran itu niscaya kita punya dirjen atau menteri. Itu tahun 80-an. Kakak saya seorang jenius dengan nilai hampir sempurna sejak SD dan autodidak tulen dalam ilmu pasti dan teknologi, sayang dia tidak berani mengambil langkah besar untuk minggat dari gumi paer dan terima hanya sekolah PGSLTP. Seandainya dia ke Malang atau Jogjakarta niscaya kita punya pakar IT pertama Bangsa Sasak di tahun tahun awal kemunculan komputer. Menyesali nasi yang sudah jadi bubur tidak baik, maka bubur itu kita harus buat spesial dengan telur dan ayam pelalah. Kelak bila kita memasak hendaknya menakar air dan pengatur panas agar nasi jadi pulen dan sedap. Manusia Sasak ke depan, dengan demikian, akan menjadi manusia matang, berdikari dan sedap dipandang karena ketokohannya mendunia. Bersama dengan Kangkung, Pelecing dan Brugax Elen yang siap kembali mempersenjatai pepadu dan dedare , para sarjananya perwira, pemudanya kesatria dan pemimpinnya integrasionis. Inilah daftar panjang keistimewaan intergritas anak bangsa Sasak masa kini dan masa depan.
Setelah saya indeng indeng dengan kapasitas orang menyesal tingkat dasan, saya mencatat hal hal besar yang mempengaruhi pepadu dasan dalam mengambil keputusan yang menentukan hidupnya.
Fikiran
Seorang anak dasan pertama tama harus mampu membebaskan keterbelengguan berfikirnya. Belenggu itu datang dari mitos mitos yang dikembangkan oleh orang lain untuk mengambil keuntungan dari kepicikan kita. Mitos merajalela di dasan, seperti mitos kebangsawanan, mitos goib dan mitos klenik.
Mitos kebangsawanan menghambat orang untuk menggugat ikatan istimewa segolongan orang sehingga kesempatan maju dikontrol satu fihak.
Mitos Goib, biasanya dikaitkan dengan keistimewaan seorang yang dianggap mendapat wahyu atau karomah sehingga dia dianggap mempunyai hak jadi pemimpin spiritual, yang sekali lagi menyebabkan penguasaan tertentu atas hajat orang banyak di satu fihak saja.
Mitos kelenik, masih adanya masyarakat yang mengkultuskan sesuatu atau seseorang karena mempunyai kekuatan supranatural. Kelompok masyarakat klenik ini menjadi santapan fihak lain, karena diekploitasi dengan tipuan dan permainan ala dukun.
Pembebasan fikiran itu sudah dimuali sejak lahir saat ayah mengazankan dan mengikomahkan sang bayi, tapi lambat namun pasti lingkungan yang penuh mitos itu membentuk mental blok yang dahsyat sehingga terbawa sampai tua. Syahadat adalah pembebas fikiran manusia, karena satu satunya batas adalah syirik. Manusia yang tidak syirik inilah yang dapat mengontrol daya fikirnya yang terintegritas.
Kalbu
Kalbu yang sifatnya bergolak, berputar dan berputar adalah seperti halnya mata, hanya alat kelengkapan saja. Kalau mata adalah jendela hati, maka hati adalah filter dari fikiran itu. Mata dapat melihat yang jelek dan yang cabul kalau tak ada kendali dari fikiran dan filter dari hati. Inilah yang disebut rasa. Rasalah yang menentukan penggunaan alat alat itu dan semua alat kita.
Kelak tiap alat yang terlibat akan mendapatkan perlakuan sama didepan pengadilan terakhir untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Bukankah kita adalah alam kecil dengan planet yang berputar ditempat masing masing? Jagalah planet planet kita agar tidak meledak karena bertabrakan. Kalau bertabrakan kita menjadi gila dan bagai meteor akan melayang dan jatuh berkeping.
Amal sholeh
Ketika kita sudah bebas dalam berfikir, kitapun bebas bertindak. Kebebasan kita itu dibatasi oleh kebesan dan hak orang lain sehingga sebebas bebasnya masih tidak bebas juga, apalagi kita telah bersyahadat pula. Lantas apalagi yang dapat kita lakukan selain beramal sholeh selama hidup kita. Untuk dapat beramal sholeh kita harus mempunyai integritas, loyalitas dan kesediaan berkorban.
Integritas berarti menjaga kualitas diri sebagai manusia utuh yang bermutu tinggi karena kemampuan berfikir menyeluruh dan berpandangan luas.
Loyalitas adalah kesetiaan pada janji pati yang berpegang teguh pada akidah, sebagai buah dari syahadat. Sehingga dalam mengambil keputusan tidak ada keraguan dan ketakutan selain kepada Allah. Ditingkat ini pangkat, jabatan, uang dan iming-iming lain tak akan berpengaruh.
Kesediaan berkorban, suatu tindakan yang dilandasi keberanian mengambil resiko apapun karena berprinsip semuanya milik Allah. Seorang dapat mengorbankan diri karena ia berfikir bebas dan loyal maka oleh karena itu ia mengerti skala priotas dalam hidupnya. Mana yang utama, membawa manfaat lebih besar dipilih dari yang tidak penting dan mnedatangkan mudarat.
Kembali saya membayangkan seandainya kita dapat menata diri menjadi manusia yang berintegritas tinggi, maka kita dapat memilih sesuatu yang lebih besar yang akan membawa kita kepada keuntungan lebih besar bahkan bukan untuk kita pribadi tapi untuk seluruh anak Bangsa Sasak dan seluruh manusia. Gelar akademis itu mudah sekali didapat tapi kesempatan besar untuk menyelamatkan dan memberi kesempatan banyak bagi anak bangsa untuk meraih title akademis, tidak akan datang dua kali.
Marilah semeton jari inax amax kita buka diri dan rasakan dengan seksama apakah kita sudah memasang niat untuk belajar, bekerja dan beramal dengan menimbang sebesar besarnya manfaat bagi segenap anak manusia, khususnya bagi anak Bangsa Sasak. Janganlah kita terjebak pada kepentingan pribadi yang sempit dan sesaat.
Wallohulambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Mengapa saya begitu menyayangkan keputusan sang cendekiawan yang melepaskan kesempatan mengangkat harkat martabat 3 juta bangsa Sasak, dan menukarnya dengan sekedar title yang hanya berlaku di lingkunagn akademis atau kampus saja. Dulu waktu SMA kasek saya beprestasi nasional dan kepala SMP saya berprestasi nomor satu nasional dan sangat diincar pusat, beliau tidak mau sebab ingin tinggal di Lombok saja. Saya membayangkan seandainya beliau menerima tawaran itu niscaya kita punya dirjen atau menteri. Itu tahun 80-an. Kakak saya seorang jenius dengan nilai hampir sempurna sejak SD dan autodidak tulen dalam ilmu pasti dan teknologi, sayang dia tidak berani mengambil langkah besar untuk minggat dari gumi paer dan terima hanya sekolah PGSLTP. Seandainya dia ke Malang atau Jogjakarta niscaya kita punya pakar IT pertama Bangsa Sasak di tahun tahun awal kemunculan komputer. Menyesali nasi yang sudah jadi bubur tidak baik, maka bubur itu kita harus buat spesial dengan telur dan ayam pelalah. Kelak bila kita memasak hendaknya menakar air dan pengatur panas agar nasi jadi pulen dan sedap. Manusia Sasak ke depan, dengan demikian, akan menjadi manusia matang, berdikari dan sedap dipandang karena ketokohannya mendunia. Bersama dengan Kangkung, Pelecing dan Brugax Elen yang siap kembali mempersenjatai pepadu dan dedare , para sarjananya perwira, pemudanya kesatria dan pemimpinnya integrasionis. Inilah daftar panjang keistimewaan intergritas anak bangsa Sasak masa kini dan masa depan.
Setelah saya indeng indeng dengan kapasitas orang menyesal tingkat dasan, saya mencatat hal hal besar yang mempengaruhi pepadu dasan dalam mengambil keputusan yang menentukan hidupnya.
Fikiran
Seorang anak dasan pertama tama harus mampu membebaskan keterbelengguan berfikirnya. Belenggu itu datang dari mitos mitos yang dikembangkan oleh orang lain untuk mengambil keuntungan dari kepicikan kita. Mitos merajalela di dasan, seperti mitos kebangsawanan, mitos goib dan mitos klenik.
Mitos kebangsawanan menghambat orang untuk menggugat ikatan istimewa segolongan orang sehingga kesempatan maju dikontrol satu fihak.
Mitos Goib, biasanya dikaitkan dengan keistimewaan seorang yang dianggap mendapat wahyu atau karomah sehingga dia dianggap mempunyai hak jadi pemimpin spiritual, yang sekali lagi menyebabkan penguasaan tertentu atas hajat orang banyak di satu fihak saja.
Mitos kelenik, masih adanya masyarakat yang mengkultuskan sesuatu atau seseorang karena mempunyai kekuatan supranatural. Kelompok masyarakat klenik ini menjadi santapan fihak lain, karena diekploitasi dengan tipuan dan permainan ala dukun.
Pembebasan fikiran itu sudah dimuali sejak lahir saat ayah mengazankan dan mengikomahkan sang bayi, tapi lambat namun pasti lingkungan yang penuh mitos itu membentuk mental blok yang dahsyat sehingga terbawa sampai tua. Syahadat adalah pembebas fikiran manusia, karena satu satunya batas adalah syirik. Manusia yang tidak syirik inilah yang dapat mengontrol daya fikirnya yang terintegritas.
Kalbu
Kalbu yang sifatnya bergolak, berputar dan berputar adalah seperti halnya mata, hanya alat kelengkapan saja. Kalau mata adalah jendela hati, maka hati adalah filter dari fikiran itu. Mata dapat melihat yang jelek dan yang cabul kalau tak ada kendali dari fikiran dan filter dari hati. Inilah yang disebut rasa. Rasalah yang menentukan penggunaan alat alat itu dan semua alat kita.
Kelak tiap alat yang terlibat akan mendapatkan perlakuan sama didepan pengadilan terakhir untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Bukankah kita adalah alam kecil dengan planet yang berputar ditempat masing masing? Jagalah planet planet kita agar tidak meledak karena bertabrakan. Kalau bertabrakan kita menjadi gila dan bagai meteor akan melayang dan jatuh berkeping.
Amal sholeh
Ketika kita sudah bebas dalam berfikir, kitapun bebas bertindak. Kebebasan kita itu dibatasi oleh kebesan dan hak orang lain sehingga sebebas bebasnya masih tidak bebas juga, apalagi kita telah bersyahadat pula. Lantas apalagi yang dapat kita lakukan selain beramal sholeh selama hidup kita. Untuk dapat beramal sholeh kita harus mempunyai integritas, loyalitas dan kesediaan berkorban.
Integritas berarti menjaga kualitas diri sebagai manusia utuh yang bermutu tinggi karena kemampuan berfikir menyeluruh dan berpandangan luas.
Loyalitas adalah kesetiaan pada janji pati yang berpegang teguh pada akidah, sebagai buah dari syahadat. Sehingga dalam mengambil keputusan tidak ada keraguan dan ketakutan selain kepada Allah. Ditingkat ini pangkat, jabatan, uang dan iming-iming lain tak akan berpengaruh.
Kesediaan berkorban, suatu tindakan yang dilandasi keberanian mengambil resiko apapun karena berprinsip semuanya milik Allah. Seorang dapat mengorbankan diri karena ia berfikir bebas dan loyal maka oleh karena itu ia mengerti skala priotas dalam hidupnya. Mana yang utama, membawa manfaat lebih besar dipilih dari yang tidak penting dan mnedatangkan mudarat.
Kembali saya membayangkan seandainya kita dapat menata diri menjadi manusia yang berintegritas tinggi, maka kita dapat memilih sesuatu yang lebih besar yang akan membawa kita kepada keuntungan lebih besar bahkan bukan untuk kita pribadi tapi untuk seluruh anak Bangsa Sasak dan seluruh manusia. Gelar akademis itu mudah sekali didapat tapi kesempatan besar untuk menyelamatkan dan memberi kesempatan banyak bagi anak bangsa untuk meraih title akademis, tidak akan datang dua kali.
Marilah semeton jari inax amax kita buka diri dan rasakan dengan seksama apakah kita sudah memasang niat untuk belajar, bekerja dan beramal dengan menimbang sebesar besarnya manfaat bagi segenap anak manusia, khususnya bagi anak Bangsa Sasak. Janganlah kita terjebak pada kepentingan pribadi yang sempit dan sesaat.
Wallohulambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Senin, 29 Juni 2009
Sasak Kembalilah Ke Brugax
(Sasak.org) Seorang amax mengamuk setelah anaknya diajak bersekolah oleh pepadu yang baru saja pulang dari menuntut ilmu di Jawa. Amax itu sangat tersinggung karena dia merasa terhina seolah tak dapat mengurus anaknya sendiri. Tetangga lainnya seorang inax marah marah dan memaki saat seseorang memberi anaknya makanan yang dibawa pulang oleh anak itu. Diapun tersinggung berat karena menyangka pemberi makanan itu menghinanya sebagai anak pengemis. Di dasan kami ada banyak pepadu yang diam saja di rumah meskipun sudah diajak gotong royong. Kalau di tegur, diapun mengamuk karena tersinggung diganggu kebebasannya.
Setelah ada berita Mikail Jackson meninggal, ramai sekali pepadu dasan berbondong ke taman kecil satu satunya disana. Masing masing mengekspresikan perasaan kehilangannya. Ada yang piawai melakukan gerakan moon walk dan menari ala jenazah zombi. Suaranyapun ditiru habis bahkan model pakaian tak ada yang kurang sedikitpun. Biaya untuk melengkapi diri agar sangat mirip dengan semeton Mikail cukup besar dihamburkan, sebab harga bahan dan ongkos jahit lebih mahal dari biaya sekolah sampai SMA. Itu tidak masalah, bukankah sudah biasa menghamburkan uang untuk beli HP canggih yang dapat dipakai berSMS ria dan bertelefon sampai mulut jeweh.
Kekompakan masyarakat kami di dasan sudah agak rapuh, dahulu ketika dasan kami masih temaram karena listrik hanya malam hari dan bioskop bergenerator memutar film hindustan tiap malam, orang masih saling ajak beriringan pergi pengajian dan mengangkat pasir, batu dan apa saja untuk membangun masjid. Bahkan kalau nonton film ratapan anak tiri atau film hindustan mereka menangis bersama dan esoknya mereka bercerita tentang film yang sama dan masih dengan titik air disudut mata.
Kalau ada anak nakal mereka serempak memberei peringatan atau merangkul anak itu, hampir tiap orangtua merasa memiliki terhadap anak bangsanya dan anak anak juga merasa segan, hormat dan sayang pada tetangganya yang dipanggil, kakax, tuax, amax , inax, papux , balox dsb. Mereka memang bertalian darah meskipun jauh sekali tapi hati mereka tertaut erat sampai begawe bersama dan lapar bersama dijalani. Mushalla hanya terbuat dari kayu dan daun kelapa, sempit bebentuk berugax. Brugax berasal dari bahasa Kawi "Rengga" yang artinya tempat duduk, tempat berkumpul. Orang Sasak mengadaptasi kata itu menjadi dua yaitu regang atu ringga dan brugax. Berengga jadi brugax. Brugax adalah tempat duduk sangkep. Nah, " sangkep" ini juga berasal dari bahasa Kawi yang artinya mempersenjatai pasukan. Entah sudah berapa puluh tahun fungsi Brugax yang sempat jadi mushalla itu sama sekali berubah jadi tempat momot meco! Alangkah besar dosa kita kepada papux balox yang mewariskan tempat berkumpul untuk mempersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan dan agama, telah kita sia siakan untuk bejorax dan mengahbiskan waktu untuk hal bodoh sehingga kita tak lagi mempunyai generasi mumpuni sejak tahun 70 an!
Kita tak pernah absen mendengar azan dan bacaan shalawat dari megafon masjid dan mushalla di seantero dasan. Alangkah beruntungnya kita menjadi muslim yang hijrah dari kegelapan menuju chaya terang benderang. Tapi kebanyakan pepadu dan dedare kita mendengar lagu Mikail Jackson atau melototi acara dangdut di Televisi kabel sepuluh ribuan. Apa yang mau dipersenjatai, isi otak hanya dangdut dan kepiawaian bermoonwalk saja? Sedangkan si Mikail Jackson sudah pula bersyahadat dan ingin bertaubat serta berserah diri. Sedangkan para penirunya tidak pernah sdikitpun tahu apa yang terjadi kecuali moonwalk dan dia sudah mati!. Kanak dasan selalu menyangka kalau dia dapat berbuat seperti orang lain, umpama berlagak kebarat baratan, makan makanan barat sepertiyang berserakan di jalan dasan, sebut saja pizza yang dibaca PIZA oleh anak dasan dan Mc Donald yang dibaca MAK KDONAL, seolah setelah medengar musik,bergaya moonwalk dan makan barang aneh itu mereka sudah sama dan sederajat dengan orang yang ditiru tiru. Sekarang ramai lagi anak dasan menekuni face book dari pagi sampai malam, dari anak anak sampai dewasa. Sebagian menekuni PS sebagian menekuni Face book dan saat makan lari ke warung sampah, tahukah anak dasan bahwa makanan itu disebut JUNK FOOD?. Tentu tak peduli, bukankah semua orang berbaris antri ke sana?
Ketika semua orang berpaling dari kebiasaan dan adat yang dibudi dayakan ribuan tahun dan menukarnya dengan hal hal instan, maka tampaklah kemerosotan disegala bidang. Sudah berapa ratus ribu anak bangsa Sasak rarut meninggalkan dasan dan mereka tidak lagi taat pada perintah agamanya. Mereka tak sadar bahwa buaian harta benda yang sifatnya sangat sementara telah membawa kesengsaraan berkepanjangan untuk anak bangsa yang kehilangan indentitasnya kelak. Orang Polandia dan Orang Portugis dahulu hidup sangat susah mereka bekerja keras bahkan jadi pembntu dan buruh namun mereka tak pernah menyerah dalam mendidik generasi mudanya. Ibu ibu Jepang sejak kalah perang mengorbankan diri unutk tinggal di rumah demi menjaga harta paling berharga yaitu anaknya. Anak anak Jepang diasuh penuh oleh ibunya dan mereka menjadi generasi muda terbaik di dunia. Sekarang kita dapat bertemu dengan turis dari negera negara tersebut. Mereka tetap jadi pekerja keras dan belajarnya kuat.
Kita pernah mempunya generasi Sasak kekah karena mereka dengans setia dipersenjatai di Brugax. Senjatanya adalah Agama, ilmu Sastera, Ilmu pertanian dan peternakan, perdagangan sampai ilmu falak. Mereka faham kapan menanam kapan memotong pohon dan bagaimana memelihara lingkungan.Mereka adalah generasi yang dipersenjatai, sehingga bila mereka merantau ke Jawa, naik truk dan jalan kaki bahkan ada yang jalan kaki ke kampus pulang pergi sejauh Ampenan sampai Terminal Mandalika! Generasi ini mungkin masih ada tersisa di kantor kantor atau jadi guru dan petani, tapi mereka sangat minoritas. Kini dasan dikuasai oleh orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Apa saja dilakukan agar dapat memperoleh apa yang diinginkan.
Shalat 5 waktu adalah pengaturan waktu paling genius yang dapat menyelamatkan manusia dari kecendrungan merusak diri. Wajib berhenti sejenak tiap hari ada jeda lima kali! Kegilaan facebook tak akan berpengaruh apabila kita berpegangan pada 5 waktu itu. Kita bergantung pada Allah dan berkali kali kita lapor dan minta dikasihani agar terus berada dijalan yang lempang. Kini jalan yang lempang sudah bercabang ke PS, Facebook, mancing ramai ramai, pesta pora, kontes hebat hebatan moonwalk, dangdut dan cantik cantikan.
Seorang anak Bangsa sasak pulang ke dasan dan meradang, tangisannya pilu tapi tak ada yang peduli. Dia berkata; `Papuxku mate, inaxku mate, amaxku mate, tao tao capoh!' Mbahku, ibuku, bapakku mati, tau tau semua lenyap! Brugax masih didatangi tapi dia hanya menemani anak anak bermain berlagak sebagai pemain band dengan lagu sangar dari kuburan. Hanya cukup sampai disitu orang dasan sudah sangat senang, makannya cukup beli di mall, pelajaran cukup di sekolah, berugax tinggal kerangka sunyi meskipun dibangun dan dihias dengan dana besar, dia tak lagi punya ruh sebagai tempat SANGKEP. Tak ada yang menguasai satu senjatapun untuk diajarkan, cukuplah dengan beramai ramai bertepuk tangan melihat anak dasan aneh bertopeng zombi.
Subhanallah, anak dasan, segeralah kemabali ke brugax untuk sangkep, sudah saatnya kita siagakan diri, menjadi pepadu dan dedare yang lengkap dengan senjata iptek, akhlak dan amal sholeh. Maju dan jayalah bangsa Sasak!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Setelah ada berita Mikail Jackson meninggal, ramai sekali pepadu dasan berbondong ke taman kecil satu satunya disana. Masing masing mengekspresikan perasaan kehilangannya. Ada yang piawai melakukan gerakan moon walk dan menari ala jenazah zombi. Suaranyapun ditiru habis bahkan model pakaian tak ada yang kurang sedikitpun. Biaya untuk melengkapi diri agar sangat mirip dengan semeton Mikail cukup besar dihamburkan, sebab harga bahan dan ongkos jahit lebih mahal dari biaya sekolah sampai SMA. Itu tidak masalah, bukankah sudah biasa menghamburkan uang untuk beli HP canggih yang dapat dipakai berSMS ria dan bertelefon sampai mulut jeweh.
Kekompakan masyarakat kami di dasan sudah agak rapuh, dahulu ketika dasan kami masih temaram karena listrik hanya malam hari dan bioskop bergenerator memutar film hindustan tiap malam, orang masih saling ajak beriringan pergi pengajian dan mengangkat pasir, batu dan apa saja untuk membangun masjid. Bahkan kalau nonton film ratapan anak tiri atau film hindustan mereka menangis bersama dan esoknya mereka bercerita tentang film yang sama dan masih dengan titik air disudut mata.
Kalau ada anak nakal mereka serempak memberei peringatan atau merangkul anak itu, hampir tiap orangtua merasa memiliki terhadap anak bangsanya dan anak anak juga merasa segan, hormat dan sayang pada tetangganya yang dipanggil, kakax, tuax, amax , inax, papux , balox dsb. Mereka memang bertalian darah meskipun jauh sekali tapi hati mereka tertaut erat sampai begawe bersama dan lapar bersama dijalani. Mushalla hanya terbuat dari kayu dan daun kelapa, sempit bebentuk berugax. Brugax berasal dari bahasa Kawi "Rengga" yang artinya tempat duduk, tempat berkumpul. Orang Sasak mengadaptasi kata itu menjadi dua yaitu regang atu ringga dan brugax. Berengga jadi brugax. Brugax adalah tempat duduk sangkep. Nah, " sangkep" ini juga berasal dari bahasa Kawi yang artinya mempersenjatai pasukan. Entah sudah berapa puluh tahun fungsi Brugax yang sempat jadi mushalla itu sama sekali berubah jadi tempat momot meco! Alangkah besar dosa kita kepada papux balox yang mewariskan tempat berkumpul untuk mempersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan dan agama, telah kita sia siakan untuk bejorax dan mengahbiskan waktu untuk hal bodoh sehingga kita tak lagi mempunyai generasi mumpuni sejak tahun 70 an!
Kita tak pernah absen mendengar azan dan bacaan shalawat dari megafon masjid dan mushalla di seantero dasan. Alangkah beruntungnya kita menjadi muslim yang hijrah dari kegelapan menuju chaya terang benderang. Tapi kebanyakan pepadu dan dedare kita mendengar lagu Mikail Jackson atau melototi acara dangdut di Televisi kabel sepuluh ribuan. Apa yang mau dipersenjatai, isi otak hanya dangdut dan kepiawaian bermoonwalk saja? Sedangkan si Mikail Jackson sudah pula bersyahadat dan ingin bertaubat serta berserah diri. Sedangkan para penirunya tidak pernah sdikitpun tahu apa yang terjadi kecuali moonwalk dan dia sudah mati!. Kanak dasan selalu menyangka kalau dia dapat berbuat seperti orang lain, umpama berlagak kebarat baratan, makan makanan barat sepertiyang berserakan di jalan dasan, sebut saja pizza yang dibaca PIZA oleh anak dasan dan Mc Donald yang dibaca MAK KDONAL, seolah setelah medengar musik,bergaya moonwalk dan makan barang aneh itu mereka sudah sama dan sederajat dengan orang yang ditiru tiru. Sekarang ramai lagi anak dasan menekuni face book dari pagi sampai malam, dari anak anak sampai dewasa. Sebagian menekuni PS sebagian menekuni Face book dan saat makan lari ke warung sampah, tahukah anak dasan bahwa makanan itu disebut JUNK FOOD?. Tentu tak peduli, bukankah semua orang berbaris antri ke sana?
Ketika semua orang berpaling dari kebiasaan dan adat yang dibudi dayakan ribuan tahun dan menukarnya dengan hal hal instan, maka tampaklah kemerosotan disegala bidang. Sudah berapa ratus ribu anak bangsa Sasak rarut meninggalkan dasan dan mereka tidak lagi taat pada perintah agamanya. Mereka tak sadar bahwa buaian harta benda yang sifatnya sangat sementara telah membawa kesengsaraan berkepanjangan untuk anak bangsa yang kehilangan indentitasnya kelak. Orang Polandia dan Orang Portugis dahulu hidup sangat susah mereka bekerja keras bahkan jadi pembntu dan buruh namun mereka tak pernah menyerah dalam mendidik generasi mudanya. Ibu ibu Jepang sejak kalah perang mengorbankan diri unutk tinggal di rumah demi menjaga harta paling berharga yaitu anaknya. Anak anak Jepang diasuh penuh oleh ibunya dan mereka menjadi generasi muda terbaik di dunia. Sekarang kita dapat bertemu dengan turis dari negera negara tersebut. Mereka tetap jadi pekerja keras dan belajarnya kuat.
Kita pernah mempunya generasi Sasak kekah karena mereka dengans setia dipersenjatai di Brugax. Senjatanya adalah Agama, ilmu Sastera, Ilmu pertanian dan peternakan, perdagangan sampai ilmu falak. Mereka faham kapan menanam kapan memotong pohon dan bagaimana memelihara lingkungan.Mereka adalah generasi yang dipersenjatai, sehingga bila mereka merantau ke Jawa, naik truk dan jalan kaki bahkan ada yang jalan kaki ke kampus pulang pergi sejauh Ampenan sampai Terminal Mandalika! Generasi ini mungkin masih ada tersisa di kantor kantor atau jadi guru dan petani, tapi mereka sangat minoritas. Kini dasan dikuasai oleh orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Apa saja dilakukan agar dapat memperoleh apa yang diinginkan.
Shalat 5 waktu adalah pengaturan waktu paling genius yang dapat menyelamatkan manusia dari kecendrungan merusak diri. Wajib berhenti sejenak tiap hari ada jeda lima kali! Kegilaan facebook tak akan berpengaruh apabila kita berpegangan pada 5 waktu itu. Kita bergantung pada Allah dan berkali kali kita lapor dan minta dikasihani agar terus berada dijalan yang lempang. Kini jalan yang lempang sudah bercabang ke PS, Facebook, mancing ramai ramai, pesta pora, kontes hebat hebatan moonwalk, dangdut dan cantik cantikan.
Seorang anak Bangsa sasak pulang ke dasan dan meradang, tangisannya pilu tapi tak ada yang peduli. Dia berkata; `Papuxku mate, inaxku mate, amaxku mate, tao tao capoh!' Mbahku, ibuku, bapakku mati, tau tau semua lenyap! Brugax masih didatangi tapi dia hanya menemani anak anak bermain berlagak sebagai pemain band dengan lagu sangar dari kuburan. Hanya cukup sampai disitu orang dasan sudah sangat senang, makannya cukup beli di mall, pelajaran cukup di sekolah, berugax tinggal kerangka sunyi meskipun dibangun dan dihias dengan dana besar, dia tak lagi punya ruh sebagai tempat SANGKEP. Tak ada yang menguasai satu senjatapun untuk diajarkan, cukuplah dengan beramai ramai bertepuk tangan melihat anak dasan aneh bertopeng zombi.
Subhanallah, anak dasan, segeralah kemabali ke brugax untuk sangkep, sudah saatnya kita siagakan diri, menjadi pepadu dan dedare yang lengkap dengan senjata iptek, akhlak dan amal sholeh. Maju dan jayalah bangsa Sasak!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP
Langganan:
Postingan (Atom)
